
Ruang kerja divisi majalah perusahaan. Hanya ada Mei dan Mona di dalam ruangan. Kendra dan Baim sedang pergi ke luar karena ada pekerjaan lapangan.
Seorang senior Merilin masuk ke dalam ruangan. Dia salah satu staf bagian promosi. Mei cukup akrab dengannya. Seorang gadis ramah yang terpaut beberapa tahun usianya dari Mei.
"Mei, Vidio penandatangan kontrak dengan Andalusia Mall mana? Foto-foto sudah selesai di edit belum ya?"
Dia mencari keberadaan Kendra dan Baim, karena bagian vidio dan foto biasanya tanggung jawab kedua orang itu. Dua orang itu tidak terdeteksi. Mei yang sedang mengeprint menghentikan pekerjaannya.
"Mereka sedang keluar Kak, Vidio sudah, fotonya belum. Dua hari lagi Kak, nanti langsung dikirim Kak Kendra ke bagian promosi."
Katanya bagaian promosi akan membuat iklan film pendek tentang proyek baru asrama karyawan Andalusia Mall. Proyek ini akan menjadi proyek utama Andez Corporation di tahun ini.
"Baiklah." Rekan Mei mendekati meja kerja, melihat apa yang sedang dikerjakan gadis itu.
Setumpuk data yang sudah di print, dipisahkan menjadi dua. Satu untuk Presdir dan satunya untuk CEO. Draf pertanyaan yang akan diseleksi, mana yang boleh ditanyakan dan mana yang tidak.
Rekan kerja Mei meraih majalah perusahaan yang ada di atas meja. Melihat Mei dengan tatapan khawatir dan iba. Hanya karena dia berubah penampilan, semua orang jadi membicarakannya ke arah yang negatif. Dan akhir-akhir ini sepertinya makin parah. Dia bergumam merasa sedih sendiri.
"Mei, kamu nggak papa kan?"
Deg. Merilin melihat ekspresi kasihan tertangkap jelas di mata rekan kerjanya. Kenapa ini? batinnya bertanya-tanya. Kalau dulu tatapan iba itu dia dapatkan karena dia adalah Merilin si miskin dari bagian majalah perusahaan.
"Aku kenapa Kak?" Mei berusaha tetap tersenyum, walaupun sudah menduga arah pembicaraan rekannya.
Gadis itu mengusap tengkuknya, bingung. Mau mulai bicara bagaimana, supaya yang dia katakan tidak terkesan mendikte Merilin.
"Hemm, kau pasti mendengar gosip yang beredar belakangan ini tentangmu kan? Aku merasa mereka sangat berlebihan. Hanya karena kau berubah penampilan."
Ah, perkara aku membawa mobil dan penampilanku yang berubah ya. Mei tersenyum, dia melihat ketulusan dari rasa khawatir rekannya. Mona melirik dari kursinya, mulutnya gemas ingin bilang kalau Mei sudah menikah. Tapi karena janjinya untuk tutup mulut, akhirnya dia membisu lagi dan memilih fokus bekerja menyelesaikan tulisannya.
"Aku nggak papa Kak, lagi pula pembicaraan begitu pasti hilang dengan sendirinya kalau tidak ditanggapi." Mei juga tidak tahu bagaimana memberitahu pada semua orang, tanpa dia membuat pengakuan kalau dia sudah menikah. Jadi hal paling mudah adalah mengacuhkannya. "Terimakasih sudah khawatir."
Lagi-lagi senyuman dari bibirnya bermakna dia baik-baik saja.
"Kau ini memang baik sekali. Tapi, aku gemas kalau mereka bicara dengan sok tahu tentangmu." Walaupun aku juga penasaran gumamnya, bagaiman kau bisa berubah sedrastis ini. Tapi ya, itu kan urusanmu Mei. Ini kan hidupmu, aku yang tidak tahu apa-apa, tidak berhak mendikte mu. Begitulah rekan kerja Mei mengambil sikap terhadap desas desus. "Baiklah, aku kembali ya, Mona, kirim file Vidio ke email ku ya, foto-foto menyusul."
Mereka menyudahi pembicaraan, dan rekan kerja Mei keluar. Membuat gadis itu kembali fokus pada pekerjaannya. Mona mengomel dengan berisik, menyuruh Mei mengatakan pada semua orang kalau dia sudah menikah. Sementara Mei hanya tertawa menanggapi ocehan Mona dan menyuruh gadis itu kembali bekerja.
Mei sudah mengirim pesan pada Kak Serge, kalau dia mau memberikan draf wawancara untuk diperiksa, bukannya mengiyakan, Serge malah bilang, naiklah Mei, Rion sudah menunggumu. Aaaaaa! Kak Ge ini tidak tahu situasi. Kalau dia memberikannya langsung ke ruangan Kak Rion, dia sudah membayangkan apa yang akan terjadi. Mana di rumah sudah diancam tadi kan.
Lagian seharunya ini kan bukan pekerjaanku. Tapi kenapa sekarang semuanya harus kulakukan sendiri. Memang birokrasi di perusahaan ini sudah runtuh apa. Mei menggerutu sendiri dalam hati.
"Mona, apa aku kirim via email saja ya draf wawancara?"
__ADS_1
Mona mendongak sekilas. Lalu mengibaskan tangan. Mei tahu artinya apa. Hah! Padahal dulu dia tidak pernah terlibat langsung dengan pimpinan, semua melalui direktur. Dia hanya bertemu CEO kalau sedang meliput kegiatan CEO. Itu pun hanya mengambil gambar dari kejauhan. Belum pernah bicara langsung kecuali saat wawancara kala itu.
"Sebenarnya aku senang mau mewakili mu Mei, aku kan bisa melihat dan bicara langsung dengan Tuan Rion." Mona menyentuh pipinya membayangkan wajah CEO dengan ekspresi dipenuhi bunga. "Tapi, hiks, nanti aku diusir sama Sekretaris Serge. Beraninya memasuki lantai Presdir dan CEO tanpa izin." Mona lesu tertunduk.
Dia mencari obat untuk healing hatinya, dengan membuka hp. Foto-foto CEO dan sekretarisnya pagi ini, seperti biasa selalu tampan dan memancarkan aura yang berbeda dengan sekelilingnya.
"Tuan Rion memang selalu tampan. Hehe."
Mei yang mendengar cekikikan Mona ikut tertawa, eh, seharunya aku cemburu kan? Tapi bagaimana mungkin bisa cemburu kalau itu Mona, rekannya yang selalu membicarakan CEO dengan caranya yang menggemaskan.
Memang aku tidak punya pilihan lain selain mengantarnya langsung. Aaaaa, kalau ada Kak Ge, nanti aku kasih dia saja di depan pintu. Lalu menundukkan kepala dan kabur. Rencana mulus dibuat Mei. Dia tidak mau bertemu Kak Rion hari ini.
Seperti itulah rencananya. Sekarang, Mei keluar ruangannya. Mendekap berkas draf pertanyaan, menghirup udara dalam-dalam terlebih dahulu.
Dalam perjalan menuju lift, dia bertemu rekan kerja dari bagian lain. Tidak terlalu akrab. Mei berhenti karena dipanggil. Bicara sebentar meladeninya.
"Sekarang kau menghadap langsung Presdir Mei? Wahhh, keren sekali. Aku bahkan belum pernah pergi ke lantai atas." Dia bicara, seperti menunjukkan keistimewaan Merilin. Terselip perasaan iri juga. Jabatannya lebih tinggi dari Mei.
"Ia Kak, ini perintah direktur, aku juga tidak tahu, kenapa aku yang disuruh langsung."
Pasti ini ulah Kak Rion yang dari awal tidak mau membiarkanku bekerja dengan tenang. Mei penasaran, alasan apa yang dipakai Kak Rion. Ah, jangan-jangan direktur tahu aku istri Kak Rion! Tapi buru-buru Mei meralat ucapannya, tidak mungkin direktur tahu, nada bicara direktur saja masih seperti biasanya. Agak menyebalkan, ketus dan suka mendikte seenaknya.
Rekan kerja di depan Mei memperhatikan Mei, dari rambut sampai sepatu yang dipakai gadis itu. Terlihat jelas apa yang ada dipikirannya. Sepertinya gosip yang beredar benar gumamnya. Dia bahkan bisa keluar masuk ruangan presdir sesukanya. Biasanya setara manager yang memiliki akses ke lantai atas di mana ruangan Presdir berada. Itu pun tidak semua manager. Penyimpanan data perusahaan berupa cetak biru desain, semuanya ada di pengarsipan lantai itu. Dibawah wewenang sekretaris Presdir.
Tapi, kalau melihat dari perubahan drastis Mei, dia juga ikut curiga. Apalagi sekarang Mei bisa masuk ke kantor Presdir. Gadis itu menutup mulutnya, membuang pikiran buruk yang baru terlintas. Hah! Kalau itu tidak mungkin, tidak mungkin dengan Presdir.
Rasanya dia akan pingsan karena kagetnya, kalau sampai gadis polos dan pekerja keras seperti Mei melakukan hal tercela begitu. Walaupun dia tahu, Merilin naik ke posisinya memang karena kemampuannya. Majalah perusahaan yang selama ini hanya dipandang sebelah mata, seperti naik kasta setelah dia menjadi pemimpin redaksinya. Tapi, kenapa sekarang dia bisa keluar masuk lantai Presdir. Dia menggigit jari lagi demi memikirkan kemungkinan itu. Kalau petinggi perusahaan, memang siapa yang paling tinggi kalau bukan Presdir.
"Bajumu bagus Mei, sekarang penampilanmu berubah total ya?" Pertanyaan terucap juga, demi membuang pikiran buruk yang baru muncul.
"Terimakasih Kak, kebetulan ada rejeki lebih untuk membeli baju." Mei menjawab sekenanya. Lalu melihat jam yang ada di layar depan hp. Isyarat kalau dia mau menyudahi pembicaraan.
Rekan kerja Mei tertawa. Ah, Mei tahu artinya tawa itu, tapi dia malas menanggapi. Akhirnya memilih berpamitan saja.
Sepertinya gosip tentangku semakin melebar ya? Aaaaaaa, bagaimana ini!
Semua bermula dari, bagaimana Merilin si pemimpin redaksi miskin bisa berubah dalam sekejap mata. Membawa mobil ke kantor, memakai baju bermerek dan tas bagus.
Hah! Memang aku harus menjelaskan pada kalian semua. Aku istri CEO Rionald. Aku, ia aku. Mei tertunduk lesu, walaupun aku bicara begitu apa akan ada orang yang percaya. Bukannya percaya, Mei yakin akan semakin banyak desas desus tidak berujung.
Wahhh jadi dia yang mengaku istri CEO
Halusnya sudah terlalu parah, tidak liat dia pendek dan jelek begitu. Haha.
__ADS_1
Wahhh, ternyata si miskin Merilin tidak sepolos wajahnya.
Jangan-jangan dia menjadi pemimpin redaksi karena menggoda CEO?
Dan entah apa lagi, Mei yang tidak bisa mencegah orang berprasangka tentangnya. Karena itulah, dia memilih membiarkan dan tidak perduli. Walaupun dalam hati, ada yang berdenyut sakit di hatinya. Kalian tidak tahu, apa yang sudah aku alami untuk sampai disini. Gumam Mei terasa pedih.
Mei naik masuk ke dalam lift menuju lantai tertinggi, tempat kantor Presdir.
...🍓🍓🍓...
Tidak lama Merilin sudah keluar dari ruangan Presdir. Dev menundukkan kepala saat dia berlalu dari ruangan Presdir.
Mei sudah ada di depan lift sekarang. Turun satu lantai dia akan sampai ke ruangan CEO Rionald. Ayah tidak terlalu lama menyita waktu Mei, karena beliau sudah ada janji dan mau segera pergi. Tapi terlihat sekilas, dia puas dengan daftar pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara nanti.
Tinggal ke ruangan Kak Rion.
Deg... deg. Adegan dewasa muncul di kepala Mei, kalau memikirkan Kak Rion. Dasar Merilin, berhentilah membayangkan tubuhnya yang indah itu.
Hus...Hus! Dia mengusir bayangan tubuh Kak Rion dari kepalanya.
Sambil masuk ke dalam lift, mei memikirkan lagi perkara desas desus apa yang beredar mengenai dirinya. Lamunannya sampai juga membawanya ke depan ruang kerja CEO Rionald. Ada seorang staf wanita yang bangun dari duduk karena Mei datang.
"Anda pemimpin redaksi Merilin kan?" Dia langsung bertanya.
"Benar, saya kemari untuk memberikan draf wawancara pada Tuan Rion. Apa Sekretaris Serge ada?"
Berikan pada Kak Ge, lalu kabur. Masih rencana yang mau Mei jalankan.
"Tuan Serge sedang pergi keluar."
Aaaaaa! Kak Ge!
"Kalau begitu, saya titip kepada Anda saja ya?"
"Tuan Rion berpesan untuk Anda menyerahkan sendiri draf itu sendiri, tapi, sekarang beliau sedang bicara dengan direktur pelaksana proyek. Anda bisa menunggu sebentar."
Mei menghela nafas pasrah.
Memangnya aku punya pilihan menolak. Mei mengganguk. Lalu dia diberikan tempat duduk, tidak jauh dari staf itu duduk. Staf itu melirik Mei sekilas, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya lagi. Ternyata dia ya, yang gosipnya sedang dibicarakan banyak orang. Penampilannya lumayan. Staf itu memang hanya melihat versi baru Merilin, jadi tidak punya perbandingan.
Tapi, jujur aku juga merasa aneh saat Tuan Rion memintanya masuk secar khusus, selama ini belum pernah ada karyawan wanita yang datang ke ruangan Tuan Rion. Hah! Apa isu dia jadi simpanan petinggi itu benar. Tidak! Tidak mungkin dengan Tuan Rion. Dia menjerit sendiri dalam hati. Bodohnya aku, kalau aku berfikir begitu, artinya aku menghina Tuan Rion kan. Staf sekretaris Serge itu sampai menitikkan airmata karena merasa bersalah menuduh atasannya yang tidak-tidak.
Sementara Merilin di sebelahnya terlihat duduk dengan gelisah, sambil melihat hp miliknya.
__ADS_1
Bersambung