
Merilin berusaha meyakinkan Serge kalau semua baik-baik saja. Tapi tentu saja, Serge seperti biasanya, tidak bisa lepas tangan dan tetap mau membantu. Walaupun laki-laki itu sendiri bingung bagaimana caranya.
Protes dan marah pada Rion, bisa-bisa dia yang babak belur. Tapi dia tidak bisa lepas tangan begitu saja karena lagi-lagi, dia yang sudah membawa Mei memasuki pernikahan ini.
"Aku akan bicara dengan Rion untuk tidak memaksamu kalau kau tidak menyukainya Mei."
Memang bagaiman caranya Kak? Yang ada Kak Rion bisa memukulmu nanti.
"Tidak Kak, tidak usah." Aku tidak mau Kak Ge dimarahi karena mengurusi hidupku lagi, begitulah yang Merilin pikirkan. "Aku benar-benar baik-baik saja. Oh ya Kak, aku kasih nomor Kak Ge ke Dean ya Kak, nanti katanya ada yang mau dia bicarakan mengenai pekerjaan." Merilin mengalihkan pembicaraan, tidak mau Kak Ge membicarakan hubungannya dengan Rion lagi."Tolong bantu Dean ya Kak."
Serge mengiyakan, ketika nama Dean di sebut.
"Baiklah Mei, aku akan membantunya sebisaku, dia kan temanmu. Mei..." Terdiam sebentar. "Aku lega karena Rion tidak memaksamu, mendengar kau bahagia, mungkin ini cara Tuhan menyelamatkan Rion melalui dirimu."
Maksudnya? Aku menggantikan wanita itu. Hah! Mana mungkin Kak, semalam karena kemarahan dan cintanya pada wanita itu dia melampiaskan hasratnya padaku.
"Kau menjadi obat yang dikirim Tuhan untuk Rion Mei, dan Karen kau memang sudah menyukai Rion apa aku boleh memberimu selamat."
Hah! Salah paham juga harusnya ada batasannya Kak! Merilin yang mau kesal tapi lantas terhenyak karena mendengar suara Serge yang tertawa. Ah, terserahlah, asal kakak senang aku tidak masalah disalah pahami. Begitulah akhirnya Merilin juga ikut tersenyum.
Syukurlah gumam Merilin, walaupun Kak Ge masih berfikir aku menyukai Kak Rion biarlah, itu lebih baik kan. Daripada dia tenggelam dengan rasa bersalah.
Senyum-senyum Merilin, ditangkap laki-laki yang sedang menguping itu sebagai bentuk penghkhiana lanjutan. Tangan Rion sudah terkepal dengan geram. Laki-laki itu sedang menahan luapan kemarahannya pada Serge.
"Baiklah Kak, aku tutup ya, Kak Rion pasti sudah selesai mandi. Sebentar lagi pasti dia masuk. Aaaaaaa!" Merilin menjatuhkan hpnya saat melihat pintu kamar. Jeritannya terdengar dengan jelas di telinga Serge.
Brukk!
Terdengar suara dentuman, dari pukulan tangan Rion ke daun pintu.
Setelah memukul pintu, Rion berjalan masuk ke dalam kamar. Rambutnya sepertinya mengering sendiri.
__ADS_1
"Wahhh, aku sampai kehabisan kata-kata Mei, bagaimana kau bisa bicara dengan laki-laki lain di kamarku, diatas tempat tidurku, memakai hadiah yang kuberikan padamu." Panjang sekali keluhan Rion. Berisi kemarahan yang meluap-luap. "Memakai hp yang kuberikan padamu!"
Se.. sejak kapan dia disana?
Merilin langsung siaga, melihat kemarahan di mata Rion.
"Ini Kak Serge Kak, aku hanya bicara sebentar pada Kak Serge."
Merilin mundur, selimut yang menutupi tubuhnya melorot jatuh. Rion menyambar hp di atas tempat tidur, masih terhubung dengan Serge belum dia matikan.
"Karena ini Serge makanya aku lebih marah. Kau dengar itu sialan!" Rion sudah bicara dengan orang yang ada di sebrang telepon, yang wajahnya sudah pucat pasi. "Ge, hah! bersiaplah, ini tidak hanya akan berakhir dengan tiga kali pukulan saja, kau dengar itu."
Serge berusaha membela diri dengan bicara terbata. Kalau dia menelepon Merilin Karen hanya mencemaskan gadis itu, tidak lebih.
"Rion, aku hanya bicara sebentar dengan Mei." Benar-benar terbata bicara.
"Sudah kubilang kan, dia bukan adikmu lagi, jadi berhenti mengurusinya, sekarang dia istriku sialan!"
Deg... istri, biasanya dia selalu menyebutku bonekanya. Merilin tidak berani mengeluarkan sepatah katapun masih melihat takut pada Rion yang bicara pada Serge di telepon. Kemarahan Rion terdengar, seperti dia baru saja menangkap basah istrinya melakukan perselingkuhan.
Kalau saja Merilin punya keberanian, mungkin dia akan bicara begitu. Tapi jangankan bicara, tubuhnya saja gemetar.
"Rion, maafkan aku." Serge pucat pasi di kamarnya sekarang. "Aku tidak menyentuh Merilin sialan! Aku hanya bicara di telepon." Saking frustasinya sampai memaki Rion.
"Sebaiknya kau bersiap besok!" Ketus dan dingin terucap. Tidak Sudi mendengar pembelaan Serge lagi.
Sambungan terputus, Rion melemparkan hp Merilin ke atas meja. Sampai menimbulkan suara debum, Mei yakin Rion sengaja melempar hp sekeras itu. Bisa jadi hpnya pecah dan rusak lagi.
"Sekarang, bukankah kau harus menjelaskan padaku Mei..." Rion menunduk, masih berdiri di tepi tempat tidur. Tangannya menyangga bahunya, dengan kepala maju ke depan ke arah Merilin.
Tidak ada senyum apalagi tawa, wajah dingin dan kaku yang Merilin kenali sebagai milik CEO Rionald.
__ADS_1
Merilin gemetar di tempatnya duduk, otaknya bekerja cepat memberinya perintah, perlahan tangannya mendorong selimut di depannya menjauh dari kakinya. Lalu menarik tali baju tidurnya, yang tadinya menggelantung di bahu, menjadi melorot ke lengannya. Dua-duanya dia tarik satu persatu. Dengan tangan gemetar dan bibir bergetar.
Rion tidak bisa menahan keterkejutan, langsung tertawa melihat wajah ketakutan itu dengan imutnya menurunkan bajunya sendiri tanpa diminta.
"Haha, apa yang kau lakukan Mei?"
"Menggoda Kakak." Bibir Mei masih bicara dengan bergetar. "Aku tidak mengkhianati Kak Rion, aku bersumpah, aku hanya bicara dengan Kak Ge karena Deandra meminta nomor Kak Ge karena urusan pekerjaan."
Maaf Dean.
"Maafkan aku Kak, yang sudah bicara dengan laki-laki lain di kamar Kakak."
Rion tersenyum lalu duduk di depan Merilin, sepertinya Mei tidak menyangka, kalau dia mendengar semua. Rion menyentuh leher Merilin.
"Buka!"
Apalagi yang harus dibuka, kau kan cuma memakai handuk.
Dengan wajah memerah, Merilin meraih handuk dipinggang Rion, setelahnya laki-laki itu mendorongnya jatuh ke atas tempat tidur.
"Kak, jangan marah dengan Kak Serge, dia benar-benar cuma kakak..."
Alih-alih membiarkan Merilin meneruskan kata-katanya, Rion langsung menyambar bibir Merilin, ciuman itu membungkam mulut Merilin. Rion tidak mau mendengar apa pun tentang Serge sekarang. Laki-laki sialan yang sudah berani namanya mendekam di hatimu. Akan kuhapus nama itu dari hatimu Mei, walaupun aku harus memaksamu sekalipun, itu tidak masalah.
Kemarahan Rion lumer saat bibirnya mulai menyentuh bagian tubuh Merilin yang lain. Kecupan demi kecupan, ciuman demi ciuman baru, berebut tempat dengan tanda tadi pagi yang belum memudar.
Aku menyukaimu Mei, aku ingin memilikimu seutuhnya, bukan hanya tubuhmu tapi juga hatimu. Rion bergumam sambil menggigit telinga Merilin.
"Kau boleh membalas gigitanku, lebih merah lebih baik." Biar Serge semakin senewen sebelum aku menghajar wajahnya besok. Rion tersenyum sambil menciumi pipi Merilin.
Sementara Merilin menjerit dalam hati, tidak mau! Tidak gigit-gigit lagi! Melihat bekasnya yang belum memudar di tubuh Rion saja rasanya masih malu.
__ADS_1
Malam semakin larut, bintang berkedip di langit yang semakin menghitam.
Bersambung