Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
142. Pukul Aku Balik


__ADS_3

Meninggalkan ruangan Presdir yang berantakan. Ayah, ibu serta paman masih tertinggal di dalam sana.


Seperti keluar dari lumpur hisap, mungkin itu pengandaian yang tepat untuk Serge. Keluar dari ruang kerja presdir dalam keadaan hidup dan utuh tanpa berkurang sebagian tubuhnya. Rion mengapit lengan Serge membantunya berjalan, karena kaki Serge yang kebas walaupun dia sudah duduk sekalipun di sofa. Ketegangan berada di samping Presdir benar-benar menguras energinya. Apalagi ditambah omongan tidak nyambung Presdir.


Rion mengomel, walaupun dia iba melihat Serge. Tapi caranya menunjukkan kepedulian kan memang aneh. Apa sih! Paman kejam sekali sampai menamparmu begini. Rion tahu, sekretaris ayahnya itu memang cukup keras dan disiplin. Tapi apa perlu sampai Serge babak belur begini.


"Kau bodoh ya! Kenapa kau membiarkan paman menghajar mu! Seharusnya kau lawan kek, menghindar kek. Kau dipukul berapa kali si?" Memapah Serge ke ruangan lain yang ada sofa panjang. Mendudukkan Serge dengan hati-hati. Rion memperhatikan luka di wajah Serge. Memperkirakan apa yang sudah dilakukan paman padanya, dan berapa banyak rasa sakit yang sudah ditanggung Serge. "Sakit ya?" Masih bertanya dengan tidak tahu malu.


Memang karena siapa aku bisa begini sialan! Aku kan sedang melindungi mu! Sebenarnya Serge ingin berteriak begitu di depan hidung Rion. Tapi, dia hanya menunjukkan rasa kesal dengan diam. Sambil menatap Rion tak berkedip.


Hah! Akhirnya cuma bisa menghela nafas.


"Hei, kau marah ya? Sakit banget ya?" Rion ikut menjatuhkan tubuh di samping Serge. Menyapu wajahnya dengan tangan. Dia juga lelah sepertinya. "Sakit ya Ge? Paman memukulmu di bagian mana lagi?"


Serge yang tadinya berhasil menekan amarah akhirnya, seperti bebatuan yang muncrat dari letusan gunung, memaki lah dia karena Rion malah bertanya begitu, memancing ledakan emosi. Sakit ya? ya sakitlah!


"Sakitlah sialan! Kau masih bertanya. Kau dipukul pakai bantal oleh ayahmu saja merengek kesakitan." Akhirnya, menyembur juga amarah yang ditahan-tahan. Serge memaki. "Lihat ini! Ini juga, ini juga!" Menunjuk bagian wajah, lalu mengingatkan dia juga dipukuli pakai bantal oleh Presdir tadi, walaupun tidak sebanyak Rion. Serge meninju bahu Rion, pelan si memang. Dia juga kan takut Rion marah. Walaupun dipukul Rion juga sebenarnya tidak bergeming. "Apa aku perlu memperbesar otot lengan ya, supaya bisa menangkis serangan paman. Dia kuat sekali. Gila! Kepalaku sampai berdenyut, waktu ditampar tadi."


Rion nyengir mengejek, lalu bicara dengan entengnya. "Mau lenganmu sebesar atlit angkat besi sekalipun, kalau nyalimu sebesar batu kerikil di halaman rumah, memang kau berani melawan paman. Cih."


Serge masih kehabisan energi, jadi dia sudah malas memaki atau membalas kata-kata Rion. Karena faktanya memang begitu. Dia tidak akan berani membalas paman walaupun ototnya membesar sekalipun.


Ah, sialan! Sakit!


"Tapi paman memang kelewatan, kau kan bukan anak buahnya." Rion sedang membela Serge.


"Ah, sudahlah, memang kau mau apa? Mau membalas paman juga? Heh? Aku tahu dia tidak akan membalas mu walaupun kau menghajarnya sekalipun, tapi masak kau mau memukul orangtua."


"Cih, kenapa kau membelanya, itulah makanya aku bilang kau itu bodoh."


"Apanya yang bodoh! Kau itu yang bodoh." Serge teringat dia mau protes masalah ini dari tadi pada Rion. Cuma belum ada kesempatan. Dikatai bodoh tentu saja Rion merasa tersinggung dan mendelik kesal. Serge langsung merubah intonasi. "Maaf, memang aku yang bodoh sepertinya." Mundur dua jengkal sampai membentur ujung sofa.


"Huff, bodoh!"


Ia, ia, memang aku yang bodoh setia pada orang sepertimu. Begitulah arti bibir mencibir Serge. Tapi, Serge mencoba menggali lebih dalam apa yang ada di dalam hati Rion sebenarnya. Apa semua yang dia katakan di depan Presdir tadi benar adanya. Bukan hanya sekedar karangan untuk menyelamatkan semua orang. Walaupun sekarang semua sudah tidak berarti, karena mereka memang sudah saling mencintai.


Mau hubungan mereka dulu seperti apa, sudah tidak penting lagi. Karena toh mereka saling mencintai. Tapi, Serge benar-benar penasaran.


"Rion..."


"Apa!"


"Apa benar, semua yang kau katakan di depan Presdir tadi. Kalau kau sudah tertarik pada Mei sejak kalian bertemu? waktu wawancara pertama kalian. Itu kan semua hasil karangan ku."


Rion mendengus sebal, karena ditanyai begitu. Artinya kan Serge tidak percaya pada kata-katanya yang jujur dan dipenuhi ketulusan tadi.


"Tunggu, kenapa kesal si. Aku kan cuma penasaran. Lagian berhentilah salah paham sialan! Aku dan Mei tidak pernah ada hubungan suka-sukaan, mau aku menjelaskan bagaimana lagi si supaya kau percaya! Apalagi kalau kau bicara di depan Presdir! Kau harus berhati-hati. Kalau beliau salah paham dan berfikir aku ada hubungan terlarang dengan Mei, aku kan yang bisa mati. Berhati-hatilah bicara, aku mohon keselamatan ku dipertaruhkan di sini."


Jantungku rasanya mau copot saat kau sembarangan bicara tadi.


Rion tertawa, sepertinya rasa kesalnya sudah langsung berganti karena kebodohan Serge menerka situasi. Entah ini yang dinamakan kebodohan yang tidak bisa diselamatkan atau apa. Rion tertawa lagi sambil mengejek kepolosan Serge.


Apa sih, aku serius sialan jaga bicaramu di depan Presdir!


"Kenapa kau bodoh sekali urusan begini si Ge." Tapi Rion berharap selamanya Serge akan menjadi bodoh. Ya, walaupun itu tidak penting sekarang gumam Rion. Karena sekarang, hati dan tubuh Mei adalah milikku. Walaupun Serge tahu juga, sekarang sudah tidak ada artinya.


"Apa!"


Apa sih, kenapa mengataiku bodoh dari tadi!


"Haha, kapan kau mau punya pacar kalau begini Ge." Rion tertawa sambil memukul bahu Serge cukup keras.


"Apa sih, kenapa bawa-bawa pacar."

__ADS_1


"Bagaimana hubunganmu dengan temannya Mei?" Rion menyeringai, karena laki-laki itu tahu teman Mei menyukai Serge. Dia mengingatnya karena Mei cerita.


"Kenapa tiba-tiba bicara tentang Deandra?"


Apa sih!


"Bodoh!"


"Apa sih!"


Serge kesal sendiri, karena dia juga bingung, kenapa tiba-tiba Rion membicarakan Dean. Hubungannya dengan Dean baik-baik saja. Dia merasa nyaman bicara di telepon ataupun berkirim pesan. Bahkan terkadang, dia merindukan Dean, kalau sehari saja gadis itu tidak menghubunginya. Ada sesuatu yang hilang dari rutinitas hariannya. Seperti itulah hubungannya dengan Dean.


Deg...


Perasaan apa ini batin Serge, kenapa tiba-tiba aku berdebar saat memikirkan Dean. Wajah Serge tiba-tiba memerah tanpa alasan. Rion yang sedang menatap langit-langit kamar tidak memperhatikan perubahan wajah Serge. Serge jadi penasaran, bagaimana hati Rion saat nama Mei disebut. Apa jantungnya berdebar kuat seperti ini ya.


"Rion..."


"Kenapa lagi?"


"Kau benar menyukai Mei sejak pertama kali bertemu?"


"Kau mau mati bertanya begitu lagi."


"Jawab saja si, aku kan penasaran!"


Rion menoleh, menunjukkan pada Serge melalui sorot mata tegasnya. Tangan Rion terangkat lalu jatuh di bahu Serge. Laki-laki itu merinding, saat tangan kuat itu meremas lengannya. Dia benar-benar kesal, karena aku tidak mempercayainya gumam Serge.


"Kau benar-benar berkata jujur ya?"


"Tentu saja bodoh! Itu pengakuan cinta yang sudah aku tahan dan aku sembunyikan selama ini. Itu semua isi hatiku yang sebenarnya pada Mei."


"Bagaimana rasanya? Jatuh cinta itu?"


"Aku malas bicara tentang cinta pada orang bodoh." Membuang muka malas.


Saat Rion dan Serge sedang sedikit adu mulut, Mei masuk ke dalam ruangan, menghampiri keduanya dengan membawa kotak obat, bibi berjalan di belakangnya membawa baskom berisi air hangat dan alat kompres. Setelahnya bibi pergi ke luar.


"Kak Ge.." Mei terlihat sedih melihat luka memar di wajah Serge. "Apa Kakak benar-benar tidak perlu ke RS?" Mei sudah menyuruh Serge pergi ke RS karena melihat luka di wajah Serge. Tapi Serge cuma menggeleng dan bilang kalau sakitnya tidak separah itu sampai perlu di bawa ke RS segala.


Rion meminta lap yang dibawa bibi, untuk membersihkan darah yang ada di bibir dan pipi Serge. Pelan-pelan dia usap. Mengangkat darah yang sudah mulai mengering.


"Lagian Ayah berlebihan sekali, kenapa menyuruh paman memukul mu segala si. Kan bisa pakai kata-kata, kau juga pasti buka mulut karena takut pada ayah kan." Rion mengomel sambil membersihkan lupa. Mei di samping Rion mengusap bahu suaminya yang emosi. Tapi dia setuju dengan yang dikatakan Kak Rion. Apa perlu sampai memukul pipi Kak Ge. Gadis itu merasa bersalah berkali lipat. Karena tadi sekilas dia mendengar, ayah marah karena Serge yang sudah menjodohkannya dengan Kak Rion.


Serge meringis kesakitan, saat Rion mengusap sudut bibirnya. Gerakan tangan Rion terhenti, dia mendorong bahu Serge.


"Jangan bilang, kau tadi tidak menjawab ayah dan menutup mulut." Sepertinya hanya ini alasannya. Karena kalau Serge buka mulut, tidak mungkin sampai paman turun tangan.


"Aaaaa! Sialan! sakit tahu jangan menekannya kuat-kuat. Sekarang kau tahu betapa setianya aku padamu kan." Serge merebut lap dan mengusap lukanya sendiri. "Jadi berhenti mengomel."


Paman memukulku karena aku tidak mau buka mulut. Walaupun setelah ditampar dia bertanya-tanya kenapa dia bisa begitu setia pada Rion. Namun, sekarang, saat melihat gadis di samping Rion, dia tahu alasannya, karena dia tidak mau adiknya terluka, makanya dia sampai menerima tamparan paman.


"Maaf..." Suaranya lirih memang, namun langsung membuat mata Serge membelalak tidak percaya. Sejak kapan, si pemarah yang sukanya ngamuk dan menang sendiri ini mengaku salah, dan minta maaf. "Maaf Ge." Ah, gila, aku merinding, Serge masih merasa tidak percaya. Akan datang waktunya Rion tahu, betapa setianya dia pada Rion selama ini.


"Hentikan, kau membuatku merinding."


Rion meraih salep luka, setelah Serge selesai membersihkan luka. Dia mengobati luka Serge dengan penuh perhatian.


"Pukul aku balik, sebanyak paman memukulmu, untuk menebus rasa sakit mu."


"Kak Rion..." Mei yang langsung kaget mendengar ucapan Rion. "Kak..." Mei mengusap pipi Rion, lalu melihat Serge dengan tatapan memelas. Di mata Serge bola mata Mei bicara seperti ini.


Kak Ge, apa Kakak benar-benar mau memukul Kak Rion? Aku tahu Kak Ge juga kesakitan, tapi, apa perlu sampai harus membalasnya. Bagaimana kalau aku juga ikut menggantikan, pukul aku juga, setengah-setengah aku akan berbagi rasa sakit dengan Kak Rion. Ini semua cuma ada dipikiran Serge. Karena dalam hati Mei yang sebenarnya cuma berkata, jangan Kak, jangan aku mohon.

__ADS_1


"Aku merasa bersalah, karena kau dipukul paman untuk melindungi ku dan Mei." Rion bersikeras.


"Tapi Kak, jangan..." Mei sekali lagi memohon lewat sorot mata memelas.


"Hah! Kalian ini kenapa si, memang siapa yang mau memukul Rion, memang aku mau cari mati. Kalau Presdir tahu, memang kau pikir beliau akan mengajiku yang ada aku pasti bakal ditendang dari Andez Corporation. Dan kau Mei, jangan menunjukan sorot mata begitu, aku tidak akan memukul suamimu. Ya, ya, kalian benar-benar pasangan bahagia yang beruntung. Kau punya bawahan yang setia padamu." Menunjuk dada Rion. "Dan kau Mei, kau punya kakak yang sayang padamu, jadi tidak ada yang memukul dan dipukul. Puas." Hah! Serge menghela nafas, menjatuhkan tubuh di sofa. "Kalian benar-benar serasi, hiduplah dengan bahagia, jangan bertengkar apalagi karena masalah sepele. Saling mencintai dan rukun, supaya pengorbananku tidak sia-sia."


"Kau bicara sudah seperti ayahku saja."


"Hehe, ia Kak Ge seperti Ayah."


Ya, ya tetaplah tertawa seperti ini, Karen aku benar-benar ikut bahagia melihat kebahagiaan kalian.


"Ge, kau mau apa? Katakan saja, aku akan mengabulkan keinginanmu." Demi membayar pengorbanan Serge, Rion akan membalas dengan cara lain. "Mau aku bantu cari pacar?"


"Hah?"


Apa sih! Sombong sekali kau mentang-mentang sudah punya istri yang mencintaimu. Kau mau menyombongkan diri sekarang. Serge jadi ingin sekali saja menampar pipi Rion. Hehe, tapi kalau dia melakukannya dan membuat Mei menangis, pasti dia sendiri yang akan menyesal seumur hidup.


Sedangkan Mei, setelah mendengar kata-kata Rion secercah ide menyala di kepalanya. Dia berbisik di telinga Rion.


"Kak, bagaimana kalau aku menelepon Dean untuk menjemput Kak Ge? Hehe."


Rion tertawa mendengar ide Mei, sebenarnya dia malas ikut campur, tapi kalau Serge punya pacar dia juga ikut diuntungkan, jadi dia mengganguk.


"Wahhh ide mu brilian Mei, kau harus diberi hadiah karena sudah menemukan ide luar biasa ini."


"Hah?"


Masih melongo, Mei langsung mendapat hujan kecupan, di pipi dan semua bagian wajah. Bertubi-tubi sampai Mei gelagapan. "Aku akan memberimu hadiah lebih nanti, kalau si bodoh ini pergi." Menggigit telinga seperti kebiasaannya. Mei menjerit kaget saat tiba-tiba dia dipeluk dan diangkat didudukkan dipangkuan Rion.


Dasar bocah gila! Apa perlu kau bermesraan di depan jomblo seperti ku. Dasar Rion sialan!


"Hah, aku cuma jadi nyamuk di sini, aku pulang ya?"


Rion tidak menggubris ucapan Serge, dia melihat hp yang dipegang tangan Mei. Melihat pesan yang ditulis Mei untuk temannya. Teman Mei langsung membalas dengan stiker, siappp Bos.


"Sebentar Kak, aku sedang mengirim pesan pada Dean untuk menjemput Kak Ge, nggak papa kan, aku minta tolong dia."


"Hah? Kenapa Dean? Aku bisa minta sopir Presdir saja." Serge kebingungan dan panik, kenapa tiba-tiba membicarakan Dean.


"Sebelum pulang nanti, aku meminta Dean membawa Kak Ge ke RS untuk cek up, karena aku khawatir Kak." Mei beralasan. Asal membuat alasan sebenarnya.


Rion menarik rambut Mei, supaya gadis itu menolah padanya.


"Kenapa Kak?"


"Kenapa apanya? Kenapa kau khawatir pada Serge?"


"Ah, bukan maksudku begitu Kak, aku hanya cemas."


"Makanya, kenapa kau mencemaskan Serge?" Rion masih ngeyel, dan mulai terpancing kesal.


Mei kelabakan, mau bicara lagi.


"Ah, sialan! kenapa kalian bertengkar lagi, ia, ia aku pergi dengan Dean nanti. Sekarang aku mau keluar! Teruskan pertengkaran kalian, atau teruskan kemesraan kalian aku tidak perduli."


Dengan tidak tahu malu Rion melambaikan tangan, sambil mencium pipi Mei. Seringai kemenangan langsung terkembang naik. Sementara Serge mendengus lalu berjalan ke luar.


Kau mau mengusirku kan, dasar Rion sialan!


Tapi Serge bergumam, mereka lucu sekali. Benar-benar pasangan serasi. Eh, dia menghentikan langkah. Melihat tubuhnya, pakaiannya yang lusuh. Mengusap wajahnya yang dipenuhi memar.


Tidak! Bagaimana aku bertemu dengan Dean dengan tampang begini!

__ADS_1


Serge mencari kepala pelayan, dia mau mandi dulu sebelum bertemu dengan Dean. Sepertinya virus Rion secara tidak sengaja menempel di tubuh Serge.


Bersambung


__ADS_2