Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
78. Kisah Cinta Lain


__ADS_3

Ditempat lain, kisah lain sedang berkembang, dua hati yang sedang berjalan menuju ke arah yang sama. Berawal dari hobi yang sama melahirkan kedekatan di antara mereka.


Ini cerita tentang Jesi, sahabat Merilin yang terkenal cuek dan berkepribadian santai. Hari ini dia terlihat cantik, memakai rok selutut dan atasan blous dengan warna senada. Dia membiarkan rambut lurusnya jatuh tergerai. Sebagai jaga-jaga kalau panas, ada ikat rambut di tas yang akan dia pakai. Jesi juga berdandan, dia bukannya tidak bisa berdandan, dia hanya malas melakukannya selama ini. Tapi hari ini, make up tipis memoles wajahnya.


Akhir pekan ini Jesi menghadiri acara yang diadakan platform tempat komiknya terbit, acara seperti ini biasanya berlangsung enam bulan sekali, artinya dalam setahun dua kali diadakan. Akan ada temu author, tanda tangan author untuk penggemar, penjualan merchandise juga ada. Bahkan komik dalam versi cetak juga ada.


Orang-orang yang berdandan seperti karakter di dalam komik dengan kostum menyerupai karakter juga banyak. Booth tempat Jesi juga ramai dikunjungi para penggemar. Sebenarnya ini pertama kalinya dia mengikuti acara seperti ini. Dia masih malu dan terasa asing, namun pura-pura tenang, dan menyetel wajah dengan senyuman saat ada yang mendekat ke booth miliknya. Gayanya yang memang sedikit cuek, berhasil membuatnya terlihat santai.


Padahal setiap memberikan tanda tangan dan menuliskan nama penggemar, hatinya berdebar dan meledak, karena perasaan bahagia dan bangga. Ada yang mencintai karyanya, dan mereka menunjukkan cintanya secara langsung, dia yang jarang menangis bahkan menitikkan airmata haru.


Saat Jesi sedang duduk sambil menundukkan kepala, merapikan lembaran kertas yang berisi art karakter komiknya. Kejadian yang tidak terduga datang.


"Apa ini semua dijual?"


Sebuah suara laki-laki terdengar di telinga Jesi, suara yang sudah dia hafal. Karena mereka sudah berkomunikasi melalui hp. Jesi tidak menyangka kalau Arman benar-benar akan muncul di depannya. Walaupun dia berdandan memang khusus karena Arman katanya mau datang. Tapi karena takut harapannya tidak terbalas, jadi dia membohongi dirinya sendiri. Aku berdandan, karena aku ingin berdandan.


"Kak! Kak Arman datang juga?"


Arman sedikit terlambat sebenarnya, karena dia bingung memilik buket bunga yang harus dia berikan pada Jesi. Di toko bunga dia tertahan selama setengah jam. Laki-laki itu memutar tangan dari punggungnya, lalu menyodorkan buket bunga di depan wajah Jesi.


Apa ini gumam Jesi, apa Kak Arman sedang mencontoh salah satu adegan komik lagi. Dengan tangan agak bergetar, Jesi meraih bunga yang disodorkan Arman. Wajahnya bersemu merah.


"Selamat ya, atas temu penggemar untuk pertama kalinya, author Jesi. Aku datang, bukan hanya sebatas sebagai penggemar komik, tapi juga pengagum authornya secara pribadi." Arman memalingkan wajah dengan rona yang memerah.


Deg...deg... jantung kedua orang itu berdebar dengan sangat kuat.


Ini memang bukan pertama kalinya Jesi mendapat hadiah bunga, buket bunga pertamanya adalah pemberian Merilin dan Deandra saat komiknya terbit perdana kala itu. Saat teman-temannya merayakan kebahagiaan mimpinya. Itu adalah hari paling membahagiakan bagi Jesi. Tapi sekarang, perasaan bahagianya nyaris mirip.


"Terimakasih Kak, sudah datang, terimakasih juga untuk bunganya."


Arman sudah duduk di samping Jesi, menemani gadis itu menjawab beberapa pertanyaan penggemar. Membubuhkan tanda tangan yang diminta penggemar, bahkan meladeni berfoto juga.


Aku juga mau, gumam Arman. Berfoto dengan Jesi dan minta tanda tangannya. Laki-laki itu sedang memutar otak, mau mulai dari mana untuk meminta itu semua. Dia melihat benda-benda yang ada di atas meja.


"Jes, apa aku boleh membeli ini? Tolong bubuhkan tanda tanganmu di sini." Arman meraih sebuah boneka bulat bergambar karakter komik.


"Kak Arman mau itu, gratis kok buat Kak Arman, Kakak kan sudah memberiku bunga." Jesi dengan tersenyum meraih benda yang ada di tangan Arman, kulit mereka bersentuhan. Ada yang menyengat panas.


Perasaan aneh apa ini? Ini kan situasi yang sering aku gambarkan saat membuat adegan romantis. Jesi membelalak tidak percaya, bagaimana dia bisa merasakan situasi yang selama ini hanya bisa dia bayangkan.


"Aku akan membayarnya." Arman bersikeras.


"Tidak perlu aku kasih Kak Arman gratis." Jesi lebih ngotot.

__ADS_1


"Kalau mau memberiku sesuatu yang gratis berikan aku fotomu saja." Mengeluarkan hp. "Ayo foto berdua, berdekatan."


"Apa?"


Dengan malu-malu, mereka mengambil foto Selfi berdua. Mendekatkan wajah, ekspresi kaget langsung muncul saat pipi mereka berdekatan.


Cekrik. Hasil foto sudah tersimpan di hp Arman. Dia tersenyum saat melihat hasil fotonya.


Imutnya, gumam Arman. Sementara Jesi, pikirannya sedang blank. Kulitnya yang sedikit saja bersentuhan, membuat pikirannya melayang entah kemana.


Mei, apa ini perasaanmu saat melihat Kak Ge? Arman di samping Jesi jadi terlihat lebih bersinar sekarang. Laki-laki itu tersenyum, membuat Jesi rasanya meleleh.


Senyumnya manis sekali. Aaaaa! Bagaimana ini!


Hubungan Arman cukup cepat progresnya, kenapa? sebagai pembaca komik yang cukup menjiwai, Arman dengan tidak tahu malunya mempraktekkan beberapa adegan komik yang dibuat Jesi. Semuanya dia lakukan dengan sengaja. Saat Jesi menyadarinya, mereka jadi punya bahan pembicaraan dan hal untuk ditertawai bersama. Untuk itulah, berawal membicarakan komik, lalu mereka menjadi bisa menertawakan hal yang sama untuk hal sepele lainnya.


Jesi mengetahui kalau Arman adalah pengawal pribadi Sherina, kalau dia bekerja pada konglomerat pemilik Gardenia Pasifik Mall.


...🍓🍓🍓...


Sementara di tempat lain, di sebuah kafe. Deandra datang lebih awal, dia sudah ke toilet sekali merapikan penampilan. Tapi tetap merasa ada yang kurang hingga berdiri lama di depan cermin. Hari ini dia akan bertemu dengan Kak Serge. Entah kenapa dia deg, dengkan. Walaupun tahu, dia tidak boleh seperti ini. Bagaimanapun Kak Ge adalah cinta sahabatnya.


Sebenarnya karena takut datang sendirian, Dean meminta Jesi menemani. Tapi karena Jesi sedang ada acara temu penggemar, akhirnya Dean pergi sendiri.


Sepuluh menit waktu berputar, Dean sudah memesan segelas es kopi. Sambil melihat hp, entah sedang melihat apa, yang penting tampak sibuk dan tidak terlalu terlihat kalau dia sedang menunggu dengan tegang.


Langkah kaki terdengar, saat Dean mendongak, tangannya menyentuh rambut, mengibaskan bagian dekat bahunya. Serge berjalan ke arahnya.


"Dean, maafkan aku, aku terjebak macet." Langsung duduk mengusap peluh. "Sepertinya ada acara di sekitar daerah XX, aku bahkan melihat spanduk komik Jesi disana." Sepertinya Serge terjebak dengan arus masa penggemar yang datang ke acara Jesi.


"Ia Kak, Jesi bilang sedang ada temu penggemar di sana, tadinya aku mau mengajaknya, tapi dia tidak bisa, makanya aku datang sendiri."


Karena datang sendiri-sendiri, mereka jadi terlihat seperti orang yang pergi kencan. Tapi hanya si peka Dean yang menyadari situasi itu, sedangkan Serge, karena dia datang murni karena Merilin meminta tolong padanya jadi pikirannya tidak berfikir apa-apa.


Mereka mulai membicarakan pekerjaan setelah jus mangga Serge datang, cuaca cukup panas, dia ingin minum sesuatu yang segar. Dean menjelaskan tentang taman yang ingin di bangun perusahaannya, sekaligus bujet yang mereka siapkan. Dengan malu-malu bicara.


"Mei bilang, kalau kami mendapat rekomendasi dari petinggi Andez Corporation, bisa mendapat pengurangan harga ya Kak?"


Serge tertawa.


"Memang si begitu, tapi juga tidak terlalu banyak, kecuali Rion dan Presdir yang memberi rekomendasi. Tapi aku akan coba membantu sebisaku De." Meraih draf rencana taman yang disodorkan Dean. "Konsep taman yang kalian inginkan sebenarnya cukup minimalis, cuma ada beberap jenis tanaman yang harganya cukup mahal yang kalian inginkan, jadi ini yang membuat harganya tinggi. Bagaimana kalau kalian mendapat rekomendasi jenis tanaman dari kami. Yang mirip tapi harganya masih terjangkau."


Dean yang tidak terlalu paham dengan nama-nama tanaman, hanya mangut-mangut ketika Serge menunjuk daftar nama tanaman yang tertulis.

__ADS_1


"Baik Kak, aku akan melaporkan pada direktur. Tolong bantuannya ya Kak." Pembicaraan mengenai pekerjaan selesai dengan cepat ternyata.


Serge akhirnya menanyakan pekerjaan apa yang ditangani Dean di kantor serta jabatannya, gadis itu menjelaskan dengan lancar sambil menyelipkan rambut di telinga.


"Wahh kau sudah jadi manager ya, hebat. Kalian memang keren, Mei, Jesi dan kamu, kalian bersinar di dunia kalian masing-masing."


Mulai deh, Serge menebar pesona hangatnya. Yang sama sekali tidak dia sadari.


"Kak Serge juga keren, Mei dan Jesi sering cerita tentang Kak Serge juga."


"Eh, cerita apa lagi mereka." Serge tertawa malu sambil menyeruput minumannya. "Oh ya, karena sudah selesai bagaimana kalau kita ke tempat Jesi, ini kan acara pertamanya, ayo kita mendukungnya."


Ah, dia memang manusia langka di muka bumi ini, dia memang laki-laki baik. Dean menghabiskan kopinya sambil menatap laki-laki yang sedang membereskan berkas catatan di atas meja.


"Kak Ge, apa Kak Ge punya pacar? Eh." Dean menutup mulutnya kaget, dia spontan bertanya. "Maaf Kak aku malah bertanya masalah pribadi, maaf sudah membuat Kak Serge tidak nyaman."


Eh, kenapa dia terlihat sedih begitu, apa aku salah bicara. Dean jadi ingin menghilang saja sekarang, karena terkejut dengan reaksi Serge di depannya. Wajah Serge jadi sedih ketika ditanyai tentang pacar.


"Kenapa Kak?"


Serge menghela nafas.


"Selama ini aku sangat sibuk bekerja, waktuku hanya bekerja bahkan akhir pekan juga bekerja, tapi setelah Rion dan Mei menikah, aku mendapatkan libur akhir pekanku."


Menghela nafas lagi.


"Tapi setelah aku libur, aku bingung, karena selama ini aku tidak melakukan apa pun di akhir pekan selain bekerja."


Kenapa malang sekali, dia pasti diperbudak suami Mei selama ini.


Untuk ketiga kalinya Deandra mendengar Serge menghela nafas.


"Aku tidak pernah pacaran." Muram.


"Kak Ge boleh mengirimi aku pesan, kalau akhir pekan. Kalau aku sedang senggang, aku pasti akan menemani Kak Ge." Dean melihat wajah kaget Serge. "Bukan, bukan hanya kita berdua kok, kita bisa mengajak Jesi juga, Mei juga. Kalau Kakak kesepian, ayo pergi bersama kami. Haha."


Memang aku mau mati gumam Serge, menghubungi Mei saja sudah jadi hal terlarang baginya sekarang.


Setelah agak canggung, mereka akhirnya keluar dari kafe. Masuk ke dalam mobil masing-masing, mengemudi beriringan, menuju tempat acara Jesi.


Hah! kalau saja kami naik mobil bersama, kami kan bisa mengobrol. Baik Dean maupun Serge bergumam hal yang sama sambil menyalip mobil di depannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2