
Pembicaraan hari itu dengan Dean mengenai pil kontrasepsi.
"Kenapa kau mau minum pil kontrasepsi, biasanya pernikahan anak konglomerat, mereka ingin cepat mendapatkan penerus." Dean bicara pelan, terlihat terkejut dengan pertanyaan Merilin.
Merilin berusaha menutupi kepanikannya dengan tersenyum. Dan bicara sesantai mungkin.
"Kak Rion belum pernah membicarakannya De, aku juga takut kalau harus hamil sekarang, karena hatiku masih.." Merilin yang tidak meneruskan kata-katanya, tapi Dean tahu pasti maksudnya.
Hati Mei yang belum bisa melupakan Kak Serge. Tersampaikan dengan jelas pada Deandra.
"Apalagi pernikahan kami belum akan diumumkan kepada publik, aku masih bekerja seperti biasa, kalau aku tiba-tiba hamil bagaimana."
Terdengar bisa diterima alasan Merilin.
"Kalau hatiku sudah bisa melupakan Kak Ge, dan Kak Rion menginginkan anak, mungkin saat itu aku sudah akan siap De, tapi bukan sekarang."
Alasan yang Merilin sampaikan pada Deandra, tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak semuanya benar. Selain karena Kak Ge, tentu saja karena ini hanya pernikahan kontrak selama dua tahun. Setelah dua tahun apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Tuan Rion, sang waktu lah yang bisa menjawab. Anak tidak termasuk dalam syarat pernikahan.
Rion sendiri tidak memberi syarat, dia harus mengandung anaknya. Dia hanya harus melakukan apa pun yang dikatakan Rion, hanya itu. Menjadi ibu, tidak masuk dalam pasal mana pun dikontrak, bahkan sekedar ucapan lisan pun tidak disinggung.
Ya, bahkan sebenarnya Merilin ragu akan memerlukan pil kontrasepsi itu. Dia hanya membelinya untuk jaga-jaga. Karena Rion tidak akan menyentuhnya selama pernikahan seperti yang Kak Ge katakan, dia pasti tidak membutuhkan pil itu. Ini hanya bentuk antisipasinya sendiri.
Tapi ternyata semua di luar rencana, pil yang awalnya dia siapkan untuk jaga-jaga, pada akhirnya dia minum juga, karena ternyata Rion secara tidak terduga melakukan skinship diluar batas kewajaran seorang laki-laki yang membenci wanita.
Merilin masih berfikir, sejauh ini asalkan tidak ketahuan Kak Rion tidak apa-apa, toh laki-laki itu pun tidak pernah membahas anak, sekalipun mereka sudah melakukan hubungan suami istri. Dengan tidak membicarakan itu, Merilin semakin yakin, Rion juga tidak perduli tentang anak.
Dia hanya menyentuhku dan tidur denganku, karena ada boneka hidup di sampingnya, sayang kan kalau tidak dipakai. Entah ini pikiran baik atau buruk, tapi Merilin memang hanya akan menganggap sebatas ini perannya sebagai istri boneka untuk Rion.
Mei menyimpan pil kontrasepsi itu di bawah pakaian dalam*nnya, tempat yang tidak akan pernah dijamah oleh tangan Rion. Gadis itu sudah tenang dengan meminumnya, dia tidak berfikir tentang kemungkinan Rion akan menemukan benda yang dia sembunyikan itu.
Sebenarnya yang perlu diwaspadai Merilin, bukan hanya Rion. Seandainya Merilin menyadari, kalau yang perlu dia takutkan bukanlah Kak Rion semata. Karena pil kontrasepsi berhubungan dengan masalah anak dan penerus keluarga. Ya, ada pihak yang seharusnya jauh lebih diwaspadai Merilin. Kalau Merilin menyadari itu, dia pasti akan jauh lebih berhati-hati menyimpan pil-pil itu.
...🍓🍓🍓...
Merilin mengerjap kaget, rupanya dia melamun sampai ketiduran. Tersadar setelah membuka mata, pakaian kerja yang masih dia pakai belum berganti. Mei meregangkan tubuh, menggeliat ke kanan dan ke kiri, lalu menguap lebar. Melihat jam dinding, dia belum menghidupkan lampu, jadi temaran sinar rembulan dari luar yang menunjukkan angka di jam dinding.
Apa Kak Rion belum pulang ya.
__ADS_1
Merilin bergegas keluar kamar, menghidupkan beberap lampu, mengambil air, minum sambil duduk dan melihat pintu. Belum ada tanda-tanda kemunculan Rion. Setelahnya dia masuk ke dalam kamar mandi. Masih sempat melamun saat membasuh tubuhnya. Memakai sampo dan sabun ke seluruh tubuh.
Setelah ini aku mau ngapain ya, menunggu Kak Rion atau tidur?
Sampai selesai mandi, Merilin belum memutuskan dia mau melakukan apa. Gadis itu keluar dengan santainya, hanya memakai handuk, melilit di tubuh, karen tidak ada siapa pun di dalam rumah pikir Mei. Berjalan sambil mengeringkan rambut sekenanya. Bebas melakukan apa pun yang dia inginkan.
Ah, ia, Kak Ge. Aku sampai lupa belum meneleponnya. Maksudnya Kak Ge apa ya tadi. Ah, nanti aku tanyakan.
Marah? Untuk apa aku marah pada Kak Ge, walaupun dia melakukan kesalahan sekalipun pasti sudah aku maafkan. Karena sudah saking banyaknya aku menyusahkannya. Merilin tidak mau jadi orang yang tidak tahu berterimakasih, apalagi Kak Ge juga menjaga Harven. Semakin banyaklah hutang Budi Merilin padanya.
Merilin bergegas masuk ke ruang ganti. Mengambil pakaian dalam. Kotak kecil di bawah dalaman terlihat, dia menatapnya sekilas, lalu menutupi dengan celana, mendorong penutup laci. Menghela nafas panjang. Dia sudah memakai pakaian dalam, menjatuhkan handuk ke lantai begitu saja.
Santai, nanti dia pungut, mumpung tidak ada Kak Rion. Merilin mengangkat satu tangannya, membuat gerakan tubuh orang sedang bergoyang. Sambil mulutnya berdendang, syalalala...Lala. Dia benar-benar sedang menikmati kesendirian ini, menyibak rambut panjangnya beberapa kali, mengusir lembab.
Malam ini apa yang mau kami lakukan ya? Aaaaaaa, masak kami mau bercinta lagi. Tidak, tidak, Mei kau harus mencari kegiatan apa gitu yang bisa dilakukan.
"Memang mau melakukan apa malam-malam? Kalau malam ya tidur." Merilin menghela nafas sambil membenturkan kepala ke pintu lemari. "Kalau malam ya tidur Mei, memang kau mau apa?" Dengan lesu setelah mendengar mulutnya bicara dia membuka lemari pakaiannya. "Eh, apa ini." Dia menjatuhkan tangannya setelah menyentuh sesuatu yang terasa asing, buru-buru dia menjauhkan tangan dari deretan baju. Mundur kebelakang. Menjerit karena membentur sesuatu. "Aaaaaa!"
Saat menoleh, sejak kapan? sejak kapan Kakak ada di sana! Wajah Mei langsung pucat.
"Hari ini, kau juga tidak sadar dengan kedatanganku." Rion sudah menangkap tubuh Merilin dari belakang. Menunduk dan memberi kecupan di pipi. Tangan Rion menyentuh pinggang Merilin, gadis itu menjerit dengan suara sangat keras saat menyadari kondisi tubuhnya. Dia cuma memaki pakaian dalam, handuknya ada di lantai. "Kau memikirkan apa sampai tidar sadar dengan keberadaanku?" Kali ini mencium leher Merilin dengan kecupan yang meninggalkan tanda merah.
"Aku.."
Sejak kapan kakak di sini!
"Kak, ini apa?" Menutupi situasi karena saking malunya, Merilin memilih mengalihkan perhatian pada baju-baju yang tergantung di lemarinya.
"Ah, kau suka, hadiahku." Tangan Rion menyentuh pintu lemari, dia goyang-yoyangkan pelan pintu lemari. Setelahnya mendorong tubuh Mei untuk bergerak mendekat ke arah lemari. Posisi Mei masih dalam dekapan Rion. "Aku bercanda soal hadiah tubuhku tadi pagi, ini hadiahmu yang sebenarnya."
Rion tertawa sambil mencium pipi kanan Merilin lagi.
"Kau suka?"
Bercanda! setelah tadi pagi aku menikmati tubuhmu sesuai perintahmu kau sekarang bilang itu bercanda. Dan baju tidur ini! Sepertinya cuma kau yang senang kak dengan hadiah ini. Ini sebenarnya kau niat tidak si memberi aku hadiah.
Saking campur aduk ya perasaan Merilin, cuma bisa gemetar menyentuh baju-baju tidur aneka warna yang bergelantungan di dalam lemari.
__ADS_1
"Mana terimakasihmu Mei? Aku sebenarnya menyuruh bibi menyiapkan ini, malah ibu yang akhirnya membelikannya."
Hah! Dasar tidak tahu malu. Apa! Ibu yang membeli semuanya! Wajah Merilin langsung pucat.
Rion memutar tubuh Merilin, menghadap ke arahnya.
"Mana terimakasih mu."
Dasar orang aneh!
"Terimakasih Kak, terimakasih banyak, padahal aku bisa membelinya sendiri, malah merepotkan bibi dan ibu, tapi dimana baju tidurku yang sebelumnya, kenapa semuanya tidak ada?"
"Bibi membuangnya mungkin." Menjawab santai dan asal. Rion tersenyum saat melihat tubuh Merilin, gadis itu langsung sadar, berjongkok, memungut handuk. Tapi langsung disambar handuk itu dan dilemparkan ke keranjang baju. Tangan Rion mencubit pinggang Merilin. "Haha lucunya, berapa berat badanmu Mei?"
Rion tertawa saat Merilin terlonjak kaget dengan cubitannya, dia lalu mundur mengendurkan dasi dan melepas kemejanya.
"Tunggu aku di kamar, aku mau mandi dulu." Berbalik, menunjuk lemari. "Aku mau warna merah muda."
Apa!
Merilin masih bisa mendengar suara tawa Rion saat masuk ke dalam kamar mandi. Matanya langsung menatap lemari pakaian, dia merinding. Padahal hari ini dia sengaja tidak ke toko baju untuk membeli baju tidur. Dia akan beralasan kalau lupa karena banyak pekerjaan.
Tapi ini, tangan Mei meraih satu baju. Tangannya gemetar mengangkat baju tidur yang kalau talinya ditarik pasti akan langsung terlepas.
Siapa yang menemukan ide membuat baju tidur begini! Memang kau mau membuat orang masuk angin!
Saat di pakai, hanya sebagian kecil yang bisa ditutupi kain tipis itu. Kalau sudah seperti ini memang mau melakukan apa lagi. Walaupun memeras otak sekalipun, Merilin tidak menemukan ide mau melakukan apa selain tidur dan bergumul di bawah selimut.
Ah, bagaimana aku harus berterimakasih pada ibu! Merilin menjerit di kamar. Sementara Rion tertawa setelah keluar dari kamar mandi.
Ah, lucunya, aku jadi ingin memujinya cantik dan menggemaskan tadi. Untung saja Rion masih bisa mengendalikan mulutnya. Dia belum mau menunjukkan perasaannya pada Mei, kenapa? karena di dalam hati gadis itu masih bersemayam nama Serge.
Dari dalam kamar terdengar suara Merilin, seperti bicara dengan seseorang. Rion mendekat, hanya memakai handuk di pinggangnya. Penasaran Mei sedang bicara dengan siapa.
Ternyata gadis itu sedang menelepon.
Beesambung
__ADS_1