Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
125. Menginap


__ADS_3

Setelah ibu berangsur mulai tenang, Mei dan Harven memapah ibu untuk masuk ke dalam kamar. Membaringkan di tempat tidur. Karena ibu kehabisan energi sepanjang dia menangis tadi.


Sheri ke dapur mengambil air hangat untuk ibu. Sebagai alasan kabur dari ayah dan ibu Rion. Setelah menjawab beberapa pertanyaan ibu Rion dia langsung menundukkan kepala dan melesat masuk ke dalam rumah.


Aku harus mengatakannya duluan pada Harven, jangan sampai dia tahu dari orang lain. Sheri takut Harven akan merasa kecewa kalau tahu dari orang lain, perkara dirinya. Sekarang, keberaniannya berkali lipat. Sebelum membawa air hangat ke kamar, dia melihat meja dapur. Bahan-bahan yang sudah disiapkan ibu tadi. Dia ikut merasa sedih, namun juga lega, karena ibu ingatannya sudah kembali.


Mei, Harven, ibu dan Sheri masih di dalam kamar.


Sementara itu, Rion sudah duduk di ruang tamu, bersama ayah dan ibunya. Menjelaskan kondisi ibu Mei bagaimana.


Dan mengalirkan cerita tentang keluarga Mei, tentang ayah Mei, seperti yang Rion baca dari laporan yang diberikan Serge saat mereka baru mau menikah dulu.


Perusahaan ayah Mei adalah perusahaan konstruksi kelas menengah. Bukan perusahaan kecil, namun juga tidak terlalu besar. Mereka lebih banyak menggarap proyek ruko di daerah pinggiran kota. Biasanya mereka membeli lahan kosong di daerah strategis, membangunnya dan menjualnya lagi. Selama ini semuanya berjalan dengan lancar dan tanpa kendala yang berarti.


Namun, suatu hari, teman ayahnya Mei datang menawarkan kerjasama yang cukup besar. Masih sama membangun ruko, tapi skalanya jauh lebih besar. Dan lokasinya di luar kota. Proposal proyek dari temannya itu begitu meyakinkan. Tanah yang akan dibangun juga sudah ada, dan sudah ada kesepakatan jual beli. Tinggal uang untuk membelinya. Dengan segala iming-iming keuntungan yang berlipat ganda dari proyek yang sebelumnya pernah ditangani ayah Mei. Mungkin ayah Mei sangat percaya dengan temannya juga, beliau melihat ini prospek luar biasa bagi perusahaannya. Bisa meningkatkan pendapatan dan nama untuk perusahaan.


Akhirnya, demi mendapatkan modal yang cukup, mereka mendapat pinjaman dari bank. Ayah Mei yang mempercayai temannya, mempercayakan masalah luar tanah di luar kota pada temannya. Sementara dia mulai melakukan persiapan. Arsitek, tukang dan bahan bangunan.Tapi, temannya yang sudah dia percaya untuk mengurus pembelian tanah ternyata membawa kabur uang modal itu.


Dulu, saat membacanya Rion tidak bergeming. Alias tidak terlalu perduli, toh itu masalah Mei di masa lalu. Tapi, saat menceritakannya pada ayahnya sekarang, entah kenapa dia menjadi geram. Amarahnya terlihat dari makian yang keluar dari mulutnya untuk si penipu itu. Hidup Mei yang berat dimulai dari sini.


Ayah Mei depresi setelah kejadian itu, perusahaan bangkrut, hutang menumpuk. Semuanya pencapaian mereka hancur seketika. Dan akhirnya ayahnya sakit-sakitan. Itu adalah hari-hari berat Mei.


Ibu yang mendengar cerita Rion tentang menantunya mulai terisak. Suaminya mendekap bahunya yang bergetar. Ibu tidak bisa membayangkan, bagaimana tubuh kecil menanggung semua beban selama ini.


Rion sekilas menyinggung kepergian Brama dari rumah. Karena pernikahannya dengan istrinya. Dan bagaimana Mei harus melunasi hutang-hutang ayahnya.


Ibu Mei mulai bekerja seadanya, tapi, semenjak kehilangan semuanya, baik harta dan suami, ibu Mei jadi sering melamun. Dan mungkin, saat berjalan di trotoar dia tidak fokus dan kecelakaan itu terjadi. Ibu seperti trauma, dan lupa ingatan. Tapi dia hanya lupa bagian yang menyedihkan dari hidupnya, dan yang dia ingat kalau suaminya masih hidup. Bagian yang ingin ia lupakan, tentunya ini semakin membuat Mei menanggung beban yang luar biasa berat.


Dasar! Di mana dulu hati nuranimu Rion! Bahkan sekarang, saat dia mengatakan sendiri dengan mulutnya, kisah hidup Mei terlalu memilukan jika dipikirkan nalar manusia normal. Tapi, apa yang aku lakukan dulu. Aku melemparkan surat kontrak pernikahan yang tidak bisa dia tolak. Aku menjadikannya bonekaku karena aku akan membayar semua hutang ayahnya. Dan aku selalu mengingatkannya dengan kata sialan itu supaya dia tidak mengkhianatiku. Rion! Kau benar-benar manusia sialan! Istri boneka, Hah! Otakku kau pakai untuk apa dulu.


Dia lupa, kalau Serge sudah mengingatkannya. Dia lupa, dia yang memilih sendiri kosa kata itu. Sekarang, saat hatinya sudah jatuh ke dalam kubangan cinta untuk Mei, dia melihat betapa terkutuknya hal yang sudah dia lakukan dulu.


Dan pemenang, untuk manusia hina tahun ini jatuh kepada, suami gila bernama Rionald Fernandez 👏👏. Hatinya malu, benar-benar merasa malu.

__ADS_1


Rion menatap pintu kamar ibu Mei. Maaf Mei, maafkan aku. Gumamnya getir. Rion merasakan perasaan bersalah yang teramat sangat saat ini. Tentang kelakuannya di awal pernikahan dulu. Dia akan membayar semuanya. Dengan cinta tulusnya untuk Mei.


Lamunan laki-laki itu mengutuki diri terbangun, saat ibu disebelahnya semakin sesenggukan, ibu menangis dalam dekapan ayah. Betapa malangnya hidup menantunya pasti itu yang dipikirkan ibu. Dan ibu pasti akan memakiku, kalau tahu bagaimana aku memperlakukan Mei di awal pernikahanku.


Rion, manusia hina! Karena kau belum move on dulu, apa kau sehina itu!


"Kasihan sekali Mei. Nak, baik-baik dengan istrimu. Dia sudah menderita selama ini. Cintai dia dengan benar, sayangi juga keluarganya. Seperti Mei sayang sama ibu dan ayahmu juga."


Deg..deg..


Aku yakin seratus persen, ayah dan ibu akan sangat murka kalau tahu aku pernah memanggil Mei bonekaku.


"Ia Bu, aku akan membahagiakan Mei, ayah dan ibu jangan khawatir. Karena aku mencintainya, maka aku akan membuatnya bahagia."


Bergulirnya janji Rion dengan kesungguhan hatinya. Dia ingin segera mengungkapkan perasaannya. Dan menghancurkan surat kontrak pernikahan mereka.


Kapan aku akan bicara ya, hemm, bagaimana kalau setelah wawancara. Aku akan berdalih memberinya selamat atas kesuksesan wawancara dan mengajaknya makan malam yang romantis. Setelah itu akan mengungkapkan perasaanku dan merobek kertas kontrak itu di depannya. Persetan dengan Serge.


Masih saja, bawa-bawa Serge yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Rion akan membuat rencana seperti itu. Dia akan menyuruh Serge reservasi di restoran terbaik kali ini. Semua tempat akan dia booking untuk mereka berdua. Dia tidak mau sampai kejadian seperti waktu itu terulang. Bertemu orang tidak penting yang sok kenal padanya. Menghancurkan suasana saja gumamnya.


"Apa sih, memang aku kenapa." Rion sok polos, pura-pura tidak paham apa yang ibu bicarakan.


Ibu dan anak saling memuji bagaimana sosok Mei, gadis luar biasa kata mereka bersamaan.


Sementara Ayah Rion juga sedang termenung. Dia bisa melihat betapa kuatnya hati menantunya. Menggantikan ayahnya menjadi tulang punggung keluarga. Berjuang sebisanya untuk keluarganya. Dia memang tidak mengenal ayah Mei, mungkin mereka pernah bertemu di suatu tempat dulu. Tapi entahlah. Dia tidak tahu. Tapi, dia tertarik dengan kasus yang menimpa ayahnya Mei.


"Rion, suruh Serge buatkan laporan tentang perusahaan ayahnya Mei. Selengkap mungkin. Kalau perlu tentang akta pendirian perusahaan dan lainnya."


"Apa ayah mau mencari penipu itu?"


"Kita lihat saja nanti."


"Baiklah."

__ADS_1


Mei keluar dari kamar, mendapati ayah dan ibu serta Kak Kak Rion di ruang tamu. Dia minta maaf karena situasinya malah seperti ini, ibu tertidur karena kelelahan menangis ujarnya pelan. Jadi tidak bisa menemui ayah dan ibu Kak Rion sekarang.


Rion menepuk sofa di sebelahnya, Mei duduk diantara Rion dan ibu.


"Ibu sudah lebih baik, hiks, akhirnya." Benar kan, hatiku melemah sekarang gumam Mei. Setiap berada di samping Kak Rion, dia jadi ingin bersandar. Dulu, dia mendapatkan semua kekuatan ini dari Kak Serge, sekarang Kak Rion seperti hadir untuk memberinya kekuatan. "Rasanya lebih lega sekarang Kak, semoga ibu bisa menerima semuanya dan mengikhlaskan semuanya. Kami bisa hidup bersama dan terus melihat ke depan." Hanya itu saja yang diharapkan Mei. Kebahagiaan ibu melihat masa depan bersama anak-anaknya.


Sentuhan tangan hangat Kak Rion dan ibu membasuh punggungnya. Dia menangis karena perasaan bahagia dan bersyukur. Mei melihat ibu dengan tatapan penuh terimakasih. Lalu meraih tangan Kak Rion, berterimakasih.


"Mei, malam ini kamu bisa menginap saja di sini. Ke rumah ibu nanti kapan-kapan juga bisa kan." Ucapan ibu tentu membuat Mei sangat senang.


Yang dilihat Mei tentu saja Kak Rion. Kalau dia tentu saja sangat senang bisa menginap di rumah ibu. Tapi, bagaimana Kak Rion. Apa dia akan diizinkan.


"Rion, kamu pulang bersama ayah dan ibu saja, kalau tidak mau di rumah sendirian." Ibu sepertinya menangkap kegelisahan di mata menantunya, jadi, dia yang menanyakan pada Rion langsung. "Biarkan Mei sehari saja tinggal di sini. Nggak papa kan?"


Senyum aneh itu muncul, dia mau apa pikir Mei. Apa tidak mengizinkan ku. Padahal ibu yang sudah bilang langsung.


Rion meraih pinggang Mei, menjatuhkan dagunya di bahu Mei.


"Aku akan ikut menginap di sini Bu, ini kan rumah ibuku juga."


Deg, terharu sebentar. Tapi... langsung panik Mei.


Apa! Tunggu! Kak Rion mau menginap disini? Entah kenapa kepala Mei jadi berdenyut. Karena apa? Karena tidak ada kamar yang bisa ditempati Kak Rion tentunya. Dan tahu kan, kalau malam apa yang mereka lakukan. Tidak!


"Boleh kan Mei?" Suara manja dan menggelikan Rion terdengar.


Memang aku bisa bilang tidak boleh! Mei berteriak dalam hati.


"Aku kan tidak mau berpisah darimu." Satu kecupan mendarat di pipi. Ibu sampai tergelak dan mengacak rambut anaknya yang bersikap manja-manja begitu.


Dan akhirnya, seperti itulah yang terjadi. Sesuai dengan apa yang diinginkan Rion. Menginap di rumah ibu Mei. Jujur ya, Harven senang sekali saat mendengar Kak Mei mau menginap. Sepertinya banyak hal yang ingin dia ceritakan pada kakak perempuannya. Harven lupa, kalau kakak iparnya juga ikut menginap. Atau karena dia belum tahu sifat kakak iparnya 🤭


Saat sore menjemput, waktu mereka berpamitan, ibu Mei dan ibu Rion berpelukan hangat. Ibu Mei bercucuran airmata, mengucapkan terimakasih berulang-ulang karena sudah mencintai putrinya. Karena sudah memperlakukan Mei dengan berharga, seperti keluarga sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2