Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
117. Kabur


__ADS_3

Di tempat lain, situasi yang belum berubah.


Kerugian yang diakibatkan pembatalan kerja sama Andalusia Mall dan Andez Corporation berbuntut panjang. Harga diri Ibram seperti jatuh di antara teman-teman pengusaha. Ketika berita pembatalan ini tersebar. Apalagi saat bertemu dengan Erwin, CEO Gardenia Pasifik Mall. Rasanya kemarahan dan rasa kesalnya kembali meluap-luap. Bukan hanya perkara uang, senyum mencemooh Erwin lewat sorot matanya saja sudah memantik emosi. Selama beberapa hari ini, Ibram menghindari pertemuan dengan teman-teman pengusaha selain kalau urusan pekerjaan.


Dia malu dan kesal berkepanjangan. Dan masih melampiaskan semua kesalahan ini, pada Amerla sebagai sumber dari kegagalan kerja sama. Dia juga masih terus sakit hati, karena kenyataan bahwa CEO Rionald menempati ruang di hati Amerla jauh lebih besar dari dirinya.


Dan di pagi yang basah karena sisa hujan. Di kediaman Presdir Andalusia Mall.


Langit tampak suram dan agak menghitam, pepohonan dan rumput di taman masih basah oleh gerimis kecil. Pagi yang suram, seperti hati seseorang. Seperti wajah yang sendu menatap kejauhan. Seorang gadis yang sedari tadi hanya diam menatap jatuhnya air dari langit.


Mendung belum tersapu dalam hubungan Ibram dan Amerla, karena tidak ada yang berusaha memperbaiki komunikasi. Bahkan saat matahari bersinar sekalipun, wajah cantik Amerla seperti kehilangan gairah kehidupannya. Dia merasakan sakit yang sangat dalam di hatinya, sakit dan kecewa yang teramat sangat. Hingga sekarang, dia tak mengharapkan apa pun. Sekedar perlakuan baik dari suami atau keluarga suaminya.


Ibram yang membencinya tapi juga tidak mau melepaskannya. Ibu mertua yang marah karena pekerjaan anak laki-lakinya berantakan, ditambah menantunya yang ingin mengkhianati anaknya. Ayah mertua yang kecewa, bahkan tidak mau melihat Amerla saat waktunya makan bersama.


Gadis itu terbuang, bukan hanya oleh keluarga saja, bahkan para pelayan pun tidak ada lagi yang menghormatinya sebagai menantu rumah ini.


Amerla yang sekarang memilih membenci dirinya sendiri. Karena kebodohannya sendiri, dia menanggung semua in. Kalau saja dia memilih Kak Rion. Kalau saja dia menikah dengan Kak Rion. Namun, harapan itu sudah seperti memeluk udara, ada namun tidak bisa direalisasikan dalam kehidupan nyata. Kak Rion sudah pergi, memalingkan wajah dan mendorongnya sampai dia terjungkal jauh ke dalam jurang.


Ya, dia terlalu lelah menyalahkan orang lain. Hingga memilih menyalahkan dirinya sendiri sekarang. Beberapa hari terkurung di dalam kamar yang menyesakkan membuatnya kehilangan gairah pada apa pun. Bahkan pada hidupnya sendiri.


Ibram keluar dari ruang ganti, sudah memakai setelan jas untuk berangkat bekerja. Dia menatap Amerla, yang sedang duduk menatap jendela kamar.


"Kenapa? Kau ingin keluar dari kamar?" Bertanya dengan tertawa mengejek.


Amerla menoleh, sorot matanya tidak memberi ekspresi apa pun.


"Jawab!" Kesal karena Amerla hanya diam saja.


"Apa aku boleh keluar rumah? Aku mau pulang ke rumah orangtua ku. Kak, apa aku boleh pulang ke rumah ibu?" Bicara pelan seperti membaca buku teks dengan intonasi datar dan sorot mata entah kemana.


Ibram membanting sisir yang baru saja dia pakai untuk merapikan rambut. Tadinya, Amerla yang bersikap diam dan tidak banyak bicara membuatnya senang. Tapi, lama-lama, gadis di depannya seperti berhenti bersinar. Dia benar-benar diam jika tidak ditanya. Tidak ada lagi pertengkaran karena Amerla menuruti semua perintah Ibram.


Dikurung di dalam kamar, melayaninya ditempat tidur, kapan pun dia mau. Dia akan mendorong Amerla dengan kasar ke tempat tidur sambil berteriak memaki wanita itu, bayar semua kerugian yang aku tanggung dengan tubuhmu. Begitu kata-kata yang sering diucapkan Ibram. Awalnya, wajah cantik itu masih berteriak dan memaki, berusaha mendorong Ibram. Lalu dia memohon, supaya Ibram berhenti saat dia sudah kelelahan. Tapi sekarang, seperti mayat hidup dia akan tergeletak di tempat tidur, membiarkan Ibram melakukan apa pun yang dia inginkan.


Dan sekarang, puncak rasa muak Ibram, saat melihat Amerla seperti mayat hidup yang tidak menginginkan apa pun.

__ADS_1


"Ada apa denganmu? Kau bersikap menyebalkan begini supaya aku menceraikan mu!"


Jangan mimpi! Setelah kerugian dan semua rasa malu ini! Ibram menatap Amerla berusaha meredakan amarah di hatinya. Kau mau mengemis cinta CEO sialan itu!


Amerla hanya memberi tatapan kosong.


Ibram memang tidak pernah memukulnya lagi, tapi kata-kata penghinaan yang keluar dari mulut Ibram ibarat ratusan jarum yang menusuk tubuhnya setiap hari. Menggoreskan luka bertubi-tubi. Dia sudah terlalu lelah melawan, hingga akhirnya hatinya menjadi kebas. Dan dia diam dengan apa pun yang dilakukan Ibram


Cengkeraman tangan di dagu Amerla menguat, saat gadis itu tidak menjawab.


"Sialan! Ini kan semua karena salahmu sendiri. Lihat!" Ibram meraih hpnya, menunjukkan sebuah foto ke depan wajah Amerla. "Kau tahu foto siapa ini? Ini foto laki-laki itu. CEO Andez Corporation yang kau sukai itu. Gara-gara kau, Andalusia Mall jangankan bisa bersaing dengan Gardenia Pasifik Mall, malah aku rugi besar! Kau lihat siapa yang dia peluk dengan mesra ini, istrinya yang sudah kau fitnah itu!" Meledak-ledak kata-kata Ibram sambil menyodorkan hp ke depan wajah Amerla. "Kau masih bermimpi dia akan menerimamu setelah aku membuangmu?"


Amerla menatap foto di depannya. Dua orang yang sedang berpelukan, tampak belakang, tapi, entah kenapa dia bisa mengenali foto siapa itu.


"Hah, kau masih bermimpi kembali padanya." Ibram mencengkeram rambut Amerla. Gadis itu hanya meringis, tapi tidak mengatakan apa pun membuat Ibram semakin kesal. "Membosankan! Baiklah, aku izinkan kau keluar dari kamar. Tapi hanya berkeliaran di rumah. Itu pun kau harus menghindari ibu dan ayahku kan." Ibram tertawa mengejek sambil melepaskan tangannya.


Dia keluar dari kamar dengan membanting pintu. Dia marah, karena kalah dalam segala hal. Baik dengan Erwin maupun Rion. Dan hanya bisa melampiaskan kemarahan itu pada Amerla.


Setelah pintu tertutup, Erla mengusap ujung matanya. Berjalan lagi ke dekat jendela. Melihat halaman yang masih basah.


Kabur, itu yang akan dilakukan Amerla hari ini. Selama di kurung di dalam rumah, hanya itu pikiran yang silih berganti muncul di kepalanya. Jadi, diizinkan keluar dari kamar sudah cukup bagi Amerla. Dia akan pergi dari penjara Ibram. Keluar dengan bersembunyi di dalam mobil boks yang akan mengirim bahan makanan.


Dan hari inilah waktunya, dia untuk kabur.


Amerla menatap langit yang mendung lagi. Saat dia masih berusaha melawan saat Ibram memaksanya melayani laki-laki itu di tempat tidur. Dia sebenarnya sudah mengatakan dengan jelas.


"Carilah wanita lain Kak yang bisa memuaskanmu. Kau membenciku kan, jadi buanglah aku. Aku tidak perduli dengan perusahaan ayahku. Buang aku Kak, cium dan tiduri wanita lain. Ambil saja uang modal perusahaan ayahku. Aku tidak perduli."


Amerla sudah mengatakannya, kalau dia tidak perduli, mau Ibram membawa wanita lain ke kamarnya sekalipun. Bukannya berhenti, Ibram malah semakin tersulut api. Setiap ada kesempatan, atau setiap dia masuk ke dalam kamar, saat itu pula, penghinaan demi penghinaan di dapatkan Amerla. Memuaskan laki-laki itu sampai dia memohon untuk berhenti.


"Persetan dengan perusahaan ayah, mereka bahkan tidak datang menolongku."


Tapi, hanya rumah ayah dan ibunya yang bisa dituju Amerla. Tidak ada tempat lain. Dia tidak punya teman yang bisa menampungnya. Semua uang dan kartunya juga disita, dia tidak punya apa-apa. Jadi kalau mau kabur, hanya satu tempat itu yang ia tuju. Amerla mengambil uang Ibram yang ada di dalam dompetnya kemarin, diam-diam. Hanya uang itu yang ada di saku celananya sekarang. Akan dia pakai untuk ongkos kabur.


Dengan tangan gemetar dia membuka pintu kamar. Melihat sekeliling, sepi. Ayah dan Ibram pasti sudah berangkat ke kantor. Mungkin ibu yang harus dia waspadai. Tapi wanita itu pun tidak perduli padanya. Amerla melangkah perlahan menuruni tangga. Saat sudah ada di ruang tamu, dia berpapasan dengan pelayan. Dua wanita itu hanya melengos tidak perduli melihatnya.

__ADS_1


Baguslah, Ibram pasti sudah mengatakan pada mereka kalau aku boleh keluar kamar. Saat kakinya sudah melangkah ke luar rumah, suara kepala pelayan membuat detak jantung Amerla menguat.


"Anda mau ke mana Nona? Tuan muda bilang, ada boleh berjalan-jalan di luar rumah. Tapi sekarang kan masih gerimis."


Deg..deg.. tenanglah Erla.


"Aku hanya ingin mencari udara segar Pak, Kak Ibram sudah mengizinkan."


"Terserah Anda saja, tapi jangan sampai berpapasan dengan nyonya."


Suara kepala pelayan terdengar ketus dan tidak perduli. Cih, kalian semua sama saja. Amerla tidak menjawab dan hanya melihat kepala pelayan yang langsung berlalu setelah mengatakan itu.


Padahal dia tahu ini masih gerimis, tapi tidak memberiku payung. Saat sedang bergumam, dari kejauhan dia melihat dua buah mobil boks masuk dari gerbang utama.


Deg.. deg..


Gadis itu menengadahkan telapak tangan ke langit. Hanya menyisa sedikit air yang jatuh. Terserahlah, dia berjalan memutar arah dengan mobil yang baru datang. Dari kejauhan kepala pelayan masih memperhatikan Amerla, kemudian melengos acuh, karena dia harus memeriksa barang-barang yang masuk untuk pesta yang akan di adakan nanti. Dia terlalu sibuk, untuk memperhatikan nona muda yang sudah tidak dianggap di rumah ini.


...🍓🍓🍓...


Dengan penampilan acak-acakan, bibir yang kering. Dan tangan sedikit keriput. Amerla menyeret langkah kakinya masuk ke gerbang utama rumahnya. Seorang pelayan yang tergopoh-gopoh menghampiri terkejut melihat penampilannya.


Sialan! Kenapa aku malah memilih mobil boks yang ada mesin pendingin!


Sudah dengan kondisi menyedihkan begitu, ketika masuk ke dalam rumah. Ibu sudah berdiri di ruang tamu, dengan tatapan kecewa.


"Ibu..."


"Bisa-bisanya kau mempermalukan keluarga, kau tahu apa yang dikatakan mertuamu pada ibu."


Tangan Amerla terkepal. Dia menggigit bibir yang masih terasa kebas. Aku datang seperti gelandangan ke rumah orangtuaku, tapi yang dia tanyakan bukan keadaanku. Lantas, untuk apa selama ini aku bertahan dalam pernikahan ini.


"Ibu tahu... ibu tahu, ayah juga tahu! Kenapa tidak datang menolongku!"


Amerla jatuh terduduk dilantai. Pelayan ikut berlutut menenangkannya. Airmata jatuh berderai membasahi lutut Amerla.

__ADS_1


Ibu membeku, terhenyak melihat tangis anaknya.


Bersambung


__ADS_2