Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
209. Spesial Episode 3 (Mimpi Dan Cinta)


__ADS_3

Menjelang pernikahan Jesi dan Arman, dua keluarga besar mereka menjadi sering bertemu untuk mempersiapkan semuanya. Keluarga Arman yang sudah menyukai Jesi dari awal, benar-benar ingin menjalin hubungan baik dengan keluarganya. Ibu Arman selain mengajak ibu Jesi ikut memilih setiap detail kebutuhan acara, juga sering bertukar pendapat mengenai kehidupan anak-anak mereka.


Orangtua Jesi yang awalnya hanya memandang sebelah mata pada Arman, menjadi malu sendiri dengan sikap mereka. Dan seperti tertohok ulu hatinya, saat ibu Arman malah membanggakan pekerjaan Jesi. Pekerjaan yang selama ini hanya mereka pandang sebelah mata dan tidak pernah mereka dukung. Karena mereka berharap Jesi bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan seperti teman-temannya.


Seperti hari ini juga, ibu Arman dan ibu Jesi terlihat bersama.


Ibu Arman dan ibu Jesi bertemu dengan WO, memastikan semuanya sudah fix. Lalu mereka mengambil pakaian pengantin dan seragam pakaian untuk keluarga. Setelahnya sambil melepas lelah mereka mampir di food court, mengobrol sambil menghabiskan minuman dan makanan yang mereka pesan.


Kembali membicarakan anak-anak mereka.


"Terkadang apa yang kita pikir baik untuk anak ternyata tidak cocok dan sesuai dengan keinginan mereka. Awalnya kami juga berusaha menasehati Arman untuk memilih jalan hidup seperti ayahnya. Tapi..." Ibu Arman mengenang saat-saat itu. Bekerja di perusahaan, terserah mau mengikuti jejak ayahnya di Gardenia Pasifik Mall atau bekerja di tempat lain. Begitu pilihan yang diberikan pada Arman. "Tapi ya tetap saja itu tidak berjalan dengan baik karena minatnya memang tidak disitu. Hanya kurang dari dua minggu dia bekerja di kantor."


Ibu dan Ayah Arman juga pernah berfikir anaknya aneh dengan hobinya yang mempengaruhi hidupnya, dia bilang bosan bekerja di belakang meja, tapi bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan hobinya duduk di belakang meja. Aneh kan? Mereka berdua tertawa bersama.


"Akhirnya kami yang menyerah, karena berbeda dengan kakak-kakaknya, dia lebih suka memakai otot dan tubuhnya. Akhirnya, begitulah bagaimana dia bisa bergabung dengan tim keamanan Gardenia Pasifik Mall, dan menjadi pengawal pribadi Sherina, putri kesayangan Presdir."


Sampai hari ini, ibu Jesi ataupun ayahnya masih belum berdamai dengan pilihan Jesi, tapi rasanya bibir ibu Jesi kelu untuk mengakui.


Ibu Jesi tertunduk sambil meremas jemari. Lalu meraih gelasnya yang masih penuh terisi, dia teguk isinya


"Takdir itu memang tidak terduga ya Bu? Arman yang dulu cuma mengagumi dan menikmati komik-komik, kok bisa jatuh cinta dengan pembuat komiknya. Aaaaaaa! Hati saya masih berdebar saat memikirkannya, seperti waktu saya jatuh cinta dengan ayahnya anak-anak. Hihi." Ibu Arman kembali bernostalgia sekilas tentang bagaimana dia bertemu dengan suaminya. Setelah beberapa saat bercerita dengan semangat dia berdehem malu sendiri. "Haha, maaf. Kok malah nyambung ke ayahnya."


Ibu Jesi tertawa kecil.


"Sebenarnya awalnya kami tidak setuju Jesi menjadi pembuat komik." Terlepas juga kata-kata yang sudah coba Ibu Jesi tahan. "Kami punya alasannya juga." Segera bicara sebelum wanita di depannya salah paham. "Kami itu dari keluarga yang kekurangan, saya dan suami membesarkan anak-anak dengan keterbatasan. Dan kami tidak mau Jesi mengulang beratnya hidup yang kami jalani dulu." Ibu Jesi tertunduk. Menautkan kedua tangan dipangkuan. "Jadi kami tidak pernah mendukungnya bekerja serabutan begitu." Mungkin itu memang hanya alasan pikir ibu Jesi, tapi memang begitulah alasannya. "Kami bukan orangtua yang pandai membesarkan hati anak, jadi selama ini ayahnya dan Jesi sering bersitegang karena pilihan pekerjaan Jesi."


Apa kami terlalu keras pada Jesi gumam Ibu, tapi kami hanya ingin dia mendapatkan yang terbaik.


"Kami merasa malu sekarang, selalu menyepelekan pekerjaan Jesi."


Ibu Arman menggeser kursi mendekat, tangannya meraih bahu ibu Jesi dan memeluknya.


"Anak-anak itu punya mimpi dan cintanya sendiri, sebagai orangtua kita cuma bisa mendukung, mengarahkan jalan mereka supaya tidak salah memilih dan mendoakan kebahagiaan dan kesuksesan mereka. Jesi yang memilih mimpinya, menjadi caranya menemukan cinta. Hati saya selalu berdebar-debar Bu setiap memikirkan bagaimana takdir Tuhan mempertemukan mereka." Mereka berpelukan. "Jangan malu untuk minta maaf kepada anak, dan jangan sungkan memuji mereka kalau mereka sukses atau memeluk mereka saat gagal, sejatinya hanya itulah yang dibutuhkan anak-anak."


Ibu Jesi mulai terisak, sesenggukan bahunya terguncang. Beberapa kali kalimat terucap kalau dia pernah menyakiti hati Jesi dengan meremehkan mimpi dan pekerjaannya. Sampai menjelang sore kedua wanita itu saling menguatkan dan berbagi cerita, sebelum pulang mereka mampir ke salon mencuci rambut. Ibu Arman seperti menemukan teman sebaya untuk diajak seru-seruan.


Dan malam itu, Jesi menelepon Arman sambil menangis sesenggukan. Bukan karena perasaan sedih, namun karena rasa bahagia yang meluap-luap di dadanya.


Selama persiapan pernikahan Jesi memang menjadi sering pulang, jadi tidak aneh kalau dia terlihat di rumahnya. Semua masih biasa, saat dia duduk di ruang TV lalu kedua orangtuanya ikut duduk. Tidak ada yang aneh, biasanya juga begitu.


Keanehan mulai terlihat saat ayah mematikan TV dan mengatakan ada yang ingin dia sampaikan.


"Ayah dan ibu ku minta maaf padaku Kak! Aaaaaa! Beliau berdua bilang aku sudah bekerja keras meraih mimpi walaupun tanpa dukungan mereka. Aku hebat katanya karena bisa memujudkan mimpiku dalam keterbatasan. Hiks, hiks. Aku menangis karena saking bahagianya Kak, akhirnya untuk pertama kalinya ayah dan ibuku melihat komik ku. Aaaaaaa, mereka bilang gambar ku bagus. Kakak! Hiks, Hiks."


Jesi masih terus menangis karena perasaan bahagianya, wajah ayah dan ibu yang terlihat bangga saat membaca komiknya sekali lagi membuatnya menangis lebih keras. Jesi baru berhenti sesenggukan saat terdengar suara mobil berdecit di depan pintu.


Dan saat Jesi keluar, Kak Arman hanya mengangkat bahu sambil nyengir.


"Aku tidak tahu kok bisa sampai di depan rumah mu. Haha."


Karena rasa khawatirnya, saat Jesi terisak pertama kali, langsung membuat Arman melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Saat Jesi bilang dia menangis bukan karena bersedih, sudah kepalang basah. Mobil sudah dekat dengan rumah Jesi.


"Kak Arman..."


"Kemarilah." Arman menepuk pundaknya. "Aku kan janji akan selalu ada untuk mu."


Sambil duduk di teras rumah dan memandang langit malam, Jesi kembali bicara betapa bahagianya dia hari ini. Entah bagaimana ayah dan ibunya bisa berubah, dia juga tidak bertanya.


"Terimakasih ya Kak."


Tapi mungkin, semua ini hanya bisa terjadinya karena Kak Arman Jesi bergumam sambil menyandarkan kepala.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Karena mendukung pekerjaan dan mimpi ku, dan juga karena memberiku cinta."


Keduanya saling tersenyum lalu membenturkan kepala mereka pelan, menautkan kedua tangan menatap langit malam yang bertabur dengan bintang. Mimpi Jesi yang menjadi jalan Tuhan mengikat keduanya. Gadis itu tersenyum, hatinya kembali berdebar bahagia.


...🍓🍓🍓...


Pesta pernikahan Jesi dan Arman.


"Apa ini! Kak Arman benar-benar gila!"


Sherina sampai menganga tidak percaya saat masuk ke dalam gedung pertemuan milik Gardenia Pasifik Mall. Tempat akan dilangsungkannya pernikahan Jesi dan Arman. Ruangan yang biasanya kalau disewa orang untuk acara pernikahan akan di penuhi dekorasi bunga, dan hal-hal indah serta serba romantis, tapi saat ini sudah ruangan ini seperti kastil es yang sering dilihat dalam komik-komik roman fantasi zaman dulu. Bukan tidak indah pikir Sheri, karena ini sangat menakjubkan. Dari sekian banyak pesta pernikahan yang pernah dia datangi, ini benar-benar luar biasa dan mengundang decak kagum.


"Kakak benar-benar gila! Bagaimana bisa sampai memikirkan konsep pernikahan sekeren ini." Sheri memutar pandangan menyapu ruangan yang sudah ramai itu sekali lagi.


Mungkin yang jauh lebih gila WO yang bisa merealisasikan ide gila dari Kak Arman dan Kak Jesi. Sheri berdecak kagum tidak berhenti.


Ya, semua ide konsep pernikahan ini berawal dari Jesi dan Arman. Ala-ala kerajaan di zaman es dengan bangunan kastil yang dibuat seperti berbahan kristal. Tapi sebenarnya bukan. Istana es itu menjadi latar utama podium di mana kedua mempelai akan duduk nanti, mereka ibarat raja dan ratu sesungguhnya yang duduk di singgasana.


Dari dekorasi sampai suvenir pernikahan, semuanya mengusung tema komik Jesi. Bahkan di salah satu botol minuman yang menjadi salah satu sovenir dari tuju sovenir, gambar karakter utama komik Jesi ada di sana. Sepanjang memasuki gedung, foto-foto Arman dan Jesi yang memakai kostum pemeran komik. Bahkan ada TV besar yang menayangkan komik Jesi, ada layar barcode yang bisa di scan untuk mendapatkan kupon untuk membaca komik Jesi.


Kak Arman menunjukkan betapa keren istri yang akan dinikahinya. Dan tanpa malu memberi tahu semua orang, seberapa gilanya dia dengan dunia komik.


"Aku sudah bertemu Kak Jesi, dia cantik sekali. Aaaaa, lebih keren dan cantik dari karakter komiknya. Kak Arman beruntung sekali." Pipi Sheri merona teringat betapa cocoknya mempelai wanita memakai pakaian pengantinnya. "Baju kalian juga keren sekali."


"Hehe..." Wajah Arman bersemu merah karena bahagia.


Sheri memukul bahu Arman, lalu menepuk dadanya bangga, sambil bilang kalau dia ikut andil besar dalam pertemuan Kak Arman dan Kak Jesi, karena Kak Jesi teman Kakaknya Harven. Terlibatnya Arman dengan persekongkolan kakak sepupu telah menjadi jalannya bertemu dengan jodohnya, itu maksud kata-kata Sheri.


"Jadi, Kak Arman harus selalu mendukung ku dengan Harven ya, ingat itu." Sheri mengepalkan tangannya, meninju ke arah Arman. Laki-laki itu pun melakukan hal yang sama. Tos kepalan tangan. "Kita ini partner Kak, jangan saling mengkhianati. Kalau ayah dan Kak Erwin macam-macam, Kak Arman harus membela ku dan Harven."


Hemm, partner kejahatan, dasar. Anda kan tahu kalau mereka akan selalu menuruti Anda. Tapi daripada panjang urusan, Arman menganggukkan kepala saja.


"Apa aku meniru konsep pernikahan Kak Arman saja ya?"


"Kenapa? Hehe." Sheri mengibaskan rambutnya, lalu sudah loncat-loncat kegirangan saat melihat Harven diantara tamu yang sudah berdatangan. Harven bersama ibunya. Memberi selamat pada Arman. Lalu laki-laki itu pun menyapa tamu yang lain bersama orangtuanya dan orangtua Jesi.


Arman memang terlihat tenang, tapi sungguh, sedari tadi hatinya berdebar dengan kuat. Mencuri pandang ke arah ruangan di mana Jesi berada menunggu, saat ini wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya sedang bersama dua sahabat baiknya.


...🍓🍓🍓...


Ketika sang ratu mendapat kecupan manis dari sang raja, maka resmilah mereka menjadi pasangan suami istri. Tepuk tangan memenuhi ruangan acara. Arman merengkuh dagu Jesi, lalu menciumnya lagi. Semakin ramai tepuk tangan para tamu.


Saat tepuk tangan kegembiraan mulai mereda, Arman mengambil mic dan berdehem pelan. Dia ingin bicara, membuat musik mengalun dengan pelan. Arman meraih tangan Jesi, tangan berbalut sarung tangan putih itu dia kecup dua kali. Pipi Jesi memerah, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Arman, karena ini tidak ada dalam latihannya kemarin.


"Ehm, pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan rasa terimakasih pada semuanya, yang sudah merealisasikan pernikahan impian kami ini." Baju pernikahan yang saat ini mereka pakai, sama persis dengan desain baju yang dipakai karakter komik Jesi saat menikah. "Tentu saja untuk orangtua saya dan keluarga saya, kalian lah yang terbaik. Walaupun mengatakan dasar bocah gila." Suara tawa terdengar dari para tamu. "Tapi ibu bahkan memeriksa setiap detailnya dengan teliti. Terimakasih Bu. Terimakasih juga untuk Pak Presdir yang sudah merealisasikan hal gila ini menjadi kenyataan." Selain orangtuanya, bantuan keluarga Sheri juga tidak main-main. "Dan tentunya untuk Jesi, terimakasih karena sudah lahir ke dunia ini, dengan cantik dan mempesona. Terimakasih sudah membuat komik menakjubkan yang membuatku bukan hanya jatuh cinta pada karya mu. Aku mencintai mu sayang, Jesi ku. Author komik idolaku yang sekarang menjadi istriku." Arman memeluk bahu Jesi. "Jangan lupa, baca komik Jesi ya, kalian juga pasti akan terpesona."


Diantara tepuk tangan tentu saja ada gelak tawa, karena sempat-sempatnya Arman masih berpromosi.


Sang pengantin wanita tidak mampu membendung airmata kebahagiaannya, isaknya terdengar. Isak tangis karena kebahagiaan yang teramat sangat. Lalu gadis itu pun mengucapkan terimakasih yang cukup panjang untuk laki-laki yang sedang memeluknya.


Di antara para tamu, Mei dan Rion yang duduk berdempetan. Rion langsung menoleh saat mendengar gadis di sampingnya mengeluarkan Isak kecil saat Jesi selesai mengucapkan kata-kata terimakasihnya.


"Kenapa menangis? Padahal kau terlihat sangat bahagia."


Mei mendongak, lalu menjatuhkan kepala bersandar dan tangan melingkar di pinggang Rion.


"Aku sangat terharu Kak, melihat pernikahan Jesi. Konsep pernikahan ini yang bertema komik Jesi. Orangtuanya yang tersenyum bangga dengan semua karya anaknya."


Mei dan Dean adalah saksi hidup yang menemani perjalanan awal Jesi meniti karir dan impiannya. Impian yang dipandang sebelah mata oleh orangtuanya


"Jadi aku bisa ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini." Perasaan haru yang lahir menjadi tetesan air mata.


Saat di atas podium masih tercipta keramaian karena saatnya pengantin wanita melemparkan bunga, Mei kebingungan karena Rion malah menariknya menjauhi kerumunan orang. Dia menoleh, sepertinya Kak Serge yang mendapatkan hadiah bunga dari Jesi. Sebenarnya Serge sudah meminta ini dari awal, mau menghadiahkan bunganya untuk Dean.

__ADS_1


"Kak, kita mau ke mana?"


"Ssssst."


Mei akhirnya mengikuti langkah Kak Rion, menyelinap di antara para tamu. Entah ada di mana dia sekarang, bersembunyi di antara bilik kastil es. Rion langsung meraih tangan Mei, membuat gadis itu maju merapat, setelah ada di pelukan Rion, tanpa bicara laki-laki itu menciumi pipinya. Sisa airmata keharuan saat dia terisak karena bahagia tadi, perlahan terhapus.


Hah? Apa dia hanya mau menghapus airmata ku? Sampai kami harus menyelinap begini. Pikiran Mei yang berfantasi karena kebingungan.


"Jangan menangis Mei, kau tahu kan, aku sedih kalau melihat mu menangis."


"Ahhh, aku menangis karena bahagia kak, sungguh, aku merasakan kebahagiaan Jesi dan suaminya."


"Walaupun begitu, aku tidak tahan untuk tidak menghapus airmata mu." Kecup-kecup lagi, di pipi yang sudah mengering. Lalu mampir ke bibir beberapa kali.


"Kakak kan bisa menghapus airmata ku pakai tangan..."


Krik... krik... Seperti ada angin lewat yang membuat Rion tersentak.


"Ah, benar juga. Aku pikir hanya bisa menghapus airmata mu dengan bibir ku." Bicara tanpa ekspresi dengan nada serius. Membuat Mei mulutnya menganga saking tidak habis pikirnya. "Haha, lucunya." Mulut Mei yang terbuka langsung jadi kesempatan Rion melahap bibir itu, dan ciuman mereka pun berkelanjutan.


Saat sedang mengatur jeda nafas dan saling bertatapan menahan tawa, tiba-tiba mata Mei membelalak kaget. Karena terdengar suara dari bilik di sebelah mereka. Rasanya dia menahan nafas karena takut ketahuan.


"Kak, ayo keluar." Mei bicara dengan bahasa bibir tanpa suara.


Baru saja mau menggeser kaki, terdengar suara lagi.


"Kak Arman... nanti ibu mencari kita."


"Bukankah kau juga ingin mencobanya, menyelinap di pesta pernikahan seperti ini."


Suara kecup-kecup terdengar.


"Aaaaa! Kakak benar-benar sudah keracunan komik ku. Hemmm, hemmm."


Suara orang berciuman.


Mei semakin mendelik, tapi ingin tertawa tapi juga merasa bersalah karena sudah mencuri dengar. Tapi, kalau mereka melangkah pergi, gadis itu takut menimbulkan suara dan mengagetkan mereka.


"Bagaimana ini kak?" Masih tanpa suara bicara.


Kak Rion tersenyum, seperti tanpa beban, dia mengangkat bahu lalu menunjuk bibirnya. Apa?


"Fokuslah pada ku Mei." Saat telunjuk Kak Rion menyentuh dagu Mei, pandangan mata gadis itu hanya tertuju pada bibir Kak Rion, dan saat tangan Kak Rion mendorong punggungnya sampai membuatnya memeluk tubuh Kak Rion, mereka sudah berciuman, semakin dalam dan dalam. Sampai dia tidak mendengar suara apa pun, dari bilik di sampingnya.


Ternyata, bukan aku saja yang gila. Gumam Rion, saat terdengar suara percakapan lagi dari bilik di sampingnya.


Saat keheningan sudah tercipta di bilik sebelah, Rion dan Mei tergelak bersamaan sambil melepaskan pelukan mereka. Setelah lelah tertawa, masih mereka memberikan kecupan di bibir beberapa kali, sebelum keluar dan bergabung dengan keramaian pesta.


"Mei, kau dari mana saja?" Serge pamer bunga yang dia dapatkan. "Mana Rion?"


"Ah, aku dari belakang." Sambil merapikan rambut dan baju. "Kak Rion menyapa bersama ayah, menyapa rekan bisnis beliau."


Dean mendekat, lalu ikut merapikan baju Mei, dan rambut. Serta menyapu pipi dan bibir Mei. Lalu gadis itu berbisik di telinga Mei. "Lipstik mu sampai pindah ke bibir Tuan Rion ya?"


Wajah Mei langsung Semerah tomat.


"Haha..." Dean tertawa sambil menutupi mulutnya.


"Deandra!"


Kemeriahan pesta terus berlanjut, wajah sumringah kedua mempelai seperti memancarkan aura kebahagiaannya dari atas podium. Jesi tidak berhenti tersenyum saat menanggapi dengan ramah saat ada tamu yang menunjukkan hpnya, kalau dia adalah penggemar baru Jesi.


Pesta pernikahan yang akan selalu terkenang dengan indah, bukan hanya di ingatan Jesi dan Arman, tapi di semua hati para tamu yang datang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2