Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
165. Pagi Setelah Pertengkaran


__ADS_3

Di rumah orangtua Rion keesokan harinya.


Mereka sudah memulai aktifitas, padahal hari ini Frans tidak ada agenda yang terkait pekerjaan. Begitu pula istrinya Yurika, tapi mereka sudah terlihat bersiap untuk pergi keluar rumah.


"Sayang, mereka pasti baik-baik, Rion bukan anak kecil yang ngambek lalu membuat keonaran, apalagi sampai menyakiti istrinya." Frans memeluk istrinya dari belakang yang sedang bercermin merapikan pakaian dan riasan. Satu kecupan dari Yurika manis menyentuh pipi suaminya. Laki-laki itu tersenyum bahagia mendapat hadiah kecupan. Lalu dia bicara lagi, mencoba menggagalkan kepergian. "Kalau kita datang malah mengganggu mereka nanti. Aku sudah memberi Rion banyak nasehat sejak kejadian itu."


Setelah kejadian pengakuan Mei pada waktu itu, membuatnya bicara cukup lama dengan Rion. Frans yakin cinta anaknya pada istrinya bukan kebohongan. Rion memang mencintai istrinya, jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan.


Sebenarnya ini juga karena Frans mengirim seseorang untuk mengawasi apartemen Rion saat istrinya pulang dan menceritakan semua kejadian di RS. Hanya untuk berjaga-jaga sebenarnya, melihat apa Rion keluar rumah atau tidak. Malah, mata-matanya melihat kedatangan Serge. Alhasil, Serge pun dia panggil. Makanya dia tahu kalau semua baik-baik saja. Tapi istrinya tetap saja masih merasa khawatir.


Sementara Yurika juga sudah mendapat penjelasan dari Mei melalui pesan, namun hati ibu yang menyayangi menantunya itu belum tenang kalau belum melihat situasi asli dan melihat anak menantunya dengan mata kepala sendiri. Jadi dia tetap mau pergi untuk memastikan semua baik-baik saja.


Dan akhirnya, mobil sedang melaju dengan cepat, bahkan sesekali menyalip jika ada sela kosong di depannya. Ada sopir di belakang kemudi yang selalu siaga tapi tenang dan tidak banyak bicara, dan di sampingnya ada seorang wanita yang setiap hari keluar masuk apartemen Rion. Siapa lagi kalau bukan bibi pengurus rumah. Dan tentunya, Presdir Frans dan istrinya, duduk di kursi belakang. Selalu mesra dan harmonis dalam setiap kesempatan. Mereka duduk berdekatan, menautkan tangan satu sama lain, yang ada dipangkuan Yurika.


Orang-orang yang sudah lama bekerja dengan Frans tahu sekali bagaimana kebiasaan laki-laki itu. Sejak muda sampai Rion sebesar ini, tak pernah ada yang berubah dari caranya mencintai istrinya. Jadi, bibi pengurus rumah sudah tidak aneh lagi dengan kemesraan atau obrolan mereka berdua.


Sementara itu, bagi laki-laki yang ada di belakang kemudi. Dia memang memandang ke depan tanpa berkedip, tapi sebenarnya dia mendengar juga pembicaraan di kursi belakang. Laki-laki itu bergumam, ayahku dulu hebat sekali ya, menemani masa muda beliau. Si sopir adalah anak kedua sekretaris pribadi Presdir. Sekarang saja mereka masih sangat mesra, apalagi dulu saat muda. Pasti mirip sekali dengan tuan muda dan istrinya. Hehe. Dia senyum-senyum sendiri, sambil tetap fokus menatap jalanan.


Kalau aku jatuh cinta nanti, aku juga ingin seperti tuan dan nyonya, yang selalu mesra dan dipenuhi cinta. Sang sopir yang jomblo sedang menabur doa.


Sementara di kursi belakang.


"Sayang, mengenai resepsi pernikahan sebaiknya nanti bicarakan juga dengan Mei. Sekarang tidak usah ada kejutan-kejutan segala." Karena Yurika takut nantinya benar-benar ada kejutan yang tidak diinginkan muncul. "Rion juga kenapa pakai menyembunyikan berita gembira begini si. Aku juga kan harus menghubungi ibu Mei dan keluarga yang lain. Pokoknya nanti kamu bilang ya."


Sekali lagi kecupan lembut mendera kening Frans ketika Yurika selesai bicara, saat laki-laki itu merangkul bahu dan menyandarkan kepala.


"Baiklah, lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan."


Frans ikut saja apa pun kemauan istrinya.


"Kamu juga bilang nanti ya, kalau sebenarnya kita sudah tahu mengenai pil kontrasepsi dan alasan kita tidak mengatakannya pada Rion, dia pasti ngambek karena kita menutupi ini." Tugas paling berat tentu saja dia berikan pada suaminya. "Hah, Rion itu benar-benar mirip dengan mu ya?" Saat bicara Yurika sebenarnya terkesan mengeluh, tapi reaksi Frans malah lain.


"Tentu saja, aku kan ayahnya. Tentu saja dia setampan dan sekeren aku kan." Frans tertawa sambil meremas jemari istrinya yang sudah berpindah ke pangkuannya.


"Bukan hanya wajahnya yang menurun dari mu. Kelakuannya juga." Yurika gantian yang tertawa, saat wajah tampan suaminya merengut. "Benar kan, dulu kamu juga begitu, paling nggak bisa mendengarkan penjelasan orang sampai selesai, marah duluan. Ia kan?" Yurika semakin senang, saat wajah Frans jadi malu. Mereka sedang mengenang masa muda, saat dia masih berapi-api dan mengedepankan emosi karena perasaan cinta dan sayangnya pada istrinya. "Sayang, kau ingat kan, saat kita bertengkar gara-gara aku datang ke reuni kampus, dan bertemu mantan ku." Yurika bicara lagi.


"Kenapa kau mengingat hal begituan, itu kan saat aku masih belum dewasa." Frans membuat pembelaan. "Eh, tapi itu karena kau juga kan, kau yang terlalu cantik jadi mantanmu itu malah berkeliaran di sekeliling mu kan!" Frans mendengus sebal. Yurika tidak punya banyak mantan, dan karena hanya ada beberapa itulah malah semakin membuat Frans terbakar cemburu setiap istrinya secara tidak sengaja bertemu mantan. Semakin sedikit mantan, semakin banyak kenangan yang terhubung diantara mereka. Begitulah menurut Frans.


Yurika memeluk pinggang Frans, dia tertawa dan memberi kecupan di wajah yang merengut. Frans selalu tidak suka, kalau cerita tentang reuni kala itu di ungkit. Karena kejadiannya memang sedikit memalukan untuk suaminya.


"Hoho, suamiku marah ni. Sekarang aku saja tidak ingat namanya. Sekarang, hanya ada kamu seorang sayang. Kamu dan Rion. Terimakasih ya sayang, karena sudah mencintaiku sebesar ini. Yang selalu menganggapku sebagai wanita paling cantik di dunia." Kepala Yurika bersandar di dada suaminya.


"Kau memang wanita yang paling cantik bagiku."


Usia tak pernah memakan cinta diantara mereka. Frans yang merasa sangat beruntung memiliki istri Yurika. Begitu pula sebaliknya, Yurika yang selalu merasa bersyukur memiliki suami seperti Frans. Cinta diantara mereka yang saling menguatkan, bahkan saat-saat berat ketika mereka memperjuangkan Rion untuk lahir ke dunia.


"Kalau saja aku bisa memberi adik untuk Rion, pasti rumah kita akan semakin ramai ya." Tangan yang menggengam Yurika bergetar, perkara ini memang selalu menjadi sesuatu yang sensitif. "Sayang..."

__ADS_1


"Jangan memikirkan hal begitu, kau tahu kan, aku sangat berterimakasih karena kau sudah memberiku Rion. Kau yang berjuang sekuat tenaga untukku dan Rion, bagiku itu sudah cukup." Frans mencium punggung tangan Yurika berulang kali. Lalu meletakan tangan itu di pipinya. "Rion saja sudah cukup membuat kita bahagia kan?" Senyum Yurika menyambut, saat bibir Frans mendarat di keningnya. "Sekarang Rion sudah punya Mei, artinya anak kita kan sudah bertambah, jadi jangan memikirkan seandainya-seandainya yang bisa menyakiti hatimu."


Begitulah cinta Frans untuk Yurika, setiap hari dia selalu merasa bahagia bersama istri yang sudah menemaninya.


Sopir berdebar-debar, sepanjang menguping pembicaraan. Semakin banyak doa yang diucapkan dalam hatinya. Sementara bibi menyentuh dadanya yang juga berdebar, dia adalah saksi hidup, bagaimana cinta tuan dan nyonyanya saling menguatkan, ketika memperjuangkan kelahiran tuan muda. Ada bunga-bunga dan lambang cinta yang berterbangan dari mobil yang sedang melaju itu.


Sebelum ke apartemen, mereka berhenti di sebuah minimarket. Membeli banyak bahan makanan dan beberapa perlengkapan sehari-hari berdasarkan catatan yang sudah bibi buat.


...🍓🍓🍓...


Pemilik apartemen yang mau disidak ternyata tidak ada di rumahnya. Bisa dibilang ini suatu hal yang sangat jarang terjadi, biasanya kan diakhir pekan mereka berdua hanya akan bergumul di bawah selimut, bahkan sampai bibi datang dan pergi setelah selesai dengan pekerjaannya.


Akhir pekan bagi Rion adalah waktunya mendapatkan reward dari hari-hari penuh kesibukannya, dan hadiah yang ia inginkan ya cuma bersama Mei, tanpa sekat dan tanpa batas. Walaupun cuma selembar pakaian pun.


Mereka sedang ada di pusat olahraga kebugaran, yang merupakan salah satu fasilitas yang ada di apartemen.


"Kak, benar aku boleh olahraga di sini. Aku malu, kita olahraga di rumah saja ya, kan ada alat olahraga di kamar Kakak." Banyak orang yang juga sedang menikmati akhir pekan dengan olahraga ternyata. Membuat Mei merasa canggung berada diantara mereka.


Pagi-pagi saja mereka sudah terlihat cantik gumam Mei. Baju olahraga yang dipakai juga modis dan ehm, cukup seksi kalau dilihat dari sudut pandangnya yang memakai training olahraga dan kaos oversize. Baju yang dia beli untuk persiapan kegiatan di kantor sebenarnya, akhirnya terpakai disini. Karena Kak Rion tidak keberatan dia memakai ini, dia pikir kebanyakan orang akan memakainya. Tapi ternyata. Aaaaaa! Aku jadi terlihat sangat berbeda di sini.


Sementara Kak Rion, selalu terlihat tampan dan keren memakai apa pun. Hemm, dasar, bisa tidak si, suamiku ini kelihatan jelek sedikit saja. Tidak bisa Mei, itulah kelebihan dan kekurangan Rion sekaligus. Kelebihannya yang selalu mempesona, kekurangannya, dia tidak punya kalau urusan tampilan luar. Begitu perang batin Mei, gadis itu tersentak saat Rion menggoyangkan tangannya.


"Kak, aku tidak salah kostum kan?" Sambil melirik orang-orang. "Bajuku kelihatan beda dari yang lain."


Rion hanya memiringkan kepala, sambil tersenyum. Memutar dagu Mei untuk hanya melihat ke arahnya.


"Aku nggak buat Kak Rion malu kan?"


Apa sih? Ditanyain malah jawabannya tertawa. Hah!


Sebenarnya tadinya Mei yang merengek minta keluar untuk joging, hanya olahraga ringan di taman apartemen. Karena kalau di dalam rumah saja, gadis itu bisa menebak apa yang akan dilakukan Rion. Semalam saja mereka tidur sangat larut malam. Setelah terjadi pertengkaran antar pasangan, permainan di tempat tidur entah kenapa, jadi jauh lebih menggebu. Entah karena membuang amarah yang tadinya meluap-luap, tenaga Kak Rion seperti jadi berlipat ganda. Mei bahkan setengah tertidur saat Kak Rion menyelesaikan urusannya semalam. Dia masih merasakan tubuh yang basah akan peluh itu memeluknya dan membisikkan cinta.


Setelahnya dia benar-benar jatuh tertidur. Dan pagi ini dia menyelamatkan diri dengan mengajak Kak Rion olahraga. Supaya laki-laki itu tidak menggangunya.


"Kak, malah ketawa aja si."


"Semua penghuni apartemen bisa masuk ke sini tanpa terkecuali." Rion terdiam sebentar. Lalu bicara lagi. "Tidak, tidak, kecuali kau kalau tidak bersama ku, kau tidak boleh masuk ke sini." Rion melengos, tentu saja dia tidak akan pernah membiarkan Mei pergi olahraga sendirian kan. "Aku kan yang punya kartu anggota." Sambil menyeringai dia mengajak Mei mencari alat yang akan dia pakai. "Dan baju mu, bagus sekali. Kau harus memakai baju olahraga seperti itu."


"Oh, begitu ya Kak? Lagi pula aku juga malu kalau pergi sendiri." Jawaban Mei membuat Rion tersenyum puas. Berhasil dengan baik membodohi istrinya yang lucu dan menggemaskan ini.


"Baguslah."


Rion menarik tangan Mei menuju alat treadmill.


"Biasanya kau mulai dari apa?"


"Aku baru pertama kali ini masuk ke tempat gym Kak." Mei menjawab dengan polosnya, karena ya memang ini kali pertamanya.

__ADS_1


"Hah? Kok bisa?"


"Aku kan dulu miskin Kak."


Rion tergelak, lalu menuding kening Mei. Gadis itu nyengir karena sepertinya Kak Rion senang sekali dengan alasannya.


"Kakak senang sekali sepertinya degan alasanku."


Rion tertawa, lalu membenturkan keningnya ke kening Mei. "Karena kau miskin, kita bisa seperti sekarang ini kan." Rion memegang kedua pipi Mei, menggoyangkannya. "Dan kau bukan miskin, cuma tidak punya uang."


Mei tergelak, ekspresi Kak Rion lucu sekali saat mengatakannya. Dalam hati gadis itu berfikir yang dikatakan Kak Rion ada benarnya. Benar juga ya pikir Mei, jadi apa dia harus bersyukur dan bangga karena dia dulu miskin dan terlilit hutang. Eh, apa sih, aku malah mikir apa. Mei mengulum senyum sendiri.


Kedua orang yang sedang dipenuhi bunga cinta itu melakukan pemasangan ringan sebelum memilih alat olahraga. Seorang instruktur dipanggil Rion untuk memberikan pengarahan. Mei dengan manutnya mengikuti semua yang dikatakan Rion. Walaupun diantara itu disisipi kejahilan Rion, karena terlihat laki-laki itu tertawa saat menyuruh Mei melakukan gerakan tertentu.


Di dalam ruangan pusat kebugaran yang luas itu, dan diantara sebagai perempuan yang ada di sana, sedang panas membicarakan Rion, mereka mengenali wajah CEO Andez Corporation, karena pernah bertemu di beberapa acara formal.


"Gila! Siapa wanita itu? Apa dia pacar Tuan Rion. Lihat penampilannya, kampungan. Xixixi."


"Padahal aku membeli apartemen di sini karena ingin dekat dengannya, tapi bertemu sekali pun dengannya tidak pernah. Eh, kenapa malah dia sudah punya pacar."


"Jelek dan norak, kampungan lagi penampilannya."


"Tuan Rion, kenapa bisa punya pacar seperti itu si, aku seribu kali lebih baik." Dia menggoyangkan pinggul dan bahunya, sambil melirik Mei dari kejauhan.


Para wanita yang sekalipun pernah ditemui Rion, tidak akan diingat oleh Rion, dengan sinisnya adu nasib dan membandingkan diri mereka dengan wanita mungil berambut ikal yang sedang olahraga dengan memakai baju training itu.


Sementara yang sedang jadi bahan pembicaraan, mana tahu dan perduli dengan sekelilingnya.


...🍓🍓🍓...


Ternyata menggerakkan tubuh dengan olahraga cukup menyenangkan gumam Mei. Peluh yang keluar berbeda dengan peluh yang tercipta saat di tempat tidur. Eh, gadis itu mengulum senyum malu. Sambil menutup wajahnya yang memerah.


Sudah ada di depan pintu apartemen. Rion merangkul bahu Mei, sambil mencium pipi dan berbisik dengan nakal.


"Mei, mau mandi bersama?"


"Apa, Ah, Kakak, aku berkeringat." Mei merinding, saat bibir Rion mencium tengkuk dan telinganya. "Kakak! Aku bau keringat."


"Kenapa memang, kita kan sama-sama berkeringat." Dengan santainya Rion menjawab. Rion tidak mau melepaskan bahu Mei. Saat pintu rumah terbuka dia langsung mendorong Mei kebelakang pintu. Mereka berciuman.


"Kakak!"


Teriakan Mei tidak digubris oleh Rion, akhirnya tangan gadis itu melemah, dan ikut menikmati ciuman yang di berikan Kak Rion. Tangannya meremas punggung Rion.


Tapi, mata Mei membelalak kaget, seperti mau loncat, saat melihat ada yang berdiri di ruang tamu. Melihat ke arah mereka.


"Ehem, hemm." Ibu antara malu sendiri sampai ingin tertawa, melihat kelakuan anak dan menantunya yang tidak melihat kalau di rumah ada orang lain.

__ADS_1


"Ibu!"


Bersambung


__ADS_2