Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
122. Ayah dan Ibu di Apartemen


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain. Dua orang yang sama sekali tidak berharap, akan datang permintaan maaf dari Amerla. Rion bahkan tidak mau melihat batang hidung wanita itu lagi. Apalagi sekedar permintaan maaf darinya. Dia tidak butuh rasa bersalah Amerla. Karena dia sudah berhasil mengobati lukanya. Dia sudah menutup lembaran masa lalunya, dengan pembatalan kontrak Andalusia Mall. Berharap, setelahnya, mereka tidak akan bertemu dalam situasi apa pun.


Gelap pagi sudah terangkat saat Rion dan Mei keluar dari kamar mandi, walaupun masih malu-malu, di ufuk timur, cahaya keemasan sudah muncul menerobos dedaunan, mengangkat embun di pucuk rerumputan. Sang matahari, mulai menunjukkan keperkasaannya sebagai penguasa siang.


Setelah keluar dari kamar mandi, Rion berdalih, mau menghangatkan tubuh Mei, karena ujung tangan gadis itu memang keriput, walaupun mereka mandi dengan air hangat sekalipun. Dia membawa Mei dalam dekapannya, masuk ke dalam kamar tidur. Dan terjadilah, proses penghangatan tubuh di luar nalar yang cuma bisa dipikirkan oleh Rion seorang.


"Kak... Kak Rion, tunggu! Aku nggak papa kok, nggak kedinginan juga." Mei tampak berdalih sebisanya.


"Diamlah, kau sudah bekerja keras di kamar mandi tadi, sekarang, giliranku. Biarkan aku menghangatkan tubuhmu. Berhubung tidak ada penghangat suhu di rumah ini kan." Alasan apa itu, Mei benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Kak Rion pikirkan dan ingin dia realisasikan apa yang sedang dia pikirkan itu.


Aaaaaa! Kenapa malah mulai menciumi lagi si!


Mei yang cuma bisa pasrah tidur terlentang dengan handuk yang sudah melorot entah kemana, saat ini, dia mulai merasakan sentuhan bibir Kak Rion, diujung tangannya. Kak Rion mulai menciumi ujung jarinya yang keriput, lalu bibir itu mulai bergeser, menjalar ke lengan dan bahu, sampai menemukan bagian yang senang sekali dia gigit. Dan begitulah, proses penghangatan tubuh itu terjadi. Sebagai bentuk balas budi Rion dengan apa yang Mei lakukan di kamar mandi tadi.


"Karena kau sudah membayar hutang, aku kasih bonus, karena aku suami yang baik. Haha."


Apa sih!


Kegiatan pagi, dimana air mandi tersapu handuk. Malah berganti dengan air yang lain, peluh yang menetes diantara tubuh yang saling bergelung di bawah selimut itu.


Dan setelah menyelesaikan urusan masing-masing.


Rion keluar kamar setelah bibi datang dan menyiapkan sarapan, dia hanya menyapa sekenanya sampul meraih nampan. Dia bilang mau sarapan dengan Mei di dalam kamar sambil malas-malasan karena ini akhir pekan.


"Apa nona muda sedang tidak enak badan?" Bibi bertanya dengan nada khawatir, dijawab dengan seringai dan disusul tawa serta gelengan kepala Rion. "Baiklah, saya akan membereskan rumah dan segera keluar supaya tidak menggangu Anda dan Nona." Entah kenapa bibi paham dengan arti tawa bahagia tuan mudanya. Lagi-lagi Rion cuma menjawab kata-kata bibi dengan tertawa.


Setelah Rion menghilang masuk ke dalam kamar, bibir menatap pintu ruang ganti. Tidak terjadi apa-apa kan semalam? Apa nona tidak menyadarinya? Bibi sedang berfikir serius. Apa nona memang sudah berhenti meminumnya sampai tidak menyadari pil kontrasepsi miliknya menghilang. Entahlah, tapi dia akan melaporkan sekecil apa pun kejadian yang terjadi hari ini kepada tuan besar.


Bibi meneruskan pekerjaannya, sampai dia merampungkan bersih-bersih di ruang kerja Rion. Dua orang yang sedang sarapan itu belum keluar juga dari kamar. Saat bibi melewati pintu kamar, terdengar suara tawa Nona Mei dan tuan mudanya. Lagi-lagi dia mengulum senyum dan bergegas. Berjalan pelan, supaya tidak menimbulkan suara.


Yang di dalam kamar tidur, serasa menjadi pemilik dunia. Tak perduli, matahari yang sudah meninggi sekalipun.


"Kakak, Kak Rion. Ahhhh, Kak! Awww. Awww."


Rion malah cekikikan.


"Apa si Mei?"


Padahal dengan isengnya menggigit jari istrinya yang sedang menyuapinya sarapan. Membuka mulut lagi, minta disuapi, tidak mau makan dengan tangannya sendiri. Mengigit lagi, sambil menjilat ujung jari Mei yang sudah normal kembali. Dengan sentuhan kehangatan, tangan keriput itu sudah seperti sedia kala.


Seperti itulah proses menghangatkan tubuh yang dilakukan dua orang itu di dalam kamar. Bukan hanya sebatas dengan makanan hangat, tapi ternyata sentuhan dan kecupan jauh lebih efektif menciptakan kehangatan. Membuat tubuh normal, dan juga lebih bersemangat.


...🍓🍓🍓...


Sudah tengah hari sepertinya.


Rion menguap, sambil menggantungkan lengannya di punggung Mei. Menempel, seperti Mei menempelkan lem di tubuhnya. Laki-laki itu menggelayut manja dari tadi. Sampai Mei kesusahan bergerak. Sekedar berjalan dengan tegak.


Mereka keluar dari kamar juga akhirnya. Berjalan bersama ke dapur, mau mengambil air dingin di dalam kulkas.

__ADS_1


"Lho, Bibi masih di sini?" Mei terkejut, bercampur malu tentu saja. Mentang-mentang akhir pekan baru jam segini keluar kamar. Aaaaa, malunya dia. "Maaf Bi, aku pikir Bibi sudah pulang."


Bibi tersenyum, sambil menutup kulkas. Dia baru saja merapikan bahan makanan yang dibawa nyonya tadi.


"Tadi saya sudah pulang Nona, cuma kembali lagi, karena nyonya mau mengantarkan bahan makanan dan vitamin untuk Nona." Menunjuk meja dapur. Ada tas kertas dua buah di sana. Dari tulisannya terlihat seperti tas dari toko bahan makanan sehat. Bibi menyodorkan botol air dari kulkas, karena Rion minta air dingin. "Nyonya juga ikut ke sini." Bicara pelan setelah bergeser ke dekat meja makan. Mau mengeluarkan isi tas vitamin.


"Apa!" Botol minum ditangan Mei melayang jatuh ke lantai. Percikan airnya bahkan mengenai kakinya. "Ah, maaf Bi, basah jadinya lantainya." Masih panik, jadi pikiran belum konek. Matanya berkeliling menyapu ruangan. "Ibu, ibu datang juga?"


Tidak ada siapa pun yang tertangkap matanya. Dia melihat Kak Rion dengan pandangan cemas. Sementara Rion, tentu saja santai seperti sedang rebahan sambil tengkurap di atas tempat tidur. Mau ibu atau ayahnya datang, tidak jadi masalah baginya. Malah senang, dia bisa lebih pamer kemesraan. Tanpa perlu mencari alasan menempel pada Mei. Dia mau kecup-kecup di depan ayah dan ibu juga tidak masalah.


"Biar saya yang bersihkan Nona." Bibi mencegah Mei yang mau mengambil lap dan membersihkan lantai. "Itu Nyonya di sana." Tangan bibi menunjuk seseorang yang baru ke luar dari balkon. Ibu Rion dengan pakaian simpel, dress terusan selutut berwarna coklat kopi. Rambut lurus ibu tergerai jatuh di bahunya.


Ibu memang selalu cantik, gumam Mei. Darah memang tidak bisa bohong. Karena itulah Kak Rion bisa setampan itu.


"Ibu! Ya Tuhan, maaf Bu. Maaf!"


Rion malah tertawa melihat kepanikan Mei. Tangan Mei mencengkeram lengannya. Gadis itu sedang malu teramat sangat. Bagaimana tidak, mertuanya datang, dia malah mesra-mesraan di dalam kamar.


Aaaaaaa! Kak Rion, mau ditaruh di mana muka ini Kak?


Mei mengingat-ingat, kejadian di kamar, apa saja tadi yang terjadi. Apa saja yang dia lakukan. Apa dia mengeluarkan suara yang aneh-aneh atau tidak. Telinganya memerah seketika. Tidak mau membayangkan. Tidak mau memikirkan. Karena saat diingat dia semakin malu.


"Kak Rion bagaimana ini?" Bergumam-gumam di belakang punggung Rion. "Jangan-jangan ibu dengar."


Aaaaaa! Tidak! Aku mohon!


"Ibu dari kapan datang? Besok juga kan kami pulang." Rion berganti menggelayut pada pinggang ibunya. Mencium pipi ibunya. "Ibu kangen padaku apa pada Mei sampai menyusul kemari?" Tersenyum pada Mei sambil memeluk ibunya.


"Kangen kalian berdua donk, anak ibu dan menantu kesayangan ibu. Ibu pikir kalian akan seharian di dalam kamar." Ibu malah menggoda, tidak perduli wajah menantunya sudah memerah karena malu.


"Ibu, maaf." Mei mendekati ibu, baru mendekat langsung dipeluk oleh ibu sambil mengusap-usap kepalanya. Jadi Rion memeluk ibunya, sementara ibu memeluk Mei. "Kenapa nggak bilang kalau ibu datang, kami juga nggak tidur kok tadi di kamar, cuma tiduran karena malas keluar."


Awwww! Kak Rion!


Padahal tangan Rion sedang memeluk ibu, tapi dengan isengnya jarinya menyusup di bawah baju mencubit pinggang Mei. Setelah Mei bicara begitu.


"Ibu sama bibi saja? Ayah kemana?" Rion melepaskan tangannya dari pinggang ibu. Menarik Mei untuk menempel padanya lagi.


Ibu menunjuk balkon di belakangnya. Mei langsung pias, saat menyadari, terdengar suara dari dalam balkon.


Apa! Ayah juga datang!


Rasanya dia mau sembunyi di belakang punggung Kak Rion saja seharian ini, tidak mau memberi salam pada ayah saking malunya. Apalagi saat laki-laki itu keluar dari balkon.


Ibu menjelaskan kenapa dia menyeret ayahnya Rion untuk datang bersama, karena ibu mau mengajak suami dan anaknya membeli baju untuk dipakai saat wawancara perusahaan nanti.


"Apa sih itu kan masih seminggu lagi, dan pakai baju yang biasa saja Bu." Rion menjawab asal. Ya, baginya wawancara kali ini tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya.


"Apa sih, apa sih!" Ibu memukul bahu anaknya, karena apa yang dikatakan anaknya sama persis dengan yang diucapkan suaminya. "Ini kan pertama kalinya kalian muncul bersama di majalah perusahaan. Apalagi menantu ibu yang mau wawancara." Menyentuh pipi Mei dengan penuh kasih sayang. "Kita harus menampilkan kekompakan sebagai keluarga."

__ADS_1


Ayah bahkan cuma berdehem saat mendengar ceramah yang diulang ibu. Dia sudah mendengar ini untuk kedua kalinya. Ayah memberi kode melalui tatapannya, supaya Rion mengalah saja dan menuruti kemauan ibunya.


"Sudah turuti saja ibumu. Bersiap-siap sana, kita keluar sekarang saja. Oh ya, pot bunga kalian bagus juga, apa idenya Mei untuk menempel stiker lucu-lucu di pot tanaman?" Ayah membuka pintu balkon. Tanaman dalam pot langsung tertangkap pandangan. "Bagus juga." Pujinya lagi.


Eh itu kan, awalnya stiker untuk hadiah Baim.


"Mei yang membeli stikernya, aku yang menempelnya. Bagus kan? Seleraku memang bagus." Memuji dirinya dengan tidak tahu malu. Mei cuma bisa nyengir. Tidak mau membahas stiker itu. Karena urusannya pasti akan jadi panjang.


Sambil menunggu Rion dan Mei ganti baju, ayah dan ibu melihat-lihat rumah anaknya. Memperhatikan, apa ada yang berubah, atau apa ada yang perlu ditambah. Karena anaknya kan sudah menikah. Bibi menjelaskan, kalau tidak ada perubahan yang signifikan dengan kedatangan nona. Hanya lemari pakaian saja yang terlihat nyata perbedaannya.


"Rumah ini memang kecil ya, Rion dulu memang maunya rumah yang tidak terlalu besar. Tapi, sekarang sudah berdua." Ibu memeriksa beberapa sudut ruangan.


"Kalau Mei hamil, sebaiknya suruh saja mereka pulang ke rumah." Ayah menimpali.


Akhirnya yang ditunggu keluar juga setelah ganti baju. Wajah menantu mereka memerah lagi. Entah apa yang barusan dilakukan anaknya. Tapi, ayah dan ibu benar-benar merasa bahagia dan bersyukur dengan keberadaan Mei di samping Rion. Anaknya kembali jadi laki-laki ramah yang murah senyum. Bahkan sering tertawa sekarang.


Ayah dan ibu terlihat pandang-pandangan. Lalu ibu menatap Mei. Gadis itu jadi merasa was-was, menunggu apa yang mau dibicarakan ibu.


"Nak..." Ibu meraih tangan Mei. "Setelah dari toko baju apa ibu dan ayah boleh mampir ke rumah ibumu?"


Mei tersentak dengan permintaan ibu yang tiba-tiba.


"Ah, kalau kau keberatan tidak boleh juga tidak apa-apa. Nanti juga nggak papa, kalau kamu sudah siap memperkenalkan ibumu pada kami."


Deg... deg.


Tidak, Mei bukannya mau menolak. Tapi dia merasakan keterkejutan. Karena ayah dan ibu Kak Rion benar-benar perduli padanya. Bahkan sangat memperhatikan perasaannya.


"Tentu saja boleh Bu, ibu saya pasti senang sekali bisa bertemu ayah dan ibu."


Nyut. Perasaan takut dan perasaan bersalah langsung membanjir di hati Mei. Dia merasa berdosa karena mendapatkan cinta dan kasih sayang yang berlimpah dari keluarga Kak Rion.


Mei jadi semakin berharap, kalau cintanya kepada Kak Rion benar-benar berbalas hal yang sama. Hingga mungkin, dia tidak perlu meminta pengampunan ayah dan ibu. Karena sekarang, dia benar-benar mencintai anaknya.


"Ibumu suka apa Mei, nanti kita belikan. Rion sudah memberi salam pada ibunya Mei kan?" Ibu kembali banyak bicara selama mereka dalam perjalanan menuju butik, tempat mereka akan membeli pakaian untuk wawancara.


Sebentar lagi, aaaaaa! Ayo Mei, kau harus berani.


Mei sudah membuat catatan kecil, sambil dia hafalkan, kata-kata yang akan dia ucapkan di depan Kak Rion nanti.


Rion memegang kemudi dengan satu tangan, sementara satu tangannya memegang tangan Mei. Dia menoleh sekilas pada Mei yang sedang memandangi wajahnya juga.


"Cium aku."


"Kak Rion!"


Plak! Tangan Mei reflek memukul bahu Rion.


Dari kursi belakang, ibu tertawa sambil senyum-senyum pada suaminya. Dia bersandar di dada suaminya. Dan satu kecupan mendarat di keningnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2