Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
144. Tamparan Paman


__ADS_3

Karena banyak yang mau mereka bicarakan, akhirnya Dean membawa mobil bergerak masuk ke area parkir sebuah resto dan kafe. Tempatnya tidak terlalu besar, namun cukup nyaman karena ada beberapa area yang cukup privat, dengan ruang pembatas. Sehingga pengunjung merasa terjaga privasinya tidak terganggu dengan pengunjung lain.


Kebetulan, keduanya juga belum makan malam.


Serge sudah meletakkan hp, dia sudah selesai menelepon Arman. Sebenarnya dia yang mau mengajak Dean makan malam ke restoran yang sudah dipesan Rion, tapi entah kenapa gadis itu menolak saat dia bilang akan mengajak Jesi dan Arman juga. Alhasil mereka memilih tempat ini. Dan memberikan pengalaman makan malam mewah pada Jesi dan Arman. Serge juga sudah menghubungi pihak restoran.


Pesanan makanan mereka sudah datang, di udara yang lembab dan dingin makan makanan berkuah memang menjadi pilihan. Apalagi, Serge baru menyadari kalau dia tidak makan siang dengan benar tadi. Serge terlihat makan dengan lahap, karena dia memang lapar. Sampai membuat Dean yang melihat jadi salah paham malah merasa kasihan.


Apa Tuan Rion tidak memberi Kakak makan tadi? kenapa sampai dia dimarahi dan dipukul begitu? Apa ayah Tuan Rion yang menyuruh sekretarisnya memukuli Kak Ge? Perasaan sedih itu langsung merayap naik, saat melihat bibir dengan tempelan hansaplas itu mengunyah dengan cepat. Wajah tampan dengan senyum ramah itu terluka. Dean entah kenapa jadi merasa ingin melindungi Kak Serge yang tidak berdaya.


Dia imut juga, makannya cepat sekali seperti ada yang mau merebut makanannya. Dan bola mata itu ternyata jauh lebih indah saat dilihat langsung. Serge yang tidak memakai kaca mata, terlihat jauh lebih imut dan menggemaskan di mata Dean.


Walaupun Serge sebenarnya tidak begitu menyedihkan, tapi entah kenapa di mata Dean, Serge berubah menjadi sosok lemah yang ingin dia lindungi.


Dia ikut makan dengan cepat, melihat Serge makan dengan lahap, dia juga ingin menyelesaikan makan bersamaan dengan laki-laki di depannya. Supaya nanti bisa mengobrol dengan santai.


Ah, dia imut dan lucu untuk orang seusianya. Dean menggigit sendoknya, mencuri pandang, melihat Serge yang makan dengan lahap.


Dean adalah gadis mandiri yang bukan hanya dari penampilan saja yang terlihat elegan dan dewasa. Cara berpikirnya bahkan jauh lebih dari usianya. Dia tidak suka bergantung dengan orang lain, apalagi dengan laki-laki walaupun statusnya sebagai pacar sekalipun. Jadi, saat berteman dengan Jesi dan Mei perannya pun seperti kakak bagi mereka berdua. Dia yang dianggap paling dewasa dari ketiga wanita itu. Dia juga senang menjadi tempat mengadu dan bermanja Mei ataupun Jesi, walaupun kadang dia memang cerewet dalam segala hal. Mungkin, tipe idealnya mengarah pada sosok Serge. Terlepas dari laki-laki di depannya yang baiknya luar biasanya, membuat orang akan menyukainya.


Sementara Dean tenggelam dengan pikirannya, Serge juga memikirkan banyak hal.


Deandra tahu semuanya! Tidak mungkin?


Serge masih belum bicara, masih fokus pada makanan di depannya, sambil kepalanya sibuk berfikir.


Semuanya?


Semua dalam kamus Serge kan mencakup semua hal. Berarti Dean tahu kalau dialah yang menjodohkan Mei dengan Rion. Gadis ini tahu perihal kontrak pernikahan.


"Kak Ge..."


"Eh, ia, kenapa?"


"Apa Kak Ge mau tambah makanannya? Biar aku pesankan. Kakak lapar sekali sepertinya."


"Hah! Tidak-tidak usah, kebetulan aku belum makan siang tadi makanya aku makan dengan cepat. Hehe, sekarang sudah kenyang kok. Maaf ya, aku malah fokus makan."


Dean tersenyum, nggak papa Kak, Kak Ge imut banget waktu makan dengan lahap. Aku suka kok. Mau bicara begitu sebenarnya, tapi Dean masih bisa mengendalikan pikiran dan mulutnya dengan sangat baik, untuk tidak keceplosan.


Serge sudah menumpuk piringnya, mendorongnya ke tepi. Lalu dia meraih gelas minumannya. Meneguknya dua kali. Sekarang, dia mau bertanya langsung pada Dean. Masalah yang tertunda tadi. Yang sangat penting.


"Apa Mei menceritakan semuanya? Kau tahu sampai mana De?"


Dean mengangkat kedua tangannya, seperti membuat lingkaran besar di udara, yang artinya semuanya. Membuat Serge benar-benar tercengang dan kehabisan kata-kata.


"Sekarang, giliran Kak Ge? Kenapa wajah Kakak sampai begitu? apa Ayah Tuan Rion yang melakukannya?"


Kau masih penasaran ya? Ehm, Serge sebenarnya ragu mau cerita, tapi Dean mengulangi kata-katanya kalau dia tahu semua rahasia Mei. Dan berharap Kak Ge juga menceritakan semuanya.


Dan akhirnya Serge menganggukkan kepala sambil berkata, baiklah, toh kamu sudah tahu semuanya dari Mei.


Mengalirkan cerita dari mulut Serge, sambil laki-laki itu memainkan gelas air putih di tangannya. Dia menunduk sesekali, melihat Dean sesekali juga. Sambil merangkai kata, menceritakan kejadian hari ini.


Setelah sekretaris Presdir menelepon, Serge mengintip ke dalam ruang VVIP, pembicaraan kedua orang itu masih terdengar aman. Dia menutup pintu perlahan, bergegas keluar restoran setelah menitipkan kunci pada manager restoran. Dan dia memesan taksi online, kembali ke rumah Presdir.


Seribu praduga dan pertanyaan bermunculan di kepala Serge, walaupun dia tidak bisa menemukan alasan pastinya, kenapa dia sampai dipanggil. Dan tanpa sepengetahuan Rion. Dia memang sudah sering melakukannya dulu, melaporkan semua hal pada Presdir tentang Rion, tapi isi laporannya sudah melalui persetujuan Rion.


Deg.


Jantung Serge langsung berdetak dengan hebat. Saat melihat siapa yang menyambutnya di depan pintu. Sekretaris Presdir sendiri. Dengan tampang menyeramkan. Dia memang kaku dan tidak banyak bicara, tapi hari ini dia berkali lipat terlihat menakutkan. Serge sudah bisa menebak, sepertinya dia sudah membuat kesalahan.


Tapi apa! Kesalahan apa yang sudah kulakukan!


"Maaf Tuan, kenapa saya dipanggil ya? Tadi saya juga sudah bertemu Presdir saat wawancara beliau, dan semua berjalan dengan lancar."


Paman masih diam, tetap menatap ke depan, dan langkah kakinya yang lebar tetap berjalan cepat. Serge mulai keluar keringat dingin, saat paman tidak bicara sepatah kata pun. Sampai mereka berada di depan ruang kerja presdir.


"Jawab pertanyaan Presdir dengan benar, jangan berbelit-belit apalagi kau sampai berbohong, Sekretaris Serge, apa kau paham dengan kata-kataku."


"Ba...baik."


Aku tidak paham! Tidak bisakah Anda katakan dulu, kesalahan saya sebelum masuk apa?

__ADS_1


Pintu ruang kerja presdir sudah terbuka, Serge tidak berani bertanya lagi. Dia menoleh sebentar kebelakang. Sepi, apa semua sudah kembali ke kantor gumamnya. Mei juga, apa dia sudah pergi. Setelah dia masuk, pintu tertutup. Paman berdiri di sampingnya, menarik lengannya untuk berdiri di dekat sofa di mana Presdir duduk. Tubuhnya bergerak mengikuti kemauan paman.


Hanya dengan melihat aura yang terpancar dari wajah Presdir saja Serge sudah tahu, kalau laki-laki di depannya sedang menyimpan amarah yang sebentar lagi akan meledak.


Apa? Menang salah saya apa? Tiba-tiba, entah kesadaran dari mana, Serge menemukan titik terang. Kalau dia diseret ketempat ini bukan karena dia melakukan kesalahan, tapi, Apa Rion melakukan hal yang salah. Ya, cuma itu satu-satunya kemungkinan yang masuk akal. Rion yang salah, tapi dia yang harus bertanggung jawab duluan.


"Aku kecewa padamu Ge, kau menusukku dari belakang. Padahal aku sangat percaya padamu. Kau sudah aku anggap seperti saudara Rion, saat Rion membawamu masuk ke dalam Andez Corporation, aku membiarkan, karena aku percaya pada penilaian Rion, kalau kau pekerja keras dan berwawasan luas. Tapi, ternyata..."


Apa ini? Ini tentang apa? Apa masalah Anda Tuan? Apa salah saya?


Serge yang mulai diserang takut, berusaha mencari jawaban lewat paman. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak bergeming dan membantunya. Kacamata yang dia pakai rasanya mulai berembun. Dia usap dengan punggung tangan.


"Maafkan saya Tuan, maafkan saya kalau saya mengecewakan Anda. Tapi saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Andez Corporation, dibawah pimpinan CEO Rion. Saya berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa." Agak terbata dia membuat jawaban, terdengar berputar-putar jawabannya.


Presdir bangun dari duduk, dia berjalan menuju meja kerjanya. Mengambil sesuatu dari dalam laci. Kaki Serge rasanya lemas, tulangnya seperti mau rontok, tidak kuat menopang tubuhnya. Saat dia melihat, apa yang dipegang Presdir sekarang.


Data-data yang dia kumpulkan tentang Mei, yang dia bawa kepada Rion waktu itu. Bagaimana itu bisa ada ditangan Presdir! Ah, sialan! Apa bahkan dia bisa membobol akses komputer sampai ruang kerjaku. Cuma bisa berharap keajaiban Tuhan sekarang.


Presdir memukul meja, tepat di atas berkas Mei. Membuat Serge tersentak mundur ke belakang. Dia mendengar paman menghela nafas jengah.


Apa aku pura-pura pingsan saja sekarang?


"Kau tahu semuanya, kalau pernikahan Rion dan Mei hanyalah pernikahan kontrak?"


Duar! Serge mendengar ledakan di dalam tubuhnya. Kewarasannya seperti langsung meledak dan hilang dalam sekejam mata. Mereka sudah ketahuan. Mereka sudah tertangkap basah. Dia sebagai perencana, dalang dari romansa cinta Rion dan Mei. Kalau dijatuhi hukuman, bukankah dalangnya akan mendapat hukuman paling berat. Serge merinding. Kacamatanya bahkan bergetar di hidungnya.


"Jawab!"


Presdir sudah menggebrak meja kerja. Suaranya yang keras, dingin dan tegas, ikut membuat kaca jendela bergetar karena gema dari suaranya.


"Saya, saya benar-benar tidak tahu apa yang Anda bicarakan Tuan. Pernikahan kontrak? Haha, dari mana Anda mendapat berita tidak masuk akal itu."


Serge memejamkan mata dengan tubuh dan tangan gemetar, saat pajangan kaca yang ada diatas meja melayang tiba-tiba. Dan prank, pecah terburai di lantai. Setelah benda itu melayang dan membentur tubuhnya. Untung saja tidak mengenai wajah atau kepalanya.


"Kau masih berani berbohong padaku?"


"Saya, benar-benar tidak tahu Tuan. Pernikahan kontrak apa. Rion dan Mei menikah karena saling mencintai. Seperti yang sudah saya katakan dulu, kalau mereka menikah karena jatuh cinta pada pandangan pertama saat wawancara majalah." Walaupun terbata, akal Serge masih bisa di ajak kompromi.


Tapi, jawaban Serge semakin membuat amarah Presdir meledak. Tanpa bisa dibendung lagi.


Bagaimana ini? Bagaimana Presdir bisa tahu? Ah sialan, apa aku pernah menyimpan catatan penting di komputer kantor. Tidak, aku tidak pernah menyimpan cerita karangan ku tentang Mei dan Rion di sana. Aku hanya menyimpan data-data yang aku kumpulkan dari database kantor di komputer. Tapi, bagaimana Presdir bisa tahu!


Mei, kalau Presdir tahu. Tidak! Bagaimana nasib Mei selanjutnya! Aaaaaa! Tidak boleh! Bertahanlah Ge, karang apa saja yang bisa kau karang bodoh! Jangan diam saja. Aku gemetar sialan! Kepalaku tidak bisa di ajak berfikir. Memotivasi diri, sekaligus menyerah secara bersamaan. Memang itulah Serge dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


"Ge..."


"Ia Tuan!"


"Katakan semua yang kau tahu, semuanya, dari awal sampai akhir tentang pernikahan Rion dan Mei."


"Saya benar-benar tidak tahu yang Anda maksud Tuan! Maafkan saya. Anda mungkin salah mendapatkan informasi."


Brak! Tangan Presdir menggebrak meja lagi. Dia bangun mendorong kursi yang dia duduki sampai kursi itu membentur lemari. Serge hampir jatuh karena kaget mendengar suara dentuman kursi beradu dengan dinding.


"Ini kesempatan terakhirmu Serge, jawab pertanyaanku dengan baik." Sepertinya Presdir sudah menyerah untuk mendapat jawaban dari Serge dengan cara bicara baik-baik. Kalau bicara tidak mempan, selanjutnya ancaman dan hukuman yang akan turun tangan. Itulah cara Presdir. "Katakan semuanya yang kau tahu, mengenai pernikahan Rion dan Mei."


"Saya benar-benar tidak tahu Tuan! Maafkan saya." Terbata bicara dengan tangan yang semakin bergetar.


Habislah aku, sudah tamat riwayat ku.


Serge tidak menyadari, kapan paman berjalan mendekat ke arahnya. Baru saja dia menoleh, plak! Tamparan paman, langsung membuat Serge limbung. Kepalanya berdenyut. Kacamatanya jatuh ke lantai. Dan, suara pecahan kaca terdengar. Paman menginjak kacamata Serge, dengan wajah datar tanp ekspresi.


"Bukankah aku sudah mengajarimu, aku selalu mengatakan padamu, bahwa sekretaris CEO, adalah orang yang harus mencegah CEO melakukan kesalahan sekecil apa pun itu, dan apa yang kau lakukan sekarang."


Serge menelan ludah dengan kepala tertunduk.


"Angkat kepalamu, dan jawab pertanyaan Presdir."


Serge mengangkat kepalanya.


"Saya, saya benar-benar tidak tahu, tidak pernah ada pernikahan kontrak antara Mei dan Rion Tuan, itu yang saya tahu."


Plak!

__ADS_1


Serge cuma bisa menggigit bibir, sambil merasakan rasa nyeri yang langsung menjalar ke seluruh tubuh. Paman menamparnya dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya sekedar ancaman untuk membuatnya takut. Tapi, paman sedang memberikan hukuman, hukuman pada muridnya yang mengecewakan.


Plak!


Plak!


Paman berhenti setelah Presdir mengangkat tangannya.


"Serge, kau mau tahu, aku tahu dari siapa mengenai pernikahan kontrak Mei dan Rion?"


Serge terdiam. Dia tidak berani membuka mulut, karena kalau dia salah bicara, Mei bisa terseret masalah yang jauh lebih besar.


"Mei sendiri yang mengatakannya."


"Apa?"


"Mei sendiri yang bilang, kalau dia menikah dengan Rion karena uang, karena Rion akan membatunya melunasi hutang ayahnya. Mereka menikah kontrak karena kau yang menyodorkan."


Mendengar nama Mei disebut, kaki Serge langsung jatuh berlutut di lantai. Semua ketakutan yang ia coba tahan langsung meluap, membuat kepalanya tidak bisa berfikir jernih. Efek tamparan paman juga membuat kepalanya berdenyut.


"Kenapa? Kau mulai ingat sekarang?" Presdir tertawa mengejek, lalu tawanya lenyap, wajah marahnya muncul lagi.


"Mei, Mei bukan gadis seperti itu Tuan. Dia bukan wanita gila harta yang menikah untuk menguras uang Rion. Saya mohon percayalah, dia tidak meminta lebih dari apa yang Rion berikan padanya. Mei benar-benar gadis yang baik." Dengan kepala tertunduk, Serge bicara sebisanya, yang terpikirkan dikepalanya, untuk menyelamatkan Mei. "Mereka memang menikah kontrak, tapi Mei dari awal sebenarnya sudah menyukai Rion."


Presdir yang terdiam, membuat Serge berhenti bicara.


"Teruskan, jelaskan semuanya Ge. Se-mu-a-nya, jangan menutupi apa pun, karena keputusan yang akan aku ambil dalam hubungan Mei dan Rion selanjutnya, tergantung dari informasi yang kau berikan. Termasuk nasibmu ke depannya di Andez Corporation."


Deg...


Dan akhirnya, semuanya, semua yang Serge tahu dia ceritakan pada Presdir. Tidak ada yang dia tutupi, sedikit melebih-lebihkan tentang Mei, supaya gadis itu terhindar dari kesalahpahaman Presdir. Sebisanya, dia melindungi adiknya itu. Dengan pipi yang masih berdenyut, dia menceritakan semuanya sampai selesai.


Dan akhirnya, setelah dia selesai. Rion muncul seperti orang bodoh yang tidak tahu situasi segenting apa.


"Rion sialan memang, dia masih tidak sadar situasi, tidak melihat ayahnya sudah semarah itu. Eh, De..."


Serge meraih tangan Dean yang terukur di atas meja. Gadis di depannya terlihat sedih, bahkan ujung matanya sembab. Dia menyeka sudut pipinya yang basah.


"Ke..kenapa? Kau menangis?"


Apa dia juga khawatir pada Mei seperti aku? Ah, kami memang kan mirip sekali kalau berhubungan dengan Mei.


"Ah, kamu sedih ya? Sudah kok, semua sudah selesai. Mei nggak papa, Presdir juga sudah memaafkan kami, Rion juga dipukuli pakai bantal tadi. Haha. Eh, kenapa kau masih menangis? Mei baik-baik saja."


"Kakak pasti kesakitan kan? Kakak yang ditampar kan?" Dean semakin terlihat sedih.


"Eh, aku. Ia si, memang sakit, sampai kepalaku berdenyut tadi, tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Mei juga baik-baik saja. Rion bahkan mengakui perasaannya pada Mei." Serge menyentuh pipinya. "Aku hanya ingin melindungi adikku dan sahabatku. Jadinya ya begini."


"Hiks, kenapa Kak Ge baik sekali si..."


Serge jadi malu karena dipuji begitu.


"Kak Ge orang yang sangat baik." Dean menarik tangannya, menggengam balik tangan Serge. "Kak, ayo pacaran denganku. Aku akan melindungi Kakak, aku akan menjaga Kakak."


"Hah?"


"Apa Kak Ge mau pacaran denganku? Aku akan memperlakukan Kakak dengan baik."


"Hah? Dea, apa...?"


"Bagaimana ini, aku jatuh cinta pada laki-laki yang sudah dianggap kakak oleh temanku, saking baiknya Kak Ge, aku sampai merasa gila kalau sampai aku tidak jatuh cinta pada Kakak. Jadi apa Kak Ge mau jadi pacarku? Aku jatuh cinta pada Kakak."


Wajah Serge memerah, yang lebih parah, jantungnya rasanya mau meledak karena berdebar sangat kencang.


"Kak Ge harus menjawab donk, kalau ada yang menyatakan cinta.."


"Ah, aku harus menjawab ya? Maaf, aku belum pernah pacaran jadi aku tidak tahu."


"Hah?" Tapi Dean tertawa kecil kemudian, mengingat Mei yang dulu pernah menyukai Kak Ge dalam diam, dan laki-laki di depannya ini sama sekali tidak menyadari. "Baiklah, aku akan mengajari Kakak, kalau ada yang menyatakan perasaan pada Kakak, yang harus Kak Ge lakukan adalah, anggukan kepala, dan jawab, baik, ayo kita pacaran." Dean tersenyum.


Serge terlihat ragu, karena semua terjadi sangat tiba-tiba. Saat Dean menggoyangkan tangannya dia spontan menjawab.


"Baik, ayo kita pacaran."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2