
Di kamar Harven.
Rion memeluk Mei sambil dusel-dusel, bibirnya menyerang leher Mei dari segala arah. Gadis itu tergelak sambil menggeliat tapi membiarkan Rion melakukan apa pun yang dia inginkan. Tempat tidur Harven yang tidak terlalu besar membuat mereka semakin erat saling berhimpitan.
"Mei..."
Aaaaa! Kalau dibiarkan bisa gawat pikir Mei, kalau tiba-tiba Harven mengetuk pintu bagaimana, tapi, baru saja akan menggerakkan tubuh, tangan Rion sudah masuk ke dalam celah bajunya, menjalar di pinggang.
"Kak... jangan sekarang."
"Apa? Aku cuma mau pegang sedikit aja."
"Ah... ah..."
Rion tertawa di belakang telinga Mei, saat bibir gadis dalam pelukannya mulai mengeluarkan suara pelan dan menggoda. Saking gemasnya, Rion jadi menggigit telinga Mei supaya tetap waras.
"Kakak!"
"Makanya jangan mendesah menggemaskan begitu."
"Kakak juga jangan usil kenapa."
"Kalau itu sudah bawaan lahir. Haha." Setelah menggigit telinga, menjalar mencium pipi sampai menggigit juga. Lalu tertawa senang, menorehkan kecupan di seputar leher. Aksi Rion terhenti, saat ketukan pintu dan panggilan Harven terdengar.
"Hah! Menggangu saja." Rion menurunkan kakinya yang sedari tadi mendekap Mei. Sambil tak lupa mendengus. "Mereka sudah datang ya."
Suasana rasanya langsung berubah, Mei yakin, perubahan itu bukan hanya karena panggilan Harven. Tapi, karena mereka harus bertemu dengan Erla dan suaminya.
"Kak Mei!" Harven memanggil lagi.
"Ia Ven, sebentar. Kak Mei sebentar lagi keluar." Setelah Mei menyahut, suara ketukan Harven di pintu menghilang. Mei mendorong tubuhnya untuk bangun, merapikan pakaian, mencari sisir di atas meja. Menyisir rambutnya dan memastikan penampilannya terlihat normal. Bajunya yang berantakan dia rapikan. "Kak, ayo keluar." Rion belum beranjak dari tempat tidur, malah menggeliat dan mengambil bantal untuk dia taruh di belakang kepalanya. "Kak Rion, kenapa malah tidur?"
"Aku tiba-tiba jadi malas."
Hah? Kenapa tiba-tiba si, tadi kan katanya sudah mau.
"Apa aku keluar sendiri?" Mei berfikir, bisa jadi Kak Rion berubah pikiran.
"Tidak boleh!" Setengah berteriak menjawab.
Jadi, maunya apa si Kak. Saat diperhatikan, Kak Rion tidak terlihat marah atau pun kesal. Dia memang hanya seperti orang yang sedang tidak mau melakukan apa pun selain tiduran di atas tempat tidur. Bibir Mei tersungging, apa dia sedang mode manja minta dirayu? Minta dibayar di muka untuk melakukan sesuatu. Aaaaa! Ada saja si Kak kau ini.
Entah kenapa, sekarang Mei sudah terbiasa dan pandai menebak keinginan Rion.
Mei melangkah mendekat, menaikan lututnya ke atas tempat tidur. Lalu menunduk, mencium tangan Rion. Deg, laki-laki itu tersentak kaget, karena tiba-tiba Mei menciumnya.
"Apa yang kau lakukan Mei?"
"Mengajak Kakak keluar."
"Sudah aku bilang, aku tiba-tiba malas."
Mei naik lagi ke atas tempat tidur, menundukkan wajah sampai rambutnya jatuh ke atas pipi Rion. Laki-laki itu sudah tergelak saat tangan Mei mengusap bibirnya.
"Kenapa kau pintar sekali sekarang Mei."
__ADS_1
Dan mereka berciuman lama sampai akhirnya Rion mengangkat kepalanya dan bangun dari tempat tidur. Masih menabrak pintu dan berciuman lanjutan, sebelum pintu kamar Harven akhirnya terbuka.
Senyum dan keceriaan di wajah Rion langsung menghilang, saat pintu kamar Harven terbuka, apalagi saat melihat dua orang yang sedang duduk di ruang tamu.
...πππ...
Pertemuan yang tak terduga dan tidak disangka-sangka. Baik oleh Rion dan Mei, lebih-lebih oleh Erla dan Ibram. Wajah panik Ibram dan Erla karena mengkhawatirkan ibu berganti kekagetan. Melihat siapa yang sudah menolong ibu mereka.
Antara kaget dan malu, begitulah adanya. Tergambar jelas di wajah suami istri itu. Erla yang jauh merasa tertekan.
Mei tersenyum canggung, sementara Rion yang berdiri di sebelahnya melengos karena tidak mau bertemu pandang. Baik dengan Erla ataupun Ibram. Bukan karena di hatinya masih ada rasa yang tersisa, dia hanya malas, mengeluarkan energi untuk tersenyum atau basa basi. Tiba-tiba saja malas, dan tiba-tiba suasana hatinya berubah drastis.
Setelah saling menyapa, Mei ditemani Rion di sampingnya mengantar Erla dan Ibram ke kamar ibunya. Lisa, pelayan muda itu langsung memeluk Erla, dengan isak tangis dia bercerita sambil terbata-bata, minta maaf beberapa kali karena tidak bisa melindungi nyonyanya. Erla menghapus airmata Lisa, sambil mengatakan kalau ini bukan kesalahannya. Mereka saling berpelukan. Erla bahkan minta maaf, karena sudah melibatkan Lisa dalam masalah yang berbahaya. Dia juga memeriksa luka di kening dan kaki Lisa.
Hati Mei terenyuh, kesan gadis angkuh yang pernah dia lihat saat itu, seperti memudar begitu saja. Cara Erla bicara dan khawatir pada pelayannya, saat gadis itu memeluk ibu mertua dan menenangkannya, seperti layaknya orang yang saling berhubungan dekat. Dan Mei pun tidak melihat, Erla yang berusaha mencuri pandang pada Kak Rion. Sejak pertama kali mereka bertemu tadi. Gadis itu benar-benar fokus pada kondisi ibu mertuanya dan pelayannya. Suaminya di sampingnya juga melakukan hal yang tidak berbeda dengan Erla. Seorang anak laki-laki yang mengkhawatirkan ibunya. Kasih sayang antara mereka terpancar dengan jelas. Layaknya Kak Brama atau Harven yang menyayangi ibu.
Sepertinya, yang dikatakan senior tentang Erla benar? Gadis itu sudah berubah gumam Mei. Hubungan dengan suaminya sepertinya juga membaik. Syukurlah, semua mencari jalannya sendiri untuk hidup dengan bahagia. Mei menarik tangan Rion, untuk menjauhi kamar, membiarkan Ibram dan Erla bicara dengan ibu mereka.
Di ruang tamu. Serge dan Brama masih duduk menunggu. Saat Mei dan Rion mendekat.
"Ge.."
"Hah? Apa?" Serge langsung menjawab. Presdir memang meneleponnya barusan. Tapi, saat melihat reaksi Rion saat bertemu Erla, sepertinya ketakutan Presdir tidak terjadi. Karena Rion terlihat biasa saja. Hal ini membuat Serge tenang. Dia terlihat biasa saja, ya tidak perduli seperti biasanya. "Kau mau apa?"
"Berikan Vidio rekaman itu padanya, biar dia sendiri yang memutuskan mau bagaimana." Mau melaporkan ayahnya ke polisi atas kasus KDRT itu terserah padanya pikir Rion. Walaupun Rion sanksi, Ibram akan mencoreng nama baik Andalusia Mall kalau sampai kejadian ini tercium publik. Tapi, dia saja marah melihat Vidio itu, apalagi Ibram, yang merupakan anak wanita itu. Tapi, terserah lah, itu urusan mereka. Rion tidak mau perduli dan ikut campur. "Kalau dia butuh saksi, kau saja yang mewakili kita."
"Ah, baiklah. Tapi, kamu nggak papa kan?" Serge memastikan, demi laporannya kepada Presdir. "Biar aku yang bicara pada Erla dan suaminya kalau kau merasa tidak nyaman."
Rion memiringkan kepala. Cih, ayah sudah bicara apa pada mu. Dia cuma mendengus malas menjawab Serge. Mengajak Mei duduk di sebelah Brama.
"Hatiku sudah dipenuhi kamu Mei." Cium kening lagi.
Sebenarnya yang sedikit bingung dengan situasi ini adalah Brama, tapi dia tidak punya kesempatan menyela juga. Saat semuanya terdiam sambil melihat ke arah kamar ibu Mei, pintu terbuka. Ibu Mei keluar sambil mengusap ujung matanya. Sepertinya wanita itu sangat bersimpati dengan tetangga barunya, hingga kesedihan mendalam mendengar pembicaraan di dalam kamar.
...πππ...
Dan akhirnya, seperti inilah yang terjadi setelah, Ibram dan Erla selesai bicara dengan ibunya.
"Nona Merilin, apa kita bisa bicara sebentar?"
Erla bukannya meminta bicara dengan Kak Rion, tapi dia meminta untuk bicara dengan Mei. Saat Mei meminta persetujuan Rion laki-laki itu hanya menganggukkan kepala. Dan inilah, yang membuat Mei dan Erla, saat ini sedang duduk di taman belakang, tempat Harven dan Sheri ditemani sinar rembulan sambil ngegombal tadi.
Keheningan menyelimuti keduanya. Lembut dan sejuk, angin malam berhembus. Mei melirik sekilas, gadis di sampingnya. Buru-buru melihat ke depan karena takut tertangkap basah. Dan akhirnya mereka saling pandang.
Aku pikir, dia akan minta bicara dengan Kak Rion langsung. Ternyata, dia malah minta bicara denganku. Tapi, baguslah. Karena aku masih takut, Kak Rion tidak bisa mengendalikan emosinya. Padahal Erla dan suaminya sedang bersedih begini. Lagi-lagi Mei sudah bersimpati pada sikap Erla. Gadis yang selalu berbaik sangka pada semua hal. Karena Kak Rion pun sudah berdamai dengan masa lalunya, membuatnya tidak punya alasan lagi membenci Erla.
"Nona Merilin." Suara lembut Erla memecah keheningan. Dia memakai bahasa sopan, menunjukkan jarak keakraban di antara mereka. "Terimakasih, sebelumnya saya sangat berterimakasih, Nona sudah mau menolong ibu mertua saya. Walaupun Nona tahu, kalau dia ibu mertua saya."
Mei masih mengatupkan kedua tangan, belum menjawab. Dia melihat kejauhan, langit malam.
"Dan terimakasih, karena mau bicara dengan saya sekarang."
Ah, dia benar-benar berubah. Gumam Mei. Gadis angkuh yang pernah dia temui waktu di acara sosial itu seperti menghilang. Saat dengan sombongnya dia mengakui sebagai wanita yang pernah dicintai Kak Rion untuk menghancurkan mental ku. Dia bicara sekarang bukan untuk menyombongkan apa pun. Dia berterimakasih dengan tulus.
Ayo Mei bicaralah dengan hati tenang, seperti Kak Rion yang sudah melupakan Erla. Gadis di samping mu sekarang bukan siapa-siapa Kak Rion. Ah, walaupun Mei sudah tidak membenci sekalipun. Selalu ada celah di hati wanita setiap kali melihat mantan wanita yang pernah disukai laki-laki yang dicintainya.
__ADS_1
"Nona Amerla..."
"Dulu, saya juga seperti ibu."
Deg, tangan Mei langsung bergetar hanya karena kalimat pendek itu. Dia jadi tidak melanjutkan kata-katanya. Pikirannya fokus mencerna kalimat barusan. Maksudnya? Apa dia juga korban KDRT suaminya. Mei tidak berani bertanya lebih lanjut, dia hanya menunggu Erla melanjutkan kalimatnya.
"Maaf, maafkan saya karena pernah memfitnah Anda." Kepala Erla semakin tertunduk dalam. Tatapannya hanya tertuju pada tangan yang tergenggam erat di pangkuannya. "Saya menderita menjadi istri Kak Ibram, jadi, saat melihat Kak Rion, saya seperti menemukan tali penolong. Maafkan saya Nona, saat itu saya pernah menfitnah Anda yang tidak-tidak." Rasa bersalah Erla tersampaikan ke hati Mei. "Saya pikir, saya bisa merebut Kak Rion lagi asalkan saya kembali. Maaf Nona, maafkan saya."
Ragu, Mei mengangkat tangannya. Meletakkannya di punggung Erla.
"Setelah kejadian di kantor Kak Rion dan pembatalan kerja sama terjadi, itulah hari seperti neraka saya dimulai." Seperti terbayang di pelupuk mata. Hari-hari mengerikan yang berulang setiap hari. "Kak Ibram melampiaskan amarahnya setiap hari kepada saya. Hiks. Rasanya saya ingin mati saja saat itu."
Puk...puk.. tangan Mei lembut membasuh bahu Erla yang bergetar. Terbata-bata gadis itu berkisah tentang hari-harinya yang memilukan. Ketika airmatanya sudah mengering, saat rasa sakit yang mendera tubuhnya sudah tidak lagi membuatnya menangis. Hari-hari mengerikan yang mungkin tidak akan sanggup dia hadapi lagi kalau waktu diputar ulang.
Mei yang berhati lembut tanpa dia sadari pipinya mulai basah, oleh airmata yang berjatuhan. Karena rasa simpati, karena perasaan sedih mendengar kisah sesama wanita yang memilukan. Mungkin, seperti ini tadi yang dirasakan ibu pada ibunya Tuan Ibram.
"Setelah saya kabur, saya mulai sadar." Erla dengan suara tersedak tangis melanjutkan ceritanya.
Suasana malam yang menyesakkan, bisa jadi Isak kecil itu terdengar sampai ke dalam rumah. Karena terlihat, Rion mendekat ke pintu belakang. Dia khawatir terjadi apa-apa pada Mei. Kalau Serge tidak mencegahnya mungkin dia sudah keluar menyerbu Erla. Tidak tahu duduk masalahnya, dia pasti langsung mengamuk menuding Erla yang tidak-tidak. Untungnya Serge berhasil menarik Rion menjauh.
"Dasar gila! Jangan ganggu mereka. Biarkan para wanita menyelesaikan masalah mereka. Mei tidak selemah itu Rion."
"Tapi, Mei menangis juga..."
"Mei sedang menghibur Erla, kau tidak lihat dia menepuk bahu Erla."
"Cih..."
"Hah!" Serge yang sudah kehilangan kata-kata.
Kedua laki-laki itu duduk lagi di ruang tamu, setelahnya Ibram yang bangun, dia gantian berjalan ke arah pintu belakang. Laki-laki itu mendengar suara Erla.
"Aku membayar dosa-dosaku pada Kak Rion, dengan pernikahan ku. Dengan penyiksaan Kak Ibram. Hingga... " Pecah tangisan Erla dalam pelukan Mei. Ibram yang mendengar rasanya hatinya tercabik-cabik, dia dengan gontai berjalan ke ruang tamu. Jatuh tertunduk, menyesali semua perbuatannya.
Di taman belakang, Erla menangisi nasibnya.
Dosa-dosa yang pernah dia lakukan, berceceran dia akui dengan mulutnya sendiri. Erla memohon pada Mei, untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Kak Rion.
"Aku tidak berani bicara dengan Kak Rion lagi, dia juga pasti tidak mau bicara denganku. Jadi, Nona, aku mohon, sampaikan permohonan maaf ku. Sampaikan maafku pada Kak Rion." Baju Mei yang kusut tambah kusut saja, karena Erla menangis di bahunya. "Saya juga mohon maaf pada Anda."
Mei mengusap-usap bahu Erla.
"Hiduplah dengan bahagia mulai sekarang. Sudah, sudah, jangan menangis lagi, jangan menderita lagi. Kak Rion juga sudah memaafkan mu. Nona Amerla, ayo hidup bahagia. Jangan menangis lagi." Mei juga jadi bicara tidak beraturan. Tapi pada intinya dia berharap, jangan lagi ada kebencian dan airmata di antara mereka.
"Nona..."
"Mei, panggil saja aku Mei. Aku boleh memanggil mu Nama juga kan?"
"Mei, maaf. Maafkan aku."
Airmata dan tangis yang pecah, di malam hari itu. Menjadi saksi bahwa mereka telah saling memaafkan dan berdamai dengan masa lalu.
bersambung
πSelamat hari raya idul adha, bagi teman-teman yang menyambut dan merayakannya.π
__ADS_1
πSemoga kebahagiaan selalu menyertai kita semuaπ