
Rumah Presdir Andalusia Mall.
Jika dilihat dari luar, tampak tenang. Karena hanya terlihat para pelayan yang beraktifitas. Tidak terdeteksi keberadaan Presdir.
Beberapa pelayan berbisik antar mereka sendiri, gosip kalau sebenarnya nyonya rumah sudah ditemukan, tapi tetap tidak mau pulang, menyebar di antara para pelayan. Ada yang merasa kasihan pada Presdir, tapi lebih banyak yang mendukung keputusan nyonya. Apalagi, cerita pemukulan nyonya menjadi buah bibir yang menyebar dari satu mulut ke mulut yang lain. Sudah bisa ditebak, siapa sumber utama gosip itu beredar di rumah orangtua Ibram.
Walaupun hati kecil mereka pun merasa malu, karena selama ini hanya bisa pura-pura tidak melihat, simpati mereka yang tidak pernah berubah menjadi empati.
Ketika mobil Ibram sampai di depan gerbang, penjaga gerbang utama langsung menghubungi kepala pelayan. Dan saat mobil berdecit di area parkir, kepala pelayan sudah berjalan keluar dengan bergegas.
Lampu taman sudah menyala, pendar cahaya rembulan jatuh diantara pepohonan. Ibram mengusap kepalanya, lalu menghela nafas. Dia sudah siap berperang dengan ayahnya. Amplop berisi surat cerai sudah ada di tangannya, ibu bahkan sudah menandatanganinya. Apa pun yang terjadi nanti, dia harus membuat ayahnya menandatangani surat perceraian ini.
"Tuan Muda, akhirnya, Anda pulang." Kepala pelayan terbata menyambut, dari wajahnya terpancar lelah. Tapi, Ibram sedang tidak perduli pada apa pun. Baginya, orang yang tinggal di rumah ini semua pengikut ayah, dan dia muak dengan mereka semua. "Tuan besar..."
"Di mana dia? Di mana Presdir?"
Menyebutnya sebagai ayah saja, sudah membuat Ibram merasa jengah saat ini.
"Tu, tuan besar sedang ada di kamar, beliau sudah beberapa hari tidak keluar dari kamar."
Langkah kaki Ibram berhenti, bukan hanya karena mendengar ucapan kepala pelayan, tapi tumpukan barang yang ada di depannya. Dua buah kardus dan satu lukisan yang terbungkus dengan kain berwarna biru. Apa-apa an ini pikir Ibram. Kalau majikan kalian mengurung diri di dalam kamar, apa lantas kalian tidak bekerja.
"Apa ini? Kenapa kalian membiarkan barang berserakan di sini."
Kepala pelayan tampak ragu-ragu, dia bingung mau menjelaskan dari mana.
Semua menjadi kacau sejak kembalinya tuan besar malam itu. Para pengawal mengatakan, nyonya sudah ditemukan, tapi akhirnya tuan besar kembali dengan tangan kosong. Sikapnya masih dipenuhi amarah saat dia masuk ke dalam kamar malam itu. Bahkan tuan besar tidak bisa mengendalikan emosi dan membanting barang di kamar. Makian yang entah dia tujukan untuk siapa terlontar berulang kali.
Dan paginya, saat barang-barang ini datang. Dia jatuh terduduk di sofa, sambil mencengkeram hpnya. Tidak mengatakan sepatah kata pun, akhirnya, tuan besar tidak pergi bekerja, tapi malah mengurung diri di dalam kamar. Hanya dia kepala pelayan yang dibolehkan masuk, walaupun begitu dia tidak diizinkan membereskan kamar yang berserakan.
Kepala pelayan sedang mencoba merangkai penjelasan di kepalanya berdasarkan semua kejadian yang dia lihat.
"Kenapa diam saja Pak? Ini barang-barang apa?" Ibram menendang salah satu kardus, membuat kepala pelayan terjaga dari lamunannya.
"Ini, ini hadiah yang dikembalikan oleh Presdir Andez Corporation lewat sekretarisnya." Langsung menjawab cepat karena kaget.
"Apa?"
Selama ini, walaupun kesepakatan bisnis tidak terjalin, karena CEO Rionald yang memutuskan semuanya, tapi ayah Ibram masih terus mendekati ayah Rion. Mereka masih saling menyapa, bahkan beberapa kali ayah Ibram mengirimkan hadiah. Seperti saat peluncuran film promo perusahaan. Mereka juga beberapa kali bermain golf. Hubungan bisnis yang semoga akan terus terjalin, siapa tahu, kedepannya akan berubah. Begitulah yang Ibram dengar dari penjelasan ayahnya, kenapa masih tidak tahu malu mendekati Andez Corporation.
Dan semua hadiah itu dikembalikan?
"Siapa yang mengantar?"
"Sekretaris Presdir Andez Corporation mengantarkan ini langsung. Walaupun, kami sudah menolak, tapi dia bersikeras. Dan sekretaris Presdir Andez Corporation mengatakan, mulai sekarang, tidak ada lagi hubungan antara Andez Corporation dan Andalusia Mall. Sebenarnya ada apa Tuan Muda?"
Ibram mengepalkan tangan. Teringat dengan perkataan CEO Rionald waktu itu.
"Vidio itu diambil Serge, kalau kau mau menuntut ayah mu silahkan, kalau kau membutuhkan saksi, aku akan mengizinkan Serge untuk bersaksi. Aku membantu mu bukan karena menyukai mu, jadi jangan salah paham. Aku membantu ibu mu, karena dia teman ibu istri ku." Kata-kata yang terdengar dingin dan acuh tak acuh kala itu.
Ternyata dia sampai melakukan hal sejauh ini, sampai mengadu pada ayahnya. Ternyata, CEO Rionald tidak sedingin sikapnya. Dia perduli pada ibu, walaupun tahu dia ibuku.
Dan ayahnya. Hah! Ibram menghela nafas karena teringat, dia pun seperti mendapat tamparan saat melihat Vidio wawancara ayahnya CEO Rionald itu. Ibram pun tahu pasti, kalau Presdir Andez Corporation pasti sangat membenci perilaku ayahnya. Sebagai laki-laki yang mencintai keluarganya. Dia sampai memutuskan hubungan dengan tegas begini.
Ibram meraih kain penutup lukisan, membuka kain penutup lukisan itu.
__ADS_1
"Apa Presdir marah setelah Andez Corporation mengembalikan ini?" Atau dia merasa malu? Ibram sedang menduga-duga, keadaan ayahnya saat ini seperti apa. Mengurung diri di kamar, itu saja sudah aneh kalau melihat bagaimana watak ayahnya selama ini.
Kepala pelayan menunduk. Dia sepertinya masih ragu untuk mengatakan semuanya, karena dia bicara tanpa izin begini.
"Jawab Pak! Suasana hati ku sedang sangat buruk. Jadi jangan membuat ku lebih kesal lagi."
Tidak ada Erla, tidak ada ibu. Sejak tadi, Ibram sudah berusaha mengendalikan pikiran supaya tetap waras dan tidak terpancing.
"Maaf, maaf Tuan Muda. Ehmm, itu, itu... Tuan besar menelepon Presdir Andez Corporation, sepertinya beliau merasa terhina dan marah karena tiba-tiba hadiah yang sudah dia berikan dikembalikan, tapi... setelah mereka bicara ditelepon cukup lama, tuan besar jatuh terduduk di sofa. Wajahnya pucat. Lalu beliau masuk ke dalam kamar, dan tidak keluar sampai hari ini. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan Presdir Andez Corporation, tapi sepertinya membuat tuan besar terpukul."
Apa ini?
Ibram seperti kebingungan, menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Apa ayah terluka hatinya karena hadiah yang sudah dia dapatkan dengan susah payah dikembalikan? Ayah yang masih bermimpi bisa menyaingi Gardenia Pasifik Mall melalui asrama karyawan, harus membuang mimpi itu? Atau, apa yang dia bicarakan dengan Presdir Andez Corporation? Apa Presdir Andez Corporation membicarakan kejadian pemukulan ibu? Silih berganti pertanyaan bermunculan di kepala Ibram.
Helaan nafas panjang terdengar
Tadinya, Ibram akan langsung menyerang dengan garang. Tapi, entah kenapa, sekarang Ibram jadi tidak bisa berteriak lantang memaki ayahnya. Dia memilih duduk di sofa. Berfikir, mau melakukan apa sekarang.
...๐๐๐...
Sudah di depan pintu kamar ayahnya. Ibram masih berdiri mematung. Terngiang kata-kata kepala pelayan lagi.
"Maaf Tuan Muda, tapi jangan terlalu membenci ayah Anda. Saya tahu beliau bersalah, tapi... " Terbata-bata, namun panjang lebar kepala pelayan bicara. "Maafkan kami juga, saya dan para pelayan yang selama ini diam saja."
Ternyata, ini adalah lingkaran setan yang diwariskan pada mu ayah. Ayah yang lahir dan tumbuh dalam keluarga yang keras, mendapatkan pendidikan yang bisa dibilang kejam dari kakek. Kakek yang temperamental, memperlakukan nenek seenaknya. Dan seperti siklus kehidupan yang berulang, apa yang ayah pelajari dari orangtuanya, dia kerjakan dalam kehidupan pernikahannya. Baginya tidak ada yang salah, beginilah sikap seorang kepala rumah tangga.
Dan aku pun melakukan itu. Tangan Ibram terkepal memukul dinding. Kalau Tuhan tidak menyelamatkan dirinya, bisa jadi anak-anaknya pun akan mirip dengannya nanti, seperti dia yang tidak jauh berbeda dengan ayahnya.
Erla, terimakasih, terimakasih sudah menyelamatkan hidup ku.
"Sudah ku bilang, tidak ada yang boleh masuk!" Teriakan yang bercampur suara bergetar terdengar, membuat Ibram terlonjak. "Keluar!"
"Ini aku..."
"Ibram?"
Ibram meraba-raba dinding, dia menginjak sesuatu.
Blar! Lampu menyala. Cahaya menyilaukan yang langsung menyerang mata, membuat Ibram menyipitkan mata. Kamar yang seperti kapal pecah, dan apa-apaan ini gumam Ibram kaget saat melihat sosok laki-laki yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
Dia tidak seperti ayahnya, laki-laki berbadan tegap yang walaupun usia sudah memakannya, tapi ayah selama ini sangat perduli dengan penampilan. Bisa dibilang, ayah masih terlihat tampan di usianya. Tapi yang dia lihat sekarang, pria tua dengan bola mata cekung yang bahkan tidak mencukur kumis dan jenggotnya.
"Hah! Apa ini? Apa ayah sudah gila?"
Kalau dulu, Ibram berkata lancang begini, pasti dia sudah dipukul ayahnya. Tapi sekarang, seperti orang yang sekarat, laki-laki itu cuma terdiam.
"Apa yang terjadi? Apa ini karena Presdir Andez Corporation mengembalikan semua hadiah ayah?"
Hening, hanya tatapan kosong ayahnya melihat Ibram.
"Di mana ibu mu?"
Seperti langsung terjaga, pada tujuan utama. Bola mata Ibram melebar, ada yang menyerang simpul kewarasannya. Dia menjadi kesal saat ayah mencari ibunya.
"Ibu tinggal bersama ku dan Erla, aku datang untuk memperingatkan ayah, jangan berani menemui ibu ku lagi. Kemarin, adalah terakhir kalinya ayah bertemu ibu." Suara bergetar menahan marah. Ibram teringat, Vidio yang diberikan Serge padanya. "Aku membawa surat perceraian yang sudah ditandatangani ibu. Ayah tinggal tanda tangan."
__ADS_1
"Tidak! Siapa yang mau menceraikan ibu mu!" Ayah bangun dari duduknya, menerjang ke arah Ibram. Membuat laki-laki itu terdorong sampai ke tembok dengan kerah baju tercekik. "Kau semakin kurang ajar ya!"
Amarah yang selalu membuat Ibram merinding, dan kalau ayahnya sudah bicara seperti itu, dulu dia hanya bisa tertunduk dan mengikuti perintah ayahnya.
"Kembalikan istriku!"
Plak! Tangan Ibram menepis tangan ayahnya yang mencekik lehernya.
"Kenapa? Supaya ayah bisa memukul ibu ku lagi." Ibram menyodorkan hpnya yang memutar Vidio di depan ayahnya. "Demi Tuhan, aku tidak rela."
Tangan ayah Ibram bergetar, dia mundur menjauh, dan jatuh terduduk bersandar ke tempat tidur.
"CEO Rionald yang memberi ku Vidio ini, sepertinya dia juga memberikan pada ayahnya ya. Sampai ayahnya mengembalikan semua hadiah mu. Sekarang, apa ayah sedang malu dan terhina karena semua sandiwara keluarga harmonis ayah ketahuan palsu." Sinis menghujam. "Apa yang dikatakan Presdir Andez Corporation pada ayah?"
Ayah Ibram memegang kepalanya yang berdengung. Selama beberapa hari ini, kata-kata Presdir Andez Corporation seperti hantu yang mengejarnya, bahkan sampai ke alam mimpinya. Vidio wawancara yang dulu dia tonton dengan biasa saja, entah kenapa muncul dingatannya menjadi tamparan yang bertubi-tubi menggores ulu hatinya. Bagaimana bisa Anda memperlakukan ibu anak Anda seperti itu. Wanita yang sudah berkorban hidupnya untuk keluarga Anda. Saya malu sekali, punya teman seperti Anda. Sekarang, jangan pernah saling menyapa. Anggap kita tidak saling mengenal. Kasihan sekali istri dan anak-anak Anda. Suara yang seperti lebah itu menari di kepalanya, menerjang dadanya membuatnya sesak dan kesulitan bernafas. Apalagi, Presdir Andez Corporation mengirimkan Vidio itu. Saat dia memukul istrinya, beserta rentetan pesan kekecewaan. Dia terhina, marah namun juga malu.
"Kenapa? Kenapa? Padahal dulu ibu mu tidak pernah protes, kenapa? Kenapa dia pergi sekarang, setelah sekian lama. Padahal dia dulu tetap tersenyum walaupun aku perlakukan seperti apa pun."
Ibram seperti melihat dirinya di masa itu.
"Ayah, apa dada ayah sesak dan dipenuhi rasa bersalah, apa hati ayah sakit sekarang, saat memikirkan ibu? Saat menghitung, berapa kali ayah memukul ibu? Saat melihat tangan ayah, ayah rasanya ingin memotongnya karena rasa bersalah?"
"Hentikan!"
"Apa ayah ketakutan saat memikirkan, ayah membuka mata tidak ada ibu di sebelah ayah. Ini bukan untuk seminggu atau dua Minggu, tapi selamanya. Karena setelah kalian bercerai, aku tidak akan mengizinkan mu bertemu dengan ibu."
"Hentikan!"
"Hubungan ku dengan mu, sekarang hanya tertinggal, hubungan Presdir dan CEO perusahaan."
Semakin ayah Ibram berteriak, semakin Ibram memanas.
"Hentikan Ibram, hentikan, ayah mohon." Ayah Ibram memukul dadanya sendiri. "Jangan bicara lagi." Rasa sesak di dadanya setiap teringat wajah istrinya, membuatnya susah bernafas.
Benar-benar mirip, aku seperti melihat diriku sendiri saat itu. Saat rasa bersalah menancap di dadaku. Sakit, sakit hanya itu yang Ibram rasakan dulu. Sekarang, ayah merasakannya. Apa ini juga pertanda, apa ini semacam isyarat, kalau ayah bisa berubah. Ibram mau menepis harapan itu, tapi, kalau dulu, Erla tidak memberinya kesempatan, hidupnya pasti hancur kan.
Dan sekarang, dia tidak mau mempercayai ayahnya, tapi, bagaimana kalau harapan itu memang ada, seperti dirinya dulu.
"Apa ayah mau minta maaf pada ibu?" Akhirnya, Ibram memilih menjadi Erla, memberi kesempatan kedua pada ayahnya. "Apa ayah mau memohon dan berlutut meminta pengampunan ibu?"
"Apa ibu mu mau memaafkan ayah?"
Ibu pasti memaafkan mu, entah karena cinta ibu pada mu, atau karena kasih sayang ibu untuk anak-anaknya. Ibu menatap ayahnya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Tapi jangan besar kepala! Karena aku mengawasi ayah! Kalau pun ibu memaafkan ayah, ayah harus berjuang membahagiakan ibu. Karena kalau sedikit saja, ayah menyakiti ibu. Aku tidak perduli dengan nama perusahaan, aku pasti menyeret ayah ke kantor polisi."
Suara yang sama sekali tidak berisi keraguan, Ibram sudah memantapkan hati. Kalau pun dia harus berkorban, itulah yang akan dia lakukan. Untuk membayar pengorbanan ibu, yang selama ini hidup menderita untuk melindunginya dan adik-adiknya.
Penutup
Mereka berdua, duduk bersebelahan di sofa. Barang yang berserakan belum dibereskan, kepala pelayan masuk hanya untuk memberikan laptop. Lalu dia keluar lagi, dengan hati yang sedikit lebih tenang.
Ternyata, kedua orang ayah dan anak itu, menonton ulang, wawancara Presdir Andez Corporation, saat membicarakan tentang istri dan anak-anaknya. Wawancara yang berhasil menampar pipi kedua laki-laki itu.
Bersambung
__ADS_1
Dari keluargalah semua bermula, semoga kita bisa menjadi keluarga yang mengajarkan cinta pada generasi selanjutnya๐๐