Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
46. Amarah Rion


__ADS_3

Ruangan CEO Andez Corporation.


Semua hal yang ada di dalam ruangan ini dipilih langsung oleh Rion. Dari desain interior, perabotan yang dipakai, bahkan sampai pada pemilihan tirai jendela, menunjukkan selera dan kelasnya laki-laki itu. Semuanya harus terlihat sempurna di mata Rion.


Pagi ini, setelah rasanya Serge melihat makhluk asing, karena Rion terlihat sangat bahagia saat turun dari mobil. Dia bahkan membalas sapaan karyawan dengan sedikit tersenyum. Serge berfikir Rion kerasukan karena selama ini tidak pernah dia begitu.


Tapi sekarang, deg, deg, laki-laki yang dilihat Serge sudah dalam mode normal. Dingin dan angkuh seperti hari biasanya.


Serge sengaja tidak duduk di depan meja Rion, dia memilih berdiri di belakang kursi yang dia pegang dengan kedua tangan. Karena sebentar lagi, mungkin tubuhnya atau udara di ruangan ini akan terbakar.


"Kau sudah gila ya!"


Api sudah menyala!


Amarah itu langsung meledak, bahkan sebelum Rion membuka lembaran proposal bisnis yang diletakan Serge barusan di depan Rion. Berkas itu melayang di udara dengan cepat, membentur wajah Serge. Tertangkap tangan Serge.


Sialan, padahal aku sudah sangat hati-hati, dia terlihat senang sekali tadi, jadi aku pikir dia tidak akan marah.


"Sudah kubilang berapa kali aku tidak mau berurusan dengannya, kau sengaja memancing kemarahanku."


Siapa yang mau memancing kemarahan mu! memang aku sudah tidak waras. Tidak dipancing saja selalu marah, kenapa aku repot-repot memancing segala. Merasa ngenes sendiri karena cuma bisa marah dalam hati.


Serge mengusap wajahnya yang pias. Pelan dia maju lagi selangkah. Mau menjelaskan kenapa sampai ada proposal bisnis dari Andalusia Mall masuk ke Andez Corporation.


"Kau tahu kan Gardenia dan Andalusia bersaing dalam bisnis. Kita kan yang membangun asrama karyawan Gardenia, jadi sepertinya Andalusia mengincar kita karena itu."


Asrama karyawan milik Gardenia Pasifik Mall membawa perusahaan mereka mendapat penghargaan bisnis, sebagai perusahaan yang memberikan kenyamanan pada karyawan. Bahkan profil perusahaan masuk ke dalam majalah bisnis yang populer di negara ini. Masyarakat yang kagum akan kinerja perusahaan membicarakan ini di sosial media dan menjadi trending yang cukup lama. Intinya, hal ini mereka pakai sebagai marketing menyentuh hati masyarakat dan meningkatkan pengunjung ke mall mereka. Jadi Andalusia juga ingin mengikuti jejak Gardenia Mall. Mereka ingin memberi tawaran kepada kita. Untuk membangun asrama karyawan mereka.


Walaupun itu faktanya mana Rion mau tahu. Yang dia mintai pertanggungjawaban Serge adalah, bagaimana proposal bisnis suami wanita sialan itu ada di mejanya. Rion tidak perduli dengan yang lainnya.


"Mereka siap bernegosiasi untuk harga dan semuanya, mereka menjanjikan tawaran yang jauh lebih baik dari apa yang diberikan Gardenia pada kita dulu.''


Sudah dibilang Rion tidak butuh fakta. Laki-laki itu bangun dari duduk, mendorong kursinya dengan kaki. Serge yang merasa terancam langsung mundur, tapi terlambat, jasnya sudah dicengkeram, dia ditarik dipojokkan ke tembok.


"Kau sedang main-main, padahal kau tahu aku benci dengan mereka, tapi beraninya kau meletakkan proposal itu di mejaku. Hah." Serge meringis kesakitan karena bahunya dicengkeram dengan kuat. "Aku tidak perduli dengan uang mereka sialan!"


Serge mendorong Rion, berusaha melepaskan bahunya.


Dasar gila kenapa dia kuat sekali!

__ADS_1


Rasa nyeri langsung muncul di lengan Serge.


"Rion, ini kan masalah pekerjaan, bisakah kau kesampingkan itu dulu. Lagi pula kau kan tidak akan bertemu dengan Amerla." Sepertinya Serge sudah tidak waras, karena kalau akal sehatnya masih jalan tidak mungkin nama gadis itu keluar dari mulutnya.


Plak!


Rasa panas langsung menjalar di pipi Serge, saat Rion menarik kaca mata Serge dan melemparkannya ke meja kerjanya, tamatlah sudah dia.


"Aaaaaa! dasar gila! Sakit tahu!" Serge juga memukul lengan Rion dengan sekuat tenaga. Membalas Rion. Sialnya lengan Rion seperti tidak bergeming, Inging ikut memukul wajah Rion dia tidak punya keberanian. "Sialan kau! Kenapa kau selalu mengamuk kalau ada yang menyebut Amerla, memang kau masih mencintainya. Hah! Kau masih berharap dia kembali padamu."


Serge yang jatuh terduduk menendang sepatu Rion, sepertinya Rion tersentak kaget dengan kata-kata Serge jadi dia berhenti. Serge mundur merayap saat melihat tangan Rion terkepal. Nafas laki-laki di depannya naik dan turun.


Kau yang belum keluar dari lubang masa lalu mu, kenapa kau mengamuk padaku sialan!


Tatapan menusuk di terima Serge.


"Keluar, kalau tidak mau ku hajar lagi."


Serge segera bangun, dia berjalan dengan cepat menuju pintu. Berbalik melihat Rion yang menghempaskan tubuh ke sofa.


"Bukan aku yang harus kau larang menyebut namanya, tapi kau yang harus keluar dari jerat masa lalu itu. Kalau kau sudah tidak mencintainya, seharusnya kau tidak perduli siapapun menyebut namanya. Dia gadis yang tidak berarti lagi untukmu Rion, bahkan saat dia berdiri di depanmu kau tidak akan bergeming. Itulah artinya move on yang sebenarnya."


"Keluar sialan!"


"Sekarang, kau sudah punya Merilin Kan, aku mohon Rion."


Sorot mata membunuh terlihat, membuat Serge segera membanting pintu. Nafas Serge naik turun, dia mengerang sambil menyentuh bibirnya yang sakit.


Dasar orang gila! Tidak, kau yang gila Ge! Aduh sakit. Kau yang gila karena mulutmu menyebut nama Amerla tadi.


Serge berjalan menuju ruangannya, mencari obat untuk meredakan nyeri di bibir dan pipinya. Ini pertama kalinya Rion marah sebesar ini padanya, tentu saja, karena ini pertama kalinya Serge dengan beraninya menyebut nama Amerla.


Setelah mengobati lukanya, dia berjalan lagi ke depan ruangan Rion. Menunggu, si gila itu pasti sedang menenangkan hatinya sekarang. Menunggu sebentar lagi dia pasti di suruh masuk. Belum sepuluh menit berdiri di depan pintu hpnya sudah bergetar.


"Masuk." Suara ketus di hp terdengar.


Tahan mulutmu Ge, tahan, walaupun bocah gila itu mengatakan apa pun jangan terpancing.


Tidak ada yang berubah, suasana masih terasa mencekam.

__ADS_1


"Duduk!"


"Tidak usah, aku berdiri saja."


Baru dilirik saja Serge sudah menciut nyalinya, dia menarik kursi dan duduk. Masih menumpuk kemarahan di wajah yang berkerut sambil membaca proposal bisnis dari Andalusia Mall.


"Apa ayahku sudah tahu?"


"Sudah, aku dengar Presdir mereka menemui ayahmu secara pribadi."


Entah apa yang dipikirkan Presdir gumam Serge, padahal dia tahu kalau Andalusia Mall adalah milik suami wanita yang sudah menghancurkan anaknya.


"Dia tidak mengatakan apa pun seperti biasanya kan?" Rion mengetuk proposal dengan pena, membuat coretan di atasnya.


Dasar orang gila, begitulah yang diucapkan Serge saat melihat coretan pena Rion di draf proposal itu.


"Beliau pasti menyerahkan keputusan padamu, karena Presdir percaya dengan pilihanmu."


Walaupun dia pasti memarahiku juga, apa pun keputusan yang kau ambil.


Tapi ini proyek besar, dan sangat sayang untuk dilewatkan, begitulah pendapat Serge, selain materi tentu menjadi ajang promosi Andez Corporation sendiri.


Eh, tunggu, bukankah aku bisa memakai alasan ini. Jiwa-jiwa pengarang Serge memanas. Dia menemukan sebuah alasan jitu agar Rion mau menerima proyek ini. Serge melihat kacamatanya, disambarnya benda itu, sekejap sudah bertengger di matanya.


Rion yang melihat, tergelak sinis.


"Sakit?"


"Sakitlah, sialan kau! Ah, sudah tidak terlalu sakit kok, sudah ku obati." Takut Rion mengamuk lagi, memilih mengalah dan berlapang dada. "Tanganmu tidak sakit?"


Rion mengangkat tinjunya ke depan wajah. Entah siapa yang dia bayangkan ingin dia tinju dengan tangan itu. Semoga dia tidak berfikir itu aku gumam Serge.


"Tolak proposal ini, kau karang sendiri alasannya."


Melemparkan proposal bisnis ke depan Serge, Rion tidak mau terlibat dengan mereka. Dia takut, seperti apa yang dikatakan Serge tadi. Dia takut, arti kemarahannya kalau nama gadis itu disebut adalah karena ada perasaan yang masih tersisa di hatinya.


Tidak, dia membenci wanita itu dan semua yang berhubungan dengannya. Sangat teramat sangat benci.


Merilin, tiba-tiba nama itu muncul di kepala Rion. Menghapus rasa sesak yang tadi memuncak saat nama Amerla menguasai ingatannya.

__ADS_1


Mei sedang apa ya sekarang.


Bersambung


__ADS_2