Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
109. Ternyata Begitu


__ADS_3

Di luar guru hara yang terjadi di gedung Andez Corporation. Di tempat lain yang jauh dengan keharmonisan keluarga Merilin.


Saat ini, di sebuah kafe, walaupun tidak terlalu besar, namun ini terasa nyaman dan hangat. Papan nama yang ada di luar bertuliskan nama kafe, kafe musim semi. Ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati menu makanan yang mereka pesan. Sambil mengobrol dengan hangat.


Dan terlihat dua orang yang baru saja masuk, dan mereka sedang memesan makanan. Ketika pelayan yang mencatat menu pesanan makanan pergi, mereka saling pandang-pandangan. Berjuta pertanyaan muncul di kepala mereka. Tentang kejadian kemarin.


"Kak Mona sudah tahu kalau Kak Mei menikah? Jahat sekali, kenapa kalian menyembunyikannya dari kami." Suara sedih terdengar, bahkan hanya dengan mendengarnya bisa membuat orang lain ikut sedih.


Ternyata kedua orang itu adalah Mona dan Baim. Dua orang yang masih kebingungan dan tidak mempercayai kebenaran, kalau Merilin sudah menikah dengan CEO Rionald. Baim yang teramat patah hati, ingin memastikan sekali lagi. Terlihat sekali dari matanya yang bengkak, sepertinya dia tidak tidur dengan nyenyak semalam karena memikirkan ini.


Mona juga kondisinya tidak jauh berbeda. Pesan yang dia kirimkan tidak dibalas, bukan, bukan tidak dibalas, dibaca pun belum oleh Merilin. Apalagi setelah kejadian itu, Mei bahkan tidak kembali ke ruang kerja. Terlalu banyak pertanyaan yang bermunculan di kepala Mona tentang pernikahan Mei dan CEO.


Bagaimana bisa? Kenapa suami yang selama ini disembunyikan Mei adalah CEO? Kapan mereka menikah? Kapan juga merek pernah bertemu secara pribadi. Semakin banyak dipikirkan, semakin banyak pertanyaan baru yang muncul.


Dan untuk itulah, kedua orang ini sekarang bertemu. Untuk saling mengutarakan kebingungan mereka. Untuk meyakinkan diri, kalau semua kejadian yang menegangkan kemarin terjadi, bukanlah mimpi.


Mona menatap Baim, ya, ya, kau pasti sangat terkejut batin Mona. Senior polos yang selalu kau ikuti ternyata diam-diam menikah kan. Mona jadi bersimpati.


"Maaf, Mei yang melarangku bicara. Tapi, aku juga tidak tahu kalau dia menikah dengan CEO. Itu masalahnya Baim, aku tidak tahu dia menikah dengan siapa. Karena Mei hanya cerita, dia sudah menikah. Aku juga tidak pernah menyangka kalau itu dengan CEO kita."


Baim berusaha mempercayai kata-kata Mona, karena kemarin Mona juga terlihat sangat shock. Bahkan saat kembali dari kantin ke ruangan, sepanjang sisa waktu, Mona terlihat bengong.


"Padahal aku belum menyatakan perasaanku dengan benar pada Kak Mei, tapi kenapa dia sudah menikah." Baim membenturkan kepalanya ke meja, terlihat sekali penyesalan yang teramat sangat.


Baru selesai dengan lamunan Mei dan CEO, seperti dihantam ombak lagi. Kata-kata Baim menerjang Mona. Membuat gadis itu tergelak, biasanya dia akan tertawa kalau Baim sudah mulai iseng menggoda Mei dengan mengajak Mei pacaran.


Tapi, tunggu! Kenapa kau kelihatan sedih beneran!


"Hei, Baim! Kau bercanda kan saat bilang kau suka pada Mei dan mengajaknya pacaran?"


"Kenapa si, semua orang menganggap aku bercanda, padahal aku serius."


"Apa!"


Mona sampai berteriak dan mengangkat satu kakinya. Saat itu pelayan datang membawa minuman dan makanan pesanan mereka. Menundukkan kepala lalu pergi, menyisakan dua orang yang saling pandang-pandangan dengan kecamuk pikiran yang bermacam-macam.


Bocah ini serius? Jadi dia serius mengajak Mei pacaran! Bukan karena mengidolakan senior yang baik hati. Woi Baim! Yang benar saja si. Mei juga selalu berfikir kau bercanda tahu!


"Kau benar serius menyukai Mei sebagai perempuan? Bukan hanya sebatas mengidolakannya sebagai senior yang baik hati?" Mona merasa perlu memastikan.


"Padahal aku serius, kenapa Kak Mona begitu si." Suara sendu Baim memanah hati Mona, membuat gadis itu merasa bersalah. Baim meraih gelas minumnya, menyedot isinya. Glek, glek terdengar tegukan saat jus buah itu mengalir di tenggorokannya.


Eh, kenapa kalau dilihat-lihat, bocah ini tidak kalah tampan dengan Sekretaris Serge ya. Hemm, aneh. Mataku lagi kenapa si. Mona ikut minum hampir separuh isi gelasnya. Karena tiba-tiba merasakan kecanggungan saat menatap Baim.


"Bagaimana Mei bisa bertemu dengan CEO ya?" Mona bicara lagi sambil memasukan sepotong cake ke mulut.


"Kak Mona!" Aura kesedihan semakin memancar dari wajah Baim.


"Apa! Kau ini kenapa si! Jangan menangis donk, nanti dikira aku yang ngapa-ngapain kamu!" Mona jadi panik.


"Jangan menyebut-nyebut CEO donk, aku kan jadi sedih lagi."


"Apa!"


Kita kan kesini memang mau membahas Mei dan CEO Rionald, kalau aku tidak boleh menyebut namanya lantas bagaimana donk!


Tapi, saat melihat wajah sedih Baim akhirnya Mona mengunci mulutnya.

__ADS_1


"Baiklah, kita makan saja, nggak usah membicarakan Mereka. Jadi berhenti memasang wajah menyedihkan begitu donk. Setelah makan gimana kalau kita nonton, ada film komedi seru yang baru tayang."


Baim mengangkat kepalanya, lalu nyengir.


"Terimakasih Kak, sudah berusaha menghiburku. Hehe."


Eh, biasanya bocah ini kalau tertawa bagaimana si!


Mona malah kebingungan sendiri, ini pertama kalinya dia jalan berdua dengan Baim di luar urusan pekerjaan. Biasanya dia juga sering keluar berdua dengan Baim kalau dinas keluar atau ada pekerjaan apa. Tapi sengaja bertemu di luar jam kantor memang baru pertama kali ini. Dan kenapa Baim jadi terlihat berbeda dari biasanya ya.


"Kenapa Kak?"


"Apa?"


"Kenapa ngeliatin aku aja?" Baim mengusap-usap pipinya. "Ada yang menempel?"


Apa sih, kok kamu lucu.


"Cepat selesaikan makanmu, terus kita nonton. Kali ini aku yang bayar tiketnya, karena aku mau menghiburmu yang sedang patah hati."


"Hehe, Kak Mona baik banget si. Aku yang beli popcorn ya, untuk menghibur Kak Mona yang sedang patah hati juga."


"Aku patah hati?"


"Ia lah, Kak Mona kan penggemar CEO."


"Aku penggemar wajah tampan kok, semua yang tampan aku suka. Jadi aku nggak terlalu patah hati, cuma kaget saja, bagaimana Mei bisa menikah dengan CEO Rionald."


Ah, sialan! Aku keceplosan lagi menyebut nama CEO.


"Maaf, maaf, aku keceplosan."


Aduh, minta ditimpuk juga ini bocah, kenapa tertawanya jadi lucu begitu si.


Dua orang yang entah kenapa, akhirnya menghabiskan akhir pekan bersama.


...🍓🍓🍓...


Satu orang lain yang diam-diam sebenarnya terlibat cukup dalam dengan Merilin, karena dia dipilih Rion langsung sebagai perpanjangan mata CEO, untuk melaporkan apa pun yang terjadi tentang Merilin.


Kendra sebenarnya pegawai yang cukup pendiam, pembawaannya yang tenang, sekaligus statusnya yang sudah menikah, membuatnya tidak terlalu perduli saat para karyawan wanita di mana pun mereka berada selalu membicarakan tentang CEO mereka. CEO yang tampan, dingin, dan penuh pesona. Pesonanya bukan hanya pada fisiknya semata, tapi juga latar belakang keluarga.


Seperti halnya karyawan rendahan lainnya, dia pun belum pernah berinteraksi langsung dengan CEO. Mungkin hanya sebatas melihat dari kejauhan ketika ada acara formal yang memungkinkannya meliput dan mengambil gambar. Ah betul, pertemuan langsung dengan CEO adalah saat wawancara majalah, karena dia mengambil foto. Selebihnya dia tidak pernah bicara langsung secara pribadi dengan CEO.


Untuk itulah, kaki dan tangannya gemetar saat itu. Saat Sekretaris Serge menemuinya secara pribadi dan mengatakan CEO ingin bicara dengannya. Saat berjalan menuju ruangan CEO, pikiran Kendra sudah campur aduk.


Kesalahan apa yang sudah aku lakukan? Kenapa? Kenapa CEO memanggilku. Hanya pertanyaan itu yang terlintas dikepalanya, apa salahnya. Kenapa dia sampai dipanggil ke ruangan CEO, bukan ke ruangan HRD.


"Duduklah..."


Begitu sampai di ruangan CEO, kata pertama yang dia dengar adalah di suruh duduk. Dia pun duduk di depan CEO.


"Bagaimana hubunganmu dengan Merilin?"


Apa! Mei! Apa ini evaluasi kinerja? Apa Mei mau naik pangkat? Tidak, apa Mei membuat kesalahan, aku harus menjawab apa sekarang.


"Jawab saja yang kamu rasakan." Sekretaris Serge bicara saat Kendra terlihat kebingungan.

__ADS_1


"Dia rekan kerja yang sangat baik. Atasan yang bertanggung jawab pada bawahannya. Hasil kerjanya ya juga sangat memuaskan. Dia pandai menulis artikel, dan membuat majalah perusahaan menjadi lebih baik."


Sekilas, Kendra melihat senyum samar dibibir CEO, dia merasa lega, berarti jawabannya benar.


"Aku ingin tahu apa yang dia lakukan, dan dengan siapa dia bertemu selama di kantor."


Apa? Kenapa? Kendra kembali kebingungan.


"Kau bisa melaporkan semuanya pada Serge."


"Kenapa?" Kendra menutup mulut seketika, saat melihat tatapan tidak suka CEO karena pertanyaan yang mau dia ucapkan. "Maafkan saya Tuan, saya hanya bingung kenapa saya harus melaporkan semua tentang Merilin. Apa dia melakukan kesalahan kepada Anda?" Kendra bicara dengan kepala tertunduk, karena sorot mata CEO yang mengintimidasi.


"Kau tidak mau melakukan perintahku?"


Beliau tersingung!


"Ti, tidak Tuan, bagaimana bisa saya menolak perintah Anda. Saya akan melakukan seperti yang Anda perintahkan."


CEO mengetuk meja beberapa kali, entah sedang berfikir atau hanya ingin melihat lawan bicaranya semakin terintimidasi.


"Aku akan memberimu rumah kalau kau melakukan pekerjaanmu dengan baik, rumah di proyek terbaru Andez Corporation."


Apa! Ru... rumah! Kendra tentu saja tercengang, karena dia tahu, berapa harga rumah yang dijual Andez Corporation. Kenapa dia sampai mendapat rumah hanya untuk memata-matai Merilin? Tunggu! Apa Merilin punya hubungan dengan CEO? Langsung layar terkembang di kepala Kendra. Hubungan terlarang yang tidak direstui Presdir karena status Merilin, sepertinya hal ini paling masuk akal.


"Kalau kau menolak dan membocorkan perintahku ini pada Merilin, aku akan langsung memecatmu." CEO mengangkat tangannya dengan angkuh, kepada Sekretaris Serge. "Kau tidak terima, suka-suka aku mau melakukan apa."


"Apa! Tu.. Tuan, Saya..."


"Putuskan sekarang kau mau atau tidak?"


Memang aku punya pilihan lain!


Akhirnya Kendra menganggukkan kepala, memang apa yang bisa dia lakukan di depan CEO, yang hanya dengan gerakan tangannya saja sudah bisa membalikkan hidupnya. Dan saat keluar dari ruangan, untunglah, seseorang yang jauh lebih manusiawi dan bisa diajak bicara ada di samping Kendra sekarang.


"Kau pasti penasaran kan? Sebelum kau berfikir yang aneh-aneh, baiklah, aku akan mengatakannya. Merilin akan menjadi istri CEO."


Bola mata Kendra rasanya mau loncat saking kagetnya.


"Tapi, pernikahan mereka belum akan diumumkan kepada publik karena banyak alasan. CEO sangat mencintai Merilin, jadi ya beginilah jadinya. Jadi harap maklum ya kalau kau mendapat perintah aneh seperti ini."


"Baik." Masih shock.


"Bersikap biasalah di depan Merilin, seperti kau tidak tahu apa-apa. Simpan apa yang kau dengar dariku untuk dirimu sendiri. Dan semua perintah CEO tadi jangan sampai ada yang curiga, termasuk Merilin. Ah, kau tahu kan CEO kadang agak menyeramkan kalau sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginannya."


"Baik." Takut sekarang yang dirasakan Kendra.


"Mohon bantuannya ya."


Sekretaris Serge tersenyum sambil menyodorkan hpnya, meminta Kendra memasukan nomor miliknya.


Dan hari itulah, dia mulai menjadi mata-mata untuk CEO, mengawasi semua hal yang dilakukan oleh Merilin. Walaupun jujur, dia bertanya-tanya, bagaimana bisa Merilin dengan CEO. Hah! Terlalu banyak kejanggalan dan keanehan dari hubungan mereka.


Tapi, saat kejadian di kantin kemarin. Kendra jadi tersadar, ternyata seperti yang dikatakan Sekretaris Serge benar, kalau CEO sangat mencintai Merilin, hingga menyuruhnya menjadi perpanjangan matanya.


Mei, aku melakukannya karena perintah CEO sungguh, bukan hanya karena aku ingin mendapatkan hadiah rumah.


Begitulah...

__ADS_1


Kenapa Kendra terlihat tenang selama ini, karena dia sudah tahu sejak awal, siapa Merilin.


Bersambung


__ADS_2