
Merilin masih kebingungan dan berusaha menerjemahkan keinginan Rion sebenarnya apa. Sambil menunggu laki-laki itu selesai mandi. Dia memutar otak untuk berfikir dengan keras.
Kalau dia bilang, enyah sana. Itu artinya aku boleh tidur di kamarku. Merilin akan bertanya sekali lagi setelah Rion keluar dari kamar mandi nanti. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya tergantung jawaban Rion. Dia berharap tidak tidur satu kamar malam ini, karena dia takut.
Pikiran Merilin melamun ke mana-mana sambil menunggu.
Ah, seperti apa ya wanita itu, seharusnya aku bertanya pada Kak Ge. Apa dia punya fotonya ya. Mungkin dia gadis yang sangat cantik, sampai membuat orang seperti Tuan Rion tergila-gila padanya.
Saat sedang melamun, dia mendengar pintu dibanting lagi. Rion yang keluar dari kamar mandi, berdiri sebentar melihat ke arahnya. Laki-laki itu sekilas tersenyum, puas melihat Merilin yang masih berada di tempatnya semula. Bukan pergi ke kamarnya. Dia tidak membanting pintu ruang ganti.
Hah! Dasar orang aneh pemarah gila!
Rion keluar dari ruang ganti, sudah memakai piayama, dia membawa sebuah handuk kecil di tangannya.
"Mei..."
"Ia Kak."
Merilin gelagapan menangkap handuk kecil, tetesan air masih terlihat jatuh ke bahu Rion. Membuat bajunya basah. Mei menggantung tangannya memegang handuk, apa Kak Rion mau dia mengeringkan rambutnya, dia bergumam sambil melihat ekspresi wajah Rion.
Apa?
Rion menepuk pangkuannya, tanpa bicara sepatah katapun. Tapi Merilin sudah tahu artinya.
Dia mau aku mengeringkan rambutnya sambil duduk di pangkuannya.
Setelah meletakan pinggulnya di pangkuan, Rion baru mau membuka matanya. Dia menarik baju yang dipakai Merilin.
"Maaf Kak, aku belum membeli baju tidur yang lain, hari ini aku pergi menemui Harven sebentar." Mei lupa untuk membeli baju tidur yang tinggal tarik talinya lalu terlepas. Malu sendiri dia menjabarkan maksudnya baju tidur yang seperti apa. "Besok aku akan membelinya."
Rion tidak menjawab, tapi dia tersenyum mendengar perkataan Mei.
Mengeringkan rambut dimulai. Sambil memgusap-usap rambut Rion, Merilin menahan nafasnya sendiri. Rion sedang membekap tubuhnya, seperti sedang menghisap aroma tubuhnya. Laki-laki itu sedang mencari ketenangan dengan memeluk tubuh Merilin. Selama proses pengeringan rambut tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Hanya wajah Mei yang memerah, karena panas dan tegang.
Aku suka ini, aroma tubuh ini. Rion tersenyum dalam dekapan dada Merilin, sementara gadis itu masih mengusap rambut dengan wajah kemerahan.
Apa kau sedang menjadikanku pelarian Kak, apa kau sedang membayangkan wanita itu saat memelukku. Tidak apa-apa Mei, asalkan dia senang dan kau bisa melewati malam ini dengan selamat. Aku ini kan cuma boneka Kak Rion.
Rion mengangkat kepalanya, dia menarik tubuhnya bersandar. Healing dengan memeluk Merilin sudah selesai. Rion Menyentuh rambut Merilin. Dia tarik sampai membuat Merilin tersentak karena gadis itu sedang melamun.
Apa sih! bikin orang kaget saja.
"Apa yang kau lakukan tadi saat aku masuk Mei? Kau sampai tidak mendengar aku membuka pintu."
Deg. Mei bersyukur Rion tidak membahasnya tadi, ternyata dia tidak melewatkannya begitu saja sekarang. Tapi gadis itu cukup sedikit lega, karena sudah menyiapkan jawaban.
"Aku memikirkan Kak Rion, rumah rasanya terasa sepi karena Kakak belum pulang."
Hah, berhasil, dia tersenyum. Bonekamu ini memang sudah pandai mengarang Kak.
Merilin sepertinya mulai beradaptasi dengan baik. Pokoknya biar selamat, dia akan mengatakan apa pun yang membuat Rion sedang dulu.
"Apa pekerjaan Kakak tidak berjalan dengan baik? Kakak jadi merasa marah dan kesal?"
Padahal aku tahu kau marah karena wanita yang pernah kau cintai itu kan.
Rion tidak menjawab, tapi dia mengangkat kepalanya maju dan mencium bibir Merilin. Gadis itu cuma bisa tersentak kaget dengan ciuman yang tiba-tiba. Lalu bibir lembab itu bergeser ke telinga.
__ADS_1
"Buka!"
Buka lagi! Buka terus dan teruslah buka! Apa cuma itu Kak responmu dengan keperdulian ku.
Padahal gadis itu menanyakan suasana hati Rion supaya bisa menghiburnya dengan kata-kata. Tapi sepertinya Rion tidak membutuhkan itu karena tidak menjawab. Malah menyuruhnya langsung buka baju.
Tenanglah Mei, dia hanya perlu kau hibur dengan sentuhan tangan dan tubuhmu sekarang ðŸ¤
Tanpa menunggu perintah selanjutnya Merilin menarik baju yang di pakai Rion, lalu menjatuhkannya di belakang tubuhnya. Dengan melemparkannya, setelahnya Merilin mengibaskan rambut. Membuat Rion langsung tertawa dengan semua gerakan tubuh Merilin yang dibuat-buat.
"Sepertinya kau sudah menantikannya ya." Rion menarik ujung baju Merilin, menyuruh gadis itu juga membuka bajunya. "Kenapa diam? Buka!"
"Baik Kak!"
Lupakan semua rasa malu Mei, toh kau sudah sering ada di bawahnya tanpa baju sehelaipun. Tapi, kalau sedang seperti ini secara sadar membuka baju, rasanya memalukan. Rasanya wajah dan telinga yang memerah sudah menjadi jawaban semalu apa gadis itu saat membuka bajunya sendiri. Setelah Rion menarik bajunya untuk kedua kali Merilin segera melepaskan kancing bajunya satu persatu.
Terlepas sudah. Setelah kancing bajunya terlepas, Rion yang menarik bajunya. Melemparkan ke udara, mencontoh gerakan yang dilakukan Merilin tadi. Lalu dia mengusap bahu, menjalar ke punggung, menjentikkan jari, membuat pengait terlepas. Satu-satunya pelindung tubuh bagian atas Merilin terlepas.
Aaaaa! Kenapa dilepaskan dengan drama begini si, membuat orang malu saja. Merilin menutupi wajahnya, alih-alih menutupi tubuhnya. Saat mendengar Rion tertawa dan menoel dadanya, dia langsung menurunkan tangan.
Apa sih Kak! Aku ingin menangis saking malunya.
"Aku lelah dan marah, jadi cium aku untuk meredakan amarahku." Tiba-tiba bicara sambil meraih tangan Merilin.
Apa sih!
Sedang memutar otak mau mulai dari mana. Mau mencium dari bagian paling sensitif mana biar langsung melumerkan amarah. Sudah lupa dengan kondisi tubuhnya yang tanpa busana.
Merilin menunduk, mengusap bibir lembab milik Rion. Saat jarinya menempel di bibir Rion menangkap tangannya. Dia menggigit jari Mei lalu menjulurkan lidahnya.
Otak Mei sudah menyesuaikan diri ðŸ¤
Mei sampai tidak menjerit walaupun jarinya digigit, karena bibir yang tersenyum itu rasanya melumerkan hati. Rion membuka mulutnya, mendorong bahu Merilin untuk maju, dan ciuman bibir yang menggelora itu pun terjadi.
Bernafas Mei, tarik nafas perlahan Mei.
Teorinya bisa, tapi dia tersengal juga jadinya, saat ciuman Rion membungkus bibirnya durasinya sangat panjang. Tubuh yang menggeliat, mulai memanas. Setelah ciuman panas bibir Rion mendarat di leher Merilin.
Dia menggigit bahu Merilin.
"Aku kan menyuruhmu menciumku, kenapa malah aku yang menciumu."
Apa! Kenapa protes si Kak, bukannya sama saja!
"Ka, kalau begitu Kakak diam dulu donk. Aku kan jadi bingung kalau Kakak menyerang duluan."
UPS! Merilin menutup mulutnya, apa yang baru saja dia katakan.
"Kau bilang apa barusan?"
Mei langsung mendorong Rion, sampai dia terjerembab di sofa. Dasar pemarah, padahal aku cuma bercanda, dia sudah tersinggung. Tidak mau membuat Rion terpancing amarahnya, Mei mulai mencium bagaian perut Rion, naik ke atas, sejengkal demi sejengkal, bergerak dengan ciuman. Membekas kan kecupan merah di bagian dada. Lalu kecupan basahnya naik lagi ke leher. Mengelilingi leher Rion sampai terdengar laki-laki itu mengeluarkan suara lembut dari bibirnya.
Bahu yang lebar dan putih bersih, menanti kecupan bibir Merilin lagi. Aku ingin menggigitnya, dia kan sering sekali menggigit bahuku. Rasanya apa ya?
"Berani sekali kau Mei?"
Seperti ada sengatan listrik yang menyerang otak. Kepala Merilin langsung berfikir jernih. Dia sekarang posisinya sedang menggigit bahu kanan Rion.
__ADS_1
"Ma, Hemmm." Baru mau minta maaf, Rion sudah menyambar bibir Merilin. Laki-laki itu mengangkat tubuhnya. Merilin yang ada di atasnya ikut terangkat. Dia duduk lagi sambil bersandar, melepaskan ciuman panjang itu, dengan satu gigitan di bibir Mei.
"Awww, awww."
Dasar pendendam, aku kan tidak sengaja menggigitmu, begitu saja kau balas. Eh, auranya berubah.
Merilin semakin yakin, sentuhan, kecupan, ciuman memang bisa meredakan amarah laki-laki di depannya. Terbukti sekarang, wajahnya sudah merona cerah. Terserahlah, kau menganggapku hanya pelarian gumam Merilin, asalkan kau senang Kak. Aku anggap inilah caraku membayar semua hutangku padamu.
Jadi jangan salah paham Mei, jangan menikmatinya juga! Lakukan ini hanya sebagai bentuk kewajiban dan tanggung jawabmu. Demi membayar kebaikan Rion padamu.
Merilin mengunci hatinya lagi.
"Kakak sudah tidak kesal dan marah kan? Sudah lebih baik sekarang?" Merilin ingin segera turun dari posisinya.
Rion mengangkat jarinya, menunjuk gigitan Mei di bahunya. Gadis itu langsung memalingkan wajah malu.
"Maaf Kak, aku pasti sudah gila tadi."
"Lakukan lagi."
"Apa!"
Maksudnya, aku disuruh menggigitnya lagi! orang gila!
"Kenapa? Tidak mau? Aku lelah, marah dan kesal Mei, jadi jangan membantahku sedikitpun, bahkan di dalam pikiranmu sekalipun."
Apa sih, membuat orang merinding, memang kau tahu apa yang aku pikirkan.
"Ka, Kakak mau aku menggigit di mana lagi?" Merilin mengusap bahu bagian kanan. "Di sini?"
"Semua."
Rion bahkan menepuk pangkuan yang sekarang di duduki Merilin.
Apa! Dasar orang aneh!
"Aku hitung sampai tiga mulai, kau siap." Dengan bibir gemetar, wajah merah, menggigit bibir Merilin menunggu hitungan ketiga Rion. "Tiga, mulai!"
Aaaaaa! Dasar orang gila!
Tadinya berfikir menggigit Rion sekali dan dimaafkan menjadi ajang balas dendam Merilin dengan semua gigitan yang pernah di lakukan Rion, tapi malah menjadi senjata yang menyerangnya begini.
Aaaaaa! Tidak!
"Aaaaaaa, Mei! Mei kau nakal sekali!"
Rasanya Merilin yang dipermalukan, padahal dibeberapa bagian dia menggigit Rion dengan serius karena berharap laki-laki itu menghentikannya. Tapi malah terlihat dia menikmati.
"Kak, sudah ya."
"Sekarang giliran ku Mei." Rion berbisik, sambil menggigit telinga Merilin.
Malam itu semakin malam, semakin panas udara. Rion menggendong Merilin masuk ke dalam kamar. Saat lampu padam semua kembali di lanjutkan.
Eh, aku lupa memberi Mei hadiah, ah besok pagi saja sekarang sudah seru begini. Rion tersenyum, sambil menciumi belakang telinga Merilin.
Bersambung
__ADS_1