
Apartemen lantai 12, masih punya tetangga sebelah rumah, walaupun tidak pernah saling menyapa.
Setelah bertemu dengan Dean waktu itu, hati Mei jauh lebih tenang. Entahlah, karena pembawaan Dean yang dewasa dan selalu menyikapi masalah dengan kepala dingin. Mei sudah merasa bertemu dengan jalan keluar yang dia cari. Walaupun awalnya dia tetap malu menceritakan semuanya. Tapi, dia sudah tidak bisa menanggungnya sendiri. Dia kebingungan mengendalikan hati dan perasaannya.
Dean mendengarkan dengan tenang, setiap bait kata yang terucap dari bibir Mei. Sesekali dia mengusap bahu Mei. Memeluk gadis yang bahunya gemetar sambil bercerita. Atau saat Dean mengusap airmata Mei, ikut merasakan bagaimana gadis di depannya telah berjuang sekuat tenaga selama ini.
"Aku harus bagaimana De, sekarang?"
"Baiklah Mei, anggap saja seperti apa yang kau katakan. Tapi, Tuan Rion kan tidak membencimu."
"Karena aku jadi boneka yang penurut De, aku selalu melakukan apa pun yang Kak Rion inginkan." Mei menggigit bibirnya sampai memerah. Ada rasa sedih yang menjalar. "Karena aku miliknya, makanya dia tidak membenciku. Aku bonekanya yang bisa dia sayang dan dia perlakukan sesuka hatinya."
Dean mulai terlihat frustasi dengan cara pikir Mei. Kenapa Mei memandang dirinya dengan begitu rendah. Padahal jelas-jelas, Tuan Rion memperlakukan mu dengan sangat istimewa.
"Dia pernah memukul mu? atau menghinamu dengan kata-kata buruk?"
Mei cepat menggeleng, Kak Rion tidak pernah memukulnya. Ya dia cuma sering menarik rambut ikal ku kalau aku kelamaan merespon kata-katanya. Atau dia sering mencubit pinggangku kalau iseng. Karena aku tidak pernah membantahnya makanya dia memperlakukanku dengan baik. Begitulah yang Mei pikirkan tentang Rion. Dia ceritakan dengan jelas kepada Dean. Kak Rion menyayanginya Karen dia boneka penurut yang melakukan apa pun yang Kak Rion inginkan.
"Tapi, dia biasanya menggigit bahuku, atau telingaku De. Sering sekali. Kadang kalau peluk-peluk, main gigit seenaknya." Mei mengusap bahunya, sambil menunjuk bagian telinga yang sering menjadi korban Kak Rion.
Dean mulai gemas dari caranya meringis sambil meremas udara di depannya.
"Sakit?"
Mei menggeleng lagi. Tidak sakit, hanya geli-geli gimana gitu. Karena memang Kak Rion tidak sepenuhnya berniat menggigitnya. Makanya dia juga tidak pernah merasa diperlakukan buruk oleh Kak Rion. Dean menghela nafas. Hih! Seperti mau menjitak kepala Mei. Akhirnya cuma menempelkan jari pelan di kepala. Gemasnya aku sama kamu Mei, Dean bergumam dalam hati. Itu artinya, suamimu gemas padamu Mei! Kalau aku bilang begitu, pasti Mei akan berdalih, karena dia boneka penurut makanya Tuan Rion bersikap begitu. Level frustasi Dean meningkat drastis.
"Baiklah, anggap dia hanya menganggap mu bonekanya." Dean mengalah, walaupun kewarasannya sedang protes keras. "Dia pamer kemesraan di depan kami hanya untuk bersandiwara. Tapi, saat dia menyentuhmu, saat kalian bersama, tidak ada kebencian di antara kalian Mei. Jadi, lebih percaya dirilah, dia tidak membencimu."
"Tapi, kontrak pernikahan kami hanya dua tahun De. Dia dulu bilang hanya butuh istri boneka yang menurut padanya. Tidak lebih dari itu. Padahal aku sudah tahu akan seperti apa jalan akhir ini, tapi bisa-bisanya aku malah jatuh cinta, dan menikmati kebersamaan ini dan sentuhannya." Mei menjatuhkan kepala ke meja. Memukul-mukul meja pelan. Mengutuk kebodohannya.
"Aaaaaaaa!" Kedewasaan Dean hancur, kesabaran gadis itu menjadi setipis rambut, menghadapi Mei kali ini rasanya Dean ingin berteriak dan memaki Mei bodoh.
"Apa sih, kau marah ya?"
"Hatimu saja berubah Mei, kenapa Tuan Rion tidak bisa berubah." Meninggi suara Dean. Dengan tangan terkepal meninju lengan Mei. "Ya, mungkin laki-laki memang membutuhkan hubungan di tempat tidur, karena hasrat di dalam diri mereka, tapi kalau hanya memuaskan hasrat, aku yakin mereka tidak akan melakukannya sampai berulang kali. Sampai gigit-gigitan segala." Ayo sadarlah Merilin! Aku mohon. Tatapan Dean berharap.
Dean sedang mewakili isi hati pembaca yang pengen nabok jidatnya Mei 🤭
"Deandra! Apa si, buat malu saja."
__ADS_1
Dean tertawa terpingkal dengan wajah memerah Mei. Yang pura-pura meraih gelas, dan menghabiskan minumannya. Masih menyisa tawa, lalu Dean meraih tangan Mei.
"Kalau dia belum mencintaimu, maka yang harus kau lakukan adalah membuatnya mencintaimu Mei. Ungkapkan perasaanmu, dan buat dia mencintaimu." Mengalirkan semangat ke tangan Mei. "Dia sudah melupakan mantannya kan? hatinya saat ini juga sedang kosong. Persetan dengan kontrak pernikahan kalian, kalau kau bisa merebut hatinya, maka kau pun bisa selamanya hidup bahagia dengan suami yang kau cintai Mei."
Deg...deg..
Semua yang dikatakan Dean menjadi sangat logis sebenarnya. Kak Rion sudah menghapus nama Amerla di hatinya. Tapi, apa dia bisa memasuki hati itu juga. Aku kan begini, aku tidak secantik Amerla, apa benar, aku bisa menggantikan posisi wanita secantik Amerla. Lagi-lagi Merilin berkubang dengan rasa rendah dirinya.
"Berhenti minum pil kontrasepsi Mei. Kalau ada seorang anak diantara kalian..."
"Tapi..."
Mei masih ragu dengan semua praduga Dean. Kak Rion menyukainya, dia tertawa mendengar itu. Tapi saat Dean bilang, Kak Rion tidak membencinya, entah kenapa hati Mei mengiyakan. Kalau dia pun merasa tidak dibenci. Apa karena dia tidak dibenci, dia memiliki peluang.
"Tuan Rion tidak membencimu Mei, aku bisa menjamin itu. Ungkapkan perasaanmu, dan sentuh hatinya dengan ketulusan cintamu. Lupakan niat awal pernikahan kalian." Dean seperti membuka lapisan demi lapisan rasa tidak percaya diri Mei. Kalau Kak Rion juga mungkin bisa menyukainya sebagai seorang wanita. Bukan sebatas menyayanginya karena dia boneka penurut.
Saat mau berpisah pun, Dean memeluk Mei di dekat mobil Mei yang terparkir.
"Aku mohon Mei, kau harus hidup bahagia. Aku mohon." Dean mengguncang bahu Mei lalu memeluknya. "Kau sudah membuat keluargamu bahagia, kau sudah berkorban sangat banyak dengan memutuskan untuk menikah, jadi kau pun harus bahagia bersama suamimu." Pelukan semakin erat. "Aku mohon, hiduplah dengan bahagia Mei."
Mei bisa melihat tetesan airmata yang membasahi pipi Dean. Dia mengusap pipi Dean.
Dean yang tidak menghina Mei, karena Mei menikah karena uang. Dean yang bahkan mendukungnya untuk memperjuangkan cintanya. Mei pun berharap, hubungan Dean dan Kak Serge akan lancar tanpa ada penghalang.
Dan kembali ke waktu sekarang, Mei masuk ke dalam ruang ganti. Dia masih sendiri, Kak Rion belum pulang. Sepertinya hari ini dia akan pulang lebih larut dari biasanya. Memasuki bulan baru, pekerjaan memang semakin menumpuk.
Mei menghampiri lemari pakaiannya, meraih satu baju tidur. Memakainya dengan cepat. Dia sudah selesai datang bulan, seharusnya dia mulai meminum lagi pil kontrasepsi. Tapi, nasehat Dean terngiang di kepalanya. Dan membuatnya hanya menyentuh lemari tempat dia menyimpan kotak pilnya. Tanpa membukanya.
Apa kalau aku hamil, hubungan antara aku dan Kak Rion akan berubah ya. Ah, tapi Dean bilang, Kak Rion tidak membenciku dan hatinya juga bisa berubah.
Mei menjauhkan tangannya dari lemari penyimpanan pil kontrasepsi. Dia sudah memantapkan hati. Dia akan membuat Kak Rion juga jatuh cinta padanya. Bukan hanya ingin menyatakan perasaan, tapi sekarang dia pun ingin cintanya berbalas. Dia tidak mau berpisah dengan Kak Rion dua tahun lagi.
Kalau aku bisa membuat Kak Rion jatuh cinta padaku, dan aku hamil, kami bisa tetap bersama kan. Senyum samar muncul di bibir Mei. Ayo lupakan pil itu. Kau sudah selesai datang bulan, ayo mulai lembaran baru Mei.
Saat keluar dari ruang ganti baju, hati Mei diliputi perasaan lega. Dia tidak akan meminum pil kontrasepsi itu.
"Berjuanglah Mei, buat Kak Rion berpaling padamu. Buat dia jatuh cinta padamu! Bukan hanya karena kau bonekanya!" Mei mengepalkan tangan ke udara.
Dia langsung masuk ke kamar, mau menyusun rencana.
__ADS_1
Lemari di mana Mei menyimpan pakaian dala*mannya. Terlihat lebih masuk ke dalam, berbeda dengan biasanya. Karena siang tadi, bibi sudah mengeluarkan sesuatu dari sana. Namun karena Mei tidak memeriksa, maka gadis itu tidak menyadari kalau ada yang menghilang dari lemarinya.
...🍓🍓🍓...
Mei mengerjapkan mata, sambil menggeliat, tersentak, saat lengan telanjang memeluknya dengan erat. Nuansa cahaya di kamar masih temaran. Saat melirik jendela, masih gelap. Jam berapa ini, gumamnya. Aku pasti ketiduran saat sedang menyusun rencana untuk membuat Kak Rion jatuh cinta semalam. Kapan Kak Rion pulang semalam ya.
"Hemm, jangan bergerak, aku masih mengantuk." Rion bergumam sambil bibirnya menempel di bahu Mei. "Pejamkan matamu." Memberi perintah lagi karena Mei menggeser tubuh dan berniat mengangkat lengan yang membekap tubuhnya itu.
"Kak, aku bangun sebentar ya, mau ke kamar mandi sebentar. Nanti aku kembali lagi, aku janji. Ini kan akhir pekan."
Walaupun tidak langsung melepaskan, akhirnya Rion mengangkat lengan dan kakinya, membalik tubuhnya. Hah! Lepas juga akhirnya, Mei bergegas turun dari tempat tidur.
"Mei..."
"Ia Kak?"
"Kau sudah selesai datang bulannya kan?"
"Ia Kak, aku sudah selesai." Malu menjawab, sambil merapikan rambut yang acak-acakan.
Senyum Rion yang penuh arti muncul, sambil mengibaskan tangan menyuruh Mei segera ke kamar mandi.
"Pergilah, dan segera kembali. Kau harus membayar hutangmu kan. Haha."
Kak Rion!
Mei keluar kamar, masih bisa mendengar Rion tertawa. Dia melihat ruang ganti baju sebentar. Lalu bergumam, lupakan pil itu Mei. Ayo berjuang, buat Kak Rion mencintaimu! Ayo!
Bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar teriakan dari dalam. Saat Mei berdiri di depan kaca yang memantulkan bayangannya. Seluruh tubuhnya dipenuhi tanda kecupan seperti yang sering membekas kalau Kak Rion sedang melukis tubuhnya dengan bibirnya.
Merilin gila! Kau pingsan ya semalam!
Saat sedang melihat tubuhnya di depan cermin, pintu terbuka. Kak Rion muncul, dengan senyumannya.
"Kau lama sekali Mei, jadi aku menyusul mu."
Aaaaa! Aku baru masuk Kak!
Dan entahlah apa yang mereka lakukan di pagi buta, selama kurang lebih satu jam di kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung