
Masih di hari yang sama dengan pertemuan Merilin dan Amerla di acara sosial yang diselenggarakan ibu Rion. Waktu sudah merangkak naik, matahari pun sudah tergantikan gelapnya malam. Rembulan mengintip di celah awan, sepertinya bentuknya menyerupai sabit.
Mei dan Rion berpisah dengan ibu karena akan langsung pulang ke apartemen. Rion beralasan karena besok mereka akan bekerja. Dan akhirnya ibu pun mengizinkan Mei pulang ke apartemen. Walaupun ibu berharap anak dan menantunya menginap. Sebenarnya ini dilakukan Rion untuk menghindari ayahnya juga. Dia kan kabur begitu saja dari lapangan golf hari ini.
Dan sekarang, di balkon apartemen. Rion sudah mandi duluan, dia sedang duduk bersandar sambil menikmati pemandangan malam. Mei masih mandi setelah ketiduran pulang tadi.
Pikiran Rion berlarian ke mana-mana, begitu banyak kejadian tidak terduga siang tadi. Dalam rencana Rion, dia akan mengacuhkan Amerla dan pura-pura tidak mengenalnya, tapi malah, kalimat yang diucapkan Merilin, merubah segalanya.
Apa Mei cemburu? Ah benar, jangan-jangan dia sedang cemburu. Rion merasa senang sendiri dengan hipotesa yang dia temukan. Dicemburui Mei artinya seperti saat dia melihat Mei bersama Serge kan. Kalau Mei juga merasakan, perasaan yang sama dengan situasinya, dia jadi tersenyum sambil bergumam. Aku senang dia cemburu.
Hp di meja bergetar saat Rion masih melamun. Setelah melihat nama yang muncul, Rion malas-malasan meraih hp. Baru saja selintas dipikirkan, eh orangnya langsung menelepon. Dan terjadilah percakapan yang berbuntut ledakan emosi.
"Kau mau mati ya! Meneleponku malam-malam begini hanya untuk membicarakan wanita tidak penting itu." Rion meneriaki Serge yang ada di panggilan telepon. Serge masih berkilah berusaha membela diri, Rion menjawab dengan ketusnya. "Bodo amat, aku tidak perduli padanya."
Rion menyesal mengangkat telepon.
Serge memberitahu Rion kalau Amerla meneleponnya. Lalu Serge bertanya juga pada Rion, di mana Amerla bertemu dengan Mei.
"Kami bertemu di acara sosial yang didatangi ibu dan Mei ." Diam sebentar mendengar Serge bicara. "Aku kabur dari lapangan golf. Sudahlah, aku malas bicara denganmu sekarang."
Kenapa aku malah bicara dengan sainganku begini, kalau Mei mendengar aku bicara dengan Serge dia pasti jadi senang. Menyebalkan kau Ge. Melirik pintu, keberadaan Mei belum terdeteksi.
"Kau tidak perduli pada Erla kan? Walaupun dia bilang akan kembali padamu?" Serge menanyakan kejelasan isi hati Rion. Manusia yang paling susah diterka maunya apa batin Serge. "Dia bilang padaku kalau dia mau kembali padamu."
Hah! Memang aku perduli pernikahannya seperti apa. Dan memang aku mau menerimanya. Rasanya muak mendapat pertanyaan begini. Rion bicara dengan nada tinggi.
"Bodo amat, memang aku mau menerimanya. Sudahlah, berhenti membicarakannya. Bukan karena aku belum move on, aku hanya malas membahas tentangnya lagi.
Serge membaca situasi hanya dari nada tinggi suara Rion.
"Baiklah, kau pasti lelah, istirahatlah." Serge menyudahi pembicaraan, selama Amerla tidak mendekati Mei, dia tidak akan ikut campur pikirnya. Laki-laki itu berharap, apa yang dia katakan pada Amerla tadi berhasil menyadarkan pikiran gadis itu. "Selamat malam, sampai jumpa besok di kantor."
Tidak menjawab Serge, langsung Rion mematikan hp. Melemparkan begitu saja ke atas meja. Rion yang sengaja membuka jendela, jadi dia bisa merasakan hembusan angin malam yang merayap di kegelapan malam. Menenangkan hatinya.
Aku tidak perduli denganmu, tapi kalau kau menyentuh Mei, aku akan berhadapan denganmu langsung. Rion berdiri, menyentuh dedaunan dalam pot bunga. Erla, sekarang menyebut namamu di dalam hatiku tidak ada yang bergetar sedikitpun, sekedar reaksi kebencian sekalipun.
Karena Rion benar-benar sudah tidak perduli dengan keberadaan Amerla. Ah, kenapa Mei lama sekali si gumam Rion sambil mengambil daun kering yang jatuh di dalam pot tanaman.
Sementara yang sedang ditunggu Rion baru saja keluar dari ruang ganti baju, dia sudah memakai baju tidur. Hari ini memakai warna biru dengan taburan ornamen bunga. Berjalan menuju kamar. Hari ini sangat lelah, Mei ingin langsung tidur saja rasanya. Tapi, apa mungkin coba, batinnya tertawa sendiri.
Semoga dia lupa, lupa, mau menghadiahkan tubuhnya, dan mengizinkanku menyentuhnya semalaman. Semoga dia lupa! Mei berteriak dalam hati sambil menengadahkan tangan ke langit. Mengusap wajahnya sambil bergumam amiin.
Hari ini perasaan takut yang beberapa hari tumbuh dengan subur di hati Mei, seperti layu dengan sendirinya, saat Mei melihat sikap Kak Rion pada wanita yang dia cintai. Sepertinya tidak ada celah, Kak Rion akan kembali pada wanita itu. Membuat hati kecil Mei bersyukur dan merasa tenang.
Setidaknya, aku akan bertahan menjadi boneka Kak Rion selama dua tahun, boneka yang dia sayang-sayang. Ah, boleh kan aku menikmati kebersamaan sementara ini. Walaupun aku hanya boneka untuknya, tapi aku mendapatkan kasih sayangnya kan.
Agar tidak terluka dan merasa kecewa, Mei hanya akan menikmati saja semuanya, selama dua tahun menjadi boneka yang disayang Kak Rion.
__ADS_1
Saat membuka pintu kamar, tidak ada siapa pun. Mei tetap memanggil nama Rion walaupun sudah melihat tidak ada orang. Di mana ya dia, kepala Mei memutar, menyapu ruangan. Kosong. Hanya satu pintu ruang kerja yang dia tatap. Sepertinya di sana.
Ruang kerja yang belum pernah dimasuki Mei selama dia tinggal di rumah ini.
"Kak Rion!" Ketukan pintu mengeras. "Kak Rion! Apa aku boleh masuk."
Merapatkan telinga ke pintu, tidak ada sahutan. Mei baru mau menyentuh handle pintu.
"Hei!" Mei terlonjak sampai berteriak, saat suara Rion bukannya muncul dari dalam ruang kerja tapi dari arah pintu balkon. "Kemari!" Rion menjentikkan tangan.
"Kak Rion ada di teras rupanya, maaf, aku tidak melihat Kak." Mei berjalan mendekati Rion. Disambut dengan senyum jahil, dan tatapan penuh arti, lalu mengusap bahu Mei yang tidak tertutup apa-apa.
"Sepertinya kau sudah siap menikmati hadiahku ya? Kau sudah memakai baju tidurmu."
Hih! Apa sih! kalau aku tidak memakai baju tidur ini memang aku mau pakai baju mana Kak, aku kan tidak punya pilihan. Masak aku disuruh nggak pakai baju.
"Aku menantikan hadiah Kak Rion. Hehe." Entahlah, itu senyum akting, atau memang Mei sudah terbiasa dan menyesuaikan diri, atau bahkan menikmatinya.
Mendengar jawaban Mei, Rion terlihat puas sekali.
Rion menarik tangan Mei masuk ke dalam teras, lalu seperti orang berdansa, Rion memeluk tubuh Mei sambil menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri, pandangan mereka menatap pemandangan lampu malam kota yang gemerlap. Tampak sangat indah dilihat dari kejauhan.
"Kau tidur sepanjang perjalanan pulang tadi." Rion bicara sambil mencium pipi Mei sebelah kanan. "Sekarang tubuhmu sudah segar lagi?" memberi kecupan lagi, lalu meletakkan kepalanya di atas kepala Mei. Badan keduanya masih bergoyang ke kanan dan ke kiri.
"Maaf Kak, aku jadi membuat Kak Rion seperti sopir ya. Aku ikut lomba dengan anak-anak tadi, pasti aku kelelahan." Menutup wajah malu. Karena saat bangun, Mei mengusap mulutnya dan basah.
"Tidak usah minta maaf, kau sudah membayarnya."
Hah! Aku membayar dengan apa? Dengan tubuhku! Cukup sadar diri, kalau memang itu yang Mei punya.
"Kau memberiku foto-foto yang lucu. Haha."
Mulai deh, tertawa sesuka hatinya batin Mei. Walaupun tidak tahu foto apa, tapi biarlah, Mei tidak mau bertanya karena ujungnya takut dia yang kena lagi.
Yang penting, kau tidak melihat aku ngiler saja sudah cukup. Hehe.
Sambil menatap lampu yang berkelap-kelip, Rion masih memeluk Mei. Menunjuk bintang di langit yang tak kalah bercahayanya di langit malam. Bibir Rion menciumi punggung Mei yang teebuka, menyibak rambut ikal ke bagian kiri.
Aaaaa! Bisa tidak si kau tidak menggigit! Bukannya berhenti dalam sekali gigit, diselingi tawa sambil cium-cium bahu, Rion menggigit bahu Mei lagi.
"Kak Rion, ibu minta aku berteman dengan wanita itu, tapi..."
Kata-kata Mei, membuat Rion menghentikan aktivitas bibirnya di bahu Mei.
Aku tidak mau berteman dengannya Kak. Entah apa yang dibicarakan Amerla pada ibu, tapi ibu menganggap hubungan Mei dan Amerla seperti memulai persahabatan akrab. Mei ingin menghindari gadis itu sejauh mungkin, dia merasa tidak nyaman. Tapi malah ibu berharap dia bisa berteman akrab dengan Amerla.
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Tapi, aku tidak mau dekat dengannya. Aku bahkan tidak mau bertemu dengannya, kalau tidak sengaja melihatnya dari kejauhan aku juga mau pura-pura tidak melihat."
Aku ahlinya untuk pura-pura tidak kenal gumam Mei. Bahkan saat pernikahan Kak Brama dulu, dia bisa melakukannya tanpa terlihat mencurigakan. Apalagi hanya mengacuhkan Amerla yang ada di kejauhan. Tidak butuh skill khusus untuk itu. Dia pasti bisa melakukannya dengan baik.
"Bagaimana ya Kak? Apa ibu akan kecewa kalau aku tidak mau berteman dengan Amerla."
Andai saja ibu tahu, siapa Amerla. Kalau wanita itu yang sudah melukai hati anaknya, Mei yakin sekali. Jangankan menyuruh Mei untuk akrab, gadis itu yakin, ibu juga tidak akan membagi senyumnya pada wanita yang sudah membuat anaknya membuang mimpi masa kecil yang sudah dia perjuangkan itu. Tapi, Kak Rion bahkan tidak menceritakan perihal Amerla pada ibu, Mei merasa tidak berhak untuk bicara apa pun.
Lagi-lagi Rion tertawa menanggapi kata-kata Mei, tawa Rion membuat Mei kebingungan artinya apa.
Hah! Apa sih, lagi-lagi tertawa.
Setelah berhenti tertawa, Rion mulai menciumi leher Mei, bahkan menjulurkan lidahnya dan menggigit telinga, membuat Mei kegelian. Tubuhnya menggeliat.
Nah kan, malah cium-cium bukannya menjawab. Aaaaa! Kenapa kau aneh sekali si Kak.
"Kau cemburu?" Rion menggigit lagi telinga Mei lalu tertawa. "Kau cemburu pada wanita itu?"
Hah! Cemburu! Tidak! Untuk apa aku cemburu, aku hanya kesal padanya Kak. Aku kan tidak punya hak untuk cemburu.
"Kau cemburu karena aku pernah mencintainya?" Rion semakin erat memeluk memeluk dan menciumi pipi Mei.
"Ti, tidak Kak! Aku tidak cemburu."
Rion mengendurkan pelukannya, menghela nafas. Apa! Mei yang gelagapan dengan perubahan sikap Rion.
Dia marah! Dia marah karena aku cemburu pada Amerla.
"Kau tidak cemburu?" Memutar tubuh Mei dan sekarang mereka berhadapan. "Kau tidak cemburu pada Amerla?" Terlihat jelas kalau Kak Rion marah dan tersinggung. Tapi masalahnya Mei masih bingung, Rion marah karena Mei cemburu pada Amerla, atau Rion marah karena Mei tidak menunjukkan kecemburuan. "Menyebalkan."
Seketika semua sel saraf Mei bereaksi dengan cepat, saat mendengar satu kata itu terucap dengan nada ketus. Mei langsung memeluk pinggang Rion. Membenamkan wajahnya di dada Rion.
"Aku kan boneka Kak Rion, apa aku boleh cemburu?" Mendongak. Melihat wajah Rion yang semakin terlihat tidak senang.
Apa! Kenapa dia terlihat lebih marah!
Rion mencengkeram dagu Mei yang masih memeluknya, dia tidak suka mendengar Mei mengatakan kalau dia boneka. Ah, kata yang dulu sering ia ulang-ulang untuk mengingatkan Mei akan status dan posisinya, sekarang terasa menyebalkan di dengar telinganya.
"Cium aku, aku marah!"
Hah! Kau marah karena apa!
Rion menarik Mei, sampai mereka jatuh terduduk di kursi balkon. Seperti sudah tahu harus melakukan apa, Mei mulai dari memberi kecupan di bibir Rion. Dan kecupan itu hanyalah permulaan.
Sebenarnya dia marah karena apa si!
Bersambung
__ADS_1