
Masih di ruang kerja Rion. Laki-laki itu terlihat sangat terhibur melihat kepanikan Mei.
Kau takut sekali ya, kalau Serge melihatmu duduk di pangkuanku. Tapi maaf ya Mei, aku memang mau pamer padanya. Kau sudah tidak ada harapan dengannya. Sedikitpun, bahkan setitik noktah kecil sekalipun. Karena kau milikku, kau istriku. Rion senyum-senyum sendiri sambil melihat ke arah Mei.
Mei sudah merapikan pakaian, dan membetulkan ikat rambutnya. Gadis itu melihat ke arah Rion, yang tetap santai dan terlihat tenang. Tidak terlihat khawatir sama sekali. Dia hanya terlihat mengusap bibir bekas ciumannya tadi dan menggoyangkan rambut.
Aaaaa! Memang kau mau Kak Ge melihatnya, rasanya senam jantung Mei tidak selesai-selesai. Mei merasa malu, kalau tertangkap basah oleh Kak Serge. Bukannya bekerja malah mesra-mesraan dengan suami begini. Hanya itu yang ada dipikiran gadis itu.
"Kak, aku keluar ya." Setelah merapikan baju selesai. Mei juga mengusap bibirnya, mengecapnya. "Selamat bekerja, kalau Kak Rion sudah selesai membaca draf pertanyaan wawancara, tolong segera kabari tim kami. Mana saja pertanyaan yang bisa aku tanyakan, dan mana yang tidak."
Tidak ada sahutan, selain senyum menyeringai kalau keisengan laki-laki itu kambuh. Begitulah Mei mengartikan senyuman laki-laki di depannya. Dan benar saja, setelah tersenyum, terbitlah kejahilan Rion selanjutnya.
"Cium aku."
Rion menunjuk pipi kanannya, Mei kebingungan sesaat, apa sih pikir gadis itu, masih minta cium pipi juga. Belum bergerak, telunjuk Rion berpindah ke bibir. Intinya, dia mau dicium semua bagian wajahnya sebelum Mei pergi.
"Kenapa? Tidak mau? Karena ada Serge di luar?"
Apa sih, memang apa hubungannya dengan Kak Ge. Mei agak kebingungan mencari benang merah, antara ciuman dan Kak Ge. Walaupun tidak tahu apa, dia secepat kilat tersenyum, saat Rion menurunkan jarinya dari pipi. Dia mulai marah karena disuruh menunggu.
"Bagaimana mungkin aku tidak mau Kak. Hehe. Aku dengan senang hati akan melakukannya."
Baiklah Mei, selesaikan dengan cepat. Kalau dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan, Mei yakin, akan tetap terkurung di ruangan CEO. Padahal sekarang, jam makan siang sudah berlalu. Teman-temannya pasti sudah ada di kantin kantor. Berapa lama aku terkurung disini tadi!
Mei dengan pasrah mendekat lagi ke dekat meja. Langkah kakinya yang perlahan, tetap membawanya ke depan Rion. Dia bersiap untuk memberi kecupan di pipi dan bibir serta tempat yang ditunjuk Rion sambil menyeringai tadi. Saat Mei mulai menempelkan bibir di pipi, kecup-kecup sambil menundukkan kepala di semua tempat. Sementara Rion memeluk pinggangnya. Dengan suara keras Rion bicara.
"Masuk!" ucapan ini tentu saja tertuju untuk Serge yang sedang ada di depan pintu.
Dan Serge langsung muncul dalam sekejap mata di belakang handle pintu yang terbuka. Dia tercengang sesaat ketika melihat Mei yang sedang berada dalam dekapan Rion. Rion yang duduk di kursi kerjanya, Mei yang berdiri di depannya sambil mencium bibir Rion. Gadis itu tersentak, langsung menjauhkan wajahnya. Malu sekali rasanya tertangkap basah Kak Serge. Hemmm, Mei melotot ke arah Rion. Laki-laki itu malah tertawa sambil menyentuh ujung bibirnya.
Kenapa? Kau kesal karena ketahuan menciumku di depan Serge, cih, memang itu tujuanku. Supaya kau berhenti berharap.
Sementara, Serge memukul keningnya sambil tergelak kecil. Dia juga membuang muka. Walaupun menangkap gerakan tubuh Mei yang menjauh dari Rion duduk. Padahal aku sudah khawatir setengah mati tadi, tapi ternyata kalian malah cium-ciuman begitu. Antara kesal dan lega bercampur di hati Serge. Kakak yang sangat overthingking itu sudah berfikir yang aneh-aneh, karena mendengar info dari stafnya kalau Mei sudah masuk cukup lama. Syukurlah semua baik-baik saja gumam Serge. Entahlah apa yang dipikirkan Serge, mungkin dia berfikir Mei sedang dianiaya atau dimarahi Rion.
Cih, dia istriku, dia wanitaku. Rion yang sedang unjuk gigi dengan hak kepemilikan Merilin mengulurkan tangannya minta digenggam. Pamer, dia sedang pamer lagi, padahal yang sedang dia pamerin tidak merasa cemburu sama sekali. Serge malah orang yang akan paling bahagia melihat kebahagiaan Merilin.
Aaaaaa! Malunya Kak Ge melihat! Cuma ini yang terpikirkan di kepala Mei.
Tiga orang, dengan pikiran mereka masing-masing. Dan dengan kesalahpahaman mereka masing-masing.
"Kak aku pergi ya?" Mei memohon. "Tolong segera kabari tentang draf pertanyaan wawancara."
"Baiklah, pergilah." Rion mengibaskan tangan. Akhirnya melepaskan istrinya setelah puas bermain dengan Mei. "Hari ini menyenangkan Mei, haha. Sampai jumpa di rumah nanti."
Tambah malu saja rasanya gadis itu saat mendengar Rion tertawa dan kalimat ambigunya, Mei sekilas menatap Serge, lalu tersenyum malu dan lari ke luar pintu. Bahkan tidak menyapa staf wanita yang terlihat semakin shock, fakta yang sepertinya benar adanya. Pimred Merilin, memiliki hubungan khusus dengan CEO Rionald. Tertangkap langsung di depan matanya.
Sepeninggal Mei, di dalam ruangan. Masih tergambar jelas di wajah Rion, kalau dia menikmati waktunya bersama Mei. Kalau tahu begini, aku tidak akan sekhawatir itu. Tapi, apa kau tidak bisa mengizinkanku masuk, dasar sialan memang. Serge memaki Rion dengan kesal. Tunggu, apa kalian sedang mesra-mesraan sampai kantor?
__ADS_1
"Kau dengan Mei semakin akrab ya?" Padahal Serge senang dengan situasi ini. Jadi dia bertanya.
"Kenapa? Kau tidak suka?" Menjawab ketus, mode Rion yang biasanya sudah kembali. "Kau tidak senang aku dekat dengan istriku?"
Eh, dia menyebut Mei istri, biasanya dia selalu bilang boneka, boneka, sampai rasanya mau aku pukul. Keheranan Serge.
"Tentu saja aku senang kalau hubungan kalian baik, aku kan yang menjodohkan kalian." Kakak baik hati yang selalu berfikiran positif.
"Cih."
Apa sih, kenapa kau kesal. Serge mengelus dada sambil menghibur diri dengan bilang, sabar, sabar. Lalu dia tersentak karena malah larut dengan situasi padahal ada informasi penting yang harus segera dia sampaikan.
"Ada keributan antar karyawan di kantin." Serge memulai laporannya, menyudahi pembahasan tentang Mei.
Dan cerita Serge pun di mulai, mengenai keributan yang terjadi di kantin.
Gosip yang menyebar tentang Mei juga sampai ke telinga Rion dan Serge, tidak, bahkan Presdir juga tahu. Mereka masih mendiamkan karena ini hanya perkara omongan dari mulut ke mulut. Tapi, dua hari lalu, Rion memanggil Kendra rekan kerja Mei untuk mendapatkan informasi. Dan ternyata, bukannya mereda, gosip tentang Mei malah merambat ke mana-mana, bahkan sampai membawa nama petinggi perusahaan, yang mengarah pada Presdir. Sampai di sini, kesabaran Rion mulai menipis sebenarnya. Tapi Serge masih memintanya menahan diri.
Nah, kembali pada keributan di kantin kantor. Kendra memberikan laporan panjangnya di pesan yang sedang dibacakan Serge pada Rion.
"Mona marah pada orang-orang yang membicarakan Mei, akhirnya dia berteriak dengan sangat keras sampai saya yakin seisi kantin mendengar. Dia bilang, kalau Mei sudah menikah. Semua mobil, dan pakaian yang dipakai Mei adalah pemberian suaminya."
Apa masalah rampung dengan teriakan Mona, tidak, kata-kata Mona malah menjadi bumerang. Bukan lagi simpanan, tapi istri kedua Presdir bergulir dengan lancangnya dari mulut beberapa orang.
"Sialan! Padahal aku sudah meyakinkan ayah untuk menunggu sebentar, pasti gosip akan mereda sendiri. Sial! Mei juga tidak pernah bilang apa-apa padaku."
"Memang kalian bicara apa si kalau di rumah, sampai dia tidak cerita."
"Ah, kami bicara dengan bahasa tubuh." Dengan polosnya Rion menjawab, saking polosnya sampai membuat kesal. Dasar gila! Maki Serge karena paham apa yang dikatakan Rion barusan maksudnya apa.
"Aku akan melibatkan HRD sekarang, karena ini sudah menyangkut nama baik Presdir. Beliau juga sudah tahu keributan di kantin. Bagaimana menurutmu?"
Kalau ayah pasti tanpa ampun memecat semua orang yang sudah mencoreng namanya dan nama perusahaan.
"Rion, aku mohon lakukan sesuai prosedur perusahaan. Kita sekarang sedang menangani banyak proyek. Pembangunan perumahan juga sudah mau berjalan." Serge membaca gelagat emosional dari kerutan di mata Rion. Jadi sebagai jaga-jaga dia mengatakannya. Artinya, jangan pecat siapa pun sebelum ada kejelasan.
"Cih..."
"Benar kan, kau sama menakutkannya dengan Presdir." Membuang muka sambil gumam-gumam.
"Aku dengar bodoh!"
Rion sebenarnya berharap Mei akan minta tolong padanya, perihal gosip yang beredar seputar dirinya. Rion menunggu, gadis itu meminta. Tapi, sampai hari ini Mei tidak mengatakan apa pun.
"Kau sudah memeriksa CCTV kantin?"
"Ia, sama seperti yang Kendra katakan."
__ADS_1
Sialan! Beraninya bergosip tentang istriku. Apalagi sampai membawa ayahku. Apa kalian gila! Seharunya kalian berfikir Mei denganku donk, bukan dengan ayahku. Orang gila dengan pikiran gilanya. Kenapa bukannya digosipkan dengannya malah dengan ayah, yang jelas-jelas bucin pada istrinya.
"Ge..."
"Hemm, kenapa?"
"Apa sudah waktunya aku mengumumkan Mei pada semua orang?"
Serge terdiam, belum menjawab. Karena keputusan mengumumkan pernikahan, Rion bisa langsung menjadi penyelamat bagi Mei. Semua orang pasti langsung terbungkam. Tapi, bagaimana dengan hari-hari kerja Mei selanjutnya, apa benar ini yang diinginkan Mei juga. Serge juga merasa bimbang dan bingung sekarang.
"Bagaimana setelahnya? Apa Mei tetap bekerja?"
"Aku akan membiarkannya bekerja kalau itu yang dia inginkan."
"Tapi apa Mei mau kalau pernikahan kalian di umumkan sekarang?"
Rion tidak menjawab. Sebenarnya keputusan Mei tidak penting baginya. Toh nanti juga ayah akan mengumumkan pernikahan mereka. Sekarang hanya waktunya yang dipercepat saja. Rion melirik Serge sambil memikirkan Mei.
Serge meraih hpnya yang bergetar di saku jas. Sekretaris Presdir memanggil. Ah, bisa gila aku, tadi dia kan sudah memarahiku, sekarang mau apa lagi si. Serge menunjukkan layar hpnya, Rion mengibaskan tangan menyuruh Serge mengangkatnya.
"Hallo."
"Selesaikan hari ini juga, masalah gosip nona muda, ini perintah langsung dari Presdir. Beliau mencemaskan nona muda."
"Baik. Saya mengerti."
Sambungan terputus. Meraka sama-sama sekretaris, tapi rasanya sifat keduanya jungkir balik. Serge selalu mengkerut kalau sudah bicara di depan sekretaris Presdir. Karena, paman itu sama menakutkannya seperti Presdir.
"Kenapa?" Rion langsung menyambar.
"Presdir mau masalah Mei selesai hari ini juga. Dia mengkhawatirkan Mei." Bahkan Presdir sangat menyayangimu Mei gumam Serge. "Aku akan memanggil orang-orang yang terlibat dengan keributan di kantin. Dari mereka kita pasti bisa menemukan simpul pertama siapa yang mengatakan Mei terlibat hubungan dengan Presdir." Serge menjerit tanpa suara, karena geram. "Apa mereka sudah gila, sampai menghubungkan Mei dengan Presdir, kenapa tidak denganmu yang masih single coba gosipnya."
Rion mendorong rambutnya dengan cara yang sangat keren. Entahlah, dia sepertinya bangga karena sehati dengan Serge.
"Tunggu, Kendra mengirim pesan lagi."
Serge membuka pesan di hpnya.
"Mereka masih di kantin, dan Mei sepertinya sangat terpojok sekarang. Hei! Kau mau kemana?"
Rion bangun dari kursinya, menyambar jas, memakainya sambil berjalan. Mungkin kalau ada efek seperti di dalam komik Jesi, ada cahaya yang bersinar di punggungnya. Saking kerennya caranya memakai jas.
"Kemana lagi, tentu saja menyelamatkan istriku." Rion menggoyangkan tangan, mengisyaratkan Serge untuk mengikutinya.
Serge kebingungan mengejar Rion, sambil dia membaca pesan yang dikirimkan Kendra. Rekan kerja yang diangkat menjadi mata-mata pribadi Rion, untuk melaporkan semua hal yang dilakukan Mei selama bekerja di kantor.
Bersambung
__ADS_1