Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
76. Berbaikan


__ADS_3

Kamar VIP ruang perawatan pasien, dimana ibu Merilin di rawat.


Kondisi kaki ibu semakin membaik dari hari ke hari. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Minggu depan ibu sudah bisa keluar dari RS. Pengobatan jangka panjang mental ibu akan dilakukan melalui rawat jalan. Seperti itulah laporan kesehatan yang disampaikan dokter pada Merilin dan Brama di ruang kerja dokter. Tentu saja ini kabar baik untuk semuanya.


Sebelum menemui dokter keakraban coba dibangun Merilin dan Harven, walaupun tetap terasa canggung. Apalagi ada anggota baru suami Mei dan istri Brama.


Karena ibu yang terlihat bahagia, memudahkan semuanya. Mereka terlihat rukun, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


"Jadi ini suaminya Mei, maaf ya Nak, saat kalian menikah, ibu sama ayahnya Mei nggak bisa datang. Ayahnya Mei malah sibuk sekali." Ibu bicara dengan suara lembut.


Deg. Mereka saling pandang, Harven dan Brama, karena arah pembicaraan ibu terasa tidak asing. Ibu bicara sama persis seperti yang dia katakan tadi pada istri Brama sebelum kedatangan Mei. Suaminya sedang menangani proyek penting, jadi sering lembur bekerja, beberapa hari ini malah tidak pulang karena saking sibuknya. Begitulah yang ibu sampaikan tadi dengan suara sedih meminta maaf pada istri Brama. Dan sekarang, perkataan itu terulang lagi untuk suami Merilin.


Reaksi Rion menanggapi ibu, mengagetkan Merilin, Rion terlihat bicara dengan tulus dan suara yang lembut pada ibu.


"Ibu harus segera sehat, aku ingin mengundang ibu untuk bertemu ayah dan ibuku nanti." Rion meraih tangan ibu Merilin, gadis itu terperanjat, apalagi saat Rion mencium punggung tangan ibu. "Kalau ayah Mei nanti pulang, bisa sekalian ikut bersama. Ia kan Mei?" Rion meletakkan tangan di kepala Merilin, lalu mengusapnya. Senyum hangat Rion terkembang lagi. "Ibu harus segera sembuh dan keluar dari RS?"


Kau selamat Mei, kau mirip sekali dengan ibumu. Sebenarnya itu juga arti senyum hangat yang muncul di bibir Rion, yang disalah pahami oleh semua orang.


Reaksi melongo sampai tidak bisa berkata-kata ditunjukkan juga oleh yang lain, tidak mengenali sosok yang ada di depan mereka sekarang. Benarkah ini Rion suami Merilin. Perasaan yang mereka temui saat pernikahan Mei waktu itu sosoknya tidak seramah ini gumam mereka semua merasa heran. Brama dan istrinya, saling berkomunikasi dengan tatapan mata. Harven hanya diam dan melihat kakak iparnya.


Ada apa dengan kakak iparku, kenapa dia jadi ramah. Begitulah yang melayang-layang di kepala Harven.


Merilin walaupun merasa aneh, namun bersyukur, karena Rion bukan hanya menjadikan akting kemesraan untuk dia tunjukkan pada orangtuanya saja, namun pada ibunya juga dia berakting dengan sangat baik.


"Syukurlah, kalian menantu yang sangat baik. Ibu janji akan segera sehat, supaya bisa keluar dari RS." Melihat Harven. "Maaf ya Ven, padahal kamu pasti sibuk di sekolah, tapi ibu malah begini."


"Ibu bilang apa si, yang penting ibu cepat sehat." Harven menyahut dengan cepat.


Mereka ikut makan buah anggur yang dibeli Merilin dan Harven, sambil membicarakan banyak hal, jauh lebih banyak membicarakan ayah mereka. Ibu bersemangat sekali saat bercerita tentang suaminya, seperti gairah hidupnya meningkat drastis.

__ADS_1


Bisa dikatakan, sumber kekuatan hidup ibu saat ini adalah dengan hidup di dunia fantasi yang ia yakini nyata, bahwa suaminya yang ia cintai masih hidup. Hingga Merilin atau semuanya bahkan dokter mengatakan untuk mengikuti fantasi ibu sambil perlahan melakukan pemulihan dan terapi. Karena hanya itulah caranya, kalau memaksa ibu terbangun dari dunianya dan menyebabkan dia shock, malah dampaknya bagi mental dan kesehatan ibu. Untuk itulah mereka sepakat menyesuaikan diri dengan dunia ibu.


Para menantu dan Harven tertinggal di ruangan ibu, sementara Merilin dan Brama menemui dokter. Istri Brama terlihat sangat canggung, Rion sendiri bisa menyesuaikan diri dengan baik. Ya, karena dia memang dekat dengan ibunya. Laki-laki itu sepertinya benar-benar mengganggap ibu Merilin seperti ibunya sendiri. Rion mengacuhkan istri Brama, sama sekali tidak tertarik mengajaknya bicara atau menyahuti obrolannya.


Bertambah satu lagi wanita yang tidak dibenci Rion, yaitu ibu mertuanya.


Pembicaraan menantu dan ibu mertua masih berlanjut diselingi cerita Harven tentang rumah baru yang diberikan kakak ipar pada ibu dan dirinya.


Sementara Brama dan Merilin tidak langsung kembali ke kamar setelah menemui dokter, mereka duduk di taman berdua. Brama memaksa Merilin untuk bicara berdua dengannya.


"Aku senang melihatmu dan suamimu Mei, kalian terlihat sangat bahagia." Brama memulai pembicaraan, ada daun jatuh terbawa angin tepat di dekat kakinya. Dia ambil daun itu dan dia remas kecil-kecil di tangannya mengusir kecanggungan. "Dia memperlakukanmu dengan baik kan Mei?"


"Ia Kak, seperti yang Kak Brama lihat hari ini, Kak Rion sangat baik."


Biarlah sandiwara ini menenangkan hati semua orang gumam Merilin, supaya semua bisa menjalani hidup bahagia masing-masing.


"Maafkan aku Mei." Deg, udara langsung terasa lain berputar di sekeliling Merilin, kenapa tiba-tiba Kak Brama minta maaf. "Aku tahu, aku tidak tahu malu bicara seperti ini, tapi aku benar-benar dihantui rasa bersalah padamu, Harven dan ibu."


Apakah kakakku akan kembali? Kakak laki-lakiku yang telah menjadi orang asing selama ini?


"Mimpi buruk mengejarmu setiap malam Mei, aku dikejar dosa karena meninggalkan kalian untuk hidup bahagia sendirian. Dan, dalam mimpi aku melihatmu menjauh, walaupun aku memanggilmu berulang kali, kau tidak menoleh sedikitpun. Aku menjerit sampai kehabisan suara, kau sama sekali tidak berpaling padaku." Serpihan daun di tangan Brama berterbangan. "Saat itulah aku tersadar, banyak sekali salahku padamu Mei. Maafkan kakakmu ini Mei." Brama memeluk bahu Merilin dari samping, menjatuhkan kepalnya di bahu adiknya, tubuhnya gemetar menahan Isak. "Aku benar-benar tidak tahu malu ya."


Perasan lembut seorang adik, yang walaupun sudah dibuang sekalipun. Rasa rindu pada sosok kakak yang telah menjadi orang asing, langsung berlarian di hati Merilin. Dia tidak punya ruang sedikit pun di hatinya untuk marah, karena dia memang merindukan kakak laki-lakinya.


"Kak Brama, apa sekarang aku boleh menghubungi Kakak kalau aku rindu." Malah hal seperti itulah yang terucap dibibir Merilin. "Kalau ada apa-apa dengan ibu, tolong balas pesanku Kak."


Airmata jatuh menetes dipangkuan Merilin, entahlah perasaan apa itu, dia hanya merasa senang karena Kak Brama seperti kembali pulang setelah sekian lama pergi.


"Mei maaf, maafkan kakakmu ini Mei." Rasa bersalah semakin menghujam di dada Brama, dia seperti tertampar bertubi-tubi, selama ini, semua yang terjadi karena salahnya.

__ADS_1


Harven benar, bahwa dialah yang menjauh dan tidak perduli. Kapanpun dia bisa mendatangi adik-adiknya, tapi karena alasan kesibukan dia selalu menunda, bahkan sampai lupa dan tidak terlalu memikirkan. Dan ditempat yang jauh disana, adik-adiknya sedang berjuang sendirian.


"Maaf ya Mei, sekarang bisakah kamu buka blokir nomor Kakak, balas pesan kakak."


Loading, pikiran sedang bergerak. Otak Merilin sedang berputar. Wajahnya memerah karena kaget dan malu.


Aku tidak ingat untuk menyimpan nomor Kak Brama! Mei! Bisa-bisanya kau lupa hal sangat penting ini. Merilin rasanya ingin memukul pipinya sendiri. Katanya kau merindukan kakak laki-lakimu, tapi bisanya kau lupa dengannya. Merilin merasa malu sendiri.


Brama sudah mengangkat kepalanya, menyapu wajahnya dengan tangan. Membiarkan angin menghapus sisa kesedihan di matanya. Merilin malu melihat wajah kakaknya. Dia merapikan rambut Brama yang berantakan.


"Hpku rusak dan pecah Kak, nanti kalau sudah aku perbaiki aku hubungi Kak Brama ya." Hari ini Merilin bahkan tidak membawa hp, setelah hpnya di banting Rion semalam, paginya coba dia nyalakan, memang berhasil menyala, tapi LCD benar-benar pecah berantakan.


"Mau Kakak belikan hp baru?"


Merilin segera mengibaskan tangannya, buru-buru menjelaskan kenapa dia menolak saat melihat gurat sedih wajah Brama karena merasa ditolak.


"Baiklah, maaf, aku lupa kalau kau sudah menikah dengan Tuan Rion." Brama mengusap sisa airmata Merilin. "Kalau ada apa-apa, tolong beritahu aku duluan ya Mei, sekarang, hubungi aku duluan, sebelum kau memberi tahu Serge."


Deg. Merilin mengangguk.


"Aku ini yang kakakmu, bukan Serge."


"Baik Kak, aku akan ingat itu. Sekarang, apa aku boleh memeluk Kak Brama."


"Apa sih, kenapa pakai minta izin segala."


Pertemuan yang awalnya tidak mereka sengaja, ternyata bisa memperbaiki hubungan yang selama ini sudah seperti orang asing. Brama bersyukur, memiliki adik sebaik Merilin. Karena kalau Harven, sampai hari ini pun adik laki-lakinya masih terlihat marah dan membencinya.


"Apa yang kalian lakukan di sini, Mei!" Sebuah suara, yang langsung mengeringkan airmata Merilin terdengar.

__ADS_1


Rion sedang bersedekap, sambil memiringkan kepala ke kiri, menatap Merilin, terlihat tidak suka.


Bersambung


__ADS_2