
Angin berhembus di antara pepohonan yang ada di taman RS. Mereka pun sudah duduk di kursi panjang yang banyak ditemui di taman. Bahkan ada juga pasien dan anggota keluarga yang sedang berjalan-jalan. Di bawah rindang pepohonan untuk merasakan udara segar.
Semua masih membisu dengan pikiran masing-masing.
Mei dengan semua kekalutan hatinya, dia merasakan amarah dan kekecewaan Kak Rion, dari caranya Kak Rion yang terdiam, dari caranya melepaskan tangan. Dan gadis itu menarik mundur tangannya, tidak berani menyentuh tubuh Kak Rion. Walaupun dia tahu, sentuhan itu bisa sedikit melumerkan kemarahan, tapi nyalinya menciut, dia tidak punya keberanian untuk melakukan itu.
Ibu dengan penyesalannya, kenapa tidak membawa suaminya, sekaligus menyesali ide untuk mengubur masalah pil kontrasepsi berasal darinya. Kalau saat itu diungkap kan pasti masalah ini sudah selesai. Begitu sesal ibu, waktu itu bisa menghindari, dan akibatnya hari ini terjadilah, ledakan kemarahan Rion yang tidak bisa dia hadapi sendiri.
Sementara Rion, sedang berkubang dengan pikirannya, bagaimana menyelamatkan Mei dari interogasi ayah ibunya. Dia melupakan sebentar kemarahannya, karena bicara dengan ibu jauh lebih penting sekarang.
Bagaimana ini? apa yang harus kukatakan pada ibu. Bagaimana kalau ayah tahu, padahal waktu itu aku sudah bilang pada ayah, aku tidak menunda kehamilan. Ah, Kenapa Mei? Kenapa kau bisa melakukan ini.
Tangan Rion terkepal di samping kakinya. Dia marah dan kecewa.
"Ibu..."
"Ia Nak?" Ibu cepat menjawab. Tangan ibu meraih tangan Mei, mencoba menenangkan kegelisahan menantunya itu.
"Apa bisa ibu tidak perlu membahas masalah pil kontrasepsi pada ayah? Toh Mei juga kondisinya sehat, aku juga tidak ada yang mengkhawatirkan, semua sehat dan normal, itu yang penting kan?" Rion bicara tanpa melihat ke arah Mei. Padahal Mei ada di sampingnya. Duduk antara dia dan ibu. "Soalnya aku pernah berbohong pada ayah, aku pernah bilang tidak menunda kehamilan. Eh, malah ketahuan begini akhirnya."
Kubur saja masalah ini begitu pikirnya, Rion tidak mau menghadapi situasi seperti waktu itu untuk kedua kalinya. Ayah yang marah kadang menyebalkan gumam Rion.
"Rion, sebenarnya ayah dan ibu..."
"Aku mohon Bu, kejadian waktu itu sangat melelahkan untuk ku dan Mei, aku cuma tidak mau ada keributan lagi."
Ibu yang sebenarnya mau menjelaskan, kalau dia dan suaminya sudah tahu, akhirnya terbungkam lagi.
"Tolong ya Bu." Pandangan Rion masih lurus ke depan.
"Baiklah Nak, kalau itu yang kamu inginkan, sekarang kalian juga jangan mempermasalahkan itu lagi ya, semua kan sudah berlalu. Kalian sehat-sehat, itu yang penting. Ia kan Mei, sekarang kamu sudah nggak minum pil itu, itu kan yang penting."
"Maaf Bu."
Mei cuma bisa mengatakan itu dengan suara lirih.
"Sudah jangan minta maaf lagi." Ibu berusaha bertelepati, supaya Mei tidak usah membicarakan lagi masalah pil. Mungkin terbongkarnya rahasia ini oleh dokter, adalah cara Tuhan membantu mereka untuk jujur pada Rion. Ibu menganggukkan kepala memberi isyarat pada Mei.
Rion hanya menatap pepohonan di depannya, membiarkan ibu dan Mei bicara. Ah, dua orang wanita yang sangat ia sayangi. Dia selalu bisa memaafkan ibu walaupun saat ibu membuatnya marah, dia ngambek dan kesal pada ibu tapi selalu memeluk ibu kemudian. Dan sekarang pada Mei, jujur saja, kemarahan itu belum mereda. Masih meledak-ledak di hatinya. Terbukti, dia belum mau melihat wajah Mei.
Semua pertanyaan di kepala Rion, masih bermuara pada kenapa? Kenapa kau minum pil kontrasepsi, apa karena kau membenciku? Apa karena Serge?
Setelahnya ibu bicara dengan Mei berdua, dengan alasan mereka pergi ke kamar mandi. Perdebatan kecil terjadi antara ibu dan Mei.
__ADS_1
"Bu, aku mau jujur pada Kak Rion, sekarang dia kan sudah tahu."
"Mei, kalau kau mengungkitnya lagi di rumah, ibu yakin kamu dan Rion akan bertengkar, kamu sendiri tahu kan bagaimana sifatnya Rion."
Laki-laki pemarah, yang sangat mudah tersinggung kalau segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan kehendaknya. Mei juga tahu itu, tapi.
"Tapi Bu, aku lebih takut kalau kemarahan Kak Rion tersimpan, entah kapan akan meledak. Aku takut aku tidak siap menghadapinya nanti. Dan aku sangat takut sekarang, karena Kak Rion melampiaskan kemarahannya dalam diam."
Ibu juga sebenarnya kebingungan, tapi, dia yang paling tahu sifat anaknya. Bagaimana kalau pertengkaran mereka akan berlanjut di rumah nanti.
"Kalian pulang saja ke rumah ibu." Salah satu jalan menyelamatkan semuanya pikir ibu.
"Ibu..." Mei sudah merasa itu tidak mungkin. Walaupun belum bertanya pada Kak Rion sekalipun. "Hari ini, saya pulang ke rumah saja Bu, saya janji tidak akan membicarakan masalah pil lagi dengan Kak Rion kalau dia tidak bertanya."
Ibu cuma bisa menghela nafas pasrah karena Mei keras kepala.
Rion sudah berjalan menuju area parkir mobil. Saat mereka berdua keluar dari kamar mandi. Dan akhirnya mereka berpisah tanpa banyak bicara, sopir ibu yang sedari tadi menunggu menundukkan kepala saat mobil tuan mudanya melaju lebih dulu dari mobilnya.
Ada apa ini? kenapa suasananya mencekam, dan tumben tuan muda pergi duluan. Dia pun hanya bertanya-tanya dalam pikirannya. Kaget saat mendengar nyonya yang menghela nafas di kursi belakang. Ada apa ini, apa ada hubungannya dengan penerus tuan muda. Padahal tadi nyonya waktu berangkat terlihat senang sekali.
Aaaa! Dasar gila! Kalau seperti ini bisa-bisa aku yang disalahkan Presdir, padahal aku ikut masuk ke RS saja tidak.
Lagi-lagi semua orang dipusingkan dengan hal yang berlainan.
Hening, tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Hanya suara deru mobil yang terdengar mengisi kekosongan.
Mei yang tidak berani melihat ke arah Kak Rion, hanya bisa menatap jendela kaca. Dadanya masih bergemuruh dengan detak jantung yang cepat. Dia sedang memikirkan, harus bicara apa nanti di rumah.
Kenapa kau marah Kak? Seharunya kau tahu kan, kenapa aku minum pil kontrasepsi. Aaaaaa! Kau yang bodoh Merilin, kau yang bodoh. Mei, memukul kaca mobil, sambil menggigit bibir getir. Dulu, aku kan hanya boneka mu Kak, aku hanya istri boneka yang akan kau ceraikan setelah dua tahun. Bagaimana mungkin, aku membiarkan aku hamil. Karena akan ada dua orang yang terluka kalau sampai dia hamil, dirinya sendiri, dan anak yang akan dia lahirkan. Mei tidak berani membayangkan bagaimana kalau sampai ada anak diantara dia dan Kak Rion. Anak seorang boneka, akan seperti apa nasibnya kelak.
Itulah yang menjadi alasan Mei sampai berani minum pil kontrasepsi. Tatapan mata Mei jauh ke luar mobil. Tapi, bagaimana dia menjelaskan itu semua pada Kak Rion.
Sementara Rion hanya fokus melihat ke depan, sambil sesekali menyalip mobil di depannya yang berjalan dengan lambat.
Sialan! Pikiranku jadi kacau sekali. Rion memukul kemudi sambil menghela nafas.
Mei merasakan kecepatan mobil naik. Gadis itu melihat gurat wajah Kak Rion. Masih sama, dipenuhi amarah dan rasa kesal.
"Kak.." Rion tidak menjawab panggilan Mei. "Biar aku yang bawa mobil." Mei yang sudah mau memegang tangan Rion di atas kemudi dia tarik lagi ke dadanya. "Kak Rion terlalu cepat membawa mobilnya, ini kan jalan biasa Kak, bukan jalan tol."
"Diamlah.."
"Maaf Kak, tapi.."
__ADS_1
"Aku bilang, Diamlah Mei."
Kata diamlah yang terucap dua kali, langsung membuat hati Mei berdenyut. Kalau dulu, saat kata-kata ketus terucap dari mulut Kak Rion, yang ditujukan untuknya sekalipun, rasanya tidak terlalu menyakitkan seperti hari ini. Kata diamlah, yang diucapkan Rion membuat Mei tidak membuka mulut sampai mereka sampai di apartemen.
Aroma udara yang masih sama, bahkan sekarang masih terasa lebih wangi. Sebelum pulang, bibi pasti menyemprotkan pewangi supaya yang masuk pertama kali ke rumah merasakan sensasi kesegarannya.
Sudah ada di ruang tamu dengan kebisuan yang mencekam. Suara helaan nafas keduanya saja yang memenuhi ruangan.
"Kak, apa mau aku ambilkan minum?"
"Masuk ke kamar, dan jangan keluar sebelum aku panggil."
Setelah mengatakan kalimat perintah itu, Rion meninggalkan ruang tamu. Menghilang dari pandangan Mei. Kak Rion masuk ke ruang kerjanya dengan menutup pintu seperti membantingnya.
Jantung Mei langsung berdetak kencang.
Dengan langkah berat Mei menyeret kakinya masuk ke dalam kamar. Dia menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur. Tidur meringkuk.
"Bagaimana ini?"
Rasanya jauh lebih menakutkan karena marahnya Kak Rion kali ini adalah dengan diam. Kalau Kak Rion mencaci Mei, gadis itu akan merasa lebih baik. Atau kalau perlu dia akan merasa jauh lebih baik kalau dipukul sekalipun, supaya dia bisa memohon maaf, karena kebodohannya di masa itu. Tapi sekarang, Mei tidak tahu harus melakukan apa, karena Kak Rion marah memilih untuk diam.
"Bagaimana ini? Kakak semakin salah paham dan berfikir ibu dan ayah tidak tahu."
Dia bahkan berusaha melindungi ku.
Tapi amarah yang membuatnya membanting pintu, membuat Mei benar-benar tidak berani mendekat.
"Kak aku harus bagaimana sekarang? Aku akan minta maaf dan mengatakan semua alasan kenapa aku minum pil kontrasepsi, jadi aku mohon bertanyalah, jangan diam saja seperti ini."
Karena Mei tidak berani kalau dia memulai duluan.
Mei bangun lalu duduk sambil memeluk bantal.
Tidak Mei! Kau jangan hanya menunggu seperti ini, kau yang harus meraih tangan Kak Rion duluan. Redakan amarahnya, lalu katakan semuanya. Semua yang selama ini tersimpan dalam hati mu. Katakan semua, bahkan kalau ayah dan ibu juga sudah tahu.
"Hubunganmu sudah membaik Mei, kau dan Kak Rion saling mencintai. Kak Rion pantas marah, ia, dia pantas untuk marah." Mei ingat kata-kata ayah. "Sekarang, yang harus kau lakukan adalah meluluhkan kemarahannya."
Datangi Rion, peluk dari belakang. Walaupun dia mendorongmu dan mencacimu, jangan lepaskan pelukanmu Mei. Ayolah Mei, sekarang waktunya kau menunjukkan seberapa besar cintamu. Kalahkan takut mu, akui kesalahanmu. Mei, mengepalkan tangannya sambil mempererat pelukan bantalnya.
Gadis itu menatap pintu.
"Tapi aku tidak boleh keluar kamar, bagaimana ini?"
__ADS_1
Bersambung