Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
139. Rencana Tinggal Rencana


__ADS_3

Jadwal CEO Rionald selanjutnya, setelah pergi dari rumah orangtuanya.


Menuju lokasi. Di dalam mobil yang melaju di jalanan yang ramai, Serge melirik kaca spion. Melihat Rion yang dari tadi senyum-senyum sendiri. Saat keluar dari rumah Presdir Rion sudah tersenyum senang. Suasana hati yang bagus artinya semua bisa berjalan dengan lancar.


Mereka sampai di restoran yang sudah dipesan Serge untuk acara makan malam nanti. Rion ingin memastikan langsung, semua persiapan dengan mata kepalanya sendiri. Dia mau semuanya sempurna. Dari kelopak mawar yang sedang di susun di atas kolam, bertuliskan namanya dan nam Mei. Sampai para pemusik yang sedang latihan. Manajer restoran menjelaskan menu spesial yang akan dihidangkan, buket bunga, serta desert utama yang akan menjadi simbol ungkapan hati Rion nanti.


Laki-laki itu mengangguk-angguk, terlihat sekali dia puas dan sudah tidak sabar menantikan malam.


"Sudah kan, kau sudah puas kan? Aku memilih yang terbaik untukmu nanti malam. Kau senang?" Mereka keluar dari restoran menuju mobil yang terparkir. "Ini kan bukan kencan pertama mu dengan Mei."


Ini memang bukan yang pertama, tapi akan menjadi saksi dia mengungkapkan cintanya pada Mei. Nanti malam, dia akan melamar Mei, untuk benar-benar menjadi istrinya. Dan pulang dari makan malam, dia akan menunjukkan ruang kerjanya, memperlihatkan koleksi majalah perusahaan, dan merobek surat kontrak pernikahan.


Semuanya terasa indah untuk dibayangkan. Rona merah jambu yang akan muncul di wajah Mei sepanjang malam ini. Rion benar-benar sudah tidak sabar untuk melihatnya.


Aku mencintaimu Mei, jadilah istriku, istriku yang sebenarnya. Rion tersenyum lagi. Ayo siapkan resepsi pernikahan yang meriah, dan aku akan mengatakan kepada semua orang siapa dirimu. Wanitaku, istriku yang aku cintai.


"Ge, aku sudah tidak sabar menantikan malam nanti. Baiklah, ayo bekerja, aku akan melakukan apa pun yang kau katakan. Kau puas, kau bisa menyuruhku apa pun sampai sore ini."


Rion meninju lengan Serge supaya berhenti mengomel tentang dia yang harus bersikap ramah pada rekan bisnisnya nanti. Dia juga disuruh basa basi menanyakan kabar. Belum lagi, masih disuruh bicara hal remeh remeh tentang hobi, bahkan disuruh mengajak main golf segala. Ya, ya, karena kau sudah menyiapkan makan malam yang sempurna untukku dan Mei, aku akan melakukan omong kosong yang kau katakan itu.


Dan begitulah akhirnya, meeting dengan Presdir hotel XX berlangsung dengan lancar. Basa basi berjalan dengan baik.


Serge meninggalkan ruangan VVIP, yang menjadi tempat meeting, dia memegang hpnya yang bergetar dua kali dari tadi. Panggilan dari sekretaris Presdir. Ada apa ini, gumamnya masih terlihat tenang dan santai. Dia tadi juga bertemu Presdir di rumahnya dan semua aman-aman saja. Presdir juga pasti tahu dia sedang di mana bersama Rion.


Dia menjauh, dan mengangkat telepon.


"Saya sudah keluar. Mereka baru saja makan. Apa? Sekarang? Anda kan tahu, CEO harus ditemani kalau sedang meeting. Anda kan paham bagaimana sikap CEO."


Apa sih, kenapa tiba-tiba menyuruh orang pergi, sudah tahu perangai Rion yang ajaib kalau berhubungan dengan orang. Serge tidak mau ambil resiko. Walaupun kalau dia melihat, sifat Presdir hotel XX yang masih muda itu mirip seperti Rion sekalipun. Dingin dan angkuh, tapi sebagai jaga-jaga dia harus tetap ada di samping Rion. Supaya semua aman terkendali.


"Ini perintah Presdir, keluar dari sana dan tinggalan mobil CEO, dan jangan sampai CEO tahu kau pergi." Suara sekretaris Presdir yang tegas membuat merinding.


"Apa? Tunggu!"


Sambungan telepon terputus begitu saja tanpa penjelasan lebih lanjut membuat Serge mulai merasa cemas. Dia berusaha menebak-nebak, apa sebenarnya yang terjadi. Segala macam pikiran negatif dan praduga berusaha dia munculkan, tapi sama sekali tidak terpikirkan apa-apa. Karena semua tadi baik-baik saja, saat dia pergi dari rumah Presdir semuanya baik-baik saja.


Ahhhh, bisa gila aku, ada apa si ini.


Serge pun menghilang.

__ADS_1


...🍓🍓🍓...


Rion keluar dari VVIP. Dia menjabat tangan Presdir hotel XX, keduanya terlihat tersenyum basa basi. Dua orang yang terlihat seumuran, dan sepertinya sama-sama memiliki karakter angkuh dan cuek, tidak perduli satu sama lain. Tapi, karena sifat keduanya yang mirip itu, sepertinya semua pembicaraan bisnis malah berjalan dengan baik. Sama-sama bicara pada intinya, dan ingin semua cepat selesai. Mereka berpisah dengan saling menundukkan kepala.


Hah! Kemana Serge, bisa-bisanya menghilang. Saat sedang matanya berkeliling mencari Serge, Seorang pelayan laki-laki menundukkan kepala saat sudah berdiri di depannya, dia menyodorkan kunci mobil.


"Maaf Tuan, sekretaris Anda menitipkan kunci mobil, katanya mendadak dia ada urusan penting. Silahkan."


Apa? Dasar kurang ajar, beraninya dia pergi tanpa bilang-bilang.


Rion menerima kunci sambil berterimakasih sekenanya, lalu dia berjalan ke luar menuju area parkir. Langit mulai meredup, sebentar lagi sore juga menjelang. Ternyata pembicaraan tadi membutuhkan waktu yang lama gumamnya memperhatikan waktu yang cepat berputar hari ini.


Apa karena aku menantikan malam supaya bisa bersama Mei, makanya waktu berputar dengan cepat. Senyum-senyum tidak jelas sambil membayangkan wajah Mei. Tapi senyumnya segera lenyap, saat sudah di dekat mobil dia belum melihat batang hidung Serge.


Ah, sialan! Kenapa lagi si dia. Bukannya aku sudah bilang, malam ini malam penting. Aku harus mandi dan ganti baju juga. Cih! Menyusahkan saja. Ah, sialan! Rion memaki lagi saat meraba saku jas. Karena hpnya dia berikan pada Serge saat dia meeting tadi.


Rion memanggil seorang pelayan restoran, meminjam hp. Nomor Serge memang diluar kepala. Saat sambungan terhubung yang dia lakukan tentu saja ngamuk duluan.


"Ge! Kau dimana? Kau mau mati ya! menghilang... paman? Kenapa hp Serge ada padamu? Mana Serge?" Rion melihat nomor yang dia pencet, memang nomor Serge. Tapi kenapa malah suara paman yang terdengar.


"Sekretaris Serge sedang bicara dengan Presdir." Jawaban singkat, dan jelas terdengar.


"Ayah, kenapa tiba-tiba ayah memanggil Serge. Kami kan baru bertemu tadi saat wawancara."


"Anda juga, kalau meeting Anda sudah selesai, Anda segera pulang karena Presdir sedang menunggu Anda.."


"Hei! Kau bicara apa si? Paman, berikan teleponnya pada Serge, aku mau bicara pada Serge." Rion mulai kesal, karena paman bukannya menjawab tapi hanya bicara apa yang ingin dia katakan saja.


"Mohon maaf Tuan Muda, saya akan tutup teleponnya. Dan mohon Anda segera pulang."


"Hei!"


"Mohon maaf Tuan Muda."


Ah, sialan! Memang kalau kau minta maaf aku tidak kesal. Mau dibantingnya hp di tangannya. Tapi, pelayan restoran yang dia pinjami hp terlihat tegang.


"Ambilah, terimakasih, kau boleh pergi."


"Baik Tuan."

__ADS_1


Rion memberikan selembar uang pada pelayan restoran yang meminjamkan hp, lalu dia keluar area parkir, mobil melaju dengan kencang memecah jalanan.


...🍓🍓🍓...


Rion yang biasanya bisa bersikap tenang, mulai terserang panik. Semua memang sudah aneh. Serge bahkan pergi meninggalkannya saat meeting penting, itu mustahil dilakukan walaupun badai datang sekalipun. Kalau Serge yang biasanya. Karena Serge pasti tahu, wataknya yang tidak bisa bersikap ramah pada orang lain selalu dianggap Serge kelemahannya itu.


Dan ayah, kenapa tiba-tiba dia memanggil Serge, padahal mereka saja baru bertemu. Tidak ada hal penting darinya yang terjadi baru-baru ini dan perlu dilaporkan pada ayah. Semua semakin membingungkan Rion.


Apa ada hubungannya dengan Mei? Kenapa dengan Mei, aku masih menciuminya seperti biasa saat berpisah tadi. Tidak ada yang aneh, semua normal dan biasa saja.


Mobil yang dibawa Rion melaju dengan kecepatan maksimal yang diperbolehkan dijalan raya, hingga kurang dari setengah jam dia sudah sampai di gerbang utama. Penjaga gerbang buru-buru membuka gerbang, dia menundukkan kepala sampai mobil Rion memasuki halaman rumah.


Paman yang menyambutnya, tak ada ekspresi yang bisa ditebak. Laki-laki itu selalu tetap tenang seperti biasanya.


"Dimana Serge?" Itu hal yang pertama kali ditanyakan Rion. Keberadaan Sekretaris nya yang tiba-tiba menghilang. "Paman!"


"Presdir sedang menunggu Anda di ruang kerja, mari saya antar Tuan Muda." Sekretaris Presdir mempersilahkan Rion, dengan tangannya.


"Paman! Sebenarnya ada apa ini?"


Apa sih, paling tidak jelaskan ada apa!


"Anda akan tahu setelah bertemu dengan Presdir. Jadi, mari saya antar."


"Sialan! aku juga tahu ruang kerja ayah di mana. Minggir!"


Rion menghentikan langkah saat merasa ada sesuatu yang aneh, halaman lengang. Masih ada properti yang dipakai saat wawancara. belum selesai dibereskan, tapi dia tidak melihat satu orang pun. Kepala pelayan bahkan tidak keluar menyambutnya. Bibi pun tidak terlihat. Dan yang lebih penting dari itu semua, tentu saja.


"Ibu, dimana Ibu? Mei juga? Apa Mei sudah kembali ke kantor? Kemana semua orang?"


"Anda akan mendapat jawaban setelah bertemu dengan Presdir."


Ada apa ini, Rion semakin waspada. Dia benar-benar tidak melihat siapa pun. Bahkan pelayan yang biasanya berseliweran melakukan pekerjaannya. Rumah sunyi. Bahkan dia bisa merasakan debaran jantungnya saking heningnya. Saat melirik paman, laki-laki itu masih berjalan dengan tenang di sampingnya.


Deg.. deg..


Pintu ruangan Presdir di dorong oleh paman. Yang tertangkap mata Rion adalah, kertas berserak, benda-benda yang harusnya ada di atas meja berpindah ke lantai. Dan, pandangan Rion bergeser. Bola matanya melebar, melihat Serge, sedang duduk berlutut di lantai dengan kondisi berantakan. Kaca mata miliknya pecah ada di dekat kakinya. Dia tertunduk dalam.


Sementara ayah, duduk di sofa. Melihat kedatangan putranya, dengan sorot mata dipenuhi amarah.

__ADS_1


Kenapa ini?


Bersambung


__ADS_2