Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
179. Keberangkatan


__ADS_3

Akhir pekan, hari keberangkatan. Liburan keluarga hadiah dari Presdir Andez Corporation yang sudah ditunggu semua orang.


Di waktu pagi, saat sendunya embun pagi masih membasahi dedaunan yang tumbuh diluar apartemen. Belum banyak aktifitas manusia yang terlihat di luar sana.


Dan di dalam apartemen, di lantai 12.


Kesepakatan yang sudah seperti membuat janji, antara Rion dan Mei. Terjadi saat mereka masih di atas tempat tidur. Selepas hasrat keduanya terselesaikan. Rion masih menyapu pipi dan leher Mei dengan beberapa kali kecupan. Setelahnya, memiringkan tubuh, menyangga dengan tangan kepalanya. Dia menyelipkan rambut ikal Mei yang terurai jatuh.


Senyum malu Mei, menghiasi pipinya


"Mei, Ini pertama kalinya kita berlibur jauh kan."


Rion sedang menyusun strateginya. Cara mendapat perhatian Mei selama mereka liburan nanti.


"Ia Kak."


Sambil Mei meladeni setiap keinginan Rion. Saat laki-laki itu menunjuk sudut telinganya, gadis itu pun menciumnya.


"Aku senang sekali, apalagi kita jadi seperti liburan keluarga. Hehe. Kak Rion juga senang kan?"


Tidak tuh, batin Rion mendengus. Tapi wajahnya pura-pura tetap kalem. Lalu dia berdehem, menjatuhkan kepalanya dan menghadap ke atas. Sekarang, mereka tidak sedang bertatapan.


"Kita buat perjanjian Mei, di sana nanti, aku juga mau kita hanya menghabiskan waktu berdua saja."


"Hah? tapi kak."


Mei bangun dari tiduran, duduk di samping Rion. Meraih bantal untuk dia dekap dan menutupi bagian depan tubuhnya.


"Kita kan pergi dengan ayah dan ibu, ada keluarga ku juga. Kalau teman-teman yang lain, okelah mereka juga pasti sibuk bersama keluarga mereka."


Lihat, yang kau pikirkan pasti semua orang. Belum apa-apa, Rion sudah merasa kalah menjadi puncak perhatian Mei. Sebenarnya dia bisa memakai jurus keras kepala dan melarang Mei, tapi pasti, gadis yang ada di depannya akan dipenuhi rasa bersalah, dan malah tidak bisa menikmati liburan dengan bahagia.


"Aku tahu. Aku bukan melarang mu, untuk bersama orangtuaku atau keluargamu. Tapi, aku juga mau, kita punya waktu berdua. Mereka juga pasti paham. Ini kan liburan jauh bersama pertama kita."


Terlihat Mei mulai menganggukkan kepala, setelah paham dengan semua penjelasan Kak Rion. Benar si, gumam gadis itu mengiyakan.


"Baik Kak, hehe. Nanti kita juga pergi berdua."


"Hemm janji ya, biar orangtua kita semakin akrab juga. Mereka juga kan mau membahas resepsi kita. Ibu mu dan ibu ku, biar mereka lebih dekat."


"Hehe, benar juga Kak. Tapi Harven?"


"Biar adik mu bersama Serge."


"Hehe, baiklah Kak. Aku akan melakukan semua yang Kakak mau." Mei menjatuhkan tubuhnya di atas dada Rion. "Ayo kita nikmati liburan ini Kak. Aaaaa, aku sudah tidak sabar."


Tangan Rion sudah merayap ke belakang punggung Mei. Lalu dengan sekali dorong, bibir gadis itu sudah terperangkap di atas bibir Rion. Dalam sekali gerakan, langsung terlumat habis. Gelak kecil terdengar di antara keduanya. Di luar jendela, cahaya keemasan mulai tampak di ufuk timur.


...🍓🍓🍓...


Keramaian bandar udara terlihat di akhir pekan. Jadwal penerbangan yang bergerak dinamis seperti keluar masuknya orang-orang. Ada yang baru datang, ada juga yang keluar. Seperti tidak ada habisnya.


Mei dan Rion menjadi orang yang paling akhir datang. Presdir dan ibu sudah duduk di ruang tunggu. Mereka mendapatkan salam dari rekan kerja Mei dan keluarga yang lain. Lalu mengobrol sebentar sekedar membicarakan hal remeh. Dan selanjutnya duduk sesuai dengan kelompok keluarga masing-masing. Keluarga Mei yang duduk berdekatan dengan Presdir.


Dan setelah masuk ke ruang tunggu, yang dilakukan Mei dan Rion tentu saja memberi salam pada orangtua mereka. Setelahnya tentu saja terdengar teriakan girang karena terkejutnya Mei terdengar. Gadis itu tidak menyangka, bertemu Jesi dan Dean di sini.


"Kak Rion, sebentar ya. Aku temui Dean dan Jesi. Mereka kok ada di sini? Apa Kak Rion yang sengaja mengajak mereka?" Kesalahpahaman Mei yang tidak hendak diluruskan Rion.


Rion hanya bergumam Hemm, sambil menghela nafas. Mei menggoyangkan genggaman tangannya dan berterimakasih, lalu melepaskan tangan Rion. Meninggalkan Rion dan Serge. Kedua laki-laki itu berjalan mencari tempat duduk.


"Apa-apa an ini, kenapa semua orang ada di sini?"


Rion yang langsung kecut sambil melirik Serge.


"Kau yang mengajak mereka? Dasar sialan! Ibu ku, adiknya Mei dan ibunya. Aku saja harus berebut perhatian Mei dengan mereka, ditambah dua orang itu." Rasanya saking geramnya dia mau menendang kaki Serge, tapi seperti tahu akan menjadi tempat pelampiasan kemarahan, Serge langsung mundur pada jarak aman. "Aku saja sampai membuat perjanjian dengan Mei, sekarang ditambah teman-temannya!"

__ADS_1


"Aku hanya mengajak Dean, Jesi sepertinya diajak Arman pacarnya."


Jawaban Serge tentu saja semakin membuat Rion kesal. Karena Rion tidak tahu hubungannya apa.


"Kau nanti tambah kesal kalau aku bilang urutan kejadian sampai mereka bisa ada di sini, jadi.." Lirikan dingin Rion membuat Serge menelan ludah. Sepertinya dia mau mendengar kronologinya. Aku mulai dari mana ya gumam Serge. "Ah, itu begini. Presdir Gardenia Pasifik Mall akan pergi juga ke pulau XX, begitu pula Sherina, pacarnya Harven. Jadi..."


"Tutup mulut mu kalau tidak mau ku hajar kau!"


Kenapa aku perduli dengan Presdir Pasifik Mall dan pacar Harven, pikir Rion. Yang aku pedulikan, cuma waktu ku bersama Mei yang akan direbut semua orang itu.


"Sudah ku bilang, aku cuma mengajak Dean. Lagi pula semakin ramai kan semakin seru, Mei hanya senang sekali."


Ramai kepala mu.


Plak! Tangan Rion melayang ke bahu Serge, menyuruh laki-laki itu diam. Semakin dia membuat alasan, membuat Rion semakin kesal saja.


"Dasar gila! Sakit tahu! Nanti kan kita harus bekerja dulu, jadi biarkan Mei main bersama mereka."


"Kau memang menyebalkan dan tidak peka. Kenapa kau membuat jadwal kerja bodoh."


Wajah Serge jadi merengut kesal. Tapi tidak bisa mencaci juga, tenaga Rion kalau sedang kesal entah kenapa bisa naik dua kali lipat. Pukulannya sakit.


"Ge.."


"Kenapa?"


"Kapan kau mau melamar pacar mu."


"Apa? Kenapa tiba-tiba?"


Tatapan Serge langsung berpindah dari Rion yang sedang melihat Mei di kejauhan. Dan seutas senyum cantik, gadis tinggi dengan rambut panjangnya langsung menusuk jantung Serge.


"Dean, cantik sekali." Tanpa sadar terucap dari mulut Serge.


"Apa sih!"


Dasar gila! Aku kan memuji pacarku sendiri. Kalau aku memuji Mei, kau pasti menghajarku lagi kan. Serge cuma bisa menggerutu. Namun, saat melihat Rion tersenyum dengan tatapan hangat yang dia tujukan untuk Mei, hati Serge berdetak. Mei, lihatlah laki-laki ini. Orang yang dulu mengatakan kau bonekanya, orang yang sesumbar membenci semua perempuan. Lihatlah, bagaimana cinta mu telah merubah si gila ini.


"Rion.."


"Apa?" Ketus menjawab.


"Bantu aku melamar Dean."


"Apa sih, bodo amat."


Serge menyerang lengan Rion dengan sikunya. Kesal dengan jawaban tak acuh Rion.


"Aku kan sudah membantu mu dengan Mei, kau tidak ingat, aku babak belur karena membela dan merahasiakan pernikahan mu dari Presdir. Sekarang saatnya kau membalas budi donk."


Mendengar kata-kata serius yang diucapkan Serge, Rion jadi mengalihkan pandangannya dari Mei.


"Aku tahu kau ini bodoh, tapi jangan keterlaluan kenapa."


"Apa sih, makanya aku minta tolong."


"Biasanya yang menyiapkan semuanya untukku siapa? Makan malam ku? Kencan ku dengan Mei? Pernikahan ku dengan Mei juga?"


Pertanyaan itu langsung menyentak otak Serge. Benar juga ya, biasanya dia kan yang melakukan semuanya untuk Rion. Eh, ini bukan perkara teknis, kalau untuk persiapan lamaran dia juga tahu, tidak mungkin meminta Rion.


"Bukan itu sialan! Aku juga tahu itu!"


"Lantas apa lagi?"


"Aku malu.." Wajah Serge tersipu, apalagi saat melihat ke arah Dean. "Aku takut, Dean menolak. Aku juga tidak tahu, apa yang dia inginkan."

__ADS_1


Terlihat sekali kerutan orang yang kesal sekaligus merasa aneh. Apa sih, mungkin itu yang dipikirkan Rion ketika Serge mengatakan dia malu.


Ternyata, kau punya sisi seperti ini juga ya. Rion yang sudah terlalu lama membentengi dirinya, mulai bisa melihat diluar dirinya sendiri. Serge, laki-laki yang sudah sangat setia menemaninya melewati tiga fase hidupnya.


Saat dia bahagia bersama Erla.


Saat dia membenci semua wanita kecuali ibunya.


Dan sekarang, ketika dia mendapatkan cinta baru yang bisa mengobati semua lukanya


Baiklah, Rion menepuk bahu Serge. Awalnya laki-laki itu kaget, karena berfikir mau dipukul. Tapi saat pelan Rion mengusap bahunya dia jadi tidak bergerak menjauh.


"Apa sih, kaget aku!"


"Sebenarnya kalau kau tidak mengajaknya menikah, aku yakin, dia akan melamar mu duluan."


"Apa? Dean melamar duluan. Kau gila?"


Rion mendelik.


"Ah, maaf. Soalnya kau aneh, masak dia melamarku duluan."


"Memang siapa yang mengajak pacaran duluan." Sinis Rion menjawab, lalu Serge tertawa malu. "Ajak menikah dia saat kita liburan ini. Kalau kau punya nyali." Rion menepuk bahu Serge lagi. Kali ini dengan keras. Lalu dia bangun.


Ternyata Mei dan dua gadis lainnya mendekat, mereka menundukkan kepala memberi salam pada Rion. Anggukan kepala Rion menjawab salam, lalu dia sudah meraih pinggang Mei..


"Kalian sudah selesai bicara?" Menunduk ke dekat telinga Mei. "Lama sekali, hiks kau bahkan sudah mengacuhkan aku di sini. Kau membuat ku sedih Mei. Hati ku rasanya terkoyak dan hancur berantakan saking lamanya menunggumu."


"Kak!" Mei sudah dipenuhi rasa bersalah.


"Bercanda."


Tapi Rion menggigit telinga Mei membuat gadis itu sadar, kalau sebenarnya Kak Rion tidak sedang bercanda, Kak Rion memang kelamaan menunggunya. Aaaaa! maaf Kak, soalnya aku penasaran sekali, kok Dean dan Jesi bisa ada di sini.


Suara panggilan untuk penumpang, memasuki pesawat terdengar. Membuat semua orang bergerak. Termasuk Mei dan Rion.


"Kak Rion marah ya? Maaf, aku kelamaan tadi. Kakak juga bicara apa dengan Kak Ge tadi, sepertinya serius sekali."


Rion meraih dagu Mei sambil mereka berjalan. Melihat mata Mei.


"Memang kau melihat kami?"


Wajah Mei memerah, karena ketahuan mencuri pandang. Selama bicara dengan Dean dan Jesi, dia sering kali mencuri pandang ke arah Rion. Tapi laki-laki itu tidak menyadarinya.


"Aku cuma melihat Kak Rion saja kok."


Deg


Ada yang meledak di dada Rion. Apalagi kalau bukan hatinya yang langsung berbunga-bunga.


"Ehm, muah. Muah."


Sambil berjalan, masih sempatnya Rion memberi kecupan di kening Mei. Lalu memalingkan wajahnya yang memerah. Setelah berhasil menguasai diri, dia menunduk, berbisik.


"Baru berangkat saja aku sudah senang, di sana, aku pasti akan membuatmu lebih senang Mei. Bersiaplah." Suara tawa Rion membuat Mei malah merinding.


Ada yang menyenggol lengan Rion mengalihkan perhatian Rion. Ternyata ibu, sambil nyengir, ibu lalu mencubit pinggang Rion.


"Jalan Nak, jangan menggangu Mei terus." Memanggil Mei dan melambaikan tangan. Mei tersenyum. "Mei, nanti di sana jalan-jalan sama ibu ya." Saat melihat wajah anaknya berubah kecut ibu malah tertawa. "Hihi, senangnya ibu bisa liburan bersama menantu ibu."


Baru saja mau berangkat, sudah banyak sekali rencana di kepala mereka masing-masing.


Serge yang dengan dada berdebar-debar, meraih tangan Dean untuk berjalan beriringan. Melamar Dean ya. Aaaaaa! Bagaimana ini!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2