Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
147. Hujan-hujanan


__ADS_3

Rasa khawatir yang masih menghantui ibu, membuat anak dan menantunya masih harus tinggal di rumah selama dua hari, pasca keributan pengakuan Mei ibu masih takut akan ada keributan lanjutan. Untung saja yang ibu takutkan tidak terjadi. Dan hari ini mereka dibolehkan kembali ke apartemen.


Sore sudah tertimpa malam sedari tadi, gelap malam dan lelah menjadi teman para pekerja kembali ke rumah. Jalanan yang dilalui Mei padat merayap dibeberapa titik. Membuat gurat lelah di wajahnya semakin kentara.


Apartemen Kak Rion yang berada di pusat kota, memang memudahkan akses, namun rawan terjadi penumpukan dibeberapa titik jalan di waktu tertentu. Ya, seperti apa yang dialami gadis itu hari ini.


Hoaam, ngantuk, Mei menutup pintu mobil sambil bergumam. Dia menyeret kakinya masuk ke dalam gedung. Loby masih ramai orang. Bahkan anak-anak masih ada yang bermain ditemani ibu mereka.


Pekerjaan hari ini ternyata cukup melelahkan, sebenarnya Mei sendiri yang membuat pekerjaannya bertambah. Karena Mei ingin mengumpulkan, pendapat karyawan mengenai Presdir dan CEO. Dia akan menambahkan artikel tentang kesan-kesan karyawan dibawah pimpinan Presdir. Alhasil dia sendiri yang harus mengumpulkan data-data ini, karena semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Mei mengejar lift yang mau tertutup. Eh, eh, sudah tidak bisa mengerem, akhirnya masuk ke dalam lift. Kenapa ada dia si, gumam Mei sambil menundukkan kepala sopan. Tetangga rumah yang sebenarnya tidak boleh disapanya. Untung saja sekarang di dalam lift ada dua orang lain. Jadi mereka tidak berdua. Rasa bersalahnya pun berkurang.


Tapi masalahnya bukan saat mereka di dalam lift, tapi saat kaki mereka sudah turun di lantai yang sama. Dan lift naik membawa dua orang yang tersisa. Mau tidak mau kan mereka jadi berjalan bersama.


Jangan menyapaku please!


"Ehm, sudah lama tidak bertemu, apa kabar?"


Hah, memang harapanku untuk tidak disapa, tidak mungkin si.


"Ia, saya baik." Mei sengaja tidak mau bertanya bagaiman kabarnya, karena nanti akan berlanjut pada pertanyaan selanjutnya dan selanjutnya. Tapi, walaupun tidak ditanya, ternyata tetangga Mei tidak kehabisan bahan bicara.


"Saya bertemu bibi yang sering datang, katanya beberapa hari ini kalian tidak tinggal di rumah. Haha, kita bertetangga tapi jarang bertemu dan menyapa ya."


Mei rasanya mau lari kabur menuju pintu rumahnya. Sebenarnya pembicaraan basa basi ini normal adanya, bagi manusia hidup bertetangga. Tapi kan, suamiku orangnya kadang-kadang.


"Ia, kami pulang ke rumah orang tua." Syukurlah, sudah sampai di depan pintu. Mei menundukkan kepala, tanpa memberi salam perpisahan, dia langsung masuk setelah memencet kunci. Dia melihat ekspresi heran tetangganya. Yang bingung, kenapa dia tiba-tiba kabur.


Dan di balik pintu, dia mundur sampai membentur pintu dibelakangnya. Kaget. Lampu ruang tamu sudah menyala. Dan yang membuat wajahnya tiba-tiba pias, Rion muncul dari dapur, dengan membawa botol air. Dia seperti ketahuan selingkuh, padahal cuma bicara dengan tetangga rumah yang tidak sengaja dia temui.


"Kak, Kakak sudah pulang duluan ya?" Panik tapi berusaha merubah setelan wajah. Mengusap bahu dan pakaian. Takut ada yang menempel dari tetangga sebelah dan ketahuan Kak Rion.


Rion melempar botol air ke sofa, berjalan mendekati Mei, yang entah kenapa semakin mundur terpojok.


"Kak, maaf, aku..."

__ADS_1


Mei semakin tersudut, saat Rion sudah berdiri di depannya. Tangan Rion yang menempel di tembok membuat kepalanya terkunci, tidak bisa bergeser. Tubuh kecilnya tidak bisa bergerak ke mana-mana. Adegan menyudutkan lawan bicara saat dia membaca komik Jesi rasanya lucu dan mendebarkan, tapi waktu merasakan sendiri.


Ini nggak lucu Jes, tapi, tapi aku berdebar-debar.


"Kau melakukan kesalahan apa sampai pucat melihatku?" Rion sengaja semakin membusungkan dada. Bicara dengan berbisik sampai bibirnya rasanya menjilat telinga.


Wajah dan telinga Mei memerah, namun dia agak tersentak kaget.


Eh, apa! Tidak mungkin dia tahu aku naik lift bersama tetangga rumah kan. Mei menelan ludah kikuk, saat aroma tubuh Rion langsung menyerang Indra penciumannya. Pikirannya malah agak blank. Wanginya, aku jadi ingin mencium Kak Rion.


"Aku, memang aku melakukan apa Kak, haha, aku kan cuma naik lift. Aku hanya kaget, Kakak sudah pulang, aku pikir aku duluan tadi sampai ke rumahnya." Mendapatkan kesadarannya kembali saat Rion menggigit telinganya.


Kepala Mei bergeser, saat dagunya dihentakkan, supaya dia melihat ke depan. Ah, wanginya, kenapa Kakak wangi sekali si. Mei malu, tapi dia tetap menikmati wajah tampan di depannya, yang mungkin hanya berjarak dua jari didempetkan. Hidung Kak Rion tepat ada di depan bibirnya.


"Benar? cuma karena kau kaget melihatku."


"Awww." Tangan Rion yang entah dengan pintarnya sudah menyusup di bawah baju kerja Mei. Mencubit pinggang Mei. "Ia, aku cuma kaget melihat Kakak. Hehe, Kakak sudah mandi ya, kalau begitu, aku mandi dulu ya. Kak Rion sudah makan malam?"


Mau segera menghindar, sebelum ketahuan. Karena sudah menjadi kebiasaan Mei, untuk bicara jujur kalau situasi mengancam. Mei mendorong lengan Rion, supaya laki-laki itu membebaskannya.


Rion malah menempelkan kedua tangannya ke pintu. Lalu dia menunduk sambil mensejajari wajah Mei. Tersenyum dengan riang, sambil menggoyangkan kepalanya. Rambutnya yang lembut bergoyang mengenai hidung Mei.


Dia mau apa si?


"Kenapa diam? Kau lupa?"


Apa sih? Aaaaaa!


"Aku mencintai Kak Rion, hari ini aku semakin mencintai Kakak. Lebih banyak dari kemarin." Muah, muah. Kecupan menyapu pipi dan hidung Rion. "Aku mencintai Kak Rion." Muah, muah.


Ehhh..


"Hemmm, Hemm."


Kecupan dibibir, berganti menjadi ciuman, ketika bibir Rion bergerak pelan terbuka, ******* habis bibir mungil milik Mei.

__ADS_1


Kesepakatan baru yang dibuat Mei dan Rion, sebenarnya gadis itu cuma mengiyakan, karena itu kemauan Kak Rion. Setiap mereka bertemu, Rion ingin mendengar pengakuan cinta Mei. Jadi misal mereka pulang kerja setelah seharian tidak bertemu, yang harus dilakukan ya seperti ini. Mei berharap, dia tidak akan berpapasan secara tidak sengaja di kantor, karena takut Rion akan menagih tanpa melihat tempat. Keisengannya jauh lebih parah batin Mei.


"Hemmm, Kak, Kak.. aku, aku mau mandi dulu!" Mei menjerit saat ciuman Rion mulai bergerak menjalar ke telinga dan lehernya.


Rion mengangkat kepala, lalu membenturkan keningnya ke kening Mei.


"Cium aku lagi, baru kubiarkan kau mandi."


Aaaaaa! Kakak sama sekali tidak berubah! Bahkan lebih parah. Tapi entah kenapa sekarang, Mei semakin senang meladeni kemauan Kak Rion, karena dia bukan lagi boneka Kak Rion, dia juga melakukannya karena cinta. Dia juga sangat menikmatinya.


Muah...muah...


Hujan ciuman di malam yang cerah dan hangat. Semakin dicium, Kak Rion yang tertawa senang, membuat Mei juga tidak berhenti mencium. Benar-benar hujan kecupan di cuaca yang cerah.


Sekedar info, mereka bahkan sudah pindah ke sofa saat hujan-hujanan barusan.


"Kak, aku mandi dulu ya." Mei menarik rambutnya yang jatuh ke wajah Rion.


"Datanglah ke ruang kerja ku setelah selesai, ada yang mau aku tunjukkan." Rion mencium ujung rambut Mei. Lalu mengusap kepala Mei.


"Ia Kak, baik."


"Sekarang bangun, kenapa masih duduk, masih kurang? Mau menciumku lagi?" Seringai nakal Rion membuat Mei kesal bercampur gemas.


Mei langsung bangun dan berlari ke kamar mandi, tidak menoleh, walaupun mendengar Kak Rion tertawa senang. Dasar, padahal dia yang minta dicium, tapi kok rasanya aku yang nggak mau berhenti.


Hihi, memang ia si. Mei menatap pantulan dirinya yang terlihat sangat senang. Dia tertawa cekikikan sambil mengusap bibirnya yang basah.


Akhirnya, aku diizinkan masuk ruang kerja Kak Rion. Aaaaaa! Mei, kau senang? Dia bertanya pada bayangannya. Kau senang kan? Laki-laki yang kau cintai, juga mencintaimu. Kau bahagia kan. Kau bahagia ya? dari tadi tidak berhenti tersenyum.


Tentu saja aku bahagia, tidak ada yang lebih membahagiakan dari cintamu terbalas kan. Mei mengusap cermin di depannya. Membuka bajunya satu persatu. Menanggalkan pakaian di lantai. Mei, sebelumnya bermimpi saja kau tidak berani kan. Gadis itu mengusap airmata bahagia yang entah kenapa malah berlarian turun. Bermimpi dicintai Kak Rion. Tapi sekarang, cinta itu nyata adanya.


Bergegas dia mandi, karena suaminya sedang menunggunya di ruang kerja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2