
Terserah apanya! Aaaaaa! Jadi arti terserah versi dirimu itu apa si Kak. Begitulah yang sedang berkecamuk di kepala Mei saat ini. Gadis itu membenturkan kepala ke pintu mobil. Bersandar dengan tubuh dan pikiran yang sudah lelah, dia lemas karena takut dengan semua hal yang akan terjadi hari ini.
Itulah yang terjadi pada akhirnya, awalnya rencana Mei adalah, dia akan menyetir sendiri mobilnya ke RS, karena janjian dengan ibu langsung di RS. Akan memakan waktu kalau dia atau ibu datang ke rumah masing-masing.
Tapi, yang terjadi, malah seperti ini.
Pantas saja, pagi tadi dia bangun cepat, aku bangun dia juga bangun, tidak banyak hal iseng yang dia lakukan di pagi hari. Bisanya Kak Rion kan selalu banyak maunya kalau akhir pekan. Hah! Seharunya kau menyadarinya Merilin, tanpa sadar Mei memukul kepalanya, karena saking bodohnya tidak memperkirakan kejutan yang akan dilakukan Kak Rion hari ini.
Rion melirik Mei, dia tersenyum sambil tergelak kecil. Dia tahu istrinya sebenarnya tidak mau dia antar, tapi, bodo amat, dia mau mengantar, walaupun Mei tidak mau sekalipun.
Lucunya, dia merengut kebingungan dari tadi.
Rion berdehem sambil mengetuk kemudi, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dia membiarkan ketika beberapa mobil menyalip di depannya. Waktu masih cukup senggang, dengan jadwal bertemu dokter.
"Kenapa kau diam saja? Kau saking terharunya aku menemani ke RS sampai tidak bisa berkata-kata ya?" Rion memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan yang satunya dia pakai untuk mengacak kepala Mei.
Padahal Rion tahu kegelisahan yang ditunjukkan Mei, sejak dari rumah tadi. Tapi, baginya itu lucu, jadi dia semakin ingin menggoda Mei.
"Hehe, ia Kak. Padahal ini akhir pekan, tapi Kakak harus bangun pagi, dan menyetir begini. Bagaimana aku tidak terharu." Padahal Mei meremas jemari tangan di pangkuannya, was-was. Dia juga belum memberitahu ibu, karena tidak ada celah Kak Rion tidak menempel padanya sejak bangun tadi. "Padahal Kakak bisa istirahat, aku menyetir sendiri juga nggak papa kok. Eh, tapi aku senang Kakak mengantar." Buru-buru meralat kata-kata saat Rion terlihat mengetuk kemudi lebih keras. "Terimakasih ya Kak, hehe, maaf sudah merepotkan Kakak."
Aaaaa! Bagaimana ini! Mei melihat wajah Rion. Apa dia tersinggung?
"Haha..." Rion malah tertawa karena ekspresi Mei yang campur aduk.
"Apa si Kak, kenapa tertawa?"
"Suka-suka aku, ini kan mulutku sendiri. Kau juga tertawalah kalau mau tertawa." Mei menaikkan matanya, hah! lalu menghela nafas, tidak mungkin menang dalam hal apa pun dengan Kak Rion.
Lucunya, baiklah walaupun lucu tapi kasihan juga dia jadi tegang begini.
Ternyata hati nurani suami iseng itu mulai bekerja.
Laju mobil semakin melambat, Rion menepikan mobil di pinggir jalan raya. Agak masuk ke dalam area parkir sebuah pertokoan waralaba. Ah, ternyata Gardenia Pasifik punya minimarket juga, gumamnya saat melihat logo besar perusahaan itu.
"Kenapa berhenti Kak? Kakak mau membeli sesuatu?" Mei melihat ke arah minimarket.
Rion tidak menjawab, dia malah menjatuhkan lengannya di kemudi, seperti memeluk kemudi mobil, dan memutar kepalanya ke samping, wajah tampannya kenapa semakin terlihat keren walaupun cuma begitu si. Mei yang dihujani ketampanan Kak Rion langsung berdebar-debar. Tangan Rion terulur, Mei ragu sesaat, lalu dia mengulurkan kedua tangannya menggengam tangan kanan Kak Rion, yang dia goyangkan.
__ADS_1
"Jangan takut."
Eh, kenapa ini. Mei memiringkan kepala bingung.
"Ini hanya pemeriksaan biasa, kau akan cek up kondisi tubuhmu, kondisi rahim dan entah apalagi, aku juga tidak tahu. Jadi jangan terlalu tegang."
Deg, dada Mei semakin bergemuruh kencang. Apa dia terlihat gelisah dari tadi, dan Kak Rion mengartikan kegelisahannya seperti ini. Dia takut bukan hanya sebatas pemeriksaan kondisi tubuh, tapi dia takut Kak Rion menemaninya sekarang. Bagaimana kalau dokter membahas mengenai pil kontrasepsi. Bagaimana ini, apa aku mengaku sekarang saja.
"Jangan merasa terbebani Mei, berapa kali aku harus mengatakannya." Rion mengangkat tubuhnya, sekarang duduk miring sambil menekuk kakinya. Menghadap Mei. Tangan mereka masih terpaut. "Ibu mengajakmu memeriksa kondisi tubuhmu bukan karena menyuruhmu untuk langsung hamil. Aku juga begitu."
Rion meraih dagu Mei lalu mengguncangnya.
"Kau dengar itu?"
Mei mengganguk dengan dagu yang masih digoyangkan Rion.
"Jadi berhentilah tegang dan gelisah begitu, walaupun lucu si, sebenarnya aku mau membiarkan karena kau lucu." Rion sudah menunduk, dan mencium bibir Mei dua kali kecupan. "Tapi aku tidak mau melihatmu menangis." Kecup lagi, dan lagi.
Padahal aku sudah berkali-kali bilang, ibu dan ayah tidak memaksamu, aku juga begitu.
"Kakak juga?"
"Tentu saja, kehamilan kan melibatkan laki-laki dan perempuan, bukan hanya kau yang menentukan bisa hamil atau tidak kan?"
"Hehe, ia Kak."
Mei sedikit merasa lega, itu artinya dia punya kesempatan untuk bicara dengan dokter, untuk jangan membahas mengenai pil pada Kak Rion. Syukurlah, sekarang ekspresi Mei benar-benar terlihat tenang.
"Kemarilah!"
Rion merentangkan tangannya, dia mau Mei jatuh dalam pelukannya. Gadis itu menghambur begitu saja seperti yang diinginkan Rion. Usapan tangan lebar dan hangat membasuh punggung Mei. Gadis itu juga menepuk punggung Rion.
"Aku mencintaimu Mei, ayah dan ibu juga sangat menyayangimu. Jadi, berhentilah berfikir hal buruk, jangan mengkhawatirkan hal yang tidak penting. Tidak akan ada yang menyalahkan mu, kalau Tuhan belum memberi kita anak secepat orang-orang sekalipun. Ayo nikmati pernikahan kita ini, sebagai suami istri yang bahagia."
Mei menggigit bibirnya, kata-kata Kak Rion merasuk kedalam hatinya. Pelupuk matanya tidak kuat menahan keharuan. Merilin bodoh! Kenapa kau sampai berani minum pil kontrasepsi, kenapa kau sebodoh itu sampai tidak bisa melihat cinta Kak Rion. Sungguh, penyesalan memang selalu datang terlambat kan. Dan itu yang sedang dirasakan Mei sekarang.
"Dasar cengeng, kau menangis lagi?"
__ADS_1
"Hiks, terimakasih Kak, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku dan memahami aku. Terimakasih sudah mencintai orang sepertiku."
Rion tidak suka dengan kalimat terakhir Mei, dia menepuk bibir Mei.
"Memang kau kenapa?"
"Hiks aku..."
"Aku suka semua yang ada dalam dirimu Mei, kepribadianmu, wajahmu yang imut dan menggemaskan, cara mu bicara, kau selalu membuatku tertawa."
"Kakak kan selalu tertawa untuk alasan yang aneh."
"Haha..."
Tuh kan, baru juga dibilang, sudah tertawa lagi, gumam Mei sambil menghapus sisa airmata di ujung matanya.
"Cium aku.." Kumat, nggak mau ruginya itu lho. Rion menunjuk bibirnya dan bagian wajahnya. "Cium aku sampai kau senang."
Eh, Mei loading..
"Cium aku sampai kau tersenyum dan melupakan kegelisahan mu."
"Hah?" Maksudnya apa si? Mei kembali bingung.
"Bukannya kau senang kalau menciumi aku, nah kalah kau sudah senang, baru kita berangkat ke RS."
Haha! Lucunya! Lucunya!
"Haha, kenapa diam? Kau mau di sini sampai sore?"
Aaaaaa! Terserahlah walaupun kata-kata Kak Rion terdengar aneh, tapi pada kenyataannya entah dia atau Kak Rion yang lebih senang dengan semua kecupan ini, tapi hati kecilnya yang gelisah sedari tadi, benar-benar hilang dan pergi entah ke mana.
Semakin dia mencium tubuh Kak Rion, semakin dia bahagia, dan merasakan cinta yang diberikan Kak Rion padanya.
Mereka baru berhenti, saat hp Rion bergetar, panggilan dari ibu.
Bersambung
__ADS_1