
Rumah Presdir Andalusia Mall.
Rasa sepi dan muak mencengkeram Ibram di kamarnya. Dia membanting hp miliknya ke atas tempat tidur. Beraninya dia mengabaikan aku. Dia bergumam dengan bibir bergetar. Tidak ada pesan yang datang dari Amerla, bahkan saat dia melihat sosial media Amerla, gadis itu malah update postingan terbaru, membuat kemarahannya semakin meluap-luap.
"Aku memberi mu waktu untuk merenungi kesalahanmu, kau malah berani melakukan ini Erla! Sepertinya kau sudah benar-benar bosan hidup ya."
Ibram menunggu Amerla, karena yakin, gadis itu akan bergetar takut dengan ancamannya, dan akan kembali ke rumah, memohon-mohon padanya. Tapi ini, seminggu sudah berlalu, tidak ada tanda-tanda kedatangannya, bahkan dia pun tidak mengirim pesan. Malah aktif lagi di sosial media.
Kesabaran Ibram yang cuma seperti selembar rambut tipis, sudah habis tak bersisa sekarang. Dia akan memaksa Amerla untuk kembali padanya, walaupun dengan menyeret rambut gadis itu untuk mengikutinya.
Dia menatap tempat tidur dan menyapu ruangan, semua benda yang ada di dalam kamar masih sama. Tidak ada yang berubah, bahkan alat makeup dan semua perlengkapan Amerla masih ada di tempat semula. Saat pelayan atas perintah ibu diminta membereskan semua itu, Ibram melarangnya dan mengusir pelayan. Ibram menghela nafas getir. Di dalam hati kecilnya dia merindukan gadis itu. Bahkan jauh lebih naik ke permukaan, saat dia berkumpul dengan teman-temannya atau datang ke sebuah acara. Biasanya Amerla akan selalu ada di sampingnya.
Walaupun senyum gadis itu palsu saat menggelayut di lengannya, itu masih jauh lebih baik daripada sekarang, saat dia sendirian.
Ruang kosong Erla pernah coba Ibram isi dengan sosok wanita lain, namun akhirnya dia pun mengusir wanita itu menjauh, karena malah hanya bayangan Amerla yang melintas di pikirannya. Namun tetap saja, ego dan kemarahan di dalamnya jauh lebih meledak ketimbang cinta di hatinya. Hingga akal sehatnya belum bisa dia pakai berfikir dan masih mengalahkan egonya. Dia hanya ingin Amerla kembali padanya, walaupun dengan memaksa gadis itu sekalipun.
Mungkin, seandainya Ibram pun bisa berubah. Karena hubungan kedua orang itu sebenarnya sudahlah sakit. Bukan hanya Amerla yang harus merubah sikap dan hatinya, Ibram pun harus melakukan hal yang sama. Namun, sekali lagi, ego dan harga dirinya masih melangit tinggi.
Ibram dengan tampang muram dan kesal keluar dari kamar, orangtuanya sudah ada di ruang makan. Ayah berdecak melihat anaknya, sementara ibu antara kesal namun juga kasihan. Wajah anaknya lebih murung setelah kepergian istrinya yang tidak tahu diri itu. Ayah dan ibu Ibram sudah berulang kali mengatakan, ceraikan saja wanita tidak tahu diri yang tidak bisa menghormati mu itu, tapi jawaban Ibram selalu sama, tidak. Jadi ayah dan ibu laki-laki itu sepakat, menunggu Ibram sampai bosan dan menyerah dengan sendirinya.
__ADS_1
Tapi, Ibram yang diberi waktu, masih keras kepala juga. Jadi ayah dan ibu akan mencoba menyiram api lagi.
"Ini sudah seminggu berlalu dari kau mendatanginya kan, tapi...." ayah kembali berdecak. "Ceraikan saja dia dan menikah dengan perempuan yang sederajat dan tahu posisinya." Ayah memukul meja menyuruh anaknya melihat ke arahnya. "Jangan memikirkan hal tidak berguna, yang membuat pekerjaanmu jadi tidak beres, bagaimana kau bisa mengalahkan Gardenia Pasifik Mall kalau pikiranmu cuma fokus pada wanita itu."
Perasaan emosi semakin meluap-luap. Saat Erwin sialan itu di sebut. Cih, Ibram semakin kesal saat mengingat pertemuannya dengan laki-laki itu dua hari lalu. Dia pamer kemesraan dengan istrinya. Sebenarnya Erwin tidak memamerkan apa pun, dasar hati Ibram yang sedang ngenes, jadi merasa tersindir. Tangan Ibram terkepal di bawah meja, tapi mulutnya masih terdiam.
"Untuk apa kau menunggunya, cabut semua modal dan uangmu dari perusahaan ayahnya, putuskan hubunganmu dengannya. Biar keluarga itu tahu rasa." Ayah Ibram juga sudah jengah melihat anaknya yang tenggelam dengan kesepian sampai tidak fokus bekerja. Apalagi keluarga Amerla yang mata duitan itu. "Ibram! Kau paham posisimu di dalam perusahaan kan? Kau itu pimpinan yang harus tegas dalam mengambil keputusan dan sikap. Jangan seperti orang menyedihkan begini."
Ibram masih diam, malah melirik kursi yang biasanya diduduki Erla saat makan bersama keluarganya.
"Ceraikan dia, dan buka lembaran baru. Kau itu masih muda." Ayah kembali bicara dengan tegas.
Dengan gampangnya mereka bicara, ah, sialan! Kau juga Ibram! Kenapa kau bodoh sekali sampai seperti ini, kau mencintai Amerla kan? Persetan dengan semuanya, kau tinggal membawanya kembali padamu kan. Malah itulah yang dipikirkan Ibram sekarang, nasehat ayah dan ibunya hanya lewat dan mampir sesaat, namun tidak merubah hatinya. Karena hati kecilnya masih hanya memikirkan gadis itu.
Akhirnya Ibram memilih meraih sendoknya, dan mulai makan. Ayah dan ibu saling pandang, memilih diam dulu, sampai hampir separuh makanan di piringnya sudah berpindah.
"Biar pengacara kita yang mengurus perceraian mu. Kamu fokus saja dalam bekerja."
Ibram meletakkan tangannya dengan sedikit menghentak meja, membuat ayah tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Saya sudah selesai makan, terimakasih Bu. Saya pergi dulu."
"Kamu mau ke mana?"
"Kebetulan ada acara dengan teman-temanku." Ibram melihat jam di tangannya. "Saya pergi dulu ayah." Dia menundukkan kepala.
"Baiklah Nak, pergilah bersenang-senang, supaya hati dan pikiranmu bisa berfikir jernih. Ayah dan ibu akan menunggu."
Ibu Ibram meraih tangan suaminya, supaya suaminya tidak mengatakan apa pun. Karena dia melihat, anaknya benar-benar sedang tidak mau membahas perceraian dengan Erla. Dasar wanita tidak tahu diri, kau sudah membuat anakku jadi nelangsa begini. Ibu Ibram bahkan sudah tidak mau menerima salam dari ibu Amerla. Saat mereka bertemu di perkumpulan sosialita, wanita itu hanya melengos acuh.
Ibram keluar dari gerbang utama, menuju sebuah hotel, tempat temannya mengadakan pesta.
Namun, kurang dari lima belas menit, mobilnya sudah keluar dari area parkir. Dia semakin muak dan jengah, karena melihat teman-temannya yang menggandeng istri atau pacar-pacar mereka. Saat ada seorang wanita yang mendekatinya, saat dia bertingkah imut menyapa, wajah Amerla malah mampir di kepalanya. Tertawa sambil menyelipkan rambut di belakang telinga.
Sialan! Aku pasti sudah gila! Kenapa kau muncul terus di kepalaku!
Mobil Ibram melaju, menuju rumah wanita yang ia rindukan sekaligus wanita yang akan menjadi pelampiasan amarahnya.
Bersambung
__ADS_1