
Ruang kerja presdir.
Ayah Rion menutup laci meja kerjanya, setelah memasukkan hp. Dia baru saja melihat lagi, foto-foto yang dikirimkan bibi padanya tadi pagi. Karena foto itu, kecurigaannya pada menantunya yang sudah menguap seperti datang lagi.
Sebenarnya rasa marah sedikit mencuat di hati Presdir, kenapa sampai menantunya melakukan itu. Namun, dia masih bisa berfikir dengan kepala dingin untuk tidak langsung memanggil menantunya.
Dan saat melihat kemesraan Rion dan Merilin, hatinya kembali goyah. Dia melihat cinta dan kasih sayang Rion yang ditunjukkan pada istrinya. Mengingatkan dirinya pada masa muda juga. Hingga ayah Rion merasa perlu memanggil anaknya dulu untuk bertanya, sebelum memutuskan tindakan apa yang akan dia ambil.
Kenapa menantunya sampai minum pil kontrasepsi, apa Rion yang memintanya. Pertanyaan itu silih berganti. Masalah anak baginya sangatlah penting, karena anak Rion kelak akan menjadi penerus Andez Corporation.
Apa karena mereka baru saja menikah? mereka ingin menikmati waktu bersama? Ya, ya, itu juga mungkin alasannya. Apalagi pernikahan mereka juga belum diumumkan ke publik. Terlalu banyak alasan yang masuk akal muncul, hingga ayah Rion masih menyimpan rahasia ini, belum menanyakannya pada Merilin. Dia pun melarang bibi mengambil pil-pil itu. Begitupula menyampaikan rahasia ini pada istrinya.
Ibu Rion belum tahu apa-apa.
Padahal ibunya Rion pasti akan senang kalau menantunya segera hamil gumam ayah, istrinya yang tidak bisa mengandung lagi setelah kelahiran Rion, karena faktor kesehatan, pasti sangat menantikan cucu dari satu-satunya putranya.
Terlalu banyak alasan juga untuk kecewa. Begitulah situasinya sekarang.
Selepas makan malam, ayah memanggil Rion masuk ke dalam ruang kerja. Sementara Merilin menemani ibu. Dua orang laki-laki yang ingin membicarakan hal yang berbau pekerjaan, begitulah yang dipikirkan ibu dan Mei. Hingga kedua wanita itu juga tidak mau menggangu.
Tapi ternyata tidak seperti itu. Karena ada hal yang jauh lebih penting ingin ditanyakan ayah pada putranya.
Rion sudah duduk sambil bersandar, malas-malasan, ayah duduk di depan Rion dengan pandangan serius. Menilai sekilas suasana hati anaknya, sejak datang dia sudah terlihat senang, selepas bangun tidur siang sepertinya auranya semakin cerah pikir ayah.
"Bagaimana ibunya Mei? Apa semua baik-baik saja?" Ayah membuka pembicaraan dengan bertanya perihal ibu Merilin terlebih dulu.
"Dia mirip dengan Mei, haha. Mirip sekali yah, bahkan rambutnya juga." Tertawa, membagi cerita lucu pada ayahnya. lalu senyumnya berangsur menghilang. "Tapi kasihan sekali, dia masih berfikir kalau ayahnya Mei masih hidup."
"Maksudnya? kondisi kejiwaannya yang terganggu." Alasan perihal penundaan pengumuman pernikahan, karena ibunya sakit, bukan sekedar alasan.
"Begitulah, kata Mei karena ibu shock setelah ayahnya meninggal jadi seperti itu." Rion juga melihat keprihatinan di mata ayahnya. "Tapi kata dokter bisa disembuhkan, tapi ya proses penerimaan diri kan butuh waktu yang lama yah."
Ibu harus bisa menerima kenyataan dengan ikhlas, itulah intinya. Menghancurkan dunia fantasi yang dia bangun. Melepaskan kepergian suaminya, menatap masa depan lagi dengan cara yang berbeda. Bahwa dia juga bisa hidup keluar dari bayang suami yang dia cintai.
Dan semua perlu bersinergi untuk membantu proses kesembuhan ibu. Rion berharap setelah keluar dari RS, tinggal di rumah yang nyaman, kondisi kesehatannya akan membaik. Sesekali, dia akan mengizinkan Mei mengunjungi ibu di rumahnya nanti. Begitulah rencana Rion ke depannya.
"Syukurlah, kau perhatikan ibu mertuamu dengan baik, berikan fasilitas pengobatan yang terbaik untuknya." Ayah bahkan akan memberikan bantuan kalau dibutuhkan. "Kalau ibu Mei sudah sehat, kalian kan bisa mengumumkan pernikahan ke publik, posisi Mei akan diakui secara terbuka sebagai menantu Andez Corporation."
Kalau dulu, Rion tidak tertarik, omong kosong tentang mengumumkan pernikahannya. Kalau sekarang, dia tersenyum, dia menantikannya. Saat Mei terikat semakin kuat dengannya.
"Hemm, aku akan menyuruh Serge mencari dokter terbaik untuk ibu. Ayah jangan khawatir, aku juga menantikan pesta pernikahan kami yang meriah."
Rion membahas sedikit tentang kedekatan keluarga Merilin. Tentang adik dan kakak Mei yang dia temui juga di RS. Dibahas Rion sambil lalu saja. Dia ingat nama kakak dan adik Mei sudah sesuatu yang sangat luar biasa untuk ukuran orang yang tidak perduli pada orang lain.
Setelah pembicaraan cukup panjang mengenai ibu Mei, ayah merasa dia akan masuk ke poin utamanya dia memanggil Rion malam ini.
__ADS_1
"Perihal anak bagaimana?"
"Apa sih!" Rion duduk tegak, tertawa pada ayahnya. "Kenapa membahas anak lagi Yah, memang ayah pikir aku sudah berapa lama menikah."
Menggelikan, baru sekitar seminggu menikah, ayah sudah membicarakan tentang anak. Padahal dulu katanya aku lahir setelah kalian setahun menikah kan.
Rion tidak habis pikir dengan pertanyaan ayahnya.
"Aku belum berfikir tentang anak."
Toh, bukan aku yang menentukan Mei hamil atau tidak, aku si sudah menyerangnya dari segala arah. Tapi anak kan urusan Tuhan. Rion bicara sekenanya meyakinkan ayahnya kalau dia belum menginginkan anak, supaya ayah tidak mengungkitnya di depan Merilin. Dia tidak mau gadis itu terbebani. Bagaimana pun perihal anak dan penerus adalah hal sensitif bagi ayahnya.
Jadi, perihal pil kontrasepsi memang keinginanmu. Ayah melihat laci meja kerjanya. Tadi pagi saat bibi menemukan pil kontrasepsi di lemari pakaian menantunya, bibi tidak mengambilnya hanya memfotonya. Saat menerima foto itu, jujur pikiran ayah Rion sangat campur aduk.
Tapi ternyata memang kau yang ingin menundanya dulu ya, gumam ayah. Dia tidak akan protes sekarang atau mendikte Rion karena ini keinginan anaknya. Sepertinya kalian masih ingin menikmati momen pengantin baru ya. Ayah Rion mengambil kesimpulan seperti itu pada akhirnya.
"Baiklah, ayah paham, kalian pasti ingin bersenang-senang berdua, ayah dan ibu tidak akan memaksa. Tapi jangan menundanya terlalu lama."
Apa sih, ayah hari ini kenapa bicaranya aneh sekali. Memang siapa yang menunda, anak kan urusan Tuhan. Tapi Rion malas menyanggah untuk meluruskan, yang penting ayahnya sudah paham untuk tidak membahas perihal anak di depan Mei.
Ayah Rion akan membiarkan masalah pil kontrasepsi untuk sekarang ini, karena dia berfikir Rion yang menyuruh Mei melakukannya.
"Bagaimana dengan Andalusia Mall? kau benar-benar sudah tidak apa-apa kan?"
"Jangan khawatir, aku bisa membedakan pekerjaan dan masa lalu. Ayah, Amerla hanya debu masa laluku, aku tidak perduli padanya walaupun dia berdiri di depanku." Rion mendongak melihat langit-langit. Wajah Merilin seperti terukir disana. "Aku bahagia dengan pernikahanku Yah." Sekarang tatapannya tertuju pada ayahnya. "Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku."
Benar, aku terlalu khawatir, padahal dia terlihat benar-benar mencintai istrinya.
"Baiklah, ayah percaya padamu. Besok temani ayah main golf ya."
Rion sudah menguap malas, rencananya besok dia hanya mau bersama Mei.
"Ibumu pasti mau mengajak Mei besok, ada kegiatan sosial yang mau dia datangi. Dia pasti berencana membawa Mei."
Apa! Kenapa tiba-tiba, memang siapa yang mengizinkan. Rion baru mau protes tapi mendengar ayahnya bicara lagi akhirnya dia cuma mendengus.
"Biarkan saja, ibumu mau pamer pada teman-temannya kalau dia sudah punya menantu. Hari ini masih banyak yang memasukan proposal perjodohan pada ibumu untukmu." Kelemahan dari tidak mempublikasikan pernikahan Rion memang ini. Masih banyak kolega ayah yang menawarkan anak gadisnya untuk Rion.
"Kalau begitu aku mau mengantar Mei dan ibu saja." Daripada menemani ayah, masih lebih baik mengantar ibu, karena dia bisa melihat istrinya juga. Rion bangga dengan ide cemerlang yang baru saja dia pikirkan. Tapi, baru saja bangga ayah sudah menjungkir balikkan rencananya.
"Kau pikir, kenapa selama ini ayah tidak pernah mendampingi ibumu kalau dia sedang ada acara?"
"Karena ayah sibuk kan?"
Pembicaraan ayah dan anak jadi sangat panjang.
__ADS_1
"Siapa bilang, kalau ibumu mau ayah temani, pasti ayah memilih menemani ibumu. Tapi dia selalu menolak, alasannya kalau aku datang, media malah akan fokus meliput Presdir Andez Corporation, ketimbang rencana amal yang sedang ibu hadiri."
Rion menjatuhkan tubuh ke sofa, ternyata begitu ya alasannya, pasti ibu juga akan menolak kalau dia mau mengantar. Hah! Aku kan ingin bersama Mei selama akhir pekan. Agak manyun mulut Rion sambil mendekap bantal dalam pelukannya.
"Padahal aku ingin bersama Mei seharian."
Ayah tertawa mendengar anaknya merajuk. Aku tidak perlu bilang kan, kalau Andalusia Mall juga terlibat, dan mungkin saja wanita yang sudah mencampakkan Rion akan bertemu dengan ibu dan istrinya. Sepertinya tidak perlu gumam ayah, karena Rion kan benar-benar sudah melupakan gadis itu.
"Ayah, bantu aku membujuk ibu supaya boleh ikut."
"Tidak mau, nanti ibu marah pada ayah."
"Ah, ayah, aku malas main golf. Sama siapa saja besok?"
"Presdir Andalusia Mall dan anaknya sepertinya akan datang."
Hah! Rasanya semakin malas Rion untuk pergi dengan ayahnya. Tapi kalau dia menolak pergi sekarang, jangan-jangan ayah akan curiga.
Rion bangun dari sofa.
"Aku mau mencoba bicara sama ibu dulu."
"Biarkan saja, ibumu sama Mei, biar mereka lebih akrab. Kalau kau mau keluar, panggilkan bibi kemari."
"Baik."
Rion keluar ruang kerja ayah, tumben memanggil bibi sampai masuk ruang kerja. Tapi energinya tidak mau dia buang untuk memikirkan hal sepele begitu. Lebih baik berusaha membujuk ibu supaya mau diantar olehnya kan.
Pokoknya, aku cuma mau bermalas-malasan di akhir pekan bersama Mei, untuk apa aku libur bekerja kalau tidak bisa melihatnya.
Epilog
Bibi berdiri di depan Presdir.
"Biarkan saja pil-pil itu, ternyata Rion yang mau menunda memiliki anak. Tidak usah membicarakannya juga dengan Mei, pura-pura saja tidak tahu. Jangan sampai istriku juga tahu."
"Baik Tuan."
Ternyata ini keinginan tuan muda ya gumam bibi, kalau begitu mau bagaimana lagi. Bibi menundukkan kepala dan keluar dari ruang kerja.
Maksimal tiga bulan, ayah bergumam, dia akan membiarkan masalah pil kontrasepsi ini. Karena dia takut, kalau terlalu lama menantunya minum, akan berefek jangka panjang. Bagaimana kalau nantinya Mei jadi susah hamil seperti istrinya.
Tiga bulan saja.
Bersambung
__ADS_1