
Ketika mobil sudah memasuki rumah Presdir Andez Corporation. Serge masih terlihat tegang. Bahkan sekarang, keringat tipis terlihat di keningnya. Kepala pelayan, Pak Kun menyambutnya, dan mengatakan Presdir dan nyonya sudah menunggu di ruang makan.
Apa benar, aku cuma di ajak makan malam ya, seperti yang Rion bilang. Serge berangsur mulai tenang, kegelisahannya sedikit memudar. Suasana rumah Presdir juga terlihat tenang. Karena biasanya kalau keadaan mengancam, Pak Kun juga terlihat gelisah. Tapi kali ini dia terlihat baik-baik saja.
Makan malam berlangsung baik-baik saja, obrolan nyonya juga sekedar bicara hal umum, tentang bagaimana kabar orangtuanya, bagaimana persiapan pernikahan Rion. Serge pun bicara sesuai dengan laporan yang sebenarnya sudah dia kirimkan.
Tidak terjadi apa pun.
Dasar gila! Kenapa aku tadi tegang. Naluri budak kapitalis yang selalu menjadi tempat pelampiasan amarah, membuat Serge selalu over thinking. Dan benar saja, makan malam dengan Presdir dan nyonya hanya sebatas makan malam biasa.
Tapi, tiba-tiba hati yang sudah tenang kembali berkecamuk, ketika tiba-tiba Presdir bicara.
"Ada yang mau kami bicarakan Ge, Pak Kun, antarkan Serge."
"Baik Tuan."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Presdir dan nyonya menghilang entah ke mana. Serge mengikuti Pak Kun, laki-laki itu tidak membawanya ke ruang kerja, tapi ruang keluarga. Tempat biasanya Rion duduk bercengkrama bersama nyonya.
"Tunggulah di sini Ge, kenapa kau terlihat tegang sekali."
"Haha, tidak Pak." Serge menghapus peluh di keningnya. "Tapi, sebenarnya apa yang mau dibicarakan Presdir, apa Pak Kun tahu?" Sepertinya Serge terlalu berharap lebih, karena senyum Pak Kun sama seperti Rion, bukannya menenangkan hatinya malah membuatnya semakin deg-degkan.
"Saya tinggal sebentar ya."
"Baik Pak."
Hah! Sebenarnya ini mau ada apa si? Mau tegang, tapi situasi sangat tenang. Mau pura-pura baik-baik saja, tapi hati Serge masih diliputi rasa takut.
Saat Presdir dan nyonya muncul di pintu, Serge langsung berdiri tegak. Mencengkeram tangannya. Walaupun sudah menenangkan diri, tapi sekarang tegang lagi.
"Duduklah Ge, kenapa kau berkeringat begitu?" Nyonya dengan ramah bicara, sambil meletakkan amplop coklat di depan meja. "Sayang, kau bicara apa pada Serge, kenapa dia jadi takut begitu. Duduklah dengan santai Ge."
Presdir yang tidak jauh berbeda dengan Rion, acuh tak acuh, sama sekali tidak membuat Serge tenang.
"Sayang, bicaralah. Kau membuat Serge keringat dingin begitu." Walaupun sepertinya sedang menghibur, tapi nyonya pun terlihat menikmati ketakutan Serge. "Ge, dengarkan yang ayahnya Rion mau katakan dengan baik ya."
Nyonya! Anda sengaja ya membuat prolog panjang supaya saya jadi tegang! Ibu Rion tersenyum saat Serge lagi-lagi menghapus keningnya yang berkeringat.
"Ge..."
"Ia Presdir."
"Terimakasih."
Antara kaget dan lega yang langsung longsor seperti es mencair di hati Serge, ketika kata pembuka Presdir bukan makian atau kekecewaan karena pekerjaannya tidak becus selama ini.
"Ada apa Presdir? Memang saya sudah melakukan apa?"
Ayah Rion berdehem, lalu saling pandang dengan istrinya. Dan dia tersenyum, ya sesuatu yang sangat jarang dilihat Serge selama ini, selain saat Presdir bersama Rion.
"Aku menyuruh mu datang, karena ingin berterimakasih pada mu Ge, atas semua hal yang sudah kau lakukan untuk Rion. Sebagai ayah, aku sangat berterimakasih padamu. Dan sebagai ucapan terimakasih kami, izinkan kami, untuk menjadi tuan rumah pernikahan mu nanti dengan calon istrimu."
__ADS_1
Hah? Apa maksudnya?
"Kami yang akan menanggung semua biaya pernikahan mu Ge, ini bentuk terimakasih kami, karena selama ini kau sudah menemani Rion bahkan disaat-saat terpuruknya." Presdir bicara sambil menggengam tangan istrinya. "Semua sudah kami sampaikan pada orangtua mu kemarin."
Aaaaaa! Pantas saja, ayah dan ibuku terlihat senang sekali setelah diundang makan malam waktu itu. Ibu! Serge yang mengingat ibunya tersenyum sumringah beberapa hari lalu setelah bertemu Presdir dan nyonya. Serge cuma berfikir, mereka bahagia karena bertemu Presdir dan nyonya. Ternyata. Ibu! Kalau tahu begini, tadi kan aku tidak perlu setakut ini.
"Hehe, kami sengaja meminta orangtua mu untuk tidak mengatakan ini, karena ingin mengatakannya sendiri padamu. Terimakasih ya Ge, sebagai ibu Rion, aku benar-benar berterimakasih atas semua hal yang sudah kamu lakukan untuk Rion. Ini hanya hadiah kecil yang bisa kami berikan untuk mu."
"Tuan, Nyonya."
Perasaan Serge yang langsung campur aduk. Bagaimana bisa, keluarga Rion berfikir sampai sejauh ini. Padahal selama ini, dia selalu berfikir, Presdir hanya melihatnya sebagai budak kapitalis yang bekerja untuk uang.
"Terimakasih banyak Nyonya, tapi, tapi apa saya pantas mendapatkan semua ini."
Senyum ibu Rion hangat terkembang, seperti seorang ibu yang mencintai anaknya dengan tulus. Mungkin kalau tidak ada Presdir di sini sekarang, ibu Rion akan memeluk Serge karena menganggapnya sudah seperti anak sendiri. Tapi, karena ada suaminya, dia hanya bisa memberikan sorot mata hangat dan tulus itu.
Lalu ibu Rion menyodorkan amplop coklat yang ada di depannya.
"Bukalah Ge, kalau ini hadiah dari kakek dan neneknya Rion untuk mu. Ia kan sayang? ini hadiah dari ayah dan ibu mu."
Ayah Rion mengangguk. "Bukalah Ge."
Deg.. tangan Serge bergetar meraih amplop itu. Kalau dari kakek Rion berarti dari tuan besar kan. Apa? Aku mendapatkan hadiah dari beliau.
Serge pernah bertemu kakek Rion sekali, dia dikenalkan Rion secara langsung, sebagai teman sekaligus sekretaris pribadi Rion. Pernah berhubungan secara tidak langsung sekali juga, karena meminta bantuan mencari informasi penipu ayah Mei. Sekretaris Presdir Frans yang mengenalkannya pada bawahan kakeknya Rion.
Deg.. deg...
Saat isi amplop keluar, tangan Serge semakin bergetar.
Sertifikat kepemilikan apartemen, kalau apartemen sekelas milik Rion, mungkin Serge tidak terlalu takut menerimanya. Tapi ini, Rion pernah membawanya sekali ke apartemen yang saat ini sudah berganti menjadi namanya itu. Ini, apartemen yang katanya menjadi tempat tinggal kakek Rion saat muda.
"Rion bilang, kau suka sekali dengan apartemen itu. Dan bermimpi bisa tinggal di tempat seperti itu setelah menikah nanti." Ayah Rion bicara.
"Apa? Saya?"
Tunggu! Itukan aku cuma sembarangan bicara karena melihat betapa kerennya tempat itu. Tapi, aku juga tahu diri untuk cuma bermimpi. Dan tunggu! Rion, kau tidak benar-benar mengingat omongan ku waktu itu kan? Entah kenapa, hati Serge langsung berdebar dengan kuat.
"Presdir, itu, saya hanya... Ah, hadiah ini terlalu berharga untuk saya. Saya tidak berani menerimanya. Maafkan saya, saya tidak bermaksud lancang menolak, tapi.. tapi.."
Aku takut, menerima hadiah berharga ini.
"Sepertinya, kau belum menyadari, bahwa kau pun berharga untuk Rion. Sampai Rion membujuk kakeknya untuk memberikan apartemen itu pada mu."
Deg.. suara nyonya berdengung di hati Serge. Apartemen itu sebenarnya diberikan pada Rion, tapi Rion tidak terlalu suka rumah yang luas dan lebar, akhirnya selama ini tidak ada yang menempati.
"Ge, Rion mungkin tidak pernah mengatakannya, tapi dia menyayangi mu dan berterimakasih atas semua yang kau lakukan untuknya. Dan aku yakin, kakeknya Rion tidak akan mengabulkan permintaan Rion kalau merasa kau tidak pantas menerimanya. Hehe, kau tahu kan, bagaimana reputasi kakeknya Rion."
Wajah Serge langsung pucat.
"Jadi terimalah hadiah ini, ini bukti berharganya kamu buat Rion."
__ADS_1
Apa? Aaaaaa! Dasar gila! Hati ku langsung berdebar-debar begini. Dan kau sialan! wajah Rion langsung terbayang, kalau kau memang perduli pada ku, bisa kan, kau bilang tadi Presdir mau bicara apa. Padahal kau juga tahu kan.
Presdir bicara lagi, membuat airmata Serge tak terbendung lagi. Beliau minta maaf, selama ini sudah menyusahkan Serge, memaki bahkan memukul Serge. Dan tangis Serge benar-benar pecah. Dia seperti mendapat penghargaan atas semua kerja kerasnya selama ini.
Setelah suasana haru, Serge pun sudah mengusap ujung matanya dan menenangkan diri. Nyonya bicara pelan.
"Ge, kami ingin minta satu hal lagi padamu."
"Apa itu Nyonya, silahkan bicara. Kalau saya bisa, apa pun akan saya lakukan."
Ibu Rion tersenyum hangat lagi.
"Tolong selalu ada di samping Rion ya, jika nanti Mei dan Rion bertengkar, tolong, kamu selalu membela Rion dan ada di sampingnya." Wajah Serge jadi serba salah, tentu saja dia tidak mau menghadapi situasi ini. "Aku tahu, Mei sudah seperti adik mu. Tapi, tolong jangan tinggalkan Rion. Karena aku dan ayahnya Rion pasti akan membela Mei dan berdiri di samping Mei."
Aku mohon! Kalian jangan pernah bertengkar! Serge mengumandangkan doa ke langit.
"Kami, dan calon istri mu Dean, pasti akan membela Mei. Jadi, kamu jangan khawatir pada Mei. Berjanjilah Ge." Nyonya seperti memasukkan Serge ke bola api panas. Itu kan, artinya dia harus bersebrangan dengan Dean. "Tetap ada di samping Rion."
"Dean..." Serge menjawab dengan gumam-gumam.
"Ah, kalau kau bertengkar dengan Dean, jangan khawatir, kau bertingkah imut dan menggemaskan, Dean pasti luluh. Haha, aduh, calon istri mu itu lucu sekali kalau sudah membicarakan mu."
Hah?
Wajah Serge langsung seperti tomat matang. Ada kepulan asap di kepalanya karena malu. Dean, kau bicara apa pada nyonya.
"Ge, aku benar-benar sangat berterimakasih pada mu. Kau yang membawa Mei pada kehidupan Rion. Kau bukan hanya memberiku satu anak gadis, tapi tiga sekaligus. Mei, Dean dan Jesi. Aku benar-benar bahagia bisa mengenal mereka dalam hidup ini." Ibu Rion memandang suaminya, lalu suaminya menghapus keharuan yang beranak di pelupuk matanya. "Sayang, Serge adalah hadiah untuk keluarga kita kan dari Tuhan, karena dia menjadi perantara, keluarga kita semakin bahagia."
Ibu Rion sudah pergi hangout bersama Mei dan teman-temannya. Menghabiskan waktu bersama.
Deg...deg..
Keharuan memenuhi ruang keluarga Presdir.
Saat pulang, sebentar nyonya memegang punggung tangan Serge dan menepuknya beberapa kali. Berterimakasih sekali lagi. Presdir menepuk bahunya juga, meraih punggungnya dan memeluknya. Mengucapkan terimakasih sekali lagi. Kecamuk perasaan Serge saat ini, tidak menyangka, Presdir akan bersikap hangat seperti ini. Menganggapnya seperti keluarga. Suara lembut yang biasanya cuma dia pakai saat bicara dengan Rion, menyusup ke telinga dan masuk ke hati Serge.
Hati Serge dipenuhi perasaan haru.
Serge menundukkan kepalanya dalam saat berpamitan. Dia keluar dari rumah Presdir, sambil mengusap ujung matanya. Bukan hanya hadiah pesta pernikahan, dan apartemen mewah, tapi hadiah terimakasih tulus dari Presdir dan nyonya lah yang paling membuat hatinya bergetar.
Hari ini, untuk pertama kalinya dia keluar dari rumah presdir dengan tersenyum. Memandang amplop coklat di kursi sampingnya. Apartemen mewah satu lantai, milik kakek Rion.
Deg...deg...
Saat sedang berdebar-debar, pesan masuk terdengar dari hp di saku jasnya. Dia memperlambat laju mobil, dan berhenti di tepi jalan. Nada dering pesan khusus Rion soalnya yang terdengar.
Pesannya singkat.
"Kau suka 🤪?"
Dengan emot meledeknya.
__ADS_1
Rion!
Bersambung