
Di tengah siang, saat cahaya alami menyinari bumi dengan perkasa. Erla memanfaatkan pencahayaan alam untuk melakukan pemotretan. Sudah ada beberapa pakaian yang selesai dia buat, dan dia ingin memamerkannya di sosial media miliknya. Berhubung dia belum memiliki studio di dalam ruangan, jadinya dia mengambil foto di halaman rumah. Wajah cantiknya bersinar tertimpa serpihan sinar matahari.
Dia sedang memasang kamera di tripod, ada dua buah kamera. Sambil bersenandung dengan perasaan bahagia. Entahlah, dia sendiri bingung, kenapa suasana hatinya sebaik ini, apa ini karena pakaian-pakaian yang sudah dia buat, atau karena hal lain.
Padahal Kak Ibram seperti mimpi buruk yang tidak pergi darinya. Tapi, jujur, dia tidak sebenci itu sekarang. Beberapa hari mereka bersama, walaupun Kak Ibram tidak bersikap hangat, namun tempramen kasarnya berkurang. Dia bahkan tidak mendaratkan tangannya di tubuh Erla untuk menyakitinya. Ya, walaupun dia tidak bersikap baik juga. Erla manyun dan menghela nafas sendiri. Merasa bingung dengan hatinya.
Ketika wajah Ibram melintas di kepalanya, dia tersadar lagi.
Hei Erla! Menyedihkan sekali pikiran dan hatimu saat ini! Gadis itu memarahi dirinya sendiri tiba-tiba. Kau senang karena dia tidak memukul mu. Kau tahu kenapa dia setenang itu? Karena kau hanya pasrah dan tidak melawannya. Getir, walaupun tidak mau mengakui, tapi pada kenyataannya itulah yang terjadi. Karena dia membiarkan Ibram melakukan apapun sesuka hatinya, tanpa berusaha melawan atau menolak laki-laki itu.
Ya, karena itulah, Kak Ibram tidak punya alasan bersikap kasar padamu kan, hanya itu. Jadi, berhentilah berharap, kalau suamimu berubah. Dan berhentilah memikirkannya, lebih baik kau fokus bekerja.
Buru-buru, Erla menghapus perasaan aneh di hatinya. Dia memaksakan bibirnya tersenyum, karena ada yang datang mendekat ke arahnya.
Seorang pelayan muda keluar dari dalam rumah, dia tampak malu, menutupi sebagian wajahnya yang memerah dengan tangan. Dia berlari mendekat ke arah Erla.
"Nona, apa saya benar boleh memakainya? Saya takut merusaknya, ini pasti mahal sekali kan," ujarnya sambil meraba pakaian yang dia kenakan.
Pelayan muda yang merasa beruntung, sekaligus malu, dan merasa tidak pantas, karena baju yang dia pakai adalah buatan nona mudanya.
Nona Erla yang membuatkannya gumam gadis pelayan itu sambil menyentuh dadanya, kain yang lembut menempel di kulitnya, bahkan dia diukur secara khusus, seumur-umur dia belum pernah memakai baju yang dibuat khusus untuknya. Nona Erla semakin hari bertambah cantik karena semakin sering tersenyum.
Erla yang sedang dikagumi pelayan muda itu, memutar kamera yang dia pegang, sambil bergaya mengambil beberapa foto. Lalu tersenyum padanya saat mendengarnya bicara tadi.
Nona Erla benar-benar semakin terlihat cantik dan bersemangat, gumamnya senang. Dia teringat, saat Erla datang pertama kali ke rumah.
Padahal, saat pertama kali datang, dia seperti mayat hidup, tidak terlihat sedikit pun gairah dan semangat di bola mata itu. Apalagi disambut sikap tuan dan nyonya yang selalu menyalahkannya. Pelayan itu tersenyum, malu dengan pikirannya sendiri. Pasti karena tuan muda Ibram suaminya datang kan. Dia yang tidak tahu apa-apa, hanya melihat hal baik dari dalam diri Erla, nona muda yang sudah membuatkannya baju.
"Bajunya bagus sekali Nona, tapi saya merasa kurang pantas, baju sebagus ini hanya dipakai orang seperti saya."
Perasaan rendah diri gadis muda itu terlihat jelas di mata Erla. Kalau dulu, dia pasti akan acuh dan mendengus saja mendengar kata-kata tidak pentingnya. Tapi, sekarang, pelayan muda di depannya adalah sahabatnya, orang yang mau menerima uluran tangannya. Bahkan adiknya sendiri menolak waktu mau dia jadikan model. Sambil melirik sinis pakaian yang dia buat.
"Kak, berhentilah berbuat hal tidak berguna, memang berapa uang yang bisa Kakak hasilkan dari pakaian-pakaian itu."
Dia tidak bisa marah pada adiknya, karena adiknya duplikat masa mudanya. Dulu, dia pun tidak mau memakai sesuatu kalau tidak bermerk dan harganya mahal. Jadi, baginya, pelayan muda di depannya adalah teman perjuangannya.
"Itu memang cuma ada satu-satunya di dunia, dan dibuat khusus untuk mu. Kemarilah." Erla mengulurkan tangan, pelayan muda yang masih terpesona melihat kecantikan yang bersinar dari wajah Erla, menerima tangan gadis itu. "Konsepnya kita kakak adik yang sedang memakai baju couple. Hehe, bagus kan." Erla memutar tubuh.
"Apa saya pantas jadi adik Anda?"
Erla tertawa lalu mencubit pipi pelayan muda itu. Lagi-lagi dia mengatakan hal yang sama seperti saat Erla mau mengukur tubuhnya.
"Saya kan cuma pelayan Nona."
Aku ingin berubah, bukan hanya membuka jalan bagi mimpiku, namun, aku juga tidak ingin melihat orang dari standar uang yang mereka miliki. Aku ingin dicintai dengan tulus, bahkan Erla ingin mendapat perlakuan hangat dari semua orang, termasuk para pelayan di rumahnya. Jadi, dia pun benar-benar membuang jauh pikiran dan caranya hidup dulu.
Erla memeluk, tubuh pelayan muda, dan berterimakasih karena mau menemaninya, dia mengatakan, sekarang, dia memang bukan siapa-siapa, tapi dia berjanji pada dirinya sendiri, akan bekerja keras meraih mimpinya. Gadis pelayan yang merasa sangat beruntung itu, mengamini doa Erla, dan berharap nonanya bisa meraih mimpi dan hidup bahagia.
Mereka berdua tertawa bersama, berpose, memutar tubuh, lompat-lompat dan lari kecil, tawa keduanya menemani bunga yang bermekaran, dan kumbang yang terbang di sekeliling kelopak bunga, mereka mengambil banyak foto.
Dari kejauhan, di sebuah jendela yang tiraninya terbuka. Adik perempuan Erla sedang menertawakan, kakak perempuan dan impiannya. Dia tertawa sinis, melihat Erla memeluk pelayan muda di rumah mereka itu.
Sesi foto dengan berbagai gaya belum berakhir, Erla juga mengambil foto bajunya yang sedang digantung. Gadis itu benar-benar, menikmati dunia yang sedang dia jalani.
__ADS_1
Dan, saat sedang serunya melihat hasil jepretan kamera, dua orang gadis itu dikejutkan dengan sebuah mobil yang melaju di halaman rumah, berhenti tepat di dekat Erla berdiri. Kaki gadis itu mundur ke belakang, dia mengenali mobil siapa itu. Bahkan sebelum pemiliknya keluar dari mobil. Dia tahu siapa itu. Badai yang mungkin jauh lebih besar dari Kak Ibram.
Bergegas Erla membereskan kamera dan semua peralatan, baju-bajunya juga, dia meminta pelayan muda untuk membawanya pergi, menyuruh gadis itu segera pergi ke kamar. Walaupun kebingungan pelayan muda segera menerima peralatan memotret dan baju-baju. Dengan kesusahan, akhirnya dia menghilang masuk ke dalam rumah.
Dan, badai besar itu adalah...
Ibu mertua Amerla keluar dari mobil, dengan gaya angkuh, melebihi kemunculan Ibram kala itu. Kenapa dia datang ke sini gumam Erla, seharusnya kau mendatangi anak mu.
Erla mendekat, dia menundukkan kepala saat ibu mertuanya sudah berjalan ke arahnya. Mereka saling berhadapan, ibu Ibram menatap Erla dengan pandangan jijik, muak dan kesal.
"Ibu, kenapa Ibu.."
"Aku bukan ibumu, dasar wanita tidak tahu malu."
Mulut Erla rasanya langsung tercekik, wajahnya memerah karena malu dan terhina. Lebih-lebih saat terdengar kehebohan dari dalam rumah. Dia bisa menebak, apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dari dalam rumah, ibu Erla berjalan dengan langkah cepat. Bahkan sampai hampir tersandung. Dia menatap Erla sekilas nyaris melotot, lalu mulai tersenyum menyapa ibu Ibram. Caranya menyetel perubahan wajah sungguh luar biasa.
"Maafkan saya Nyonya, saya tidak tahu kalau Anda akan datang ke mari." Ibu Erla menunduk dan agak terbata bicara.
"Aku datang untuk bicara dengan anak mu yang tidak tahu malu ini." Ibu Ibram dengan ketusnya menjawab.
Wajah ibu Erla memerah, tentu karena rasa malu dan merasa terhina. Tapi, dia hanya memikirkan rasa terhina bagi dirinya sendiri, tidak mau tahu, perasaan sakit itu jauh berkali lipat yang dirasakan anaknya sekarang. Bahkan dia tidak melirik Erla lagi.
"Silahkan masuk Nyonya, kita bicara di dalam." Langsung berwajah sengit lagi, saat melihat Erla. "Kau juga masuk."
Ibu Ibram tidak menjawab, hanya melengos dan berjalan menuju pintu rumah.
Rasa kesal itu membuncah di dada ibu Ibram, sebenarnya dia tidak sudi untuk datang ke tempat ini. Tapi, Karen sudah beberapa hari Ibram tidak kembali ke rumah, maka dia tidak punya pilihan. Rasa marahnya semakin menjadi saat melihat Erla yang terlihat baik-baik saja.
Ada dua pelayan, termasuk pelayan muda yang bersama Erla tadi, setelah menyimpan barang-barang Erla dia buru-buru turun, wajah keduanya terlihat cemas, apalagi saat melihat Nona Erla yang hanya diam mengikuti langkah ibunya.
"Rencana licik apa lagi yang kau lakukan, setelah kabur dari rumah, dengan tidak tahu malunya, kau masih menginginkan Ibram menjadi suamimu."
Siapa! Dia yang datang sendiri! Seharusnya Anda datang menemui Kak Ibram, bukannya melampiaskan kemarahan dan kebencian Anda pada saya. Ah, mungkin dulu, seperti itu Erla akan menjawab. Namun, dia belajar banyak hal, karena melawan hanya berarti kekalahan untuknya, jadi dia memilih tertunduk dan diam. Ibu Erla malah yang sibuk minta maaf dan menjelaskan, kalau Ibram sendiri yang datang.
"Dasar licik! Wanita tidak tahu diri!" Semakin ibu Erla menjelaskan wanita itu malah semakin marah. "Kau menggodanya lagi di tempat tidur? Seharunya kau mengusir Ibram, padahal kau tahu dia sudah mau menikah dengan wanita lain. Apa kau pikir ini kesempatan, supaya kau bisa kembali pada Ibram. Jangan mimpi untuk menjadi bagian Andalusia Mall lagi! Kau sudah bukan menantu kami lagi." Dipenuhi emosi dan kata yang menyakitkan, mampir di telinga Erla.
Erla, masih hanya terdiam.
"Nyonya tapi, Nak Ibram." Ibu Erla langsung membeku dan berhenti bicara, saat ditatap dengan sinis.
Sekarang, Ibu Ibram mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, meletakkannya di atas meja, dia memukulkan tangannya dengan keras ke atas kertas-kertas yang baru dia keluarkan dari dalam tas tadi.
"Tanda tangani surat perceraian ini."
"Nyonya, saya mohon, jangan seperti ini. Nak Ibram juga tidak mau bercerai dengan Erla, mereka itu saling mencintai, ini hanya kesalahpahaman yang bisa kita bicarakan." Ibu Erla dengan gemetar meraih tangan Erla, menarik tangan anaknya, supaya berlutut dan memohon sekarang.
Tapi...
Erla menepis tangan ibunya, tanpa melihat raut kaget dan marah ibunya. Dia maju mendekati meja, di mana surat perceraian itu berada.
"Di mana saya harus tanda tangan?" Erla sudah meraih pena.
__ADS_1
"Erla! Kau sudah gila! Bagaiman dengan ayahmu." Ibu Erla berusaha mencegah anaknya melakukan tindakan nekat, dia merebut pena di tangan Erla.
"Ibu, hentikan! Jangan mempermalukan diri ibu lebih dari ini." Sorot mata getir namun juga tidak berdaya terlihat jelas di mata Erla. Surat perceraian tampak buram di matanya sekarang. Semua akan berakhir kalau aku tanda tangan kan. Gadis itu melihat ibu Ibram. "Saya bisa menandatangi surat perceraian kapan pun yang Anda inginkan Nyonya, tapi, tolong, jangan hanya datang ke mari dan menyalahkan saya. Tapi bicaralah juga pada Kak Ibram." Akhirnya, terlontar juga kata yang menyangkut di tenggorokannya sedari tadi. "Bukan saya yang mendatanginya, jadi, jangan salahkan saya."
"Tutup mulut mu!" Ibu Ibram jelas merasa tersinggung, karena memang itulah faktanya, dia tidak bisa memaksa anaknya, jadi dia datang untuk menghancurkan pernikahan Ibram melalui Erla. "Kau mau merasa bangga karena bisa menggoda Ibram, hah! Apa kau memohon dan mengemis pada Ibram untuk menerima mu lagi sambil membuka baju mu. Hah, benar-benar menjijikan! Kau tidak tahu malu. Ibram bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari mu!"
Rasanya suhu udara di dalam ruangan, sudah tidak bisa dipakai untuk bernafas. Para pelayan benar-benar ketakutan, karena sepertinya Nona Erla sengaja memancing kemarahan ibu suaminya. Sementara Ibu Erla tidak berani berbuat banyak. Dia takut menyinggung ibu Ibram. Dia hanya bisa mengepalkan tangan.
"Tapi, bagaimana ya Bu, Kak Ibram yang datang padaku, dia yang mau tinggal di sini. Dia juga yang setiap malam mendatangi saya di tempat tidur. Jadi sekali lagi, jangan salahkan saya, tapi bicaralah pada anak Anda. Karena saya sama sekali tidak menggodanya."
Erla yang tersentak, karena tiba-tiba ibu Ibram sudah berdiri di depannya, tidak bisa menghindar.
Dan...
Plak!
Tamparan di pipi kiri Erla membekas ngilu, belum berhenti dalam satu kali tamparan, tamparan kedua mendarat dengan pedih lagi. Erla hanya memejamkan mata, saat rasa sakit mengalir ke sekitar pipi sampai menjalar ke tengkuknya.
"Dasar wanita murahan! Kau menggoda Ibram setelah kau mengkhianatinya! Dasar wanita murahan."
Plak! Plak!
Setelah entah tamparan ke berapa kali, Erla menahan tangan ibu mertuanya. Wanita itu menggoyangkan tangan yang dicengkeram Erla. Tapi, kekuatan Erla ternyata tidak bisa dia kalahkan.
Senyum tipis malah muncul di bibir Erla. Dari jarak sedekat ini, ternyata wajah cantik dan bersahaja ibu mertuanya tidak terlihat, malah, tunggu. Gadis itu, tergelak kecil ketika melihat sudut mata dan bibir ibu mertuanya. Hah! Dia menghela nafas. Ternyata, nasib kita sama ya Bu, makanya kau selalu bersikap biasa saja walaupun tahu, anak mu bersikap kasar padaku.
"Sakit Bu, padahal ibu tahu kan, ini rasanya sakit." Erla tersenyum sambil menahan nyeri.
"Apa? Kau sudah gila ya?" Ibu Ibram terlihat terkejut, karena menebak kata-kata Erla maksudnya apa.
"Sekarang, saya tahu, dari mana sikap kasar Kak Ibram berasal."
Tangan ibu Ibram bergetar, dia goyangkan tangan Erla sampai terlepas. Mendorong tubuh Erla, lalu dia menjauh, mundur sampai dia jatuh terduduk di sofa lagi.
Wajah ibu Ibram memerah. Dia menahan marah, kesal dan juga malu. Sialan! Dia mengusap pipinya sendiri, padahal dia sudah menutupinya dengan make-up tebal, apa wanita tidak tahu malu ini melihatnya.
Ibu Ibram, melampiaskan amarahnya pada Erla sekarang, karena dia menjadi tempat pelampiasan kemarahan suaminya. Ibram yang pergi dari rumah, Ibram yang tidak fokus bekerja, karena Amerla. Dialah yang dituding, sebagai penyebab kekacauan ini. Karena dia sudah menjodohkan Ibram dan Erla. Dia memang sesombong ini sekarang, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat suaminya memarahinya dan melampiaskan kemarahannya.
Ibu Ibram melihat Erla yang menahan sakit, gadis itu mengusap pipinya. Pandangan mereka bertemu, dia melengos saat Erla tersenyum padanya dengan pandangan penuh arti.
Sementara itu..
Ibu Erla dan para pelayan hanya bisa menonton, sedikit merasa lega, pertengkaran telah berakhir, walaupun mereka tidak tahu alasan berhentinya kekacauan itu apa.
Sakit! Erla meringis mengusap sudut bibirnya. Lebih sakit dari pukulan Kak Ibram. Karena ibu memukulnya berulang kali di tempat yang sama.
Apa dari ayahmu, kau belajar ini Kak. Dia ingin merasa kasihan pada Kak Ibram, tapi juga tidak mau mengasihaninya. Karena tubuhnya sudah terlalu sakit. Kau melihat ayahmu mencintai ibu mu dengan cara ini. Apa kalau kita punya anak nanti, dia pun akan seperti mu dan ayah mu. Tidak!
Erla melihat surat cerai di atas meja, entahlah, apa yang akan terjadi ke depannya. Dia berjalan mendekati ibunya, merebut pena, lalu berjalan ke dekat meja, dia menandatangani surat perceraian itu.
"Sekarang, pergilah temui anak Anda, Nyonya."
Erla meninggalkan ruangan, berjalan menaiki tangga, tak ingin menoleh sedikit pun.
__ADS_1
Bersambung