Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
38. Isi Hati Para Wanita


__ADS_3

Sesaat Serge terdiam, memperhatikan kedua orang yang menghampiri Harven. Dia agak terkejut melihat situasi. Ketika dia mulai mengingat wajah gadis muda berpakaian olahraga itu, Harven sudah ditarik agak menjauh darinya.


Hah! Kenapa nona muda agak menyusahkan ini bisa mengenal Harven, begitu keluhan yang muncul di kepala Serge. Kalau dia punya bos perfeksionis, nah mungkin Andez Corporation punya klien agak menyebalkan seperti gadis di depannya ini.


"Tunggu, bagaimana kalian saling mengenal?"


Sherina melirik Serge sekilas, pandangannya awas seperti yang Serge lakukan tadi. Terlihat dia membongkar ingatan di kepalanya, apakah dia mengenal Serge atau tidak. Apakah dia pernah bertemu atau tidak. Sepertinya tidak ada bayangan di kepalanya yang menampilkan wajah Serge.


Ya, mereka memang tidak pernah bertemu dan saling mengenal, hanya Serge yang tahu pasti siapa gadis di depannya ini.


"Dia teman sekolahku Kak." Harven menjawab sekenanya.


"Kami pacaran!" Sherina membantah pengakuan Harven secepat kilat. Dia tidak mau hanya diakui sebagai teman sekolah. "Ven siapa dia? kenapa kau bersama dengannya, dia suami kakakmu?" Lagi-lagi bertanya tanpa jeda. "Dimana kakakmu, aku kan bisa menyapa dan mengucapkan selamat." Eh, Sherina bergumam sambil memperhatikan penampilannya. "Tidak, aku pulang dan mandi dulu, tidak sopan menyapa kakakmu dengan pakaian seperti ini."


Dih, memang siapa yang mau mengenalkan kalian, kau ini heboh sendiri. Tapi, ada senyum terselip di bibir Harven, saat Sherina bicara dengan kebingungan begitu.


Dia imut juga, Harven membuang pandangan.


Serge berdehem, melerai telepati kedua bocah di depannya.


"Jadi yang mana yang benar, teman sekolah atau pacar?" Menatap Harven meminta kepastian.


Harven mendengus akhirnya. Tidak bisa mengelak lagi.


"Keduanya Kak, teman sekolah sekaligus pacar juga."


"Hehe." Sherina menjatuhkan kepalanya ke lengan Harven. Dia tertawa senang karena pengakuan itu keluar dari mulut Harven.


Serge berpindah menatap laki-laki yang berdiri di dekat Sherina, laki-laki itu terlihat melengos. Tidak mau mempertanggung jawabkan apa pun yang sedang dipertanyakan Serge lewat sorot matanya


Apa yang dilakukan nona muda mu? begitu arti sorot mata Serge. Serge menghela nafas sebal saat sepupu palsu Sherina tidak menjelaskan apa pun. Akhirnya dia yang memberi penegasan, siapa Harven baginya.


"Dia adik temanku, dan aku butuh penjelasan kenapa dia bisa pacaran denganmu?" Serge tergelak kecil, mengusap rambutnya. "Karena aku cukup mengenalmu." Kata-kata itu ditujukan untuk Sherina.


Mata Sherina langsung membelalak karena dia di kenali. Sherina mendorong kakak sepupu palsu lalu menarik tangan Harven, berlari menjauhi Serge. Menyerahkan tugas paling berat pada pengawalnya.


Laki-laki yang di dorong Sherina menundukkan kepala.


"Saya mewakili Nona Sherina meminta maaf Tuan."


Cih, kau sudah berhenti bersandiwara sekarang.


"Jelaskan, kenapa nona muda mu ada bersama adik temanku?" Serge langsung bertanya tanpa basa basi, sementara kedua bocah itu semakin terlihat menjauh dari pandangan.


Agak kikuk sang pengawal menjelaskan garis besarnya, bagaimana kedua orang itu terhubung satu sama lain.


Mereka teman sekolah, Nona Sherina pernah dibantu sekali oleh Harven saat dia diganggu segerombolan anak-anak dari sekolah lain. Sekedar info, hari itu saya sedang cuti karena ada keperluan. Jadi awalnya Nona Sherina mau kabur dari sekolah tapi malah bertemu Harven.


Dari situlah Nona Sherina jatuh hati dan mengejar-ngejar Harven, bahkan menurut saya sudah masuk dalam taraf pemaksaan. Nona bahkan memaksa saya membeli ayam goreng setiap hari di tempat Harven kerja part time supaya omset penjualan kedai ayam goreng itu meningkat.

__ADS_1


Serge tersentak dan memotong pembicaraan.


"Kerja part time? Harven? Di kedai ayam goreng."


Habislah aku, gumam sepupu palsu Sherina.


"Tolong lupakan kalimat terakhir saya Tuan, demi kebaikan kita semua." Serge menyeringai. Harven kerja part time, duh kalau sampai Mei tahu bagaiman. Gadis itu pasti lagi-lagi akan merasa bersalah. Dia akan berfikir tidak becus menjadi kakak dan menjaga adik.


"Di mana dia bekerja?"


"Tolong lupakan kalimat terakhir saya. Anda kan juga tahu bagaimana susahnya saya menghadapi nona, saya mohon. Cih, aku lupa kalau kerja part time harus dirahasiakan." Yang terakhir gumamannya terdengar juga di telinga Serge.


"Ah sialan!"


Kenapa kakak adik itu terjebak dalam jerat mematikan orang-orang sialan begini si. Ah maaf aku bukan mengumpat, Serge meralat sendiri umpatannya.


Sebenarnya Sherina itu bukan gadis jahat, cuma sedikit menyusahkan. Saat pembangunan rumahnya, Rion bahkan hampir memecat dua arsitek dan dua desain interior yang tidak bisa memuaskan keinginan bocah perempuan itu. Karena banyak sekali maunya. Tapi setelah pergantian Arsitek yang bisa memvisualisasikan imajinasi Sherina ke dalam hasil nyata kamarnya, gadis itu memang berterimakasih dengan tulus. Bahkan memberi tas mahal sebagai hadiah bagi para pekerja.


Tapi aku juga ikut dimaki-maki Rion saat itu. Aku juga dibilang tidak becus mengurus bawahanku.


"Apa Harven tahu?"


"Tidak."


"Jadi nona muda mu merahasiakan statusnya?"


"Ahhh, entahlah, aku juga pusing dan muak. Nona bilang kalau dia mengaku siapa keluarganya Harven akan menolaknya, karena Harven selalu bilang kalau dia itu laki-laki miskin yang tak punya apa-apa."


Ah, bagaimana aku cerita pada Mei soal Harven kerja, tidak, tidak, tidak perlu cerita, cukup suruh Harven berhenti kerja saja.


Mereka menyusul Harven dan Sherina yang sedang duduk di taman, dibawah pohon yang teduh.


Mereka juga duduk, tangan pengawal Sherina menahan Serge yang mau mendekati Harven. Akhirnya mereka memilih duduk juga.


"Bukannya kau anggota tim keamanan khusus? kenapa kau malah bertugas menjaganya." Serge membuka pembicaraan lagi. Laki-laki di samping Serge cukup populer di kalangan tim keamanan perusahaan.


"Nona kan hal paling berharga bagi keluarga Presdir, nyonya melahirkan nona, setelah tuan muda berusia 12 tahun." Itulah kenapa Sherina menjadi anak kesayangan Presdir dan nyonya. Dan itulah kenapa dia malah bertugas menjaga nona bukan menjaga penerus keluarga.


Serge memandang Harven yang dari kejauhan terlihat cuek tapi juga tersenyum ketika menanggapi Sherina bicara.


"Kau masih suka membaca komik, mau aku kenalkan dengan author komik?"


"Kenapa tiba-tiba? Anda ini aneh sekali."


Serge tertawa, dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba kepikiran Jesi saat melihat Arman, sang pengawal Sherina. Putri kedua pemilik mall ternama, Gardenia Pasifik Mall.


"Mau nggak? Haha, aku cukup berhasil jadi Mak comblang ni." Padahal hubungan Rion dan Mei juga masih tidak jelas, Serge sudah pamer kemampuan. Arman hanya melengos menanggapi.


"Anda aneh sekali."

__ADS_1


Serge lagi-lagi cuma tertawa.


"Aku dengar Gardenia Mall mengalahkan Andalusia Mall tahun ini ya, kalian jadi yang terdepan, selamat, aku turut senang. Kalau perlu libas mereka dalam semua lini usaha." Sudah bicara ke mana-mana karena dua bocah yang sudah diteriaki belum merespon.


Walaupun aku tidak kenal CEO mereka tapi aku muak dan kesal dengan istrinya.


"Wah, Anda punya dendam apa dengan Andalusia Mall?"


"Haha."


Serge akhirnya bangun dari duduk, dia mau merebut Harven kalau Sherina tidak mau melepaskan laki-laki itu. Hari ini banyak yang harus dia lakukan. Kalau sampai Rion kembali ke apartemen dan hp baru Mei belum ada di atas meja, habislah dia.


...🍓🍓🍓...


Masih di waktu yang sama. Di rumah sepetak, dua orang gadis sedang terlibat pertengkaran kecil.


"Berhenti menceramahi ku! Kau ini nggak ada capeknya apa selalu bilang ini dan itu setiap datang ke mari." Jesi mendorong beberapa barang yang dia letakkan sembarangan di atas lantai. Tidak perduli protes Deandra yang kesusahan berjalan.


"Aaaaaaa! Kau ini harus mulai berubah, paling tidak bereskan semuanya tiga hari sekali. Memang Mei masih punya waktu mengurus mu sekarang!"


Mendengar nama Mei disebutkan, mereka jadi menangis bersamaan.


"Aaaa, kenapa Mei cepat sekali menikah ya! Nanti siapa lagi yang datang kemari, menyapu dan membantuku beres-beres."


Mereka terduduk bersama di tempat tidur. Memikirkan seraut wajah. Gadis mungil yang selalu tersenyum ceria walaupun seberat apa pun beban yang ada di pundaknya.


"Suami Mei tampan ya, tapi agak menyeramkan." Dean bicara tanpa ingin menutupi praduga. "Aku rasa kemarin dia marah sungguhan waktu Mei bicara dengan Kak Ge."


Mereka kan ada di sana, apalagi Dean yang peka dan mudah melihat ekspresi orang. Menangkap kecemburuan nyata suami Mei.


"Apa dia tahu kalau Mei menyukai Kak Ge, jadi dia marah melihat Mei bersama Kak Ge." Lagi-lagi hipotesa Dean sangat tepat sasaran. "Ah, Kak Ge juga tampan dan sangat ramah, pantas Mei jatuh cinta padanya."


Jesi mengguncang bahu Dean. Kenapa malah membahas Kak Ge yang tampan.


"Kenapa? Kau juga jadi suka pada Kak Ge?"


Dean mendorong wajah Jesi karena gadis itu merapat padanya. Apa dia sudah gila, kalau sampai mengakuinya di depan Jesi. Kak Serge adalah laki-laki yang dari dulu disukai Merilin, dia tidak akan menghancurkan persahabatannya dengan Mei karena hatinya sedikit bergetar ketika berjabat tangan dengan Kak Ge kemarin.


"Kau sudah gila ya, dia kan laki-laki yang disukai Mei. Sudahlah, minggir aku mau menyapu. Cuma menyapu, yang lain kau bereskan sendiri." Dean menendang tumpukan barang di dekat kakinya membuat Jesi berteriak marah.


"Tapi Dean, Mei kan sudah menikah. Suaminya saja setampan itu, apa dia masih memikirkan Kak Ge." Jesi menutup mulutnya sambil tersenyum. "Bagaimana malam pertama Mei ya." Suara cekikan sekarang terdengar. Sambil Jesi meraih bantal dan tertawa lebih keras.


"Dasar bocah mesum! bangun dan bereskan barang-barangmu, atau ku sapu keluar ruangan semuanya." Dean menendang barang lagi. Jesi tidak menggubris masih cekikikan sambil bergumam tentang malam pertama Merilin.


Dean mematung di depan jendela, merasakan udara yang masuk ke dalam ruangan.


Merilin sudah menikah, dengan laki-laki yang terlihat luar biasa. Tampan wajahnya, kaya raya, status sosialnya juga sangat bagus. Dan yang lebih utama keluarga laki-laki terlihat sangat baik. Ibu mertua yang terkadang menjadi momok tersendiri dalam sebuah pernikahan rasanya bisa diruntuhkan Mei dengan mudah. Saat Merilin memperkenalkan Dean dan Jesi, ibu bahkan memeluk mereka dengan hangat.


Kalau kau bahagia dengan suamimu, apa kau akan melupakan Kak Ge Mei? Aku akan selalu berdoa, supaya kau hidup bahagia.

__ADS_1


Deandra menghirup udara dengan helaan nafas panjang. Lalu meraih sapu, melihat tempat tidur, Jesi masih bergulingan di sana. Dean berteriak lagi sambil menendang barang di lantai.


Bersambung


__ADS_2