Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
197. Sheri dan Harven


__ADS_3

Hari ini seperti biasanya. Sheri datang ke rumah kekasihnya, Harven. Kunjungannya sudah seperti pulang ke rumah sendiri, dia tidak pernah diundang, kalau dia mau datang ya datang. Kalau sudah dijemput Arman, baru dia pulang.


Seperti itu juga hari ini.


Saat datang, Sheri langsung bertanya-tanya, kenapa semua ada di rumah. Bahkan Kak Brama, kakak pertama yang baru beberapa kali ditemui Sheri. Sekretaris Serge juga?Setelah bisik-bisik dan mendapat informasi dari Harven dia menganggukkan kepala dan bersikap tenang, tidak banyak bertanya atau bicara seperti biasanya. Suasana yang sendu, sedih dan juga amarah yang tertahan, membuat gadis itu menahan diri untuk tidak menggoda Harven juga.


Sheri ikut saja, ketika di ajak makan malam. Semua makanan dibeli Kak Mei dan suaminya. Sekarang mereka sudah duduk di sofa ruang tamu dan juga di karpet. Menikmati makan malam bersama. Tidak banyak yang bicara, membuat Sheri ikut menahan diri, cuma lirik-lirikan dengan Harven.


Tiba-tiba saat sedang menikmati makanan..


"Kalian dengar suara orang minta tolong?" Sekretaris Serge yang pertama kali bicara. Sheri dan yang lain pun menajamkan pendengaran, tapi tidak ada yang terdengar. Hanya keheningan malam. Dan suara deru kendaraan yang lewat di depan rumah. Semua orang menatap Serge. "Sumpah! Aku dengar suara orang minta tolong."


"Mungkin orang menonton TV." Sambil menyuruh Serge makan lagi, ibu menimpali. Tapi, Serge masih terlihat cemas. Dia memejamkan mata, demi memastikan. Karena walaupun tidak peka mengenai perasaan orang, panca Indra miliknya yang lain setajam elang. Menyesuaikan diri dengan Rion yang dulu tidak pernah perduli dengan keadaan sekitar.


"Sumpah, tadi aku dengar suara orang minta tolong."


"Keluar sana, pastikan ada apa di luar." Rion akhirnya memberi perintah, dia tadi selintas memang seperti mendengar sesuatu. Tapi, karena dia memang bukan orang yang perdulian, jadi sudah pasti, dia anggap dia tidak mendengar apa pun.


Yang lain menganggukkan kepala.


"Baiklah, aku lihat sebentar. Perasaanku nggak enak juga soalnya." Sambil menepuk bahu Brama di sampingnya. Serge bangun, yang lain tetap melanjutkan makan. Tidak lama dari keluarnya Serge, laki-laki itu sudah kembali dengan dramatis, dia sampai mendobrak pintu. Wajahnya terlihat pias dan serba salah.


"Ge!" Rion.


"Kak Ge!" Mei dan Harven yang ikut kaget karena suara keras pintu, langsung berdiri dari duduk.


"Serge! Kau kenapa?" Ibu dan Brama yang reaksinya paling normal. "Ada apa di luar?" Brama bertanya lagi.


Serge menunjuk rumah sebelah.


Semuanya langsung meninggalkan sendok dan piring mereka, berjalan ke ruang tamu.


"Kenapa dengan tetangga sebelah?" Ibu jadi merasa khawatir, kalau-kalau ternyata benar ada yang meminta tolong. "Ada apa Ge? Ibu kenal dengan tetangga sebelah rumah. Dia benar minta tolong?"


Raut wajah Serge sudah menjawab semuanya, apalagi saat dia melanjutkan penjelasannya.


"Lihat sendiri.."


Serge menyodorkan hpnya, yang langsung dikerumuni semua orang. Tangan Rion yang memegang hp bergetar marah, dia tahu siapa laki-laki yang sedang mencaci maki di Vidio yang direkam Serge itu.


"Ya Tuhan, Ibu ini, Nak ayo kita ke sana. Ya Tuhan, ibu ini tinggal sendiri dengan pelayannya." Ibu Mei tanpa sadar merebut hp yang dipegang Rion, dia langsung menangis. Melihat tetangganya. Mereka sudah saling sapa dan beberapa kali mengobrol. "Ayo Nak, ini teman ibu."


Ibu Mei menjadi panik sendiri, dia menarik tangan Mei untuk bergegas. Karena ibu sudah bicara begitu, akhirnya Rion meraih tangan Mei, menggandengnya. Beriringan berjalan menuju rumah sebelah. Dia punya alasan untuk membantu wanita itu sekarang.


Dan akhirnya, kejadian penyelamatan itu terjadi.


Disela-sela Rion yang bicara dengan pelaku pemukulan, Sheri dan Harven yang berdiri sebelahan mereka terlihat bisik-bisik, bicara pelan antara mereka sendiri.


"Lho, itu kan Presdir dan istrinya." Sheri menyebutkan nama ibu Ibram. Sambil matanya tidak beranjak. Tangannya merangkul lengan Harven.


"Kau kenal?" Harven bereaksi.


"Ia, aku beberapa kali bertemu di pesta perusahaan. Ibu ku saling menyapa dengannya, jadi aku pun harus memberi salam. Ya, walaupun kami saingan bisnis." Sheri menjawab begitu saja, sambil matanya masih fokus melihat ke depan.


"Memang perusahaan apa?"


Tanya jawab yang terjadi secara spontan. Harven hanya menimpali dan bertanya balik, sementara Sheri menjawab tanpa sadar. Sambil masih bicara pelan, dan mata melihat pertengkaran di depannya.


"Dia Presdir Andalusia Mall." Sheri menjawab lagi.


"Dan ayah mu?"

__ADS_1


"Ayahku, Presdir Gardenia Pasifik Mall."


"Apa? Mall yang sering kita datangi."


Harven mulai mendapat kesadaran. Dia terlihat memandang Sheri lekat. Apa dia tidak salah dengar gumamnya. Mall sebesar itu milik keluarga Sheri. Berarti dia anak konglomerat. Jangan-jangan istana yang ada di kompleks perumahan itu rumahnya. Haha, yang benar saja? Harven tidak mau mempercayai praduganya sendiri.


"Semua gedungnya punya ayah mu?" Harven sedang memastikan lagi. "Gedung mall?"


"Ia. Dasar gila! Memang kalau itu istri mu kau berhak memukulnya!" Sheri sewot sendiri saat ayah Ibram bicara membalas Rion. Masih asal menjawab Harven. "Hihhh, aku lapor ke ayahku nanti ya, suami jahat, sudah tua masih jahat saja pada istri. Biar ayah tidak usah mengundangnya kalau ada pesta perusahaan. Hihhh!" Sheri meninju udara geram.


Harven berdehem di samping Sheri. Gadis itu tersentak karena berfikir Harven tidak suka dia memaki. Tapi, saat menoleh dan melihat wajah Harven, ekspresi laki-laki itu terlihat aneh.


"Ven, kenapa?" Sheri belum sadar, kalau dia bukan hanya keceplosan, tapi, barusan dia sudah melakukan pengakuan. "Kamu marah juga kan, sama Presdir tua Andalusia Mall yang jahat itu? Maaf, aku terlalu banyak memaki."


"Sheri, sepertinya banyak yang harus kita bicarakan." Setelah pandangan mereka bertemu, Harven melihat ke arah lain.


"Hah? Apa sih Ven?"


"Gardenia Pasifik Mall." Tatapan Harven melihat jauh entah ke mana, bukan gadis di sampingnya.


Mendengar nama perusahaan ayahnya disebutkan Harven, bola mata Sheri sudah seperti mau melompat. Sepertinya dia sudah sadar dengan banyaknya kalimat yang dia ucapkan barusan.


"Ven, aku..."


"Kenapa?"


"Ah, Kakak itu terluka keningnya. Aku bantu dia dulu ya."


Saat melihat Kak Mei yang membantu istri Presdir, Sheri langsung gesit membantu pelayan muda yang terluka, gadis itu mengusap kening Lisa yang berdarah. Sambil takut-takut melihat ekspresi Harven.


Hah! Dasar gila! Sherina kenapa kau mengakui semuanya seperti orang bodoh! Aaaaa! Seharusnya aku kan mengaku di momen khusus, sambil minta maaf pada Harven. Sheri gelagapan saat Harven mensejajarkan langkahnya, saat mereka pergi masuk ke rumah sebelah menyelamatkan ibu tetangga dan pelayan muda itu.


Dalam diam, mereka membantu membersihkan luka Lisa. Agak dilama-lama, tapi tetap selesai juga. Dan akhirnya Harven yang bicara.


Saat mereka sudah ada di taman belakang, saat angin malam berhembus pelan, entah kenapa perasaan Harven campur aduk.


"Ven, aku bisa jelaskan semuanya. Tapi aku mohon, dengarkan dulu alasanku."


Harven yang tegang, bangun dari duduk. Melepaskan tangan Sheri yang memegang tangannya.


"Ven..." Sheri mulai panik karena merasa ditolak.


"Aku ambil air dingin dulu, aku haus."


Sheri akhirnya membiarkan, Harven menghilang di balik pintu belakang. Lalu, dia membenturkan kepalanya ke meja taman sambil mengutuk kebodohannya.


"Aku tidak mau putus, pokoknya nggak mau. Kamu boleh marah, tapi jangan campakkan aku." Sheri membenturkan kepalanya lagi ke meja, sambil mendesah berulang-ulang.


...🍓🍓🍓...


Botol air dingin yang ada dalam genggaman membuat tangan Sheri sejuk, sedikit membuatnya nyaman. Walaupun saat melirik Harven dia gelisah lagi. Apa yang dia takutkan dari Harven yang tahu rahasia keluarnya memang benar adanya, laki-laki itu memang berbeda dengan laki-laki lain yang mengejarnya. Sheri si anak konglomerat pemilik mall, anak kesayangan yang sudah terjamin masa depannya. Mereka senang, karena Sheri anak Presdir Gardenia Pasifik Mall, sedangkan Harven, dia lain, dia gelisah dan merasa tidak pantas.


Aaaaaa! Bagaimana mungkin aku tidak mencintai laki-laki semanis kamu Ven. Hatimu yang baik. Yang cuma kamu tunjukkan pada orang tertentu saja, dan aku termasuk di dalamnya. Bagaimana aku tidak mencintaimu.


Sedang terpesona di setiap kesempatan. Walaupun sedang gelisah sekalipun.


"Seandainya bukan aku yang menolong mu waktu itu, apa kau juga akan menyukai ku seperti sekarang?"


Keheningan pecah dengan suara Harven. Sheri langsung menoleh, melihat wajah tampan di sampingnya. Ekspresi Harven terlihat datar saja saat bicara. Tapi, Sheri tentu menjadi gelisah.


"Itu pertama kalinya kita bicara kan?"

__ADS_1


"Hemmm, entahlah, aku tidak bisa berandai-andai. Karena kau yang menolongku jadi aku jatuh cinta pada mu." Jawaban Sheri sudah seperti apa yang dibayangkan Harven. Langsung tanpa basa-basi. "Ven, kalau saat itu bukan aku, pasti kamu tetap menolongnya kan?"


"Apa sih, aku kan yang tanya, kenapa balik bertanya."


Kesal sekaligus gemas, karena Sheri malah tertawa sambil membenturkan kepalanya di lengan Harven.


"Berikan tangan mu."


Tangan Harven bergerak mengikuti perintah Sheri dengan mudahnya. Gadis itu menggengam erat. Menggoyangkan pelan, lalu mengangkatnya ke udara.


"Maaf... Jangan minta putus, kamu boleh marah, tapi aku nggak mau putus. Maafkan aku Ven. Aku salah, aku bukannya berbohong. Aku cuma tidak mau bilang."


Sheri mengintip dengan ekor matanya, ketika tidak ada jawaban dari Harven. Laki-laki di sampingnya masih terdiam dengan tenang. Hanya terdengar tarikan nafasnya yang naik dan turun.


Bagaimana ini, kenapa diam saja?


"Ayahku pemilik Gardenia Pasifik Mall. Rumah yang kamu bilang waktu itu, ia itu rumahku. Kak Arman bukan kakak sepupu ku, dia anak sekretaris ayah. Dia pengawal pribadiku. Aku anak kesayangan ayahku, aku selalu hidup dimanja dan dituruti apa pun yang aku mau. Aku punya kakak sedikit gila dan posesif yang selalu menganggap ku masih bayi. Tapi, mereka tidak akan menolak mu. Karena apa? Karena aku mencintai mu. Jadi jangan berfikir untuk putus dari ku hanya karena kamu merasa tidak pantas buat ku. Aku juga gelandangan kok, aku nggak punya uang. Semua itu uang ayah ku. Walaupun kakak ku agak galak, tapi dia menyukai apa yang aku suka. Jadi, dia pasti menyukai mu. Jadi percayalah, keluargaku tidak masalah asal aku bahagia."


Aaaaaa! Kenapa kau masih diam si.


Harven menundukkan kepala, bahunya terguncang. Sekarang, dia sedang menahan senyum dan tawa. Kenapa kau lucu sekali si. Sebenarnya isi kepala Harven ini. Wajah Sheri yang bicara sambil meledak-ledak, pipinya yang memerah terkena sinar lampu taman. Membuat Harven gemas sendiri. Lucunya.


"Aku memang bodoh ya, sampai tidak curiga. Aku masih percaya kalau Kak Arman itu sepupu mu." Sudah mode tenang, setelah berhasil menguasai ekspresi Harven mengangkat kepalanya. "Aku bodoh ya?"


"Apa? Kau itu tidak bodoh! kau itu hanya polos dan menggemaskan. Siapa yang berani bilang kamu bodoh? Maju sini, biar aku yang menghajarnya." Sheri mengepalkan tangannya, siap meninju siapa pun yang berani mendekat. "Dan aku suka."


"Apa sih." Harven membenturkan keningnya ke kening Sheri. Sambil tertawa, membuat gadis itu jantungnya langsung seperti orang habis maraton. "Hei! Kenapa?"


"Jangan menggodaku Ven, nanti aku cium lho."


Deg...deg... masih memegang dadanya yang berdegup kencang.


"Apa sih." Harven menahan kening Sheri yang maju-maju. "Diamlah, jangan meledek terus."


Tawa riang Sheri sudah terdengar, dia merangkul lengan Harven dan menjatuhkan kepalanya di bahu Harven. Sambil tangan mereka terpaut. Sheri bicara panjang lebar, tentang keluarganya. Tentang ayahnya dan kakak laki-lakinya. Tentang ibunya yang cantik dan penyayang.


"Kau dibesarkan di keluarga yang luar biasa."


"Mereka juga kan akan jadi keluarga mu."


"Kau ini, berhenti melamar ku setiap bertemu Kak Mei."


"Kenapa si, itukan naluri seorang istri. Lagian baru berapa kali juga aku melamar. Belum seratus kali."


"Hihhh, kau ini."


"Nanti, kalau bertemu keluarga ku, kau juga boleh melamar ku."


"Hihhh... sekolah dulu yang benar. Kuliah yang betul juga."


"Hihi, ia, ia. Aku juga mau kuliah di kampus yang sama dengan mu. Itu kan cita-cita ku sekarang."


Saat sedang ngegombal berdua terdengar suara tawa dari belakang mereka, Kak Brama sedang cekikikan melihat remaja pacaran. Sheri langsung berdiri tegak dan menundukkan kepala sopan.


"Kak Brama, hehe."


Brama ikut tertawa melihat tingkah Sheri dan adiknya yang malu.


"Ven, di mana Mei? Anak-anak ibu tetangga sudah datang. Panggil sana, dan Sheri, kakak sepupu mu sudah datang."


Datang tak diundang, tapi tak rela kalau saatnya harus pulang. Itulah Sheri.

__ADS_1


Dan akhirnya, pertemuan Mei dan Rion dengan Erla dan Ibram pun akhirnya terjadi, seperti sebuah rencana Tuhan. Menempatkan Ibu Ibram disebelah rumah ibu Mei. Sebagai jembatan pertemuan mereka.


Bersambung...


__ADS_2