
"Berhenti!"
Sekuat tenaga Erla menendang kursi yang ada di depannya. Walaupun kursi yang dipakai oleh laki-laki yang sedang mengemudi itu sama sekali tidak bergeming.
"Aku bilang berhenti! Dasar pembohong!" Lagi-lagi, suara Erla seperti mengguncang genderang telinga. Tapi laju kendaraan sama sekali tidak melambat.
Sebenarnya, situasi cukup terkendali. Setelah mampir ke apotik, mereka masih sama-sama tenang. Tenggelam dengan pikiran masing-masing. Namun, situasi berubah saat Erla meminta sekretaris Ibram untuk menelepon dokter pribadi keluarga ayah mertuanya. Ya, dia beberapa kali bertemu dengan dokter pribadi keluarga suaminya. Erla semakin memaksa ketika sekretaris Ibram berusaha berkilah kalau itu tidak perlu.
"Kau bilang, dia sampai tidak bisa berjalan kan. Jadi hubungi dokter sekarang." Erla tetap ngeyel. "Aku tidak tahu ilmu pengobatan! Apa kau bisa mengobati Kak Ibram."
"Ehm, sedikit-sedikit saya bisa Nona, kalau hanya mengoleskan salep pereda nyeri."
"Kalau begitu turunkan aku, kalau kau bisa kenapa kau memanggil ku."
Adu mulut yang tidak akan selesai, kalau Sekretaris Ibram tidak meluruskan kebohongan yang sudah dia buat tadi.
Akhirnya, terucap juga dari mulut sang sekretaris, kalau sebenarnya semua yang dia katakan tadi hanyalah bohong. Ibram tidak apa-apa, dia sedang menunggu di apartemen dalam keadaan baik-baik saja. Pikiran Erla jadi berkabut. Sudah terlihat jelas di depan matanya, apa yang akan terjadi padanya kalau dia benar-benar datang menemui Ibram.
"Aku bilang berhenti Sekretaris Jo!"
"Nona, saya mohon, ini di jalan raya."
Lalu lalang mobil menyalip kendaraan yang ditumpangi Erla. Gadis itu mendengus tidak perduli. Toh dia menepis di pinggir jalan.
Sialan! Aku tidak membawa uang. Dan lebih parahnya Erla baru sadar, dia tidak membawa hp. Tidak ada yang dia bawa, selain baju yang menempel di tubuhnya.
Dasar gila! Erla bodoh! Kau sudah berdebar-debar tadi dengan omong kosong laki-laki ini. Hah! Seharusnya aku bisa menduga. Presdir tidak mungkin memukul anak kesayangannya. Kak Ibram sang penerus keluarga. Bodohnya aku gumam Erla getir. Dia merasa tertipu.
"Tuan Ibram ingin bertemu dengan Anda Nona, maaf, saya tidak punya cara lain untuk membawa Anda. Maafkan saya."
Kenapa? Karena dia marah dengan surat perceraian itu? pertanyaan yang hanya terucap di dalam hati. Erla bersandar di pintu mobil. Menatap entah ke mana. Sambil mengutuk kebodohan hatinya, yang tadi sedikit bergetar. Yang merasa tersentuh karena Ibram berani menentang ayahnya demi dirinya.
Kak Ibram.
Tangan Erla tiba-tiba langsung bergetar saat nama Ibram terucap lirih di bibirnya. Dia menatap kepala sekretaris Ibram. Ingin dia menarik rambut itu sampai terlepas. Saking kesalnya dia.
"Apa Kak Ibram akan memecat mu kalau kau tidak membawa ku?"
Tidak ada jawaban dari kursi depan, Erla mengartikan, sepertinya begitu. Jadi, kau tidak punya pilihan ya. Hah! Lantas kenapa kalau kau tidak punya pilihan, aku kan yang akan menderita di sini. Kenapa aku harus perduli dengan masalah mu, kalau kau saja tidak perduli dengan penderitaan yang sedang menungguku.
Erla semakin tersiksa dengan perasaan takut.
Gadis itu termenung, menatap pepohonan yang berlarian. Cukup lama, sampai wajahnya sedikit berkedut. Sepertinya dia menemukan sebuah cara atau karena sudah sangat pasrah.
__ADS_1
"Sekretaris Jo, apa kau membawa kartu Kak Ibram?"
"Eh, Ia Nona? Apa Anda mau membeli sesuatu?"
"Bawa aku ke mall, aku mau membeli sesuatu sebelum menemui Kak Ibram."
Walaupun bingung, namun sekretaris Ibram melajukan mobil menuju Andalusia Mall. Akhir pekan masih sangat panjang baginya.
Sesampainya di mall, Erla masuk ke dalam sebuah butik. Toko yang dulu sering dia kunjungi saat masih berstatus menantu Andalusia Mall. Para pelayan dan manager toko pun masih mengenalinya. Agak terkejut sebenarnya mereka melihat pakaian yang dikenakan Erla. Tapi, saat gadis itu bicara dengan gaya elegan dan sedikit angkuh, mereka menundukkan kepala hormat seperti biasanya.
Sementara di luar toko, sang sekretaris menelepon tuannya, menyampaikan keanehan yang ada di depan matanya.
"Nona Erla tiba-tiba meminta saya membawanya ke mall, beliau masuk ke toko pakaian. Apa Anda mau saya melarang beliau?"
Ibram yang mendengar penjelasan sekretarisnya tentu saja terkejut, bahkan meminta sekretarisnya mengirim foto.
"Nona memang hanya memakai baju rumahan saat keluar tadi, apa beliau ingin terlihat cantik saat bertemu dengan Anda?" Ibram berdehem, sepertinya senang dengan kata-kata sekretarisnya. Walaupun dia tidak tahu, alasan sebenarnya apa yang dilakukan Erla.
"Biarkan saja, biarkan dia membeli apa pun yang dia inginkan. Segera bawa dia ke apartemen kalau sudah selesai."
"Baik Tuan."
Dan sambungan terputus, Sekretaris Ibram masih memandang Erla yang sedang memilih barang di dalam toko. Kenapa ya gumamnya, padahal tadi Nona Erla bersikeras turun dan tidak mau pergi. Tapi kenapa malah sekarang, dia membeli baju baru. Karena dia memang sudah cantik, aku bahkan tidak menyadari kalau dia tadi tidak memakai riasan dan hanya memakai baju rumahan.
"Nona, apa ada yang Anda ingin beli."
"Tidak, langsung saja. Aku sudah siap."
"Anda terlihat cantik, eh, bukan berarti tadi Anda tidak cantik." Saat Erla tergelak mendengar kata-kata sekretaris Ibram, laki-laki itu malah merasa malu. "Tuan Ibram pasti senang bertemu dengan Anda." Dia sudah mau menyudahi obrolan canggung ini, tapi malah, dari kursi belakang terdengar Erla bicara, yang sedikit membuatnya bingung.
"Apa kau tahu? Kenapa aku membeli baju baru dan alat make up?"
Sekretaris Ibram menyalip mobil di depannya. Melirik kaca spion sekilas.
"Tentu saja, supaya Anda terlihat cantik di depan Tuan Ibram. Benar kan Nona?" Laki-laki itu tersenyum sekilas, lalu menginjak gas lagi, jalanan di depannya lengang.
Erla tertawa, lalu tawa itu berangsur menghilang. Berganti kecanggungan.
"Kak Ibram pasti akan kesal kalau melihat ku memakai baju lusuh. Jadi aku ganti baju supaya dia bisa merobek baju mahal ini dengan puas." Erla meraih tas kertas yang berisi make up. "Kalau ini..." Dia diam sebentar. "Aku pasti memerlukannya untuk menutupi memar, ya, biasanya dia memukul di wajah yang terlihat orang. Aku malu, kalau naik taksi nanti dan dilihat orang."
Udara langsung menjadi dingin. Sekretaris Ibram menggigit bibirnya supaya tidak mengeluarkan suara apa pun. Dia mencengkeram kemudi. Dia juga baru tahu hari ini, kalau Nona Erla dan nyonya Presdir adalah korban kekerasan dalam rumah tangga.
"Ah, kau pasti terkejut ya. Haha, tentu saja, kau tidak tahu. Karena dia hanya melakukannya saat kami hanya berdua."
__ADS_1
Setelahnya tidak ada lagi yang bicara. Erla bersandar di kaca pintu mobil, sambil menyiapkan hati. Sudahlah Erla, kau sudah sering mendapatkan luka itu, sekali lagi juga tidak masalah. Ini terakhir kalinya Erla. Karena setelah ini, dia benar-benar sudah memutuskan. Dia akan pergi jauh. Dia akan membuang semuanya. Bukan hanya masa lalunya bersama Kak Ibram. Dia juga akan membuang keluarganya.
Persetan dengan ayah dan perusahaan, ibu dan adiknya yang bahkan belum menikah itu. Dia akan menjadi orang jahat, yang tidak perduli pada nasib keluarganya sendiri.
Sementara sekretaris Ibram, mencengkeram kemudi.
Semoga kalian bisa saling memaafkan, dan mendapatkan kebahagiaan. Gumamnya. Dia tidak mau membela bosnya, karena KDRT dalam rumah tangga apa pun alasannya adalah kesalahan. Dia kasihan pada Nona Erla, kalau dilihat dari usia, sepertinya dia seumuran dengan istrinya.
...🍓🍓🍓...
Saat kaki sudah berdiri di depan pintu apartemen Kak Ibram, semua keberanian dan keteguhan hati Erla seperti tertinggal di dalam lift. Tangannya yang saling terpaut bergetar. Erla merebut tas yang dipegang sekretaris Ibram.
"Buka pintunya."
"Nona, apa Anda mau saya ikut masuk?"
Erla malah menyeringai sinis. Lalu tertawa, saat melihat rasa bersalah di mata laki-laki di depannya, entah kenapa Erla malah merasa lucu. Memang kau mau apa? apa kau bisa membantu ku kalau tuan mu menggila nanti di dalam. Kau pasti hanya akan pura-pura tidak melihat, bahkan ayah dan ibu ku juga demikian.
"Buka!"
"Baik."
Walaupun terlihat ragu, pada akhirnya, sekretaris Ibram tetap membuka kode kunci rumah. Dia memegangi handle pintu, supaya pintu tetap terbuka. Erla seperti melihat mulut harimau yang sedang terbuka untuk ******* habis tubuhnya tanpa sisa. Rasa sakit langsung menjalar di ujung kuku, menjalar sampai ke pipi.
Erla masih membeku, kakinya tidak mau bergerak..
"Nona Erla."
Erla tersentak, walaupun suara laki-laki di depannya pelan. Sudahlah! Kenapa kau malah gemetar takut begini, padahal kau sudah siap. Cepat masuk Erla, buat Kak Ibram puas, dan kau bisa pergi setelah ini. Gigit bibir mu, pejamkan mata mu. Hanya itu yang perlu kau lakukan.
Dan kaki Erla memasuki apartemen Ibram, perlahan dia melangkah, saat menoleh ke belakang pintu sudah tertutup. Rasanya, dunia yang luas ini langsung menciut, membuatnya terperangkap di sebuah lubang kecil.
Tubuh Erla langsung tegang saat terdengar suara langkah kaki, Kak Ibram muncul di depan Erla. Dia memakai kemeja lengan pendek dan celana panjang, pakaian yang sering dia pakai di akhir pekan. Kenapa dia memakai baju begitu? Erla pikir, dia sudah akan disambut dengan tubuh setengah telanjang, atau Kak Ibram yang memakai piyama untuk semakin mengintimidasinya.
"Kak..Kak Ibram..."
Erla menciut takut, saat bukannya menjawab, Ibram malah melangkah mendekat. Membuat kaki Erla yang bergetar mundur ke belakang. Dia mencengkeram tas yang dia pegang. Kakinya terus mundur sampai membentur pintu masuk.
Ibram berhenti melangkah, saat melihat Erla yang sudah tidak bisa bergerak.
Dan brug! Kaki panjang Ibram jatuh terduduk di lantai, bersimpuh. Erla tersentak kaget bahkan tas ditangannya terjatuh, saking kagetnya karena tiba-tiba Kak Ibram duduk berlutut.
"Maaf, Erla maafkan aku. Maafkan aku Erla." Dengan kepala tertunduk, suara Ibram memenuhi ruangan.
__ADS_1
Bersambung