Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
160. Terungkap Semua Rahasia (Part 2)


__ADS_3

Gardenia Pasifik Mall


Di lantai di mana pusat hiburan berada. Pintu bioskop baru saja terbuka, satu judul film sudah selesai diputar. Satu persatu penonton terlihat keluar. Ada yang terlihat puas sambil membicarakan film yang baru saja mereka tonton. Banyak pula yang bergandengan tangan sambil bicara dengan mesra pada pasangan di sampingnya. Tapi terlihat juga yang tampak lain dari kebanyakan orang di sana.


Sebenarnya mereka juga pacaran, dan saat ini sedang kencan. Tapi terlihat sekilas, di wajah keduanya kalau mereka sama sekali tidak menikmati film yang baru saja mereka tonton.


Ya, mereka adalah Serge dan Dean. Dua-duanya sedang mencoba menyembunyikan rasa cemas di hati mereka.


Si gila itu tidak melakukan sesuatu pada Mei kan? Ah, gila! aku takut terjadi sesuatu pada Mei. Mana Mei tidak membalas pesan yang dia kirimkan lagi. Membuat Serge semakin overthingking dengan kemungkinan terburuknya.


Sementara Dean, ah, semoga aku tidak salah sudah mengatakan tentang alasan Mei minum pil pada Tuan Rion. Tapi, kenapa Mei tidak membalas pesanku ya. Raut tegang sekilas juga terlihat, dia takut kalau sampai terjadi apa-apa, dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.


Yang dikhawatirkan kedua orang itu sebenarnya sama. Namun karena tidak berkomunikasi dan hanya tenggelam dengan pikiran masing-masing ya akhirnya begini. Sedangkan yang sedang dikhawatirkan malah sedang kecup-kecup basah di atas sofa di apartemennya. Kekhawatiran kalian berdua sebenarnya sama sekali tidak diperlukan.


Dean meraih tangan Serge, laki-laki itu terperanjat kaget karena sedang melamun memikirkan Mei dan Rion. "Haha, aku suka filmnya, bagaiman denganmu De?"


Padahal, aku tidak tahu apa yang aku tonton tadi, Serge bergumam malu. Karena kaget, mulutnya langsung nyeletuk. Dari Dean yang menahan senyum, sepertinya gadis itu tahu, kalau Serge berbohong.


Mereka berjalan ke area food court, membeli minuman lalu membawanya duduk ke kursi yang banyak berjajar. Kondisi food court juga lumayan ramai.


"Minumlah Kak." Dean menusuk sedotan lalu menyodorkan gelas ke depan Serge.


"Terimakasih, kau juga."


Dean menatap Serge, mengikuti setiap gerakan tubuh Serge. Membuat Serge jadi salah tingkah sendiri.


"Kenapa?" sambil menyeruput minuman Serge bertanya. "Kenapa melihat begitu? Ada sesuatu di wajahku?"


Dean menggeleng. Di wajah Kakak cuma ada ketampanan begitu arti senyum Dean yang terkembang. Gadis itu berdehem, membuat Serge semakin belingsatan.


"Kakak juga tidak menonton filmnya kan?" Dean tertawa kecil sambil menutup mulutnya, karena tergelak lucu melihat ekspresi kaget Serge. "Aku juga tidak menontonnya kok, karena kepikiran Mei." Kalau Dean langsung bicara apa adanya sekarang.


"Apa! Kamu juga?"


Jadi, apa yang sebenarnya kami lakukan di dalam sana! Rasanya Serge maupun Dean menyesali waktu yang terbuang percuma. Mereka bukan hanya tidak menikmati film, bahkan tidak terjadi apa pun di dalam sana. Seperti misalnya suap-suapan popcorn, atau salah mengambil gelas cola. Padahal sebelum masuk, ide jahil itu sudah ingin Dean praktekan. Pasti lucu sekali melihat ekspresi kaget Kak Ge.


"Ternyata kita sama-sama kepikiran Mei."


Serge dan Dean tertawa bersamaan. Menggoyangkan tangan mereka yang terpaut. Merasa lucu sekali dengan kelakuan mereka sendiri di dalam bioskop tadi.


"Aku khawatir De, Rion kan kadang tidak bisa mengontrol emosinya, walaupun aku yakin dia tidak akan melampiaskan kemarahan pada Mei, tapi aku tetap khawatir. Bagaimana ini ya."

__ADS_1


Rion mencintai Mei seperti dia menyayangi ibunya, jadi Serge yakin, Rion pasti akan memilih mengamuk di ruang kerjanya dari pada menunjukkan kemarahan pada Mei. Tapi, tetap saja Serge mengkhawatirkan adiknya itu.


"Benar Kak, apa yang kita bicarakan tadi pada Tuan Rion kan bukan hal sepele. Kalau terjadi sesuatu pada Mei bagaimana ya. Aku juga memikirkannya sepanjang nonton tadi, makanya aku tidak konsentrasi."


Dua orang yang sudah menjelma seperti kakak bagi Mei, sedang mengkhawatirkan adik mereka.


Serge kepikiran untuk datang ke apartemen, tapi dia takut akan membuat Rion semakin marah. Dean juga bingung, karena Mei tidak membalas pesannya.


Saat mereka sedang berfikir untuk mencari jalan terbaik, tiba-tiba Serge bicara setelah minuman di gelasnya habis.


"De, kamu tahu kan, kalau Mei dari awal menyukai Rion?"


Dean memiringkan kepala. Kenapa Kak Ge bisa membuat kesimpulan aneh begitu si pikirnya. Dulu, Mei itu menyukaimu Kak.


"Sebenarnya aku masih bingung, kenapa Mei sampai minum pil kontrasepsi." Jadi, tadi waktu bicara dengan Rion, Serge benar-benar mendapat bisikan kata-kata dari Dean. Walaupun laki-laki itu merasa heran, tapi dia mengatakan sama persis seperti yang dikatakan Dean. "Padahal Mei mencintai Rion."


Kesalahpahaman apa ini gumam Dean.


"Kak, bagaimana kalau apa yang Kak Ge pikirkan selama ini salah tentang Mei." Serge mengeryit, maksudnya? begitu arti sorot matanya bingung. Dean mengusap wajahnya, apa perlu dia mengatakannya pada Kak Ge. Dia takut nanti bisa tercipta kecanggungan di antara Kak Ge dan Mei. Tapi, Mei juga kan sudah tidak menyukai Kak Ge, dan laki-laki tampan dan menggemaskan ini sekarang pacarnya. "Kakak tahu kan, kalau Mei bergantung pada Kak Serge dulu."


Sepertinya Dean tidak bisa menyimpan rahasia ini lagi. Dia akan minta maaf pada Mei nanti. Sungguh, maaf Mei. Tapi, Dean benar-benar tidak tega, melihat Kak Ge yang tidak tahu apa-apa seperti ini.


"Aku kan sudah seperti Brama De, dia bergantung padaku karena Brama pergi."


"Benar, karena Kak Brama pergi, Mei tidak punya Kakak yang bisa menjadi tempatnya berbagi keluh kesah, jadi Kak Ge seperti datang menjadi pengganti Kak Brama. Mei yang tidak bisa terlihat lemah di hadapan Harven, hanya punya Kak Ge dan aku untuk mengadu. Hehe, Jesi itu kadang sifatnya masih seperti Harven, jadi terkadang Mei sering menempatkan Jesi seperti adik yang harus dia jaga. Jadi hanya ada aku dan Kak Ge, tempatnya berkeluh kesah."


Dean terkikik, karena melihat Serge yang tampak bingung mencerna kata-katanya. Dan ekspresi bingung itu lucu sekali. Kak Ge terlihat polos dan bodoh, ya itu kan beda tipis. Dean semakin tertawa, karena ditanya kenapa dia tertawa oleh Serge.


"Kak, coba lihat aku." Yang disuruh menatap langsung manut tidak berkedip.


Dean menopang dagunya dengan kedua tangan, bola matanya mengerjap, berbinar, sambil tatapannya menatap lurus ke arah Serge. Serge salah tingkah lagi. Apalagi saat Dean menarik sedikit bibirnya seperti tersenyum tapi tidak lebar. Dean menggunakan satu tangannya menutup matanya. Lalu dia tarik tangannya dan tersenyum lagi.


"Kau sedang apa De?" Serge benar-benar malu ditatap seperti itu. Dan dadanya berdebar dengan sangat cepat. Dean terlihat bersinar dengan cantiknya, ketika bibirnya tersenyum.


"Ini tatapan orang yang sedang jatuh cinta pada Kakak."


Deg..


"Apa sih? di kantor sekarang beberapa karyawan wanita melihatku seperti itu."


"Apa?"

__ADS_1


"Tapi mereka bukan suka padaku kok, mereka penggemar Rion. Haha, kau tahu, di kantor itu sampai ada grup chat penggemar Rion lho. Dan Mei juga masuk ke dalam grup chat itu. Haha, lucu ya. Makanya aku bilang, kalau Mei itu sudah suka duluan pada Rion."


Tatapan penuh cinta apanya, Serge sampai tergelak. Tidak mungkin para karyawan itu jatuh cinta padaku kan, sedangkan selalu ada Rion disampingnya. Haha, ada-ada saja.


Dean sebenarnya gemas dan ingin membahas rekan kerja Serge, tapi dia segera menarik nafas perlahan mengendalikan emosi. Dia tidak mau terlihat terlalu pencemburu sebagai pacar. Jadi lebih baik membahas Mei sekarang.


"Apa Kak Ge, tidak pernah melihat tatapan seperti yang aku berikan pada Kak Ge tadi dari Mei dulu?"


Deg..deg, apa si maksudnya? Maksudnya Mei menyukaiku juga. Dia jatuh cinta padaku dulu. Haduh, lelucon apa ini.


"Haha, kalau kau mau bercanda jangan kelewatan Dea, nanti kalau ada yang mendengar, apalagi kalau sampai Rion tahu. Dia bisa salah paham dan ngamuk lagi. Eh.." Serge berhenti tidak melanjutkan kalimatnya. Dia sedang berfikir, kilas balik semua hal. Mencoba mengingat ekspresi wajah yang sering ditunjukkan Mei padanya dulu. Mulutnya mulai terbuka, dia sepertinya mendapat pencerahan. "Mei menyukaiku? Makanya Rion selalu marah kalau aku bicara pada Mei? Dasar si gila itu, bagaimana dia bisa tahu, padahal aku sendiri tidak menyadarinya."


Terlalu banyak informasi yang masuk, membuat kepala Serge rasanya berdenyut. Bayangan wajah Mei dengan sorot mata berbinar, ya, dulu dia memang sering melihatnya di mata Mei. Tapi, setelah menikah dengan Rion karena jarang berinteraksi dia tidak pernah melihat Mei menunjukkan sorot mata seperti itu lagi. Ternyata karena perasaan Mei yang sudah berubah ya. Serge bergumam.


"De, kalau itu memang benar seperti yang kau katakan, bagaimana Mei? bagaimana hati Mei saat itu." Serge memukul pipinya sendiri. "Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, karena aku selalu merasa dia menghormatimu sebatas aku menggantikan posisi Brama. De, apa selama ini aku menyakiti hati Mei karena tidak tahu perasaannya?"


Sungguh, reaksi yang sangat mengejutkan, tapi ya sudah diduga Dean. Kak Ge, memang setulus itu pada Mei. Pacarku memang hatinya sangat lembut.


"Kak, kenapa kau baik sekali si, yang kau pikirkan masih Mei. Bagaimana aku tidak jatuh cinta pada laki-laki sebaik kakak. Kakak tidak kaget Mei menyukai Kakak? Apa perasaan Kakak tidak bergetar, dan jadi berbeda melihatku?" Karena jujur, Dean juga awalnya merasa takut, bagaiman reaksi Kak Ge kalau tahu Mei menyukainya.


Tapi, memang setulus itulah sosok Kak Ge, untuk Mei.


Kagetnya Serge cuma sesaat setelah tahu Mei menyukainya, karena yang paling penting baginya adalah, apa ketidak tahuannya tentang hati Mei melukai hati gadis itu. Apa selama ini Mei tersakiti. Sedangkan pada Dean, gadis di depannya masih sama cantik dan mempesonanya. Yang selalu membuat hatinya bergetar setiap bertemu.


"Aku kan merasa bersalah De, aku benar-benar tidak menduganya. Kok bisa Mei suka padaku diluar konteks aku membantunya sebagai Kakak. Aaaaa, membayangkan saja aku merasa bersalah kalau aku menyukainya. Mei itu benar-benar seperti adikku De. Karena saking dekatnya aku dan Brama." Entah kenapa Serge merasa perlu menjelaskan ini supaya Dean tidak salah paham. "Sekarang pun akan tetap sama, aku hanya merasa bersalah padanya. Tapi, aku menyukaimu."


"Aku tahu Kak, aku tahu. Tapi sekarang, perasaan Mei sudah hilang untuk Kakak kok. Kak Ge nggak papa kan?"


"Haha, pertanyaan mu aneh sekali, bagiku sampai kapan pun Mei akan selalu menjadi adikku."


Ada yang menerjang di sudut mata Dean. Padahal dia takut sekali kalau rahasia ini terbongkar, tapi ternyata, Kak Ge memang sebaik dan sedewasa itu.


Dean berdiri lalu mengulurkan tangannya, mengajar Serge bangun. Mereka berjalan berdua bergandengan setelah membuang gelas ke dalam tempat sampah.


"Aku berani mengejar Kakak, dan menyatakan perasaan pada Kakak, setelah aku mendapat izin dari Mei. Setelah Mei memastikan hatinya sudah move on dan jatuh cinta pada Tuan Rion." Dean menyandar di lengan Serge. "Ayo kita ke rumah Tuan Rion Kak, untuk memastikan Mei baik-baik saja. Kakak juga kepikiran kan."


"Kenapa lagi-lagi kau seperti tahu semua yang aku pikirkan si, kau bisa membaca pikiranku ya?"


"Haha, aku kan mencintai Kakak."


Karena semua yang Kakak pikirkan, terlihat di wajah Kakak. Dean tersenyum sambil mempererat genggaman lengannya. Mereka akan pergi menggangu pasangan yang sedang mesra-mesraan, yang sebenarnya tidak membutuhkan kekhawatiran mereka berdua.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2