
Gedung Andez Corporation.
Di dalam ruang divisi majalah perusahaan. Mereka sedang duduk di tempat biasanya mereka rapat, meja panjang. Tenaga bantuan masih terlibat sampai proses editing film selesai. Sekarang mereka sedang rehat sambil minum kopi yang dibeli Baim dan Mona di cofeeshop.
Kendra memilih duduk kembali di meja kerjanya dengan komputer yang masih menyala, senior laki-laki di sebelahnya juga menghidupkan laptop yang dia bawa. Masih membicarakan tentang pekerjaan sambil sesekali meneguk kopi. Mereka juga terdengar tertawa, entah apa yang ditertawakan, yang pasti jari mereka menunjuk layar komputer.
Baim dan Mona sedang asik berdua sambil membalas komentar atau DM yang ada di sosial media. Mereka juga makan camilan sambil minum kopi.
Sedangkan Mei, dan senior dari bagian keuangan duduk berdekatan. Mei sedang memilih foto-foto yang akan dia tunjukkan pada Rion nanti. Senior disebelahnya melirik Mei beberapa kali, sebelum akhirnya membuka suara.
"Mei..."
"Ia Kak.. "
Hemm, ada apa ya, kok aku merasa panggilannya kali ini serius.
Dan benar saja, apa yang dipikirkan Mei, tidak meleset sama sekali.
"Maaf sebelumnya, apa kamu keberatan, kalau aku bicara tentang Amerla? Ada sedikit yang mau aku katakan." Senior Mei hati-hati bicara.
Tangan Mei berhenti bergerak saat nama itu disebut, kenapa tiba-tiba membahas sang mantan yang sudah jadi kenangan di belakang pikirnya. Mei yang masih belum menjawab, karena bimbang tapi juga sekaligus penasaran. Membuat senior Mei segera memutar haluan.
"Kalau kamu nggak mau juga nggak papa kok, anggap aku nggak bicara apa-apa tadi." Senior dengan canggung meneguk gelas kopinya. Mengusap kepalanya. Dia terlihat serba salah, karena menganggap dia sudah salah bicara. "Sebaiknya aku menyelesaikan ini, trailer film pendek sudah harus diposting Senin kan. Haha, maaf ya Mei." Dia menggeser duduk dan membuka laptopnya, yang dia tutup karena rehat tadi.
Mei jadi merasa tidak enak, bukan salah seniornya sebenarnya kan. Jadi akhirnya, Mei berusaha mempersiapkan hati, untuk mendengar apa pun itu tentang sang mantan.
"Bicaralah Kak, maaf aku agak sensitif saja saat mendengar namanya. Ada apa dengan Nona Amerla." Mei sengaja memanggil nama Amerla dengan panggilan itu, untuk menunjukkan jarak diantara mereka, kalau dia sama sekali tidak mengenal Amerla secara akrab. "Saya juga penasaran, hehe." Sekali lagi berusaha tertawa seperti biasa, untuk menghilangkan kecanggungan yang tercipta tadi.
Glek, teguk dan teguk lagi, sambil saat digoyangkan isi gelasnya hanya tertinggal batu es saja. Senior Mei sebenarnya menyesal bicara, tapi karena dia sudah berjanji pada Amerla akhirnya beginilah jadinya. Dia meletakan gelas kopinya, karena sudah habis semua isinya.
Senior Mei mengeluarkan hpnya.
"Akun sosial media Erla aktif lagi, padahal sejak menikah dia sudah tidak pernah aktif, baik postingan atau pun menyapa. Karena aku iseng." Dia tertawa kecil, ya dia iseng ingin tahu kabar gadis itu. "Makanya aku mengirimkan DM padanya, dan ternyata dia membalas."
Mei masih diam, pikirannya pun masih diam, mendengarkan cerita selanjutnya.
__ADS_1
Awalnya hanya basa basi menanyakan kabar, begitu senior Mei bicara. Lalu merambat tentang apa yang dilakukan Amerla sekarang. Gadis itu memposting desain baju, serta tangan yang sedang memegang mesin jahit. Tidak ada caption apa-apa selain emot wajah bersemu. Dan Erla menceritakan pada senior Mei, kalau pernikahannya berantakan dan dia kembali ke rumah orangtuanya. Dia sekarang sedang ingin mengejar mimpinya. Memulai lagi apa yang dulu dia kerjakan. "
Dan entahlah, kenapa dia secerewet itu saat membalas pesan. Katanya dia senang aku menghubunginya, karena dia tidak punya teman setelah berpisah dari suaminya."
Hati Mei masih damai sejauh ini.
"Dan saat dia tanya aku bekerja di mana, aku bilang, aku bekerja di Andez Corporation bersama Tuan Rion. Dia terkejut sekali. Apalagi saat aku bilang, aku mengenalmu."
Deg.
Mulai ada yang menyengat di ujung hati, entah apa itu.
Mei mencengkeram gelas kopinya dengan kedua tangan. Pernikahan mereka hancur gumam Mei. Dan dia mencari tahu tentang Kak Rion. Tidak tahu, kenapa malah pikiran buruk yang berlarian duluan di kepala Mei. Kalau dia bercerai dengan suaminya, aku ingat seperti dia pernah bilang, iya dia pernah mengatakan hal itu, dia akan mengejar Kak Rion lagi.
Tidak!
Kak Rion bilang dia mencintaiku. Mei meletakan gelasnya, sangat mencintaiku. Buru-buru Mei membuang perasaan takut di dalam hatinya. Sekalipun Amerla muncul lagi, itu tidak akan merubah cinta kamu berdua. Ayolah Mei, kau harus lebih percaya diri, jangan gentar hanya karena ini. Kak Rion mencintaimu, sama halnya kau yang mencintainya. Kalau kau bisa melupakan Kak Serge yang sudah bertahun-tahun kau cintai dalam diam, maka move on Kak Rion adalah nyata. Jadi percaya dirilah, Mei berusaha membangunkan kekuatannya. Untuk jangan goyah sedikit pun.
"Begitu ya Kak.. Semoga mimpinya sukses, kalau dia mau memulai karirnya lagi." Berusaha bicara sebisa mungkin.
Beberapa saat senior terdiam. Dia ragu, tapi karena janjinya dengan Amerla, akhirnya dia bicara juga.
"Apa? minta maaf?"
Kenapa dia mau minta maaf, apa ini alasannya saja supaya bisa bertemu dengan Kak Rion. Rasa rendah diri yang mencuat, membuat Mei memikirkan hal negatif lagi.
"Untuk apa dia minta maaf padaku Kak? Seharunya dia minta maaf pada Kak Rion kan. Dia bersalah pada Kak Rion bukan padaku."
Aku pasti hanya alasan.
Suara Mei terdengar agak sinis di telinga senior Mei, membuat gadis itu memastikan melalui ekspresi wajah Mei. Mei yang memang menunjukkan suasana hatinya melalu wajahnya langsung tertangkap jelas di mata senior, dia cemburu gumam senior Mei. Imutnya mulutnya sampai maju-maju. Dia sampai melengos supaya tidak terlihat kalau sedang menahan tawa.
"Dia mau bertemu denganku apa Kak Rion." Gumam-gumam Mei terdengar juga di telinga senior.
"Maaf Mei, sudahlah, aku juga hanya menyampaikan pesan Erla padamu. Aku tidak tahu isi hati Erla seperti apa, maaf ya aku malah membuat suasana hatimu jadi buruk."
__ADS_1
"Eh, aku nggak papa kok Kak." Mei segera merubah ekspresi tidak sukanya. "Tapi maaf, katakan saja kalau dia bertanya, aku tidak mau bertemu dengannya, karena Kak Rion pasti tidak suka aku bertemu dengannya, dan aku tidak mau menyakiti hati Kak Rion. Bilang begitu saja ya Kak."
Aduh, aku keliatan cemburu nggak ya. Aaaaaa, pokonya aku nggak mau bertemu dengannya. Kenapa juga dia mau bertemu, kalau masalah fitnah, seharunya dia minta maaf pada ayah. Tidak, seharunya yang paling harus dimintai maaf adalah Kak Rion. Karena Kakaklah yang terluka.
Akhirnya kedua orang itu tertawa canggung. Senior minta maaf beberapa kali, karena sudah membuat Mei tidak nyaman.
Kendra yang walaupun sok sibuk, tapi telinganya siaga dan menangkap jelas apa yang sedang dibicarakan Mei.
Sementara Baim dan Mona diam-diam juga mendengarkan, kedua orang itu kompak mengutuki nama Amerla. Musuh Mei, adalah musuh mereka berdua. Ehm, bukan karena mereka sudah mendapat hadiah dari Tuan Rion ya. Tapi memang mereka sayang pada Mei dengan tulus.
Semua orang dalam ruangan itu kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Dan sudah tidak ada yang mengobrol lagi. Saat Mei keluar karena harus pergi ke ruangan CEO, Mona langsung mendekati senior. Menariknya ke sudut ruangan. Sepertinya tidak ada yang perduli dengan mereka berdua, tapi percayalah telinga mereka siaga satu menguping.
"Kak kenapa membicarakan wanita itu di depan Mei."
"Ah, maaf, aku hanya menyampaikan pesan, karena sudah janji dengan Erla." Rupanya dia mendengarkan ya gumam senior itu.
"Tapi Kakak seharusnya tahu donk, yang paling membuat kita nggak nyaman itu kalau membahas mantan, apalagi mantan pacar Tuan Rion. Mereka pacaran cukup lama kan, bahkan lebih lama dari Mei menikah ini."
"Ia, maaf, aku salah. Aku tidak berfikir panjang."
"Tapi, kenapa dia mau bertemu Mei, dia mau menggoda Tuan Rion lagi? Tidak cukup apa kasus fitnah waktu itu. Hiiih, malah aku yang emosi kan."
"Ah, maaf, maafkan aku Mona, aku benar-benar tidak berfikir panjang. Tapi, Erla bilang, dia ingin minta maaf pada Mei, dia mau minta maaf dan membuang semua luka masa lalunya, dia ingin hidup dengan cara apa."
"Apa benar begitu? Katanya pernikahannya hancur, jangan-jangan itu alasan supaya bisa bertemu Tuan Rion. Bisa saja begitu kan Kak. Siapa yang tahu apa isi hatinya. Hiiiih, pokoknya Kakak jangan bahas itu mantan lagi di depan Mei."
Karena Mona tahu, Mei pasti tidak enakan, dan dari raut wajah gadis itu juga tadi terlihat dengan jelas, cemburu, marah sekaligus rasa takut.
"Ia, aku benar-benar menyesal sekarang, nanti aku mau minta maaf lagi pada Mei."
"Hemm, baiklah. Ayo kerja lagi Kak." Mona tengak tengok, memastikan tidak ada yang melihat ke arah mereka. Tadi dia bicara dengan pelan kan. "Maaf ya Kak, aku bukannya tidak sopan pada senior, tapi aku tidak mau Mei terluka lagi."
"Ia, aku paham, aku yang salah." Senior menepuk bahu Mona, lalu gadis itu berjalan ke kursinya, Baim mengacungkan jempolnya. Memuji Mona yang terlihat keren karena membela Kak Mei.
Sementara Kendra bergumam, aku perlu melaporkan ini pada Tuan Rion tidak ya? Gadis itu juga sudah merasa bersalah, Mei juga tidak mau bertemu mantan. Hemm, bagaimana ya. Apa aku laporkan saja, kan aku disuruh melaporkan semuanya. Sambil tangannya terus bergerak bekerja.
__ADS_1
Sementara Mei, sedang naik lift menuju ruangan CEO Rionald.
Bersambung