Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
130. Akhir Pekan Berakhir


__ADS_3

Siang di akhir pekan berakhir juga.


Di pemakaman membutuhkan waktu yang cukup lama, karena mereka menunggu ibu yang mengajak pulang. Mampir sebentar di minimarket sebelum pulang ke rumah. Mei membelikan kebutuhan sehari-hari untuk ibu. Sambil menjelaskan pada ibu, kalau nanti ibu bisa keluar berbelanja sendiri sambil menghirup udara segar. Jalan sore, atau bersama Harven setelah dia pulang sekolah juga bisa. Karena letak minimarket yang masih dalam satu kompleks perumahan. Memudahkan akses.


Ibu mengganguk senang, mengingat jalanan komplek yang mereka lalui sekarang, dengan bola mata berbinar. Dia sudah berjanji pada suaminya, untuk hidup dengan baik demi anak-anak mereka.


Setelahnya makan malam, Mei dan Rion berpamitan pada ibu dan Harven. Kembali ke rumah ketika temaran lampu jalan sudah menyala. Walaupun malam hampir datang, arus kendaraan di jalan raya tetap semakin padat saja rasanya. Puncak akhir pekan, tentu ingin mereka nikmati sebelum esok kembali pada dunia kerja dan realita.


Sesampainya di apartemen.


"Mei, pergilah mandi duluan, ada yang mau aku kerjakan." Rion bicara.


"Eh, baik Kak."


Rion sudah berjalan menuju ruang kerjanya, tempat yang sampai hari ini belum pernah dimasuki Mei sekalipun. Gadis itu juga tidak terlalu penasaran ada apa di dalamnya. Dia hanya berfikir, ruang kerja Kak Rion pasti sama seperti ruang CEO. Yang tidak sembarangan orang bisa masuk.


"Apa ada yang Kak Rion butuhkan? Mau aku buatkan kopi atau teh." Mei merasa bersalah, karena seharian ini Kak Rion bersamanya. Jadi dia ingin menebusnya dengan membuatkan kopi atau apa pun yang dibutuhkan Kak Rion.


Apa sebenarnya tadi dia ada pekerjaan ya.


"Cium aku." Menyeringai sambil menyudutkan dirinya sendiri sampai membentur pintu ruang kerja. Padahal diserang saja tidak.


"Apa?"


"Terserah pilih bagian mana yang kau suka." Tapi sudah menarik kerah lehernya sampai dadanya dan sebagian bahu terlihat. Secara tidak langsung menunjuk tempat di mana dia mau dicium.


Aaaaa! Salahmu sendiri bertanya Mei. Gadis itu mendekat juga akhirnya. Setelah beberapa kali kecupan di bibir, dan bagian yang terbuka itu, Rion mengusap kepala Mei dengan tertawa. Dia puas sepertinya.


"Mandi sana, aku akan lama, kalau kau lelah kau bisa ke kamar duluan."


"Baik Kak."


Mei masih berdiri di tempatnya, saat Kak Rion mengeluarkan hp, membuka pintu ruang kerja. "Ge, dengarkan aku." Dan pintu yang tertutup membuat Mei tidak tahu kelanjutan pembicaraan mereka tentang apa.


Sepertinya benar, hari ini Kak Rion punya pekerjaan. Tapi dia memilih untuk menemaniku. Ah, lemahnya hatimu Mei begitu saja kau senang kan. Ya, walaupun tidak tahu pekerjaan apa yang tertunda, tapi hati gadis itu berdesir senang, karena Kak Rion memilihnya. Ketimbang bekerja.


Hehe, katanya aku istrinya, aku bukan bonekanya lagi.


Merilin! Apa yang kau tertawakan. Gadis itu malu sendiri karena rasa senang yang membuncah di dadanya. Dia lari ke kamar mandi dengan wajah memerah. Tapi bibirnya tidak berhenti tersenyum.


Percikan air hangat mengguyur, bibirnya masih senyum-senyum saja memikirkan kata-kata Kak Rion.


Aku istrinya Kak Rion sekarang, aku bukan boneka Kak Rion lagi. Aaaaaa! Hehe.


Sampai lupa menggosok badan, saking banyaknya tersenyum. Mei menyambar sabun, dan mulai membilas tubuhnya. Sebenarnya dia cukup lama di kamar mandi, tapi saat keluar hanya keheningan yang menyambut. Artinya Kak Rion belum selesai dengan pekerjaannya kan. Dia mengambil hp, berhenti memeriksa pesan. Tersenyum senang, lalu mengambil baju ganti.


Sampai hari ini, gadis itu tidak menyadari kotak pil kontrasepsi di lemarinya telah menghilang.


Grup chat yang isinya hanya tiga orang Mei, Dean dan Jesi, dua orang itu sedang berisik membahas Mei yang sudah move on. Untung saja mode getar, kalau tidak hp itu pasti sudah berbunyi tring-tring. Mei memakai baju rumahan. Bukan baju tidur, karena dia mau Vidio call dengan teman-temannya. Berhubung Kak Rion sepertinya akan lama, dan dia penasaran setengah mati dengan kencan Dean dan Kak Ge di kafe musim semi.


Mei memilih menelepon di balkon. Dia memutar hpnya, menunjukkan tanaman yang ada di balkon saat Jesi menanyakan dia ada di mana. Mereka berdua lebih berisik saat Mei memperlihatkan pemandangan malam kota dari jendela balkon.


"Cantik kan, padahal aku baru dilantai 12. Tidak tahu seindah apa kalau dilihat dari lantai tertinggi." Mei menunjuk kelip lampu di kejauhan.


"Wahhh gila, aku ingin pergi ke rumahmu Mei sekarang. Hehe, bercanda!" Jesi tertawa saat Dean memarahinya.


"Kau ini.."


"Maaf ya, aku sebenarnya ingin mengundang kalian tapi..." Bahkan keluarganya sendiri belum diizinkan Kak Rion untuk datang gumam Mei. Bagaimana mungkin dia mengundang teman-temannya.


"Hei, sudahlah, kami paham kok. Sudah jangan bersedih, aku mau cerita, dengarkan ya." Dean menghentikan rasa bersalah Mei. "Kami pergi makan malam karena aku berterimakasih atas bantuan Kak Ge."


"Kau sudah menyatakan cinta?" Jesi menyambar dengan pertanyaan yang juga sudah ditunggu Mei.


"Belum woi! Kau ini, aku kan baru beberapa kali bertemu dengannya." Dean menyentuh pipinya yang bersemu. Mei jadi gemas ingin meledek.


"Berjuanglah Dean. Haha. Korban kebaikan Kak Ge sedang menasehati mu."


Mereka tertawa bersama. Jesi meledek, temanku menikah dengan cinta pertamaku. Mendengar itu sekarang rasanya lucu sekali bagi Mei. Dia ikut tertawa. Di hatinya memang sudah tidak bersisa sama sekali nama Kak Ge untuk cinta. Karena dia malah ikut bahagia untuk Dean.


"Wkwkw lucu ya, bagaimana kalau kau membuat komik dari kisah kami berdua. Haha." Mei menutup mulut. "Sekarang, aku bisa tertawa, lucu ya Jes, padahal dulu aku menangis karena tidak bisa mengungkapkan perasaan ini."


Karena aku sudah memiliki Kak Rion, karena aku jatuh cinta pada suamiku. Aku juga, bukan lagi istri bonekanya. Hehe.


"Tapi Kak Ge itu beneran super tidak peka De. Kau jangan kode-kodean, langsung hajar aja." Jesi berapi-api. "Jangan seperti Mei."


Dean terdiam, tapi terlihat berfikir serius. Memang seperti itu faktanya gumamnya. Dia harus bergerak duluan.

__ADS_1


Dean menceritakan obrolan mereka yang topiknya malah tidak jauh-jauh dari Mei. Dia bangga menjadi teman Mei, sementara Kak Ge bangga menjadi kakak dari adik seperti Mei.


"Kalian sepertinya memang jodoh, kalau sudah membahas Mei. Wkwkw, benar kan Mei, setuju kan."


Mei mangut-mangut tertawa. "Lagian kenapa kalian malah membicarakan aku si, membicarakan tipe ideal kalian atau apa kek. Malah ngomongin aku."


"Padahal aku sudah kabur waktu itu supaya obrolan kalian romantis, eh tahu-tahunya yang dibahas Mei juga. Wkwkw." Jesi yang berusaha menyelamatkan kencan Dean dari obrolan tentang Mei, eh malah yang dibahas dua orang itu ternyata Mei.


Ketiganya tertawa, ia juga si, tapi entahlah, seru aja membahas tentang Merilin. Gadis tanggung yang banyak mengajarkan tentang arti kehidupan. Bagi Dean, Mei adalah sosok luar biasa, kalau dia, dia merasa tidak akan sanggup menjadi Mei. Mengorbankan hidup untuk kebahagiaan keluarganya, walaupun dengan kebahagiaan keluarganya dia mendapatkan kebahagiaannya sendiri.


Selesai membicarakan Kak Ge dan Dean sekarang giliran Jesi yang diberondong pertanyaan.


"Kak Arman pernah bertanya tentang pernikahan padaku, tapi aku masih menanggapinya dengan tertawa saja." Sebenarnya dari suara Jesi Mei maupun Dean bisa mendengar perasaan getir Jesi. Karena mereka tahu, apa yang diharapkan orangtua Jesi untuk suami Jesi. Mereka ingin Jesi bekerja dengan mapan begitu pula suaminya. Minimal pekerja kantoran. Sebelum Jesi menikah. "Ah, entahlah, aku juga belum terlalu memikirkannya sekarang."


"Coba bicarakan pelan-pelan pada orangtua mu Jes." Dean dan Mei bicara bersamaan.


"Padahal kalau dari uang gaji, Kak Arman bahkan lebih besar darimu Mei."


Mei dan Dean terkejut donk, karena mereka tahunya Arman pekerja freelance seperti Jesi. Ternyata perannya sebagai kakak sepupu palsu Sheri sama sekali tidak dicurigai.


Jesi menutup mulutnya kaget. Karena pekerjaan Arman masih menjadi rahasia mereka berdua. Karena ini berhubungan dengan Sherina yang belum bisa bicara jujur dengan Harven. Saat Jesi kebingungan berdalih, mereka menjerit bersamaan. Karena di layar Mei, muncul laki-laki bertelanjang dada.


"Kau bicara dengan siapa?" Rion melingkarkan tangan di bahu Mei. Gadis itu hampir loncat dari tempat duduknya saking kagetnya.


"Kak! Dean dan Jesi."


Bisa tidak si kau pakai baju dulu kak!


Dean dan Jesi menutup wajah dengan tangan. Jesi menggeser jarinya supaya agak renggang dan bisa mengintip. Dia terkikik. Mei dengan jelas melihat ekspresi mesum kalau Jesi sedang memikirkan adegan dewasa untuk komiknya


"Kalau begitu sudah ya Mei, kita lanjutkan nanti." Dean dan Jesi bersamaan kabur melambaikan tangan, setelah melihat apa yang dilakukan Rion dengan pipi Mei.


Kak Rion! Kau sengaja kan!


"Aku pikir kau tidur, ternyata malah ketawa ketiwi di sini."


Rion menarik Mei untuk bangun, lalu dia tiduran di kursi.


"Naik ke atas ku."


Pelan-pelan Mei, naik dan ikut berbaring di atas tubuh Kak Rion. Mereka berciuman lama, melepaskan lelah. Rion sedang mencoba meredakan emosinya yang sedikit meledak dan terpancing di ruang kerjanya tadi.


"Dean cerita tentang pendekatannya dengan Kak Ge. Jesi juga cerita tentang hubungannya dengan pacarnya."


Rion mendesah, artinya dia tidak mau mendengar hal tidak penting itu.


"Kau senang?"


Apa? Ini pertanyaan tentang apa?


Mei mengganguk, walaupun bingung dia harus senang karena apa.


"Aku akan mengizinkanmu mengundang mereka sesekali nanti. Setelah wawancara kita bicarakan lagi."


Benar kan, hatiku lemah sekali. Begini saja aku senang sekali.


"Keluarga mu juga, kau boleh mengundang mereka kemari."


"Terimakasih Kak, terimakasih banyak." Dua kali kecupan dibibir Rion. "Terimakasih Kak, terimakasih."


Apa karena sekarang aku bukan boneka Kakak lagi. Hehe, tapi sekarang, aku sudah jadi istri Kakak.


"Kenapa kau senyum-senyum?"


"Hehe, karena aku sedang senang Kak."


Mei merasakan senyum penuh ancaman mulai terlihat dari bibir Kak Rion. Apa lagi saat tangannya mulai meraba paha dan menyusup di bawah baju.


"Buka!"


Aaaaaa! Memang senyum itu artinya pasti itu!


Rion meraih dagu Mei.


"Karena kau sedang senang, jadi buat aku juga senang."


"Hah!"

__ADS_1


Sepertinya aku pernah mengalami kejadian ini deh! Apa ya? Seperti apa gitu? Bodohnya Mei kumat.


"Karena kau sedang senang, aku boleh kan menyuruhmu melakukan apa pun yang aku suka."


"Hah?"


Loading kepala Mei sepertinya agak lemot sedikit.


"Haha! Lucunya. Buka!"


Sambil melucuti pakaiannya, Mei sedang berfikir keras, seperti pernah mengalami kejadian ini. Sementara Rion tertawa terpingkal melihat ekspresi bodohnya Mei. Dia meraih pipi Mei, menghujani gadis itu dengan serbuan ciuman.


Mereka pindah ke kamar setelah menyelesaikan satu babak di kursi balkon.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


Kejadian di kafe musim semi.


Dengan alasan mau berterimakasih Dean mengajak Kak Ge pergi makan malam, dia bingung mau mengajak Kak Ge makan di mana supaya tidak terlalu kelihatan dia sedang melancarkan pendekatan. Padahal dengan kejiwaan Kak Ge seharusnya Dean tidak perlu memusingkan itu, karena di dalam hati pria berkaca mata itu tak pernah ada prasangka apa-apa di hatinya.


Dan untuk itulah dia memilih kafe musim semi. Dia akan beralasan tempat ini sering dia datangi bersama Mei dan Jesi. Makanya dia mau Kak Ge juga mencicipi makanan yang sering mereka makan bertiga.


Dean bersiap lebih awal dari jam mereka janjian. Sudah ganti baju tiga kali, yang ke empat kali dia sudah keluar di halaman dan berkaca di kaca mobil. Dia meringis tidak percaya diri dengan penampilannya akhirnya kembali masuk ke dalam kamar. Memakai baju yang pertama kali dia pakai.


Dean pun ternyata mengalami situasi bak anak ABG. Padahal ini bukan kencan. Lebih parahnya lagi, dia kan bukan Mei yang belum pernah pacaran. Dia sudah pernah pacaran juga. Malu sendiri dengan sikapnya yang seperti orang labil.


Akhirnya mobil melaju ke kafe setelah dia memakai baju pertamanya.


Dia datang sengaja setengah jam lebih awal supaya bisa menenangkan diri dan mempersiapkan apa saja yang ingin dia bicarakan nanti.


Tapi, saat masuk ke kafe.


"Kak Ge, lho Kakak sudah datang?"


Dean memeriksa jam di tangannya, dia memang datang lebih cepat dari jadwal kok. Dan tentunya bukan hanya Dean yang kaget, Serge pun demikian. Dia ikut memeriksa jam di tangannya.


"Ah, aku kebetulan ada urusan di daerah sini, karena cepat selesainya aku langsung ke sini dari pada pulang." Wajah Kak Ge yang memerah karena kikuk lucu sekali. Dean menertawakan dalam hati. Padahal wajahnya juga sama persis. Dan dalam hati pikiran Serge juga sama persis dengan apa yang Dean pikirkan.


Dia lucu sekali. Sepertinya alasan kita sama Kak, datang lebih awal karena kita tegang. Dean bergumam malu.


Entah kenapa gadis itu bukannya terlalu percaya diri atau besar kepala, tapi dia merasa Kak Ge tidak membencinya. Baginya, ini sebuah awal yang baik kan. Kata-kata Mei yang mengatakan Kak Ge baik kepada semua orang juga Dean tancapkan di hatinya. Supaya dia tidak terlalu berharap lebih. Intinya dia akan mengorek isi hati Kak Ge itu seperti apa sebelum menyatakan perasaan.


"Karena kita sudah datang lebih awal, kita langsung pesan makanan saja ya Kak. Biasanya aku ke sini bersama Mei dan Jesi."


"Oh kalian sering pesan apa? kalau begitu aku pesan sesuai rekomendasi Dean saja."


Dan akhirnya mereka memesan menu makanan yang biasanya mereka pesan bertiga kalau Dean datang dengan Mei dan Jesi.


Sambil makan obrolan dimulai, niat awalnya memang mengorek isi hati Kak Ge, tapi jadinya malah.


"Benar Kak, kalau ingat Mei dulu. Ah, rasanya aku mau menangis, bagaimana dia berjuang melunasi hutang ayahnya." Dean sudah mengharu biru sambil mengunyah makanan.


"Aku ingat sekali dia bahkan memakai pakaian alakadarnya ke kantor." Dalam artian lusuh. "Kalau ingat itu, aku juga rasanya sedih sekali."


"Tapi itu kan dulu ya Kak, sekarang Mei punya suami Tuan Rion." Dean lagi.


"Haha, benar sekali, aku juga ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka."


Dan akhirnya, pembicaraan mereka benar-benar cuma seputar Mei saja. Sampai mereka menghabiskan makanan mereka.


Di depan pintu kaca Kafe musim semi, Jesi menarik tangan Arman untuk berbalik.


"Lho kenapa? katanya mau makan disini?" Arman bingung, kata Jesi ingin menunjukkan kafe yang sering dia kunjungi dengan teman-temannya.


"Di dalam ada Dean dan Kak Serge."


"Wah, bagus donk, kita bisa sekalian makan bersama kan."


"Nggak boleh Kak, Dean sedang pendekatan dengan Kak Serge, nanti kalau aku ikut nimbrung pasti gagal romantis. Nanti kami malah membicarakan Mei karena dia yang nggak ada."


Jesi menarik tangan Arman, menyelamatkan pendekatan Dean dan Kak Ge supaya obrolan mereka tetap romantis. Dia menoleh sebentar, melihat Dean dan Kak Ge sedang tertawa senang.


Padahal dua orang itu sedang tertawa karena membahas Mei.


Bersambung


Siap-siap kerjaπŸ”₯

__ADS_1


Minggu ini wawancara untuk majalah perusahaan


Semangat Mei πŸ’–πŸ“


__ADS_2