
Ketika mobil sudah melaju dengan tenang.
Laki-laki di samping Mei juga fokus mengemudi, dengan pandangan lurus ke depan. Mei mengusir jauh-jauh hal berbau romantis di kepalanya. Yang entah kenapa berseliweran seenaknya membuat hatinya berdebar tidak tahu waktu.
Jangan memikirkan yang tidak-tidak Mei, ini cuma makan malam. Kak Rion kan memang begitu, kau kan cuma bonekanya yang bisa dia sayang-sayang sesuka hatinya. Hah! Kalau saja aku benar-benar boneka Kak Rion yang tidak punya rasa. Mei memiringkan kepala ke kaca jendela. Kalau dia benar boneka seutuhnya, dia tidak perlu kebingungan dengan perasaannya sendiri.
Setelah galau, gadis itu senyum-senyum. Hehe. Mei sedang menganggap makan malam ini seperti kencan. Hihi, biar cuma dia sendiri yang menganggap seperti itu, tidak masalah. Karena hatinya senang dan menikmati.
"Eh, kenapa kita ke butik Kak?"
Sadar dari lamunan ketika mobil berbelok ke sebuah area parkir. Mei melihat toko pakaian dua lantai di depannya, dengan bangunan yang mewah dan besar.
Rion seperti biasa tidak menjelaskan apa pun, hanya mengulurkan tangan meminta Mei meraih tangannya. Mereka sudah berjalan beriringan masuk ke dalam toko. Ada beberapa pelanggan yang sedang melihat baju-baju.
Dia mau apa si? Mau belanja baju?
Belum terjawab tanda tanya di kepala Mei, saat pelayan toko mendekat dan bertanya, Rion merangkul bahu Mei mendorongnya ke depannya.
"Berikan istriku, pakaian terbaik yang kalian punya. Kami mau pergi makan malam."
Pelayan dengan ramah tersenyum dan menundukkan kepala, akan melakukan sesuai perintah dan apa yang diminta Rion.
Aaaaa! Jangan melihatku dengan tatapan iri saudara-saudara, dia hanya sedang mendandani bonekanya.
Mei dibawa masuk ke ruangan ganti. Ruang gantinya sangat besar, bahkan ada sofa juga. Gadis itu tidak bisa protes ketika para pelayan mengukur tubuhnya, lalu dalam hitungan menit saja setelah selesai mengukur, pelayan lain sudah mendorong deretan baju yang digantung dengan rapi masuk ke dalam ruangan. Dress dengan aneka model dan warna.
Apa sih Kak, kan cuma mau makan malam kenapa aku disuruh ganti baju segala. Mei memandang bayangannya yang terpantul di kaca. Padahal pakaian kantornya yang dia pakai sekarang juga bagus. Iseng menyentuh tag yang menggantung di baju. Tangannya bergetar saat melepaskannya lagi. Harganya lebih mahal dari gajinya satu bulan.
Apa Kak Rion malu membawaku makan malam, dengan penampilan begini ya. Lagi-lagi Mei tenggelam dengan segala prasangka buruknya. Sambil melepas kancing blazer dan kemeja yang dia pakai.
Pelayan memilihkan baju sesuai dengan ukuran tubuh Mei, sambil menanyakan warna apa yang disukai Mei.
Saat sedang mencoba dress berwana biru, pintu ruang ganti terdorong. Rion bersandar di pintu melihat Mei dan para pelayan toko.
"Lama sekali!" Dia tidak sabaran, karena tidak melihat Mei, jadi rasanya waktu berputar sangat lama sekali bagi Rion. Membuatnya kesal menunggu di luar.
"Ma, maaf Tuan, Nona belum selesai, akan segera..." Pelayan ingin memberi penjelasan kalau tinggal sebentar lagi.
Tapi...
"Semua keluar! Biar aku yang membantu istriku memilih baju." Rion masuk sebelum ada yang menjawab. Lalu sudah menjatuhkan tubuh di sofa. Mengangkat satu kakinya, menaikkan ke atas kaki yang lainnya. Memiringkan kepala sambil mengetukan jari-jarinya ke pegangan sofa. Seperti juri yang sudah siap memberi penilaian. Apakah baju yang dipakai Mei cocok atau tidak.
Para pelayan terlihat kebingungan saling pandang. Mereka melihat ke arah Mei sekilas, gadis itu cuma bisa menunjukkan reaksi pasrah. Akhirnya pelayan toko menundukkan kepala dan secepat kilat kabur sambil menutup pintu. Bahkan saking buru-burunya, mereka menutup pintu dengan keras. Karena takut pelanggannya tersinggung, dia berbalik untuk minta maaf.
"Maaf Tuan, maafkan saya, saya benar-benar tidak..." Rion mengibaskan tangannya, membuat pelayan itu menundukkan kepala cepat. Lalu pelan-pelan menutup pintu. Dan menghilang.
Tertinggal dua orang di dalam ruang ganti.
"Kenapa dari tadi orang-orang pada kabur?" Rion dengan santainya bicara dan merasa heran. Sambil menyandarkan bahu di sofa.
Hah! Kamu bertanya kak? Kamu bertanya-tanya kenapa mereka pada kabur!
Mei yang sudah memakai dress warna birunya mengelus dada. Mau kesal tapi tidak berani bicara, akhirnya cuma bisa membatin. Mereka kabur kan karena kamu Kak!
Rion menjentikkan jarinya, dengan bibir tersenyum. Setelah melihat Mei Perasaanku tidak enak, gumam Mei, karena melihat senyum menyeringai Rion.
"Mendekatkan, biar aku bisa menilai pakaian mu, Mei."
Mei, menggeser kakinya dua langkah. Senyum menyeringai itu muncul lagi, pekik hati Mei. Semakin cemas, entah perintah apa yang akan dia dengar nanti.
"Tidak kelihatan, lebih dekat lagi." Masih menjentikkan tangan.
Aaaaaa! Apa sih Kak!
Akhirnya sudah berdiri tepat di depan sofa, bahkan badannya sudah condong ke depan. Karena Rion masih bilang tidak kelihatan.
Colok juga ni matanya Kak, kalau masih bilang nggak kelihatan!
Sambil mendekatkan wajah.
__ADS_1
"Buka!"
"Kak Rion!" Mei mundur dua langkah, membuat tanda silang di depan tubuhnya dengan kedua tangan. "Kak, ini, ini kan di toko baju! Aku mohon, nan, nanti kalau sudah ada di rumah saja." Walaupun takut Rion tersinggung, dengan bibir bergetar Mei bicara. Mei melihat pintu ruang ganti, bagaimana kalau ada orang yang tiba-tiba masuk.
Rion bangun dari duduk, menarik gantungan baju, memilih dress warna biru, tapi warna birunya lebih muda, senada dengan kemeja yang dia pakai sekarang.
"Aku tidak tahu kau berfikir apa Mei." Tersenyum dengan jahatnya, membuat wajah Mei langsung meledak, dan berasap karena malu. Bahkan sampai telinga gadis itu memerah. "Padahal aku cuma menyuruhmu untuk ganti baju dengan warna lain."
Rion tertawa, sampai terkikik dengan sangat puas saat mendorong baju yang ada ditangannya kedalam pelukan Mei.
Mati saja kau Merilin gila!
Rion masih tertawa saat kembali duduk, dan melihat satu persatu Mei menanggalkan bajunya. Gadis itu rasanya benar-benar ingin pura-pura pingsan saja.
"Ehm, aku tidak tahu kalau kau kepikiran untuk melakukannya di sini Mei."
"Kak Rion." Mei mau menangis saking malunya, "Aku mohon jangan mengungkitnya."
"Mau mencobanya." Rion menepuk pangkuannya.
"Kak..."
Lagi-lagi tawa Rion memenuhi ruang ganti, dia belum mau keluar, sebelum Mei menciumnya, sebagai bayaran tidak akan mengungkit kejadian di ruang tunggu ini selamanya.
Yang sedang menunggu di luar sampai pandang-pandangan sebenarnya sedang terjadi apa di dalam sana. Kenapa tuan muda yang tadi kelihatan angkuh dan dingin itu sampai tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat penasaran.
"Kurang Mei ciumanmu, jadi aku nggak janji ya. Haha!" Keluar dari ruang ganti sudah bergandengan tangan. Masih sempatnya berbisik sambil mencium pipi kanan Mei.
Para pelayan terlihat saling pandang satu sama lain dan tersenyum. Menatap kedua pasangan yang terlihat sangat romantis dan mesra itu.
"Mereka terlihat serasi, seperti memakai baju couple."
Setelah melakukan pembayaran, ternyata Rion membeli beberapa baju yang lain dan meminta pihak toko mengantar ke alamat yang dia berikan.
"Kak, Kak Rion nggak ganti baju sekalian?" Mei menyesal bertanya, karena langsung memantik kesombongan laki-laki di sampingnya.
Rion menyentuh dasinya, membetulkan dasinya yang miring karena ulah Mei tadi. Melihat Mei dengan tatapan sok dan sombong serta angkuh.
Dan seberkas cahaya seperti memancar dari balik punggungnya membuat mata Mei silau.
Dasar curang! Walaupun sudah seharian bekerja penampilanmu tetap sempurna Kak!
"Sama sekali tidak ada yang kurang Kak, Kak Rion sempurna."
"Tentu saja, suami siapa dulu kan." Menunduk dan membenturkan keningnya ke kening Mei. Gadis itu langsung gelagapan kaget.
Apa! Apa! Barusan kamu ngapain si Kak! Aaaaaa! Jantungku! Mau meledak!
Saat Mei melirik ke arah pelayan atau pelanggan yang kebetulan melihat, mereka terlihat melongo kaget. Bahkan ada yang menjerit tanpa suara.
"Aaaa! Manisnya, suaminya tampan sekali!"
"Benar, beruntungnya yang perempuan."
Dan bila...bla... bla... untung Rion tidak mendengarnya, kalau mendengar entah mau pamer apa dia menunjukkan kepada semua orang kalau Mei adalah istri yang dia cintai.
Sambil bergandengan tangan kembali ke dalam mobil.
Ternyata mereka makan malam di sebuah restoran hotel. Sekarang mereka sedang berjalan mengikuti pelayan. Mereka tadi naik sampai lantai tertinggi hotel.
Apa restorannya ada di atap hotel ya? Wahhh, pasti cantik sekali kalau benar. Ahhh, aku jadi membayangkan tempat makan yang romantis.
"Serge bilang restoran ini bagus, aku harap begitu. Kalau tidak, awas saja."
"Kak Ge yang merekomendasikannya Kak?"
"Kenapa? Kau suka karena Serge yang memilih tempat ini?"
Entah kenapa Mei merasa, Rion tiba-tiba sedikit kesal.
__ADS_1
"Tidak Kak, aku senang karena akan makan malam bersama Kak Rion." Mengusap punggung tangan Rion yang menggengam tangannya. Tersenyum aku mohon, jangan marah. "Aku juga memakai baju yang Kak Rion pilih kan, warnanya sangat cantik seperti kemeja yang Kak Rion pakai, hehe, aku jadi seperti sedang pergi kencan dengan memakai baju couple. Hehe." Malu sendiri sebenarnya saat dia bicara.
Aku ini bicara apa sih! Dasar Merilin gila, sampai berfikir tentang baju couple segala!
Eh, dia tersenyum. Dia tersenyum karena yang mana? apa poin dia memilihkan baju yang aku pakai, Halah terserahlah. Ketimbang bingung dengan isi hati Rion, Mei memilih tidak memikirkannya. Yang penting Kak Rion senang, sudah cukup baginya. Kak Rion senang, maka semua aman gumamnya.
Saat pelayan menundukkan kepala dan berkata kalau mereka sudah sampai, Mei menyiapkan hati. Tangan pelayan membuka pintu. Benar saja, restoran ini memang ada di atap gedung hotel berbintang ini. Langit malam dengan taburan bintangnya seperti menjadi kanopi. Angin pun sepoi berhembus. Cahaya lampu keemasan semakin mencipta suasana romantis. Mei takjub melihat pemandangan yang ada di depannya. Tempat yang dulu tidak pernah ia bayangkan untuk bisa dia masuki.
Ada beberapa pengunjung lain selain mereka. Penampilan para pengunjung terlihat rapi dan elegan. Mei menyentuh bajunya, ah, untung saja Kak Rion membelikannya baju baru.
Saat mereka sudah mau berpindah ke bagian lain, langkah kaki mereka tertahan.
"Tuan Rion!" Sebuah panggilan terdengar, menghentikan langkah mereka. Melihat dari penampilan dan cara memanggil sepertinya salah satu teman bisnis Kak Rion pikir Mei. "Tidak saya sangka bisa bertemu Anda disini," ujarnya lagi dengan suara ramah.
Mei bisa merasakan pandangan laki-laki itu memperhatikannya, dari ujung rambut sampai ke sepatu yang dia pakai. Sedang menilai statusnya.
"Hemm, Anda datang dengan siapa? Pacar Anda ya?" Dia bertanya lagi, padahal pertanyaan yang tadi dia lontarkan saja belum mendapat jawaban. "Wahh, teman-teman yang lain pasti terkejut, karena selama ini setiap datang ke pesta, Anda selalu sendirian, kalau tidak bersama Sekretaris Serge." Dia masih bicara diselingi tawa sok akrab.
Deg.
Mei merasakan genggaman tangan Kak Rion mempererat. Apa dia tidak suka dengan laki-laki ini pikir Mei. Gadis itu mengalihkan pandangannya saat tidak sengaja bertemu mata dengan teman Kak Rion. Karena dari tadi Kak Rion sama sekali tidak menanggapi kata-katanya. Pasti Kak Rion tidak menyukai laki-laki ini.
"Nona? Anda dari keluarga mana, kenalkan, saya..." Dia mengulurkan tangannya, tapi langsung ditepis tatapan menusuk Rion. Membuat Mei jangankan ikut mengulurkan tangan, menjawab pun tidak.
"Apa Anda sudah selesai bicara? pelayan sudah menunggu dari tadi." Menunjuk pelayan yang malah serba salah, dia tidak masalah sebenarnya menunggu. Laki-laki yang dari tadi bicara itu tertawa dengan canggung. Rion meraih bahu Mei, dia menempelkan dagunya di bahu gadis itu. "Jangan melihat wanitaku dengan tatapan seperti itu."
"Haha, Anda tetap saja dingin ya, baiklah, maafkan saya sudah menggangu kencan kalian. Maafkan saya yang sudah lancang ini Nona, selamat menikmati makan malam kalian." Dia memang tersenyum, tapi dalam hati memaki kesombongan Rion. Cih, dari dulu dia memang sombong sekali. Sekarang bahkan lebih parah. Karena biasanya sekretaris Serge yang berusaha mencairkan suasana. Saat sendirian, Rion menjadi semakin angkuh.
Mei menundukkan kepala sambil lalu, kemudian mengikuti langkah kaki Kak Rion. Pelayan menunjuk sebuah area yang jauh lebih privat, dengan dekorasi dan ornamen yang jauh lebih banyak. Ada taburan bunga dan lilin juga.
"Kami akan menyiapkan makanannya Tuan, silahkan nikmati suasana indah tempat ini." Pelayan menunduk berlalu pergi.
Beberapa detik mereka terdiam dan hanya saling memandang.
"Kak, dia siapa? Teman bisnis Kak Rion?"
Rion meraih tangan Mei, lalu menciumnya. Setelahnya seperti mencibir dia mengangkat bahu.
"Mana aku tahu."
Apa! Padahal jelas-jelas dia mengenalmu Kak! Hah, dia CEO Rionald, kau lupa siapa suamimu Mei. Dia bahkan tidak kenal pada tetangga rumahnya.
"Untung saja aku membawamu ganti baju tadi, kalau tidak entah apa yang akan dipikirkannya."
Kalau Mei masih memakai baju kantornya, pasti Mei hanya terlihat seperti bawahan Rion. Karyawan yang dibawa bosnya sampai ke hotel hingga malam. Cih, terkadang laki-laki seperti mereka tidak jauh dengan Amerla yang ingin menjatuhkan orang lain. Entah apa yang akan dia pikirkan tentang Mei. Lebih-lebih dia belum bisa mengakui Mei sebagai istrinya secara terbuka pada semua orang. Rion jadi kesal sendiri. Dia akan meminta ayahnya mempercepat resepsi pernikahannya.
Maksudnya? Kalau aku nggak ganti baju dia akan berfikir apa kak? Aku jelek? Kak Rion malu. Mei dengan segala prasangkanya.
"Mei.." Menggengam tangan Mei erat. Memasukan jari-jari Mei ke sela-sela jari-jarinya. "Kalau kau tidak sengaja bertemu dengannya, acuhkan dia dan jangan meladeni sapaannya."
"Tapi, bukannya dia teman bisnis Kak Rion." Bagaimana bisa dia bersikap setidak sopan itu pikir Mei.
"Teman bisnis apanya, aku tahu namanya saja tidak."
Mei tertawa, ya, ya, kau kan memang begitu Kak.
"Baik Kak, aku akan ingat itu." Pandangan Mei berputar melihat pemandangan di sekitarnya. "Terimakasih Kak, sudah membawaku ke sini. Tempat ini indah sekali. Aku akan menikmati semuanya. Pakaian yang Kak Rion pilihkan, tempat yang indah, dan pasti makanan yang enak."
"Kau harus membayarnya dengan setimpal Mei, sepertinya kau senang sekali." Rion tersenyum licik.
"Hehe, nanti Kak. Di rumah." Mei menjatuhkan kepala ke atas meja karena malu.
"Rumah, memang siapa yang mau pulang."
"Apa?"
"Kita akan tidur di hotel ini." Dari senyum Kak Rion, Mei sudah tahu apa yang direncanakan laki-laki itu.
Aaaaaa! Kami bahkan tidak punya baju ganti untuk tidur! Tidak! Aku belum minum pil kontrasepsi hari ini! Tidak! Bagaimana ini!
__ADS_1
Bersambung