
Gedung Andez Corporation.
Sudah di penghujung akhir bulan. Banyak pekerjaan yang dilakukan. Laporan kerja para arsitek selama satu bulan. Progres setiap proyek yang sedang berlangsung. Beserta semua laporan keuangan yang masuk maupun keluar selama satu bulan ini. Semua karyawan sesuai pos dan tugas kerjanya, sedang bergerak dengan deadline di depan mata.
Pergantian bulan, berarti persiapan edisi majalah yang akan terbit. Ruang kerja Mei tak kalah sibuk, dengan pematangan konsep majalah bulan ini. Selain wawancara dengan Presdir dan CEO tentu mereka sudah mulai menulis artikel yang lainnya. Web dan sosial media yang harus di update setiap hari, membuat semua fokus dengan pekerjaan masing-masing.
Kegaduhan karena pembatalan kerja sama dengan Andalusia Mall berganti kesibukan membuat laporan. Begitulah yang terjadi di penghujung bulan, sebelum menuju bulan baru di Andez Corporation.
Dan sekarang, di ruang kerja presdir Andez Corporation.
Sekretaris Presdir sedang memberikan laporan mengenai sebagian proyek yang selesai di akhir bulan ini. Tumpukan berkas laporan yang baru diberikan Sekretaris Serge padanya tadi pagi. Semua sesuai jadwal, para pembeli tanah kavling yang tadinya ingin membatalkan pembelian berhasil di tenangkan, saat CEO turun tangan langsung memberikan penjelasan.
Saat Rion muncul mendorong pintu keduanya menoleh.
"Ayah memanggilku?" tanyanya.
"Ia, masuklah."
"Apa ada masalah?"
Melihat tumpukan laporan di atas meja, yang sedang dilihat ayahnya. Seingatku semua tidak ada masalah gumam Rion. Ya, kecuali pembatalan kontrak dengan Andalusia Mall. Tapi aku kan sudah membereskan semuanya.
Rion duduk di sofa, menunggu ayahnya. Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Rion dan masih bicara memberi instruksi pada paman. Setelah selesai dia bangun dari duduk dan berjalan ke sofa menghampiri anaknya.
"Kau mau minum teh?"
Hah! Mau bicara apa si? biasanya kalau sudah ditawari minuman, artinya yang mau dibicarakan ayah Rion sesuatu yang panjang. Membuat Rion bertanya-tanya.
"Boleh, ayah mau bicara apa? Apa ada masalah dengan laporan bulanan?"
Paman keluar ketika melihat gerakan tangan ayah Rion. Mau mengambilkan minuman. Laki-laki itu berdehem sebentar dan memperbaiki posisi duduk. Menatap anaknya.
"Tidak ada masalah dengan pekerjaan, kau sudah bekerja dengan baik. Di mana Serge? Aku mau memuji hasil kerja kerasnya selama satu bulan ini."
Dasar, padahal kalian jauh lebih sering bertemu dari pada ayah denganku kan. Sok mencarinya segala.
"Dia pergi meninjau proyek pengerjaan taman. Sudah penyelesaian akhir katanya, dan klien teman dekatnya."
Cih, gayanya, memang dia punya teman dekat selain aku dan Mei. Mana pakai acara dandan dulu tadi sebelum berangkat. Rion geli sendiri melihat kelakuan Serge yang tidak biasanya. Rion tidak sadar, kalau di depan Mei kelakuannya bahkan lebih parah dari itu.
Ketukan pintu disusul paman muncul dan seorang staf wanita masuk, meletakan cangkir teh di depan Rion dan ayahnya. Staf keluar setelah melakukan pekerjaannya. Paman juga begitu. Tertinggalah mereka berdua.
Waktu berputar saat ayah Rion meraih cangkir dan meneguk isinya, dia sangat berhati-hati untuk mulai pembicaraan. Karena bagaimana pun, perkara ini sangat sensitif. Baginya maupun bagi Rion. Ayah sangat penasaran, alasan apa sebenarnya yang membuat menantunya minum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan anaknya.
Riwayat istrinya yang sulit hamil seperti menjadi pelajaran untuknya. Dia takut, anaknya juga mengalami situasi seperti dirinya kalau perkara pil kontrasepsi tidak segera diselesaikan. Ayah Rion mendengar dari bibi beberapa dampak dari pemakaian pil itu untuk jangka panjang.
"Bagaimana kabar Mei? kau memperlakukannya dengan baik kan?" Meletakan cangkir yang separuh isinya sudah menghilang.
"Hah! ayah tidak perlu meragukan itu, aku melakukan yang terbaik untuk Mei."
Sangat baik, tapi dia tetap saja belum berpaling padaku.
Setelah mengeluh dalam hati, Rion melihat ayahnya.
Apa sih yang dilaporkan Serge sampai ayah bertanya hal beginian. Serge yang tidak tahu apa-apa sedang dituding-tuding Rion. Dikatai bodoh, kenapa tidak mengatakan pada ayahnya tentang hubungan romantisnya dengan Mei. Padahal dia cuma mengizinkan Serge melaporkan seputar pekerjaan dan ya, mantan gila itu juga. Jadi Serge ya hanya bicara tentang pekerjaan. Tidak menyinggung pangku-pangkuan dan kecup-kecup juga.
Ayah pasti sudah tahu kronologi pembatalan kontrak Andalusia Mall dan semua kejadian lengkapnya. Aku juga malas cerita. Bodo amatlah.
"Bagaimana dengan anak? kau masih menundanya?"
"Anak lagi. Mei saja baru saja datang bulan yah. Lagian sudah aku bilang, jangan memaksanya. Sudah berapa hari ya dia datang bulan, hiks aku kangen tahu Yah." Malah curhat dengan tampang ngenesnya. Padahal tiap malam juga peluk-peluk dan cium-cium sesuka hati. Waktunya kerja selalu bilang kangen. Rion memiringkan kepala, dan agak mengangkat kakinya. "Aku tidak menundanya ayah, kalau memang Tuhan memberi kami cepat ya Mei juga pasti hamil."
Deg..deg...
Ayah Rion mencengkeram sofa. Lalu tangannya terkepal. Seperti yang bibi katakan, kalau menantunya minum pil tanpa sepengetahuan anaknya. Tapi kenapa?
"Bagaimana dengan Mei, dia kan usianya masih sangat muda. Apa dia sudah siap untuk hamil? Kalau urusan merawat anak, kalian tidak perlu khawatir, kan ada ibumu. Ibumu pasti senang sekali. Nanti kalian pindah saja ke rumah. Mei juga bisa tetap bekerja kalau dia mau." Ayah Rion bicara panjang lebar. Kalau Rion atau Mei tidak perlu mengkhawatirkan masalah tentang perawatan anak. "Kalian sudah pernah membicarakannya?
__ADS_1
Hah! Memang Mei bisa menolak perintahku, dia pasti.... tangan Rion terdiam, dia menatap cangkir di tangannya. Tersadar, kata-kata ayahnya barusan, membuka tabir yang menutupi kepalanya.
Mei tidak pernah membicarakan anak padanya. Sedikit pun menyinggungnya pun tidak pernah. Rion meletakan gelas ke atas meja. Mei belum pernah mengungkit tentang anak di depanku, gumam Rion.
Kenapa?
"Rion, kau pernah bilang pada Mei kalau kau belum ingin memiliki anak?"
"Kami tidak pernah membicarakannya Yah. Aku cuma bilang padanya, jangan terbebani tentang anak walaupun ayah atau ibu menanyakannya."
Benang merah telah terhubung di kepala ayah Rion. Benar, menantunya minum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan anaknya, kenapa? apa karena usianya yang masih sangat muda dia takut hamil dan masih ingin menikmati berkarir, atau karena ada masalah lain. Dia sebenarnya ingin memanggil menantunya sekarang juga, dan menanyakan alasannya. Tapi...
Bagaimana kalau Rion tersinggung dengan sikap istrinya itu, bagaimana kalau Rion merasa harga dirinya diinjak-injak Mei. Membayangkan pertengkaran anak menantunya, ayah Rion jadi berfikir ulang untuk memanggil Mei sekarang. Tapi, dia berencana menceritakan ini pada istrinya, dan memanggil Mei secara terpisah.
Ayah dan anak sedang tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Rion jangkauan pikirannya semakin menjauh, memunculkan praduga.
Apa karena Mei masih mencintai Serge jadi dia tidak pernah membicarakan anak denganku? dia tidak perduli, mau ada anak atau tidak diantara kami, karena yang dia dicintai adalah Serge. Cih, apa kau berharap setelah aku membuangmu kau akan kembali memperjuangkan cintamu pada Serge.
Tidak! Tunggu!
Rion berdiri dari duduk, membuat ayahnya kaget, ada apa dengan anaknya tiba-tiba.
Apa kau masih berfikir aku akan membuangmu setelah dua tahun? Benar, aku pernah mengatakannya kan, kalau pernikahan ini hanya akan bertahan sampai dua tahun. Aaaaa! Kenapa aku membuat pasal kontrak begitu si. Rion duduk lagi dan merasa frustasi.
"Ayah!"
Ayah melotot karena anaknya berteriak padanya.
"Maaf," Cengengesan sambil menurunkan intonasi. "Apa ayah dan ibu bisa menyiapkan resepsi pernikahanku, dalam waktu dekat?"
Semakin meriah, tentu semakin baik. Itu yang aku inginkan. Rion menyadari, saat ini Serge masih menganggap Mei cuma adik, tapi bagaimana kalau Mei mengakui perasaanya, pasti laki-laki seperti Serge akan goyah. Entah karena cinta atau kasihan.
"Kenapa tiba-tiba resepsi pernikahan? Apa ibu Mei sudah pulih?"
"Aku hanya tidak mau, masalah Amerla terulang lagi. Semoga saja dia kapok dan menyerah, tapi tidak ada yang tahu kan, dia segila apa."
Alasan Rion yang cukup masuk akal.
"Aku juga akan berusaha lebih keras." Tersenyum. Membuat ayahnya mengeryit penuh tanya, apa yang dimaksud Rion. "Tentu saja membuat anak, apalagi donk. Aku akan memberi cucu ayah dan ibu, sampai kalian kerepotan merawat mereka."
Ayah tergelak, mendengar semangat Rion. Namun, pikirannya langsung tertuju pada pil kontrasepsi. Ayah Rion mengeluarkan hpnya, lalu mengirim pesan kepada seseorang. Tertulis nama, bibi pengurus rumah.
"Baiklah, ibumu akan mengirim vitamin dan minuman kesehatan ke rumahmu. Dan soal resepsi pernikahan, kita bicarakan dengan Mei nanti."
"Tidak!"
"Apa? Kau bilang, mau segera."
"Jangan mengatakan apa pun pada Mei, biar ini jadi kejutan untuknya. Aku yang akan mengatakan setelah ayah menyiapkan semuanya."
Ayah Rion terlihat heran, tapi ya sudahlah, karena itu keinginan anaknya maka dia akan melakukannya.
Setelahnya mereka membicarakan tentang pekerjaan. Bagian majalah secara resmi meminta izin untuk melakukan wawancara di rumah pribadi Presdir. Bahkan ingin melibatkan nyonya juga. Jadi edisi kali ini temanya adalah. Bagaimana keluarga yang dipenuhi cinta, membawa kesuksesan Presdir dan CEO membangun dan mempertahankan kejayaan Andez Corporation.
"Istrimu memang bekerja dengan sangat baik. Ayah bahkan tidak pernah berfikir tentang ini."
"Ehm, istri siapa dulu donk." Rion tertawa menanggapi ayahnya.
Aku akan mengakui perasaanku, sebelum resepsi pernikahan. Tidak, aku ingin segera mengatakannya. Tapi, bagaimana kalau Mei hanya diam saja karena hatinya masih menjadi milik Serge. Cih, kenapa aku pusing si, dia kan istriku. Beraninya dia memikirkan laki-laki lain.
"Hei, Rion! Kau kenapa?"
Rion tersentak, ternyata dia masih di ruangan ayahnya.
"Apa ayah sudah selesai? Aku kembali ke ruangan ku."
__ADS_1
"Hemm, keluarlah. Perlakukan istrimu dengan baik, pelan-pelan bicarakan tentang anak dengannya."
"Anak lagi, anak lagi. Ia, ia, aku tahu. Aku pergi dulu."
Rion keluar dari ruangan, tanpa berfikir apa pun, dia langsung masuk ke dalam lift. Bukannya turun ke ruangannya, dia malah turun di lantai di mana ruangan Mei berada.
Saking kagetnya, karena dipikir CEO sedang melakukan inspeksi mendadak, direktur sampai tersandung dan terjatuh di depan Rion.
"Kenapa kau berlutut?" Terjemahan, kesalahan apa yang kau lakukan sampai berlutut di depanku. Semua orang semakin panik, karena tidak ada yang menerjemahkan dengan pasti apa yang diinginkan Rion. Keberadaan Sekertaris Serge yang tidak terdeteksi.
"Maafkan saya Tuan, kaki saya sepertinya keseleo, sampai membuat saya terjatuh." Dia bangun, yang lain juga masih melihat sambil berdiri di dekat meja. "Apa ada yang bisa saya bantu, sampai Anda datang ke sini?"
"Kenapa ya?"
Malah bertanya, membuat orang semakin frustasi. Saat orang-orang sedang kebingungan, muncul sinar menyilaukan dari pintu divisi majalah perusahaan. Pimred Merilin terkejut melihat Rion ada di ruangannya.
"Kak Rion?"
"Ah, aku mencari istriku. Semua kembali bekerja."
Rion berjalan meninggalkan direktur dan menghampiri Mei. Menggengam tangan Mei, dan menarik gadis itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada orang-orang yang sedang melongo bengong. Bahkan ada yang jatuh terduduk di kursinya. Shock karena CEO menggandeng pimred Merilin.
Sudah di sudut ruangan yang jarang dilewati orang. Langkah kaki Mei terhenti, menahan kaki Rion melangkah.
"Kak, kenapa Kak Rion ke ruangan ku?"
Rion masih menatap Mei, menyentuh pipi gadis di depannya. Dia juga tidak tahu, kenapa dia bukannya kembali ke ruangannya, malah turun ke sini dan ingin melihat Mei. Karena membicarakan Mei, dengan ayahnya tanpa sadar dia merindukan istrinya ini.
"Cium aku."
"Kak! Apa sih!" Mei memukul dada Rion. "Kak Rion juga banyak pekerjaan kan, kita bertemu di rumah sebentar lagi."
"Aku bertemu ayah barusan dan membicarakan mu. Jadi cium aku sekarang." Rion menjatuhkan kepala di bahu Mei. "Aku merindukanmu Mei." Bergumam pelan. Tapi dari bola mata Mei yang membesar, sepertinya gadis itu mendengarnya. Rion mengangkat kepalanya. Ada yang datang, terdengar langkah kaki. Dia menarik tangan Mei untuk berjalan.
"Kak!"
"Antar aku ke ruangan ku."
Rion sadar, dia sedang bersikap kekanakan sekarang. Tapi entahlah, dia memang merindukan Mei setelah membicarakan gadis itu dengan ayahnya tadi. Dia ingin mencium bibir mungil dan menarik rambut ikal Mei jadi acak-acakan sekarang.
"Kak, cuma sampai pintu ya. Aku ada rapat final untuk persiapan wawancara." Mei sebenarnya terlihat kebingungan tapi mengikuti langkah kaki Rion memasuki lift.
Bibir Rion menyeringai memberi jawaban pada pertanyaan Mei.
"Kak!"
"Haha..."
Memang ya, perasaan cinta yang meluap-luap terkadang sulit untuk dikontrol. Sekarang, menyebut nama Mei saja sudah memunculkan kerinduan di hati Rion. Dia ingin segera bertemu dengan gadis yang memenuhi hatinya dengan bunga. Ingin menciumi setiap relung bagian tubuhnya.
"Mei, kau tahu, aku memperlakukan mu dengan baik kan? Kau boleh minta apa pun padaku."
Deg... deg..
Saat Mei sudah duduk dipangkuan Rion di ruang kerjanya, saat Mei sudah selesai memberi kecupan basah di tubuh Kak Rion. Tiba-tiba bibir Kak Rion mengucapkan kata-kata itu. Saat Mei membersihkan peluh yang membasahi dada Rion. Tangan gadis itu kaku berhenti.
"Karena kau..." Rion belum selesai bicara, Mei sudah menyambar.
"Karena aku boneka Kak Rion kan, karena aku milik Kak Rion." Mei menjatuhkan wajahnya dalam pelukan Rion. Memeluk tubuh laki-laki itu. Karena wajahnya yang terbenam, gadis itu tidak melihat ekspresi marah di wajah Rion.
Aku boneka yang kau sayang-sayang, aku cukup kok dengan itu Kak. Aku akan membalas rasa sayang Kakak dengan cintaku. Mei memejamkan mata, sambil memeluk tubuh Rion.
Sialan! Kenapa aku dulu mengatakan dia boneka ku! Ah, kata boneka sialan! Padahal aku mau mengakui perasaanku! Benar-benar, boneka sialan!
Mei baru muncul di ruangan rapat setelah setengah jam menghilang bersama Kak Rion. Mona cengar-cengir meledek. Baim sudah bisa senyum-senyum ikut menggoda. Sementara Kendra tetap tenang, sambil menggerakkan tangannya mengedit layout artikel yang sudah ditulis Mei dan Mona.
Di ruangannya, Rion masih memaki, kata boneka sialan, yang dulu sering dia ulang-ulang di depan Mei.
__ADS_1
bersambung