
Merilin berdiri di depan pintu apartemen. Meletakan banyak tas belanjaan di lantai. Harven dan Jesi ikut naik membantunya membawa tas belanjaan itu tadi, mereka langsung pulang karena sudah malam. Sekarang, Merilin masih terdiam belum berani memencet kode kunci.
Manusia bunglon itu sudah pulang belum ya. Hah! Tenanglah Mei, jangan pikirkan yang macam-macam. Tersenyum saja dan ladeni dia. Itu kan tugasmu, menjadi bonekanya Rion yang melakukan apa pun yang dia inginkan.
Walaupun sudah meyakinkan hati, tapi tetap tangannya belum bergerak. Dia malah teringat kejadian siang tadi saat bertemu dengan Rion di lift.
Selepas keluar dari lift Mona dengan semangatnya bicara.
"Ya Tuhan Mei, Tuan Rion. Ahhhhhh! Tadi waktu kamu menjerit dia wajahnya nggak bergeming sama sekali. Tetap cool sambil melihat ke depan. Padahal Sekretaris Serge saja sampai kaget. Hihi, kalau kau menginjak kaki Tuan Rion tadi, aku yakin dia akan stay cool seperti itu. Haha, bercanda Mei, kalau kau menginjak kakinya yang ada kita dipecat semua nanti."
Kalau ingat itu rasanya geram sekali. Pantas saja tidak ada yang curiga. Dia pasti menggesek kakiku dan menggerayangi telingaku dengan wajah dingin tidak bergeming. Dasar benar-benar ya, seharunya aku injak saja sepatunya tadi, lalu pura-pura kaget. Mei bisa membayangkan stelan wajah Rion seperti apa tadi saat menjahilinya. Tetap angkuh dan lurus ke depan. Mona bahkan sampai tidak melihat.
Tarik nafas, hembuskan perlahan. Begitu berulang-ulang di baca Mei seperti mantra menenangkan hati dan pikiran di depan pintu. Saat akhirnya memencet kode pintu dia menghela nafas panjang untuk terakhir kalinya sebelum pintu terbuka.
Dia sudah pulang, lampu sudah menyala.
Mei memasukkan tas-tas belanjaannya. Tersentak mundur saat melihat Rion keluar dari ruang ganti. Sudah memakai kaos dan celana pendek selutut. Rambutnya masih agak basah dia goyangkan. Berhenti di ruang tamu sambil melihat Merilin dan tas belanjaan dilantai.
"Kau terlambat." Ucapnya dengan nada dingin.
Hah! memang aku ada kewajiban pulang sebelum dia pulang? Hah, kalau dia bilang begitu, artinya itu yang harus kau lakukan Mei. Jangan protes.
"Maaf Kak, aku membeli banyak barang sepulang bekerja, jadi memakan banyak waktu. Aku akan memperhatikan waktu ke depannya. Maafkan aku untuk hari ini." Merilin bicara dengan agak terbata, sambil meremas jemarinya.
Rion mendekat tatapannya belum melunak, dia menendang tas belanjaan Merilin, tanpa bicara sepatah katapun. Lalu berbalik dan duduk di sofa dengan menjatuhkan tubuh secara dramatis.
Apa sih, bukannya kau yang menyuruhku mengganti semua pakaian di lemari, sekarang kau marah karena aku membeli itu semua. Apa seharusnya aku memakai uangku sebagian tadi ya. Aaaa, aku tidak kepikiran, karena baju-baju itu mahal-mahal.
Tapi Merilin juga sadar diri, uang simpanan mendesaknya di rekening, bahkan tidak ada separuhnya dari uang yang ia belanjakan hari ini.
Saat mau minta maaf lagi, Rion bicara dengan nada ketus.
"Pergi mandi sana!"
Kau berdesakan dengan berapa orang sambil membawa tas belanjaan sebanyak itu. Hah, memikirkannya jadi membuat kesal. Rion sedang mendeteksi bagian tubuh Merilin sebelah mana yang tidak sengaja menempel dengan tubuh orang lain. Bahu, lutut, tangan, kaki. Bahkan ada aroma parfum asing yang tercium dari tubuh Merilin. Sebenarnya ini yang membuat Rion kesal dan menendang tas belanjaan Merilin.
"Baik Kak, saya mandi dulu."
"Pakai bajuku lagi, biar bibi mencuci semua ini baru kau pakai."
"Baik Kak."
Merilin langsung manyun saat wajahnya sudah berpaling dari Rion.
"Hei, kau mau kemana?"
__ADS_1
Saat melihat Merilin bukannya menuju kamar mandi tapi malah pergi ke ruang ganti. Rion memanggil gadis itu lagi.
"Mau mengambil baju ganti Kak, biar bisa langsung ganti baju."
Entah kenapa senyum yang muncul dibibir Rion teramat mencurigakan, Merilin sudah was-was, keisengan apa lagi yang akan dilakukan manusia di depannya ini.
"Kau bodoh ya, mau membawa badan kotor dan banyak debu itu ke ruang ganti dan menyentuh baju-bajuku di lemari."
Sabar Mei, sabar. Manusia aneh sedang berulah.
"Maaf Kak, aku tidak kepikiran sampai ke sana. Aku mandi dulu sekarang." Rion hanya menggoyangkan tangannya lalu duduk bersandar tidak melihat ke arah Merilin lagi. Senyum jahatnya terlihat lagi.
Haha, aku ingin melihatnya keluar memakai handuk mandi. Ah, sial. Sedikit kesal karena di dalam lemari ada piayama handuk. Rion jadi berfikir untuk menyuruh bibi membuang semua handuk-handuk yang berukuran besar dan menyingkirkan piayama handuk.
Seperti dugaan sebelumnya, Merilin keluar dari kamar mandi dengan piayama handuk. Langsung lari masuk ke ruang ganti.
Ah, tidak seru. Rion mendengus dan memilih tengkurap di sofa. Melirik sekilas tas belanjaan Merilin. Dia beli apa ya, aku jadi penasaran.
Tidak lama, Merilin sudah keluar dari ruang ganti. Sudah menggunakan atasan milik Rion. Kali ini memakai baju warna biru dengan motif bintang-bintang. Dia menyisir rapi rambutnya yang masih agak lembab, karena masih lembab rambut ikalnya malah lebih mudah dia atur.
Rion berbalik saat mendengar langkah Merilin. Dia mendorong tubuhnya untuk setengah bangun dan bersandar pada bantal sofa.
"Buka!"
Kalau memberi perintah yang jelas kenapa!
"Kau mau apa Mei?" Rion tergelak senang melihat wajah pucat Merilin, dan tangannya yang bergetar menyentuh kancing bajunya. "Siapa yang menyuruhmu buka baju. Haha, aku menyuruhmu buka tas belanjaanmu. Aku mau melihat, apa yang kau beli dengan uangku." Rion semakin tertawa saat wajah pucat Merilin berubah merah karena malu. "Kau mesum juga ya."
Merilin sampai tersengal menahan nafas karena rasa malu dan kesal yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Makanya kalau memberi perintah yang jelas kenapa! Kau juga bodoh Mei, untung kau belum membuka baju tadi! Kalau sampai satu kancing saja terbuka, rasanya Mei memilih pura-pura pingsan saking malunya.
Merilin duduk di karpet, menarik tas belanjaan. Mengeluarkan satu persatu sambil menyebutkan barang apa yang dia beli. Saat dia mengeluarkan baju tidurnya, Rion berdecak sedikit tidak percaya. Menyuruh Merilin membuka setelan baju tidur berkancing dengan celana panjang. Bahannya mirip dengan milik Rion, namun dengan size yang lebih mini dan motif yang lebih ramai.
"Itu baju tidurmu?"
"Ia Kak, aku memilih warna yang hampir mirip dengan baju Kak Rion di lemari."
"Kau mau menyusahkanku?"
Hah, apa sih! Ini kan sudah mirip dengan baju tidurmu, aku sengaja memilihnya untuk menyesuaikan denganmu.
"Mei, seharusnya kau membeli baju tidur yang lebih terbuka, supaya aku mudah membukanya. Yang tinggal tarik talinya langsung terlepas."
Lagi-lagi wajah Merilin cuma bisa memerah saat Rion mengucapkannya dengan gaya tengil dan sedikit mengejek.
__ADS_1
"Besok kau beli lagi baju tidur yang baru. Lanjut!" Menunjuk tas yang lain. "Baju seperti yang aku bilang tadi." Merilin tidak menjawab, dia menarik tas belanjaan yang lain. "Mana jawabanmu Mei..."
Hawa dingin langsung menguat di seluruh ruangan.
"Baik Kak, aku akan membeli baju tidur lagi besok." Menjawab dengan suara lantang sampai membuat Rion lagi-lagi tertawa.
"Kau semangat sekali, sepertinya kau suka ya aku menyuruhmu memakai baju tidur model begitu."
Terserah Kak, terserang kau mau bilang apa, asalkan kau senang.
Saat Merilin menuangkan isi tas karena agak kesal dia tumpahnya saja isinya, jatuh sebuah tas kecil dari kertas. Mei langsung meraihnya bermaksud menyembunyikannya dari Rion. Terlambat, Rion bangun dari duduk bermalas-malasannya. Menggeser tas yang lain dengan kakinya. Menyodorkan tangannya ke depan wajah Merilin.
Habislah aku itu hadiah Baim, eh aku akan membelinya tidak pakai uangnya.
Merilin menyerahkan tas kecil dari kertas di tangannya.
"Kak, ini semua belanjaan yang aku beli dengan menggunakan uang Kak Rion. Semua ada struk belanjaan sesuai dengan nota dari toko. Semuanya ada." Buru-buru Merilin mengeluarkan struk belanja dari dalam tas kertas salah satu belanjaannya. Dan mengeluarkan kartu Rion dari dompet.
Rion tidak tertarik dengan struk belanjaan dan kartunya. Dia membuka tas kecil ditangannya. Benda kecil beberapa lembar terjatuh ke atas karpet. Dia menunduk meraihnya. Stiker aneka karakter yang biasanya ditempelkan di hp, laptop ataupun buku. Mei membelinya karena Baim suka benda yang lucu-lucu.
"Apa ini Mei?" Rion mengibaskan selembar stiker.
"Maaf Kak, kalau itu untuk hadiah teman kantorku."
Bodohnya aku, kenapa aku mengaku. Ah, kau marah.
Rion membanting lembaran stiker di tangannya saat Merilin bicara membeli itu untuk rekan kerjanya.
"Mei, kau lupa saat aku bilang untuk hanya memakai kartuku untuk membeli barangnya saja."
Merilin buru-buru mengambil semua lembaran stiker yang dibanting Rion, memasukkannya ke dalam tas kecilnya lagi. Mendekapnya di belakang punggungnya.
"Aku tidak membelinya dengan kartu Kak Rion, ini semua yang aku beli dengan kartu kakak, semua sesuai dengan struk belanja, Kak Rion bisa memeriksanya." Merilin menumpuk struk belanjaan di depan meja. Sudah dibilang Rion tidak perduli dengan semua struk itu Mei, dia membuang struk belanjaan, sampai berserak di lantai. Merilin tergagap kaget, tas kecil hadiah Baim terjatuh.
Fokus Rion hanya pada benda kecil yang tidak berharga itu.
"Bukannya kau miskin, kenapa kau membeli hadiah untuk rekan kerjamu?"
Aku kan tidak semiskin itu sampai tidak bisa membeli hadiah stiker Kak! Aaaaaaa! Kenapa dia marah untuk hal sepele begini si, menakutkan sekali.
"Laki-laki atau perempuan?"
Pertanyaan yang jawabannya akan menjadi bumerang bagi Merilin.
Bersambung
__ADS_1