
Seperti yang dipikirkan Merilin, akhirnya dia melepas celana panjangnya yang kedodoran. Dia disuruh berputar lagi, Rion masih belum berhenti tertawa saat berkata "Hemm, lumayan, ini lebih baik."
Orang aneh! kenapa kau tertawa terus!
Padahal setahu Merilin, Rion adalah manusia sedingin salju yang tidak bergeming melihat kejadian apa pun saat di kantor. Dia tidak pernah tersenyum bahkan pada karyawan yang menyapanya. Kak Serge pun bilang, untuk jangan sakit hati kalau Rion bahkan tidak pernah tersenyum atau menyapamu saat di rumah Mei. Dan Merilin menyiapkan hati, seluas-luasnya untuk tinggal dengan manusia yang memiliki dideskripsikan seperti di atas.
Tapi ini apa! Kau bahkan tertawa untuk alasan aneh.
Suap-suap makanan mereka masing-masing ke dalam mulut. Entah rasanya apa di lidah Merilin, dia hanya perlu makan yang banyak supaya punya energi menghadapi suami aneh di depannya.
Rion menggigit sendoknya sambil melihat Merilin makan dengan lahap. Dia tersenyum jahat lagi.
"Benar, makan yang banyak Mei, kau butuh tenaga ekstra untuk malam ini." Merilin langsung kaku. Dia malah jadi tidak bisa menelan. "Haha lucunya." Sendok berdenting, dengan santainya Rion makan lagi.
Jangan ditanggapi Mei, biarkan saja orang gila itu tertawa. Ya, ya, kau itu dianggap boneka badut sepertinya sekarang.
Merilin terus makan menghabiskan makannya, tidak bicara sepatah kata pun lagi. Saat dia mengangkat kepala, melirik diam-diam. Tergagap saat Rion melihat dengan sorot mata tajam ke arahnya. Saat kebingungan mau berekspresi apa, dia meraih gelasnya, sampai terbatuk-batuk karena minum terburu-buru. Dan Rion hanya tertawa melihat kelakuan bodohnya itu.
...๐๐๐...
Setelah makan malam selesai Merilin duduk di ruang tamu. Merilin memilih turun dan duduk bersila di karpet. Menarik bajunya untuk menutupi pahanya. Dia meraih bantal kursi untuk menutupi paha.
Rion keluar dari ruang ganti, membawa sesuatu di tangannya. Dilemparkan benda kecil itu di depan Mei yang sedang memegang kotak hp baru miliknya. Dia tidak duduk.
"Pakai itu dulu untuk membeli semua kebutuhanmu. Sebelum Serge menyiapkan kartu pribadimu." Merilin meraih kartu berwarna hitam milik Rion. "Kau bisa membeli apa pun dengan itu Mei, asalkan itu untuk kau pakai sendiri."
Apa sih, yang keluar dari mulutnya selalu ancaman.
"Baik Kak, aku akan memakainya dengan hati-hati." Memasukkan kartu ke dalam kotak hp.
"Pakai sesukamu, kenapa juga kau harus hati-hati. Beli baju, tas, sepatu. Ah ia, baju tidurmu juga. Ah, terserah semuanya. Tapi, kalau kau memakainya walaupun cuma untuk membelikan Serge kopi, aku akan marah dan menghukummu."
Hih, apa sih, orang aneh. Kak Serge itu kan temanmu! Sabar Mei, dia kan manusia bunglon berubah warna dalam sekejap seperti suasana hatinya.
"Baik Kak, aku akan membeli kebutuhan hidupku dengan ini. Aku akan belanja besok setelah pulang kerja. Terimakasih Kak." Pelan-pelan dengan tulus mengucapkan terimakasih.
Rion melengos tidak menjawab, berjalan dua langkah dia berhenti.
__ADS_1
"Cepat selesaikan hp mu dan masuk ke kamar. Aku lelah."
"Ia Kak nanti aku menyusul, selamat istirahat."
Merilin masih menatap Rion yang berjalan ke kamarnya, terlonjak kaget saat Rion membanting pintu. Apa sih, kenapa marah! Merilin cuma bisa mengelus dadanya. Gadis itu mana tahu kalau seharusnya dia meletakkan hp dan menyusul Rion. Itu yang sebenarnya diinginkan suaminya.
Setelah keheningan menyergap, Merilin membuka kotak di tangannya. Ah, hp yang mirip dengan milik suaminya. Tidak sepertinya ini sama persis dengan hp yang dilihat Merilin dipakai Rion.
Kenapa si Kak, kau membeli hp yang sama begini dengan punya Kak Rion.
Saat mengeluarkan semua isi kotak, ada dua kertas jatuh. Satunya bertuliskan nomor hp. Milik Serge dan Harven. Dan satunya sebuah surat yang ditulis tangan, Mei mengenali tulisan siapa itu.
Hallo Mei, surat ini jangan sampai Rion tahu ya.
Rion menyuruhku membeli nomor baru, sepertinya dia tidak mau kau memakai nomor lamamu. Turuti saja dia ya, aku sudah menuliskan nomorku dan Harven di kertas. Sebelum kau menyimpan nomor kami, simpan dulu nomor Rion di hpmu ya.
Merilin cuma bergumam, dih memang dia perduli hal begituan. Tapi Merilin segera terbungkam dengan lanjutan tulisan Serge.
Mungkin kau akan merasa aneh kenapa melakukan itu, tapi percayalah, Rion memang seaneh itu. Maaf ya Mei, sepertinya Rion sudah menganggap mu miliknya, jadi kedepannya jauh lebih berhati-hati kalau kau bicara tentang orang lain. Termasuk aku dan keluargamu.
Tolong hancurkan surat ini Mei setelah kau membacanya. Demi keselamatan ku. Haha, aku jadi seperti mata-mata.
Dari Kakakmu Serge.
Deg. Senyum di bibir Merilin saat membaca analoginya tentang mata-mata lenyap seketika. Dari Kakakmu Serge meruntuhkan senyuman Merilin. Gadis itu meremas surat Serge, lalu merobeknya menjadi kecil-kecil. Ada kesedihan membuncah di hatinya sekarang.
Tenanglah Mei, jangan bersedih, apalagi sampai kau menangis. Kalau Rion sampai bertanya kau mau menjawab apa. Merilin memaksakan bibirnya tersenyum. Berdiri berjalan ke dapur, membuang sobekan kertas itu ke dalam tempat sampah. Bercampur dengan pembungkus makanan tadi.
Merilin membawa kota hpnya, berjalan menuju kamar. Di depan pintu dia mengetuk beberapa kali. Sambil bertanya apa dia boleh masuk. Tidak ada sahutan sama sekali, akhirnya perlahan dia membuka pintu. Lampu masih menyala. Rion masih duduk bersandar di tempat tidur sambil memegang hp.
Dia belum tidur? kenapa tidak menjawab.
Kamar tidur yang sangat simpel dan minimalis gumam Mei. Tidak ada sofa, padahal gadis itu berharap ada sofa di kamar. Bisa dia pakai beralasan nanti. Ada meja dengan kaca serta kursi bulat, seperti sofa singel yang cuma bisa diduduki satu orang. Di dekat jendela ada alat olahraga. Merilin mendekat ke tempat tidur, sebelumnya meletakkan kotak hp di meja, masih memegang hpnya.
"Maaf Kak, aku tidur di kamar..."
"Naik..."
__ADS_1
"Baik Kak." Menciut sudah nyali yang tersisa. Merilin naik ke atas tempat tidur, menarik selimut sampai menutupi pangkuannya dia masih duduk.
Apa aku langsung tarik selimut dan miring ke kanan ya. Pura-pura menguap Mei. Tapi langsung tersadar saat melihat hp di tangannya. Dia kan harus meminta nomor Rion sebelum memakai hpnya untuk menyimpan nomor Kak Ge dan Harven. Mungkin ini sebagai simbol meminta izin ya, gumam gadis itu dengan pemikiran Kak Serge.
"Kak, apa aku boleh minta nomor Kak Rion." Merilin menyodorkan hp dengan kedua tangannya. Sesaat Rion terdiam, tapi kemudian dia tersenyum dan menyambar hp ditangan Merilin. Laki-laki itu terlihat semakin puas ketika mulai memasukkan nomornya, dan melihat kalau dia nomor pertama yang disimpan.
Rion melemparkan hp ke pangkuan Merilin, setelah hpnya berbunyi. Dia menyimpan nomor Merilin juga di hpnya.
Cintaku๐
Merilin agak merinding dengan nama yang dipakai Rion untuk menyimpan nomornya. Mau menggantinya juga tidak punya keberanian.
Rion menunjukkan layar hpnya, Merilin menunduk melihat.
Love๐
Wajah Merilin mengeryit penuh tanda tanya, kalau hpnya masih masuk akal Rion iseng menulis begitu, tapi kenapa dia menyimpan nomorku dengan nama yang membuat merinding begitu. Merilin bahkan sudah menebak nomornya akan disimpan dengan nama bonekaku.
"Jangan besar kepala, aku menyimpan nomormu begitu karena ibu sering meminjam hpku."
"Tidak Kak, aku tidak berfikir apa-apa kok."
Dih, aku juga juga tidak berfikir kau menyimpan nomorku dengan nama itu karena kau menganggapku cintamu. Hiiiii, Mei, membuat orang merinding saja kau berfikir begitu.
Kau hanyalah istri bonekanya Mei, gadis itu menyadarkan diri. Kau itu dianggap barang miliknya, sekarang badut yang bisa membuatnya tertawa. Terserah dia mau memperlakukanmu bagaimana. Ya, ya. Merilin akan berlapang dada seluas samudra.
Rion masih melihat hpnya. Membuat Merilin memasukkan nomor Harven dan Kak Serge dengan cepat. Lalu mengirim pesan pada Harven, menyampaikan kalau dia baik-baik saja dan sudah kembali ke ibu kota. Setelah itu meletakkan hp di meja. Menurunkan tubuh pelan-pelan, masuk ke dalam selimut. Menarik selimut sampai ke batas leher.
"Selamat malam Kak, selamat istirahat." Baru saja memejamkan mata dan berfikir mau memutar tubuh ke arah kanan atau kiri dia sudah merasakan kakinya tertindih. Saat matanya sedikit dia buka, Rion sudah ada di sampingnya. Menyangga kepala dengan tangan kanannya.
Apa!
"Kau tidak berfikir aku akan membiarkanmu tidur begitu saja kan Mei, bonekaku yang lucu dan menggemaskan."
Senyum Rion membuat sekujur tubuh Merilin langsung kaku dan terasa dingin.
Bersambung
__ADS_1