Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
140. Aku mencintainya


__ADS_3

Ruang kerja ayah sudah seperti lapangan yang habis tersapu badai. Barang-barang yang berantakan, bercampur atmosfer ketegangan. Membuat tidak nyaman. Rion saja menghela nafas jengah melihat situasi ini, apalagi Serge yang sudah terkurung sejak tadi.


Rion melihat Serge meringis kesakitan saat dia berjalan mendekat. Setelah didekati, kondisi sekretarisnya semakin terlihat menyedihkan. Rion berhenti, saat kakinya menginjak pecahan kaca. Melirik paman yang berdiri di dekat pintu masih dengan tatapan dan gestur tubuh yang sangat tenang. Tidak terusik sedikit pun dengan pemandangan yang ada di depannya.


Pasti dia, dia yang sudah membuat Serge babak belur begitu. Ah, ini kenapa si? Sampai detik ini, Rion belum bisa menerka alasan kemarahan ayahnya karena apa.


"Ayah, kenapa ini?" Bergeser melihat Serge. "Ge, kau tidak apa-apa?"


Jangan bertanya dan pedulikan aku sialan! Bicara saja pada ayahmu sana! Serge tidak mau melihat ke arah Rion. Dia membuang muka. Jangan bicara padaku! Bicara pada ayahmu saja sana! Kakinya saja sudah gemetar dari tadi, entah sampai kapan dia harus berlutut dan menahan nyeri di tubuhnya. Kalau urusan Presdir dengan Rion belum selesai, tidak mungkin dia bisa keluar dari ruangan ini.


"Ayah, ada apa, kenapa ayah marah-marah, sampai membuat Serge begini?" Rion masih bicara dengan nada suara tinggi. Belum terintimidasi dengan tatapan ayahnya.


"Di mana surat kontrak?" Ayah menjawab pertanyaan Rion dengan pertanyaan lagi. Dia masih duduk dengan tegak, tapi terlihat sekali, ayah berusaha mengendalikan emosinya dengan menarik nafas naik dan turun pelan-pelan. "Di mana kau menyimpan surat kontrak itu?"


Surat kontrak apa lagi si, Rion semakin bingung.


"Surat kontrak?" Melirik Serge yang malah membuang muka, sama sekali tidak membantu. Dasar sialan! maki Rion, ayah ini bicara tentang apa? "Kami baru kesepakatan awal, penandatanganan kontrak juga baru Minggu depan. Belum ada surat kontrak." Akhirnya pikiran Rion nyambungnya ke situ. Dia berfikir yang ditanyakan ayahnya adalah kontrak kerja dengan hotel XX.


Bukan itu sialan! Serge melihat Rion dengan tatapan kesal. Kau mau aku mati, dengan jawaban tidak nyambung mu itu. Yang ayahmu tanya, surat kontrak pernikahanmu dengan Mei! Kalau saja Serge punya keberanian bicara. Melihat ke arah Presdir saja nyalinya sudah hilang. Dia cuma mengepalkan tangan sambil mengoceh dalam hati.


"Gara-gara kontrak hotel XX, ayah sampai membuat Serge begini?" Rion mulai terpancing emosi. "Apa sih nggak penting banget."


Mati saja kau Rion! Kenapa kau tidak peka sekali sekarang si! Yang kebat kebit hatinya malah Serge. Yang takut Presdir meledak lagi ya cuma Serge.


"Bangun Ge, kenapa kau berlutut terus." Rion menarik kerah jas Serge. Tapi langsung terlepas, saat mendengar suara ayahnya yang dingin dan tegas, menembus seperti peluru ke telinganya.


"Surat kontrak pernikahan mu dengan Merilin. Dimana surat kontrak itu?"


Deg.


Rion mulai panik, dari mana ayahnya tahu? kenapa ayahnya bisa tahu? dia menendang lutut Serge, meminta penjelasan. Tapi, lagi-lagi Serge membuang muka. Ah, sialan! Kau mengatakan apa pada ayah bodoh!


"Haha, surat kontrak apa si Yah. Kenapa tiba-tiba bicara aneh-aneh. Kalau yang ayah maksud buku nikahku dengan Mei, ada di laci di kamarku. Bibi juga pasti tahu aku menyimpan itu di mana." Rion menendang kaki Serge lagi, Serge cuma mendelik kesal padanya. Jangan bawa-bawa aku lagi! Itu arti teriakan hati Serge yang berusaha dia tunjukan lewat sorot matanya.


Dan bantal kursi melayang ke wajar Serge. Jatuh ke lantai membuat dua laki-laki yang sedang lirik-lirikan itu kaget.


"Kau pikir Serge babak belur karena jatuh habis menari?" Ayah bicara dengan nada sinis dan kesal. "Jawab dengan benar Rion, dimana surat kontrak pernikahan yang kau tanda tangani dengan Merilin?"


Hah, kenapa aku yang kena lagi si, Serge mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Menarik bantal yang baru saja melayang ke wajahnya, menggeser ke belakang punggungnya.


"Rion!" Ayah berteriak.


Jawab saja sialan! Aku benar-benar takut melihat ayahmu begitu. Serge menarik tangan Rion untuk menunduk, akhirnya dia berbisik, supaya Rion menjawab dengan benar dan tidak mengarang jawaban yang bisa membuat Presdir murka. "Aku sudah mengatakan semuanya pada Presdir, maaf. Semuanya. Semuanya." Serge memberi penekanan pada kata semuanya. Artinya, dari A sampai Z, Presdir sudah tahu semua.


Mendengar itu, untuk pertama kalinya, Rion mulai merasa cemas menghadapi ayahnya. Dia akan menanggung kemarahan ayahnya yang meluap-luap itu.


"Di brangkas ruang kerjaku di rumah." Membuang muka setelah menjawab.


Jawaban Rion membuat Presdir tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Itu artinya yang dia dengar dari Serge tadi benar semua. Memang pernikahan Mei dan Rion berdasarkan kontrak pernikahan. Ayah meraih bantal kursi di sampingnya. Berjalan dengan cepat mendekati Rion, sementara Rion yang kaget tidak bisa menghindar. Dan bug, bug, bug, pukulan bantal kursi mendera bertubi-tubi di tubuh Rion.


"Apa aku pernah mengajarimu seperti ini." Sambil bicara dan berkejaran dengan tarikan nafasnya, ayah memukuli tubuh Rion dengan bantal yang dia pegang. Kesegala arah sesukanya bantal itu mendera. bug, bug, bug.


"Ayah, ayah! sakit!" Rion mengangkat tangannya melindungi kepalanya. "Ayah! Sakit!" teriakan kesakitan Rion tidak meredam pukulan ayah.


"Memang kau pikir pernikahan itu main-main, bisa-bisanya kau menyerat wanita lain karena dendam masa lalumu." Bug, bug. Ayah memukul tubuh anaknya untuk pertama kalinya dalam hidupnya. "Kalau kau mau balas dendam pada wanita itu, kenapa menyeret Merilin." Pukul lagi, dan lagi.


Serge maupun sekretaris Presdir cuma bisa menatap tidak percaya. Melihat Rion dipukuli begitu. Ya walaupun pakai bantal. Serge tidak mau menertawakan ini, tapi jujur, hati kecilnya yang jahat sedang tertawa melihat Rion dipukuli ayahnya.

__ADS_1


"Ayah sakit, sakit." Rion berteriak dengan suara keras sambil menggoyangkan tantangan ke udara. "Sakit Yah, sakit!" Merengek seperti bocah.


Pukulan mereda, sekarang tatapan Presdir mengarah pada Serge. Sorot mata yang membuat merinding lagi ditangkap Serge. Apa! Kenapa Anda melihat saya lagi! Pukul saja anak kesayangan Anda.


Tapi...


"Kau juga, kau kan yang waras kenapa malah ikut-ikutan!" Pukulan yang sama menghujani Serge. "Kau seharusnya mengingatkan Rion kan!"


Senjata bantal kembali beraksi.


"Bukannya menasehati Rion, kau malah ikut-ikutan."


Bug, bug.


"Ayah, sudah hentikan, jangan pukul dia lagi. Dia sudah babak belur." Rion yang walaupun merengek kesakitan akhirnya meringkuk di atas Serge, menjadi tameng pukulan ayah. "Ayah, sakit!"


Mendengar rintihan anaknya, ayah menjatuhkan bantal ditangannya ke lantai.


"Kau mengecewakan sekali Ge.." Ayah duduk lagi di sofa, bernafas perlahan. "Kau kan tahu, Rion sedang patah hati karena wanita itu, kenapa kau malah ikut-ikutan dan menurutinya. Malah kau yang menjodohkan mereka kan! Kau tidak punya hati nurani! padahal kau bilang Merilin itu seperti adikmu sendiri, bisa-bisanya kau mendorongnya masuk pada rencana gila Rion." Ayah melemparkan bantal yang dia sambar di sebelahnya lagi dengan kesal, seharusnya mengenai wajah Serge lagi, tapi Rion menggeser tubuhnya, dan akhirnya bantal itu mengenai perut Rion dan jatuh ke lantai.


"Sakit Ayah." Rion masih berani merajuk, membuat Serge ingin menendang kaki laki-laki di depannya. Bisa-bisanya masih bilang sakit. Kau tidak lihat aku berdarah-darah. Ayahmu memukulmu pakai bantal, tapi dia melemparku pakai pajangan kaca. Dan paman menampar pipiku beberapa kali. Aku yang kesakitan bodoh. Hih! Tapi terimakasih sudah melindungiku. Dia tidak lupa ternyata, Serge merasa terharu saat Rion melindunginya tadi.


"Kalau Mei itu adikmu, dan ada laki-laki kurang ajar memperlakukan adikmu seperti yang kau lakukan, ayah bisa membunuhnya dengan tangan ayah sendiri. Kalian berdua benar-benar ya!"


Ayah memang marah pada Mei, minum pil kontrasepsi diam-diam. Bahkan melakukan pernikahan kontrak. Tapi, biang kerok dari semua itu adalah anaknya. Anak kesayangannya. Dibantu orang yang sudah dia percayai untuk menjaga anaknya. Tentu saja, amarahnya pada Rion dan Serge berkali lipat jumlahnya. Ketimbang amarahnya pada Mei.


"Padahal ayah mau membantumu, kalau kau mau balas dendam pada Amerla itu, tapi kenapa, kau malah balas dendam dengan menikahi wanita lain." Rion tidak menjawab. "Kau sakit dipukul bantal?"


"Sakit Yah." Tampang memelasnya muncul.


Rion dan Serge tertunduk. Semua yang dikatakan ayah bukan hanya menampar Rion, tapi juga memanah nurani Serge. Dia yang sudah menyeret Mei dalam pernikahan ini.


"Memukul kalian saja tidak cukup!" Ayah menjejakkan kaki, membuat Rion dan Serge tersentak bersamaan. "Ceraikan Mei." Ucapan ayah langsung menjadi panah yang menancap di jantung Rion.


"Ayah!"


"Kenapa? Kau masih mau main boneka dan rumah-rumahan lagi dengannya." Ayah mengangkat tangannya. Sekretarisnya yang dari tadi berdiri tidak bergeming, menunduk lalu keluar dari ruang kerja. "Ayah tidak akan mempermasalahkan uang yang sudah kau berikan pada keluarga Mei. Lepaskan dia Rion, jangan melampiaskan kemarahan mu pada masa lalumu. Merilin tidak pantas mendapatkan kebencian mu. Bukan dia yang menyakitimu, jadi jangan menyiksa gadis itu lagi. Biar paman yang mengurus perceraianmu, ayah tidak percaya lagi pada Serge."


Serge cuma bisa menciut. Ditatap begitu oleh Presdir.


Setelah ayah selesai bicara, tiba-tiba, Rion yang sedari tadi berdiri menjatuhkan lututnya. Suara benturan lututnya membuat Serge yang sedang tertunduk, terkejut. Mau apa kau? Kenapa kau sampai berlutut? Rion berlutut!


"Kenapa? Kau belum puas mempermainkan Mei?"


"Aku tidak mau bercerai dengan Mei." Berteriak dengan lantang.


"Kenapa?" Entah apa yang dilihat ayah, pandangannya lurus ke depan.


"Aku mencintai Mei Ayah, aku mencintai Mei." Rion sampai mengangkat tangannya ke udara. Mengucapkan kata itu lagi. "Aku mencintainya, ayah. Aku mencintai Mei."


Ayah tertawa mengejek, menertawakan jawaban Rion.


"Hentikan omong kosong mu. Malam ini, kalian tidak boleh tidur dalam satu kamar. Paman yang akan mengurus semuanya, kau cuma perlu tanda tangan." Rion tahu, ini bukan sekedar ancaman.


"Aku jatuh cinta pada Mei sejak pertama kali kami bertemu!"


Teriakan Rion membuat Serge memukul kakinya sendiri karena kaget. Itu kan karangannya. Dan benar saja. Satu-satunya bantal kursi yang masih tersisa di sofa Presdir, melayang lagi ke wajahnya. Kali ini jauh lebih keras sampai dia mengaduh memegang pipinya.

__ADS_1


"Masih mau bicara omong kosong, dia kan yang mengarangnya."


Aku kan sudah bilang, aku sudah mengatakan semuanya pada ayahmu sialan. Semuanya! Termasuk cerita jatuh cinta pada pandangan pertama kalian. Kau tidak lihat bibir ku pecah! Serge saking kesalnya rasanya ingin pingsan saja sekarang.


Ayah masih melihat anaknya yang sedang berlutut. Rion menundukkan kepala, menatap lantai.


"Ayah tahu kan..." Rion bicara pelan. "Aku mau menjadi sampul majalah perusahaan karena aku suka gaya tulisan pimred majalah yang baru." Ayah tidak menjawab, membiarkan Rion bicara. "Awalnya aku malas karena ternyata pimred majalah perempuan, karena ayah juga tahh, para wanita yang melihatku dengan tatapan ingin memiliki itu. Yang selalu mencari perhatianku. Aku pikir, Mei juga akan bersikap begitu, tapi ternyata..."


Rion mengingat saat-saat itu. Mei bukan terpesona padanya, dia hanya bangga karena sudah bekerja dengan baik. "Karena itu, aku pun sedikit tertarik padanya. Karena dia berbeda dengan wanita lainnya."


Tapi, saat itu, sakit hati dan bayangan Amerla masih ada di hatiku. Rion mengakui itu, dia membenci semua wanita kecuali ibunya, karena berfikir wanita juga pasti tidak jauh dari Amerla.


"Dipertemuan kedua kalinya saat wawancara, aku memujinya. Tapi Mei sama sekali tidak merona atau tersipu-sipu. Dia hanya terlihat bangga karena aku mengakui pekerjaannya. Dan aku semakin tertarik padanya."


Serge bengong. Kau sedang mengarang kan? Batinnya berteriak. Itu aku yang mengarangnya kan.


"Aku menerima tawaran Serge, aku menerima wanita yang dibawa Serge karena dia Merilin. Aku penasaran padanya." Rion mengatakan semua yang tersimpan di hatinya. Yang Serge sekalipun bahkan tidak tahu.


Ayah menghela nafas, dia merasa cerita Rion sama sekali tidak masuk akal.


"Lantas, kenapa kau tidak mengajak menikah dengan benar kalau kau suka padanya, malah mengajak menikah kontrak, dan menyuruhnya menjadi boneka mu. Kau pikir ayah bodoh! Ayah tetap mau kau menceraikan Mei. Dan berhenti mengarang." Yang ditatap dengan sengit oleh ayah adalah Serge.


Rion berdiri dari berlutut. Berjalan ke dekat sofa. Dia jatuh berlutut lagi di dekat kaki ayahnya.


"Ayah, aku mencintai Mei. Aku sangat mencintainya." Memukul dadanya sendiri. "Aku hanya gengsi dan tidak mengaku. Aku mohon percayalah Ayah." Rion mengguncang kaki ayahnya. "Kalau ayah memisahkan aku dan Mei, ayah akan melihatku hancur untuk kedua kalinya." Rion memberturkan kepala ke kaki ayahnya berulang. "Ayah akan melihat anakmu hancur, bahkan lebih hancur dari saat aku dicampakkan Amerla." Rion menjatuhkan kepala di kaki ayahnya lagu. "Aku mohon Yah, aku mencintai Mei. Aku tidak bisa hidup tanpanya."


Tiba-tiba Rion menunjuk Serge.


"Apa? Kenapa?" Serge panik.


"Kenapa Serge?" Ayah yang sudah kesal pada Serge semakin kesal.


"Gara-gara dia, aku jadi tidak bisa mengungkapkan perasaanku pada Mei." Rion masih menunjuk Serge. Wajah Serge semakin pucat, karena takut Presdir salah paham.


"Hei, Rion! Kau jangan membuat Presdir salah paham. Memang aku kenapa." Serge mengibaskan tangannya bingung.


"Karena Mei menyukaimu, makanya aku tidak bisa bilang kalau aku mencintai Mei. Karena sudah ada laki-laki yang Mei cintai, itu kau!"


Suara benda jatuh terdengar. Saat Semua orang menoleh, Mei sedang berdiri di depan pintu, ibu ada di belakangnya. Hp, ditangan gadis itu jatuh membentur kakinya dan tergeletak di lantai.


"Nah, Mei, sekarang kamu percaya kan, kalau Rion juga mencintaimu." Ibu berbisik di dekat telinga Mei.


Airmata gadis itu jatuh tanpa bisa dicegah. Dia tidak mendengar tentang Kak Rion yang menunjuk hidung Serge. Karena yang dilihat Mei dan didengar Mei hanya pengakuan cinta Kak Rion.


"Rion juga sangat mencintaimu Mei." Ibu mendorong Mei masuk ke dalam ruang kerja.


Rion langsung berdiri dari berlututnya. Melihat ayahnya.


"Ayah, apa ini?"


Ayah memukul kaki Rion.


"Kalau kau mencintai seseorang, katakan dengan benar Nak. Jangan malah menyakiti hatinya."


Sepertinya yang bingung cuma Serge di sini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2