Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
205. Si Manja Yang Disayang keluarga


__ADS_3

"Mei, sifat Rion itu memang agak kekanakan dan sedikit manja. Ah, bukan sedikit, banyak mungkin ya. Haha."


Mei sedang duduk di samping ayah, sambil menemani ayah memberi makan ikan peliharaannya. Ternyata, di sudut taman rumah ayah ada kolam ikan, Mei bahkan baru mengetahuinya hari ini. Gadis itu tertawa, mengiyakan kata-kata ayah. Ayah mertua sedang bicara dari hati ke hati dengan menantunya.


Kapan ini? Kejadian ini berlangsung tidak lama, setelah peristiwa mengguncang ketenangan saat itu, waktu Mei membuat pengakuan alasan dia menikah dengan Rion. Setelah lewat beberapa hari, ayah memanggil mereka berdua untuk makan malam. Mereka pun menginap. Dan paginya, ayah sengaja mengajak bicara Mei, hanya berdua.


Di mana Rion? Sedang bersama ibu di dalam rumah, membongkar kiriman hadiah nenek dan kakeknya.


"Keras kepala dan mau menangnya sendiri kan?" Ayah melanjutkan pembicaraannya.


Ya, benar sekali ayah, ditambah kadang suka salah paham dan marah-marah sendiri. Tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain. Mei menambahkan banyak hal dalam pikirannya, tentang Kak Rion.


"Mungkin, ini salah kami yang terlalu memanjakannya, karena dia anak kami satu-satunya, yang kami dapatkan dengan susah payah. Kami jadi selalu tanpa sadar menuruti kemauannya."


Ah, benar, ibu kan kandungannya lemah. Makanya Kak Rion tidak punya saudara kandung. Mei tersenyum, lalu menggelengkan kepala, mengatakan kalau ayah dan ibu tidak bersalah. Dia pun pasti akan begitu, karena cinta ayah dan ibu hanya tercurah pada Kak Rion semata. Mei memaklumi itu.


Kalau dia sendiri, berbagi dengan kakak dan adik. Sebagai perempuan sendiri, entahlah, naluri anak tengah mungkin ya, yang membuatnya sudah banyak mengalah. Jadi, sebenarnya Mei tidak terlalu asing menghadapi sikap Kak Rion.


"Rion tumbuh dan besar dengan kasih sayang dari kami dan keluarganya, sampai dia SMU saja tingkahnya masih lucu dan menggemaskan. Ya, sampai semua itu terjadi. Cinta tulusnya berkhianat, semua itu merubah Rion."


Pandangan Mei jatuh pada ikan yang meliuk berdesakan sambil berebut makanan.


"Apa kau masih merasa tidak nyaman, kalau nama wanita itu disebut?"


Mei buru-buru menggeleng, walaupun hatinya masih merasa aneh, namun tidak sampai dia tidak mau mendengar nama Erla.


"Kamu memang wanita yang baik Nak." Ayah menyentuh kepala Mei. "Terimakasih, karena sudah datang ke dalam keluarga kami, dan mengembalikan senyuman putra kami. Kedepannya, kalau ada apa-apa, ceritakan semuanya pada kami. Walaupun aku ayahnya Rion, tapi percayalah, aku dan ibunya Rion, akan selalu ada dibelakang mu Nak. Karena Rion yang sekarang, kembali karena dirimu."


"Ayah..."


Ujung mata Mei mulai sembab, ayah dan ibu benar-benar baik. Bukan hanya memaklumi alasan Mei, namun mereka benar-benar menerima Mei sebagai menantu.


"Tolong, maklumi kelakuan Rion ya Nak. Sepertinya darah keluarga ku terlalu kental mengalir dalam dirinya. Tapi, percayalah. Laki-laki dalam keluarga kami, akan mencintai pasangan kami dengan sepenuh hati dan jiwa kami. Ayah bisa menjaminnya Nak, Rion hanya akan mencintai mu dan melihat mu seorang. Karena itu yang diajarkan ayahku, kakeknya Rion."


Wajah Mei memanas, ya, dia bisa merasakan itu. Cinta Kak Rion yang berlimpah setiap harinya. Sorot mata penuh cinta yang ditunjukan Kak Rion untuknya, mirip seperti ayah yang melihat ibu. Mei merasakan tangan hangat ayah mengusap kepalanya lembut.


"Terimakasih Nak."


Obrolan mengharukan itu terhenti, saat suara teriakan Kak Rion dari jendela kamar ibu terdengar dengan nyaring. Bahkan para pelayan yang sedang bekerja mendengar, mereka hanya senyum-senyum melihat kelakuan Kak Rion.


"Mei! Aku merindukan mu."


Padahal tak lebih dari setengah jam mereka berpisah.


...🍓🍓🍓...


Esok adalah hari resepsi pernikahan, yang sudah sangat dinantikan oleh Presdir Frans Fernandez dan istrinya Yurika, buah hati kesayangan mereka Rion, akan mengumumkan status pernikahannya.


Merilin Anastasya, seorang gadis yang sudah memikat hati semua anggota keluarga. Bagi keluarga Rion, tidak terlalu berlebihan menyebut Mei sebagai gadis penyelamat dan malaikat yang dikirim Tuhan.


Begitulah sebenarnya kenyataan yang ada. Namun, hati gadis yang selalu rendah hati itu, pasti tidak akan berfikir sampai sejauh itu. Mei yang selalu berfikir, kemunculan Kak Rion yang telah mengeluarkannya dari jurang nestapa. Karena Kak Rionlah yang telah membuatnya bertemu dengan kebahagiaan.


Dan hari ini Rion dan Mei, pulang ke rumah orangtuanya. Mereka akan menginap dan berangkat ke tempat resepsi besok bersama.


Sekarang, sudah sampai di rumah milik Presdir Andez Corporation.


Mobil milik Rion berhenti dengan perlahan di area parkir, laki-laki itu melihat sekilas, banyak mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Mereka sudah pada datang ya, gumamnya pelan sambil menyapu wajah Mei yang terlelap di kursi depan, di samping dia duduk. Istrinya tertidur. Rion mendekatkan wajah dan menciumi bibir dan pipi Mei, membuat gadis itu mengejapkan mata antara bingung dan kaget. Karena dia tiba-tiba terbangun. Mei melihat sekeliling, keadaan di luar mobil. Sudah sampai ya gumamnya. Sambil mengucek sudut matanya dan mengumpulkan kesadaran.


"Kak?"


"Aku membawa mobil sendirian, aku malah ditinggal tidur. Aku kesepian selama perjalanan." Rion menunjukkan tampang sedih, sambil menyapu wajah dan merapikan rambut Mei. "Apa tidur mu nyenyak?" Bertanya lagi, tapi dengan raut wajah sedih dan kecewa.


"Ah, haha sudah sampai ya Kak?"

__ADS_1


"Kau sampai meneteskan air liur saking nyenyaknya."


"Apa!" Mei langsung menyapu sudut bibirnya dengan punggung tangan. Tapi, saat mendengar Kak Rion terkikik, dia jadi lega, karena ternyata itu cuma bercanda. "Kakak!"


"Haha.."


"Maaf ya Kak, aku malah ketiduran."


"Kau lelah sekali ya?" Rion menempelkan keningnya ke kening Mei. "Maaf ya, aku pasti membuat mu kelelahan. Pagi ini aku masih menggangu mu." Menunjukkan wajah sedih dan rasa bersalah. Memang tulus si kekhawatiran Rion itu, tapi ditunjukkan dengan wajah sok minta dikasihani dan tidak tampak penyesalan sama sekali. Ibarat kata, pasti akan dia ulangi lagi.


Dasar, sebenarnya kau sadar kan Kak, tapi tetap saja keterusan, dan lebih anehnya, aku tidak bisa menghentikan mu. Aku juga ikut menikmati. Aaaaaa, kami sebenarnya sangat mirip. Mei yang selalu merasa malu untuk mengakui.


"Mau ku gendong?" Rion sudah mengulurkan tangan. Menyentuh paha Mei. Mengusap-usapnya pelan.


"Hah?"


Maksudnya? menggendong ku turun dari mobil? yang benar saja Kak, dirumah pasti sedang banyak orang pikir Mei. Melihat dari deretan mobil yang ada di area parkir


"Haha, tidak usah Kak, aku sudah cukup istirahat kok." Mei menyentuh lehernya, sambil menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri. Mengusir penat yang tersisa. "Aku tidur cukup lama ya? Maaf ya Kak, Kak Rion jadi menyetir sendirian." Biasanya dia selalu terjaga kalau di dalam mobil, tapi tidak tahu, kenapa hari ini dia mengantuk sekali. Sebelum jatuh tertidur tadi, sayup dia masih mendengar Kak Rion bicara tentang nenek dan kakeknya.


"Kalau begitu cium aku sebelum turun. Kau tahu kan, aku sudah lelah menyetir sendirian."


Mei langsung tertawa, mendengar Kak Rion yang langsung meminta imbalan terang-terangan. Sudah menunjuk bibirnya lagi. Setelah berhenti tertawa, gadis itu pun menyapu bibir Rion dengan jemari, lalu mampirlah kecupan bercampur senyum sumringahnya di beberapa bagian wajah Rion.


Tok, tok.


Suara ketukan di kaca mobil membuat Mei langsung tersentak kaget. Pak Kun memalingkan wajah setelah mengetuk kaca mobil. Terlihat dia serba salah, karena sebenarnya tahu sudah menggangu.


Mei sedang sibuk mengembalikan ekspresi wajah dari keterkejutan, sementara Rion menghela nafas sambil menurunkan kaca mobil. Pak Kun tersenyum canggung, melihat wajah masam milik tuan mudanya.


"Maaf Tuan Muda, sudah menggangu."


"Itu Bapak tahu, kenapa masih mengetuk kaca juga?" Dengan tidak tahu malunya Rion malah menuding dengan jelas sambil mendengus, membuat Mei memukul tangannya karena merasa tidak enak dengan Pak Kun.


Pak Kun menundukkan kepala kepada Mei, berterimakasih, nona muda sudah menyelamatkannya dari kecanggungan.


"Semua sudah menunggu Anda dan Nona Mei, kakek dan nenek Anda sudah sampai, jadi paman dan bibi Anda sudah berkumpul."


Pak Kun menunjuk ke arah rumah. Dan mengatakan, kalau adik-adik ayah yang sudah menjemput kakek dan nenek di bandara tadi siang.


"Nenek sudah datang? Kenapa tidak bilang dari tadi. Aku pikir baru paman dan bibi. Baiklah aku segera turun." Pancaran kebahagiaan yang langsung tidak terbendung dari wajah Rion. Pak Kun tersenyum sambil membuka pintu mobil.


Anda tidak pernah berubah ya, walaupun sudah sebesar ini kalau berhubungan dengan nenek Anda. Rasanya masih lucu, setiap kali melihat tuan mudanya tertawa sumringah tiap kali bersama nyonya besar. Pak Kun sedang bergumam dengan kenangannya. Sambil mengikuti langkah Mei dan Rion.


Sementara itu, Mei dan Rion sudah keluar dari dalam mobil. Bergandengan tangan beriringan. Pak Kun jalan mendahului.


"Mei..."


"Ia Kak?"


Mereka menghentikan langkah, membuat Pak Kun yang sudah berdiri di depan pintu diam mematung lagi. Dia bisa mendengar pembicaraan Rion dan Mei.


"Kau sudah pernah bertemu paman dan bibi, adik ayah kan? Hari ini pertama kalinya kau melihat kembaran ayah."


Mei bertemu adik-adik ayah saat pernikahan mereka yang berlangsung tertutup kala itu, tapi kalau kembaran ayah, hanya dia lihat lewat foto dan berita yang ada di internet.


"Mereka sangat mirip, tapi kau bisa dengan mudah membedakan mereka dari sorot mata dan senyuman mereka."


Penjelasan singkat Rion menjalar ke mana-mana, tentang neneknya juga. Hati Mei terhanyut dengan informasi yang diberikan Kak Rion, betapa dekatnya Kak Rion dengan keluarganya tergambar dengan jelas dalam cerita Kak Rion. Ah, apa ini memang sifat Kak Rion yang sebenarnya ya, sebelum hatinya tersakiti Amerla.


Mei tidak merubah Kak Rion, tapi dia seperti mengembalikan cahaya di wajah Kak Rion.


"Nenek dan kakek ku itu seperti cenayang yang tahu semuanya, jadi kalau mereka bertanya sesuatu yang aneh-aneh pada mu. Haha, kenapa kau sudah takut begitu." Dengan gemasnya Rion mencium hidung Mei, yang tiba-tiba pias. "Jangan takut, mereka sangat baik dan sayang padaku, pasti mereka juga akan menyukai mu. Kau kan istri ku. Wanita yang aku cintai."

__ADS_1


Satu kecupan mampir di bibir Mei, menyadarkan gadis itu dari pujian sesaat yang membuat pipinya bersemu merah. Lalu dia melihat Pak Kun, yang menundukkan kepala, seperti memberi isyarat untuk bersegera. Baiklah Mei, ayo bertemu dengan nenek dan kakek Kak Rion. Dari sekian banyak anggota keluarga yang diceritakan Kak Rion, kedua orang itu memang menempati ruang paling besar dalam cerita Kak Rion.


Walaupun, aku tegang sekali! Aaaaa, bagaiman kalau aku membuat kesalahan, dan membuat kakek dan nenek tidak menyukai ku. Deg, deg, bahkan debaran jantungnya seperti terdengar sampai ke telinga.


"Haha, aku mendengar jantung mu berdetak kencang Mei."


"Kakak! Jangan meledek, ini kan pertama kalinya aku bertemu beliau berdua. Aku tegang sekali."


Rion merangkul bahu Mei, membisikan sesuatu sambil mencium pipi Mei. Berangsur, ketegangan di wajah Mei menghilang. Senyum percaya dirinya mulai muncul lagi. Kata-kata Kak Rion barusan, seperti melumerkan ketegangan hatinya.


"Terimakasih ya Kak."


"Kenapa?"


"Karena sudah menjadi suami yang sangat keren."


"Hah!" Rion menepis bahunya, dengan gaya sombongnya. "Bayar.... Motivasi ku mahal."


"Haha, apa si Kak, hutang ya?"


"Haha..."


Mei berjalan sambil merangkul pinggang Kak Rion, sebelum masuk ke dalam rumah, masih terpantau mereka saling mengecup bibir sambil tergelak.


Walaupun bagi mereka berdua, resepsi pernikahan ini bukanlah sesuatu yang penting lagi, karena mau publik tahu atau pun tidak, cinta di antara mereka sudah berlabuh dengan indah. Namun, karena ibu dan semua orang menyiapkannya dengan sepenuh hati, Mei dan Rion pun menjadi sangat menantikannya.


Saat keduanya masuk ke dalam rumah, langsung disambut tepuk tangan dari berbagai arah. Rona merah karena malu langsung terlihat di wajah Mei, gadis itu menutup wajahnya dengan tangan kanan. Semua orang sudah berkumpul.


Ah, cantik sekali. Tanpa Mei sadari, dia menyentuh rambutnya. Kenapa? Karena ada pemandangan yang sangat terasa asing di matanya. Selama ini dia sering merasa rendah diri dengan rambut ikalnya, tapi, apa ini? Para wanita dari keluarga ayah Kak Rion, nyaris memiliki rambut ikal bergelombang semua. Dan mereka terlihat sangat cantik. Bagaimana mereka bisa secantik itu dengan rambut begitu. Mei jadi berfikir, apa sebenarnya rambutnya juga cantik.


"Nenek!"


Saat Kak Rion langsung memeluk neneknya, Mei terjaga dari kekagumannya. Dia melihat suami versi manjanya kalau sedang berada di rumah. Tapi, kali ini bukan bermanja padanya. Gadis itu jadi teringat lagi, obrolannya dengan ayah Kak Rion kala itu.


Saudara yang lain mulai berebut bicara.


"Wahhh, akhirnya raja dan ratu kita datang." Bibi Kak Rion mendapat giliran kedua setelah nenek. Dia memeluk Kak Rion tanpa canggung. "Keponakan ku semakin tampan saja setelah menikah, Mei, kau memberi Rion makan apa si?"


Hah? Mei gelagapan sambil menyentuh dadanya, karena dengan serius menanggapi pertanyaan bibi, yang lain tertawa mendengar jawaban polos Mei.


"Ahhhh, Bibi, kenapa masih begini si. Aku kan bukan anak-anak lagi." Rion menggoyangkan bahunya, supaya pelukan bibi terlepas.


"Halah, kamu ini masih bayi sampai kapan pun juga buat bibi."


Lagi-lagi semua orang tertawa, bahkan sepupu Kak Rion juga. Bukannya iri melihat Kak Rion dihujani cinta oleh orangtua mereka. Ayah dan ibu saling pandang, dengan tatapan cinta lalu tersenyum pada Mei.


Mei yang awalnya canggung dan merasa asing, bisa berbaur dengan mudah. Karena keluarga Kak Rion benar-benar menyambutnya seperti pahlawan perang. Dia dipeluk, dia dicium pipi kanan dan kirinya. Bahkan, istri kembaran ayah memberinya banyak sekali hadiah. Termasuk uang tunai yang entah berapa jumlahnya. Mei sampai ragu mau menerimanya.


"Kalau orangtua memberi mu uang, terima saja, dan bilang terimakasih." Sambil memeluk Mei. "Cantiknya istrinya Rion." Kecup kanan dan kiri.


Yang lain ramai mengiyakan, bahkan ada yang bertepuk tangan. Sementara laki-laki yang ada di samping bibi, kembaran ayah. Duduk diam tidak bergeming, tangannya melingkar di pinggang bibi.


Benar kata Kak Rion, mereka sangat mirip. Hanya sorot mata dingin dan bibirnya yang jarang tersenyum yang berbeda. Gumam Mei sambil tersenyum pada kembaran ayah.


Ibu mengenalkan satu persatu orang secara resmi, termasuk saudara yang seumuran dengan Kak Rion. Anak-anak paman dan bibi, sudah ada yang pernah Mei temui.


Sore itu sampai makan malam siap, mereka duduk sambil mengobrol bersama, Mei yang sesekali ikut bicara kalau ditanya, jauh lebih serius memperhatikan Kak Rion. Mei melihat, bagaimana semua orang memperlakukan Kak Rion dengan penuh kasih, Kak Rion seperti menjadi tokoh utama yang dicintai semua orang.


Bahkan kakek pun terlihat sangat sayang pada Kak Rion, Mei sekalipun, bisa merasakan aura yang tampak berbeda dari kakek Kak Rion. Dia terlihat gagah, pasti tampan saat mudanya gumam Mei. Namun, terlihat agak mencekam dan menakutkan. Tapi, liat itu. Mei melihat Kak Rion yang duduk di karpet menggelayut di kaki kakek, sambil tangannya memeluk kaki kakek. Dan tangan besar kakek yang sesekali menyentuh kepala Kak Rion.


Sepertinya, Kak Rion benar-benar anak kesayangan semua orang ya? Ah, tentu saja, siapa yang tidak akan menyayangi orang sepertinya.


Tanpa disadari Mei, yang sedari tadi mendengarkan obrolan sambil memperhatikan Kak Rion, dia sendiri menjadi fokus utama pandangan neneknya Rion.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2