
Rasanya Merilin bisa merasakan hawa dingin bahkan sampai di sela kakinya, hanya dari tatapan menusuk Rion saat menatapnya. Lebih-lebih ketika pertanyaan tentang laki-laki atau perempuan rekan kerja yang akan dia beri hadiah terucap dari mulut Rion. Tekanan suhu ruangan semakin menurun drastis.
Baim memang laki-laki, tapi dia kan cuma Baim. Bocah iseng yang bahkan dianggap Merilin seperti adik kecilnya sendiri. Anak muda yang menempel padanya karena banyak hal yang dia tanyakan tentang pekerjaan. Cuma itu Baim bagi Merilin. Dan memang hanya sebatas itu faktanya.
Mei, coba berfikir dulu sebelum menjawab. Hiks, memang apa yang harus aku pikirkan, jawabannya kan memang sudah jelas. Baim itu laki-laki. Padahal jelas-jelas aku tidak membeli pakai kartunya, tapi sepertinya apa pun jawabanku akan membuat marah.
Merilin masih berfikir, amarah Rion sungguh tidak masuk akal.
"Dia laki-laki Kak." Akhirnya dijawab apa adanya dengan jujur.
Krek, Merilin seperti mendengar ada yang patah. Tapi tidak ada benda apa pun di tangan Rion yang patah. Maaf Mei, yang putus itu tali kewarasan di kepala Rion.
Merilin beringsut mundur saat Rion terbangun dari sofa, berjalan ke arahnya dengan sorot mata membara yang menakutkan. Ada jarak sekitar satu langkah, Rion berhenti. Tangannya meraih tangan Merilin dan mencengkeram pergelangan tangan kanan Merilin.
Aku takut! Aku takut! Dia menakutkan sekali!
"Setelah kau mau kencan buta." Suara geram menahan amarah terselip dari ucapan Rion.
Hah! Apa? Siapa yang kencan buta? Ah, akhirnya dia membahas kejadian di lift. Seharusnya kan aku yang marah dengan kejadian di lift!
Tapi masalahnya walaupun Rion membahas kejadian di lift bukannya Merilin yang memiliki kesempatan untuk protes, tapi malah aura kemarahan Rion semakin memenuhi udara. Membuat Mei semakin takut dan merasa sesak. Gadis itu sedang berusaha mencari celah meloloskan diri.
"Setelah kau mau kencan buta dengan laki-laki lain. Kau bahkan berani memberi hadiah untuk rekan kerja laki-laki!" Merilin tersentak setelah tangannya ditarik dan mendengar kesimpulan yang dipercayai Rion, dia dijatuhkan dan terduduk di sofa. Bajunya naik ke atas lutut. Dia tidak berani bergerak membetulkan baju dan rambutnya. "Kau mau mengkhianatiku!" Tangan Rion mencengkeram dagu Merilin, gadis itu tidak berani menatap ke depan, memalingkan wajah lalu memejamkan mata. "Kau mau mengkhianatiku setelah apa yang kulakukan untukmu dan keluargamu!" Bicara bukan dengan tanda tanya, tapi dengan nada kemarahan. Yang tidak perlu jawaban apa-apa.
Deg, deg detak jantungnya campuran rasa takut dan aroma tubuh Rion yang langsung terhisap saat dia menarik nafas dengan susah payah.
Aku takut!
"Kak, tidak Kak, aku mohon dengarkan Aku." Merilin masih memejamkan mata, berusaha menjelaskan. Tapi suami pemarah yang jauh lebih percaya dengan apa yang dia lihat dengan matanya semakin terpancing emosi. Semakin menekan Merilin di sofa dengan tubuhnya. "Temanku memang suka mengajakku ikut kencan buta, tapi aku bersumpah Kak, aku tidak pernah ikut sekalipun."
Nafas Merilin tersengal. Namun dia merasakan tekanan lutut dan tangan Rion mengendur.
Apa dia percaya? Aku mohon percayalah! Aku hanya menyukai Kak Ge selama ini, aku tidak pernah ikut kencan buta karena aku cuma menyukai Kak Ge, demi menghormati perasaan yang ada di dalam hatiku itu. Tapi, kalau sampai dia mengatakannya, entah kemarahan seperti apa yang akan meledak dari laki-laki di depannya ini. Dia pasti semakin dituduh tidak setia dan cap wanita pengkhianat mungkin akan semakin menempel di keningnya.
Keselamatan Kak Ge juga dipertaruhkan. Merilin berusaha mengunci mulutnya rapat.
__ADS_1
"Kak... percayalah. Aku mohon." Dengan suara serak Merilin bicara, memunculkan rasa iba. Bahkan dia sedikit menahan tangis untuk meyakinkan Rion. "Aku tidak pernah berniat kencan buta. Perihal hadiah, aku memang selalu memberi hadiah ulang tahun untuk rekan kerja ku selama ini." Masih bicara terbata. "Aku mohon percayalah Kak. Aku tidak akan memberikan stiker itu, kalau Kak Rion tidak mengizinkan."
Aku akan menggantinya dengan segelas kopi saja. Maaf Baim.
Rion mundur memberikan ruang bagi Merilin untuk bernafas dengan lega. Namun tiba-tiba tangannya menyentuh dagu Merilin, baru saja lega karena merasa Rion percaya, Rion sudah meraih punggung Merilin, menekan punggung ke depan sampai tubuh mereka menempel, dan mencium bibir gadis itu dengan buasnya. Laki-laki itu sedang mencoba memadamkan api kemarahannya dengan mencium istrinya. Namun bagi Merilin serangan itu terasa membabi buta membuatnya takut. Merilin reflek berontak mendorong tubuh Rion.
"Kau menolak ku, kau mau kencan buta dan mau selingkuh dengan rekan kerjamu! Jadi kau menolak ku sekarang?" Dorongan tangan Merilin memantik kemarahan Rion lagi. Dan serangan kata-kata menyudutkan yang keluar. Merilin kehilangan kata-kata untuk menyanggah atau menjelaskan. "Kau membuatku ke..."
Tidak Mei, kemarahan Rion benar-benar memuncak, dia meyakini kalau kau akan mengkhianatinya. Kalau pikiran itu berlanjut, Mei bisa saja berada diposisi wanita itu, wanita yang dibenci Rion karena mengkhianatinya. Merilin tidak mau menjadi seperti wanita itu.
Ahhhh terserahlah!
Demi meredakan kemarahan Rion, dan menunjukkan tidak akan ada celah perselingkuhan atau apa pun itu darinya. Merilin menarik baju Rion, mendekatkan wajah mereka. Lalu dia duluan yang mencium Rion. Merilin memejamkan mata karena rasa malu, saat kedua bibir mereka terbuka dan lidah mereka bergerak saling mengalahkan. Bergerak menghisap bibir Rion.
Aku pasti sudah gila! bagaimana aku bisa menciumnya duluan! Aku pasti sudah gila! Aku sudah gila! Kenapa dia pandai sekali berciuman? Kenapa bibirnya lembut. Aaaaaaa! Dasar Merilin gila! Jangan menikmati, jangan menikmati ciuman ini!
Marah-marah sendiri dalam hati, tapi dia mendesah saat bibir mereka terlepas, Merilin terengah bernafas. Menatap mata Rion, laki-laki di depannya sudah bisa tersenyum.
Dia tersenyum, artinya aku sudah selamat kan?
Baru saja tenang, Rion memeluk Merilin membuat gadis itu kaget dan selanjutnya menjatuhkan tubuh keduanya ke sofa. Jatuh tertidur dengan berpelukan.
Wajah Rion tepat berada di dada Merilin. Belum ada suara dari mulut Rion, hanya terdengar hembusan nafas.
"Katakan, kenapa aku harus memaafkanmu dan percaya kata-katamu." Rion bicara sambil masih membenamkan wajah di dada.
Dia belum mengganggap masalah ini selesai, hah! selain pemarah Rion itu pendendam Mei, jadi berhati-hatilah. Sepertinya nasehat Kak Serge selalu bermanfaat pada situasi mencekam begini.
"Karena aku boneka Kak Rion, aku tidak akan mengkhianati Kakak. Aku akan membayar semua yang sudah Kak Rion berikan padaku. Aku sudah mendapat laporan pelunasan hutang pinjaman ayahku dari bank dan Kak Serge. Sekarang, aku sudah tidak bisa berbalik lagi kan? aku akan menjadi boneka Kak Rion dan melakukan apa pun yang Kak Rion inginkan. Tidak mungkin aku bermain api dengan kencan buta dengan laki-laki lain Kak. Percayalah."
Poin utamanya adalah, Merilin yang sadar diri bahwa dia adalah boneka Rion yang bergerak sesuai keinginan Rion. Merilin sengaja memakai kata-kata itu untuk memuaskan hati Rion.
"Kau cukup tahu diri rupanya." Rion menggeser tubuh, lalu dia bangun dari posisinya. Berdiri, situasi itu dimanfaatkan Merilin untuk bangun. Duduk merapikan bajunya, mengaitkan kancing bajunya yang sudah terlepas semua. Ternyata Rion nggak diam saja tadi, tangan dan bibirnya tetap aktif beraktivitas.
Rion menuju dapur, mengambil minum di kulkas. Meneguknya beberapa kali. Lalu dia berjalan menjauhi ruang tamu, masuk ke dalam ruang kerjanya. Ruangan terlarang yang tidak boleh dimasuki Merilin.
__ADS_1
Apa sudah selesai? Aaaaaaaa! Aku takut sekali! Benar Mei, lakukan seperti ini. Kalau dia marah, katakan kau bonekanya. Sepertinya dia terobsesi dengan kata boneka. Terbukti dia luluh.
Walaupun Kak Serge pernah mengatakan Rion bukan orang yang suka main tangan pada perempuan, jujur Merilin tidak percaya itu. Bahkan dibagian hatinya yang ketakutan, dia menyiapkan diri untuk berada dalam situasi yang menyiksa. Sekarang, dia bersyukur, karena Kak Rion sesuai dengan yang dikatakan Kak Serge.
Rion keluar dari ruang kerja, membawa sebuah tas. Merilin sudah duduk dengan tegak, pakaiannya sudah rapi. Rambutnya yang berantakan sudah dia sisir dengan tangan, walaupun tidak rapi tapi sudah lumayan.
Tas yang ada ditangan Rion, dia letakan dengan suara berdebam ke atas meja. Merilin menebak-nebak apa isi tas itu. Apalagi yang akan dilakukan manusia aneh yang mengamuk hanya gara-gara stiker ini gumam Merilin.
"Buka!"
Buka lagi! Apa yang harus dibuka! Ah tas?
Merilin segera beringsut dari duduk, turun ke karpet. Tangannya baru bergerak menyentuh tas.
"Buka bajumu!"
Tangan itu membeku, Merilin melihat ke arah Rion yang sudah duduk bersandar. Terlihat pandangannya lurus melihat Merilin. Tangan gadis itu bergetar menyentuh kancing bajunya. Dia menggigit bibirnya.
"Haha, lucunya, kau sudah mau menangis. Aku cuma bercanda, buka tas itu." Masih terdengar sisa tawa di mulut Rion. Tidak perduli wajah Merilin yang merah karena kesal.
Seharusnya kau tidak bercanda! Karena semua yang keluar dari mulutmu itu selalu berarti perintah untukku.
"Buka..."
"Baik Kak."
Merilin mendekatkan tas, uang tunai, kartu dan kunci mobil ada di dalam tas. Apa ini? Mei melihat Rion, yang menepuk dadanya seperti merasa bangga.
"Pakai itu semua, aku akan bertoleransi untuk pemakaian keluargamu, kau boleh memakai kartu dan uang itu sebatas untuk keluargamu. Tidak orang lain, walaupun hanya selembar stiker." Masih terselip dendam saat mulutnya menyebut kata stiker. "Kau paham!"
Merilin tertunduk, dan menjawab "Baik Kak."
Gadis itu akan menerima uang dan kartu, tapi tidak untuk mobil. Ah, bagaimana karyawan sepertinya yang bahkan tidak punya uang untuk membeli kopi setiap hari bisa membawa mobil. Mei sedang memilih kata supaya tidak terdengar menolak pemberian Rion. Saat dia mengangkat kepala dan mau bicara, dia melihat Rion menepuk pangkuannya.
"Aku cuma mau mendengar dua kata Mei." Sambil tangannya menepuk pangkuannya lagi.
__ADS_1
Apa dia mau aku berterimakasih sampul duduk di pangkuannya! Aaaaaaaa!
Bersambung