
Setelah menempuh perjalanan cukup memakan waktu. Akhirnya mereka sampai di apartemen milik Rion. Rumah yang akan ditinggali Merilin bersama Rion, selama sandiwara pernikahan mereka berlangsung.
Tadinya ibu meminta Rion untuk tinggal di rumah, sepertinya ibu senang sekali punya anak perempuan jadi tidak mau berpisah dengan Mei.
Rion tidak menerima atau menolak tawaran itu, seperti biasa hanya melirik Mei untuk menjalankan perannya sebagai istri boneka. Mei yang kebingungan mencari alasan terbantu dengan perkataan Presdir.
"Sayang, biarkan saja mereka berdua. Mereka kan baru saja menikah pasti ingin berduaan, kamu kan bisa datang atau memanggil mereka ke rumah kalau kangen." Presdir menyelamatkan Merilin.
Ah, ayah mertua, Anda sungguh berhati mulia.
Cuma bisa menahan kegeraman saat melihat Rion yang menyeringai lalu membuang muka. Dasar manusia tidak mau rugi, mentang-mentang kau sudah mengeluarkan uang untuk menjadikanmu bonekamu jadi kau menyerahkan pekerjaan seperti ini padaku, setidaknya berbelas kasih kenapa.
Sabar Mei, sabar. Bayangkan saja suamimu ini Harven yang sedang merajuk dan berprilaku kekanakan.
Lift terbuka. Mei agak terkejut, karena lift mengantar sampai ke lantai 12. Tadinya dia berfikir Rion akan tinggal dilantai tertinggi gedung apartemen, satu lantai semua miliknya. Karena apa, ya karena ayahnya yang membuat apartemen ini.
Dilantai ini dia bahkan punya tetangga.
Sopir yang membawakan tas mereka, menundukkan kepala setelah meletakkan barang bawaan di ruang tamu. Lalu dia menghilang meninggalkan dua orang yang sedang berdiri tepat di tengah ruangan.
Lagi-lagi Merilin dibuat terkejut dengan suasana di dalam ruangan. Dalam sekali pandang saja dia sudah bisa memastikan, kalau rumah ini sudah direnovasi besar-besaran. Karena sangat jauh berbeda dengan desain asli. Merilin pernah memuat perihal apartemen ini, jadi dia tahu persis bagaimana struktur ruangan asli.
Merilin masih terdiam di tempatnya berdiri, sementara Rion sudah menjatuhkan tubuh ke sofa.
"Kemari!"
Eh, dia ketus lagi. Dasar!
Terkadang Merilin ingin Rion ramah, tapi terkadang dia juga takut kalau Rion sudah berkata dengan nada ramah dan manis. Gadis itu sendiri bingung apa yang dia inginkan. Dia mendekati sofa, belum duduk.
Di ruang tamu ini hanya ada satu sofa yang ukurannya cukup besar, satu meja persegi yang ukurannya tidak terlalu besar. Ada TV dan beberapa lemari untuk menyimpan barang. Sepertinya Rion menjadikan ruang tamu sekaligus sebagai ruang keluarga.
"Dengarkan penjelasan ku dengan baik Mei, aku tidak suka mengulangi kata-kataku." Rion menyandarkan tubuh.
"Baik Kak."
Menyeramkan sekali, aku seperti sedang diwawancara HRD saat mau masuk ke perusahaan.
"Ah, sebelumnya selamat datang ke rumahku, di sini semua aturan ku yang berlaku. Serge pasti sudah menjelaskan semua padamu kan?"
Ah, benar Mei, inilah sosoknya yang asli. Sekarang tidak ada lagi akting manis. Karena hanya ada mereka berdua. Merilin lega sekaligus merasa ada yang aneh. Dia lega, karena tidak akan ada skinship yang berlebihan. Sekaligus getir, karena sekarang mereka akan seperti orang asing.
Aku ini sebenarnya kenap sih, dia ramah aku takut, dia ketus aku Juga sedih.
"Kau paham?"
"Ia Kak."
Tidak perlu kau tegaskan, aku juga paham Kak. Aku paham lahir dan batin posisi dan statusku. Begitu Merilin mencacat dalam hatinya. Aku hanya sebatas boneka Rion.
Rion tertawa mendengar jawaban ia dari Mei, tapi kening gadis itu yang berkerut seperti tidak mau menjawab ia.
"Ada yang mau kau tanyakan? karena ini hari pertamamu datang, aku akan berbaik hati menjawab dan memberimu tour guide keliling rumah." Tangan Rion terangkat, mengembang di udara. "Selamat datang bonekaku, Merilin. Ah, lucunya."
Apanya yang lucu! Kenapa selera humormu aneh sekali! Tidak ada yang lucu sekarang!
Yang satu tertawa, yang satu pias.
"Di mana kamar ku Kak?" Sepertinya hanya ada tiga kamar gumam Merilin, matanya dari tadi beredar memperhatikan. Ada tiga pintu yang terlihat seperti pintu kamar.
"Kamar mu. Haha." Rion tertawa dan bangun dari sofa. Mendekati Merilin, menoel dagu membuat gadis itu gelagapan kaget.
Apa sih, kenapa tertawa. Kamarku, ia kamarku, supaya aku tidak menggangu mu dan kau tidak menggangguku kita butuh kamar terpisah kan.
__ADS_1
"Ikut aku." Merilin melangkah di belakang Rion. Dia terhenti karena Rion berhenti melangkah saat berada tepat di depan sebuah pintu. Rion membukanya. Senyum di bibirnya muncul saat pintu kamar terbuka. "Ini kamar kita."
Deg.
Merilin seperti salah dengar, barusan Rion bilang apa, kamar kita, kamar kita! Dia menjerit dalam hati dan mundur beberapa langkah. Kenapa jadi kamar kita?
"Kak bukanya katanya kita akan tidur di kamar terpisah?" Agak terbata Merilin bertanya, memastikan dia tidak salah mendengar.
Rion menyentuh dagu Merilin. Tatapannya masih terlihat dingin dan acuh. Tapi kemudian senyum seringainya muncul.
"Rencana awalnya begitu, tapi aku berubah pikiran." Dengan santainya Rion berkilah.
Hah! Kenapa juga kau berubah pikiran!
Tangan yang tadinya mencengkeram dagu lalu menepuk pipi Merilin dua kali dengan pelan. Rion menundukkan kepala, pandangan mata mereka sejajar.
"Kau pikir aku akan membuat usaha kerasku bersandiwara selama hari pernikahan dan malam pertama kita sia-sia, kalau kau ketahuan ibuku tinggal di kamar terpisah denganku semua kerja kerasku akan sia-sia kan. Kenapa bibirmu bergetar Mei, kau mau aku menciummu?"
Baru bertanya dan belum sempat dijawab, Rion sudah mendaratkan kecupan di bibir Mei. Membuat tubuh Mei rasanya langsung membeku.
Loading, loading. Saat Mei tersadar Rion sudah berjalan menuju sebuah pintu kaca transparan.
Apa yang dia lakukan! Kenapa dia tiba-tiba mencium setelah melempar bom, kamar bersama, kenapa kita jadi tidur bersama!
"Kak." Mei mendekat. "Ibu kan tidak datang setiap hari, kalau ibu datang kita baru tinggal satu kamar, aku nggak mau menggangu kenyamanan Kak Rion saat istirahat. Kakak pasti lelah kan setelah bekerja dan ingin pulang istirahat." Merilin berdalih kalau semua ini demi kebaikan Rion. Dia bicara dengan hati-hati supaya kata-katanya tidak menyinggung.
"Kau menolak tidur satu kamar denganku?"
Aku ingin mencubit pipinya, sumpah!
"Mana mungkin aku menolak perintah Kak Rion, aku hanya takut menggangu kenyamanan Kak Rion saat tidur." Mei tersenyum, tapi dalam hati dia berdoa supaya laki-laki di depannya membatalkan keinginan untuk tidur di kamar bersama.
"Aku tidak masalah, tempat tidur ku juga lebar."
Ah, sialan! Bukan itu masalahnya! Kalau tidur di kamar bersama kan ada kemungkinan kau meniduriku. Aaaaa!
Benar, aku kan bisa pura-pura begitu nanti.
Saat Merilin sedang menyusun siasat di kepalanya, Rion mendorong pintu kaca di depannya.
"Ini lemari penyimpanan, simpan semua baju dan barang-barangmu di sini." Rion mengetuk lemari di bagian kanan. "Bagian ini semua milikku, lemari di bagian kiri bisa kau pakai. Tasmu sudah di bawa Serge kemarin." Menunjuk dua koper di sudut ruangan. Ruangan yang ditunjukkan Rion sepenuhnya berisi lemari. Ada lemari kaca di tengah ruangan, sepertinya berisi jam tangan. "Mei..." Suara Rion rendah terdengar.
"Ia, Kak, kenapa?"
Kenapa suaranya menyeramkan begitu.
"Kalau di dalam tas milikmu ada barang yang diberikan orang lain untukmu, buang, aku tidak mau kau memakai barang pemberian orang." Apalagi kalau itu dari Serge. Begitu arti sorot mata menikam Rion. Deg, terlihat tangan Merilin bergetar. Karena di dalam tas itu dia juga membawa barang yang pernah diberikan Kak Serge padanya. "Aku masih mentoleransi kalau itu dari kakakmu atau orangtuamu. Tapi di luar itu aku tidak mau kau menyimpannya."
"Baik Kak."
Aaaaa, kenapa si.
Rasanya Merilin sangat sedih, tas dari Kak Ge yang sudah menemaninya beberapa tahun ini. Menghapus foto saja rasanya menyakitkan, apalagi harus membuang benda berharga pemberian Kak Ge.
Merilin berlari mengikuti langkah Rion yang keluar ruangan. Dia menyimak penjelasan Rion mengenai dapur dan isi kulkas. Akan ada bibi pelayan dari rumah ibu yang datang tiga hari sekali untuk mencuci dan membereskan rumah. Memenuhi kulkas dan melakukan ini dan itu.
"Jadi kau paham kan, kenapa kita harus tinggal satu kamar."
"Ia Kak."
Kalau sampai bibi pelayan menyampaikan pada ibu, semua memang akan ketahuan. Aaaaaa, tapi bagaimana hidupku selanjutnya nanti. Merilin tidak bisa menyanggah tapi juga tidak rela mengakui kebenaran.
Merilin sedikit terhibur saat Rion menunjuk satu pintu, yang bisa dia pakai sebagai kamar pribadi. Merilin bisa menggunakan kamar tidur itu sesukanya di siang hari, tapi dia dilarang meletakan benda pribadi kecuali buku di ruangan itu.
__ADS_1
"Itu hp barumu." Rion menunjuk meja dapur. "Sepertinya aku tidak sengaja menendangnya semalam."
Rupanya kau pelakunya!
"Terimakasih Kak, untuk hp dan kamar pribadiku."
Hiks, hpku. Rion bahkan tidak mengizinkan Mei membawa rongsokan hp yang pecah itu. Padahal bisa saja kan masih bisa diperbaiki. Kenapa kau membawa-bawa sampah, Serge akan membelikanmu yang baru nanti. Merilin tidak menyangka, kalau hpnya sudah ada sekarang. Dia akan berterimakasih juga pada Kak Ge nanti.
"Kemari, aku tunjukkan tempat paling indah di rumah ini."
Rion mengulurkan tangan, Merilin meraihnya. Mereka berjalan ke arah pintu yang menghadap ke luar. Sebuah balkon. Merilin berdecak kagum saat pintu terbuka. Ini seperti balkon tertutup, sudah ada di luar rumah tapi seperti ada di dalam rumah. Ada deretan pohon berdaun hijau yang berderet, jumlahnya cukup banyak.
Rion menyentuh sebuah tombol di tembok. Dan sedetik kemudian jendela kaca bergesek, bergerak dan terbuka. Terasa angin berhembus menyentuh wajah Merilin, bahkan dedaunan pun bergoyang.
"Bagaimana? kau suka?"
Aaaaaaa!
Merilin menjerit dalam hati, tubuhnya kaku, karena Rion memeluknya dari belakang. Sambil berbisik di telinga. Menempelkan kepala di bahu Merilin.
"Kak..."
Rion tidak melepaskan pelukannya, dia bahkan mendekatkan bibirnya dan mencium leher Merilin. Membuat gadis itu merinding dengan semua kelakuan Rion yang tidak bisa ditebak maunya apa ini.
"Selain ibu dan bibi yang merawat tanaman ini, cuma kau yang boleh masuk ke sini Mei. Bahkan Serge pun tidak aku izinkan masuk ke teras ini." Kecup lagi, kecup lagi. Membuat Merilin memejamkan mata takut. Dia tidak memberikan reaksi apa-apa. Hanya tubuh kaku dan tengkuk Merinding. "Kau tidak berterimakasih?"
Rion mengangkat kepalanya. Tapi masih memeluk Mei. Sekarang menjatuhkan kepala di atas kepala Mei. Jarak tinggi badan mereka, memang memungkinkan Rion melakukan ini.
"Ah ia Kak, aku sangat takjub sampai tidak bisa berkata apa-apa. Terimakasih, aku boleh datang ke sini. Tempat ini cantik sekali."
Sudah kan, aku bicara dengan benar kan. Kepalaku agak blank karena pelukan ini. Aaaaa!
"Mei..."
"Ia Kak, kenapa?"
"Hanya satu tempat, kau tidak boleh masuki di rumah ini. Ruang kerjaku, jangan pernah masuk ke sana tanpa izin dariku."
"Baik Kak."
Apa disana kau menyimpan masa lalu mu? Entah kenapa hal itu yang terpikirkan di kepala Merilin. Rahasia masa lalu Rion dengan wanita itu.
Karena disana ada majalah perusahaan hasil kerja kerasmu yang aku simpan dengan cara istimewa, kau pasti bisa besar kepala kalau melihat aku mengakui hasil kerja kerasmu sampai segitunya. Sebenarnya ini alasan utamanya.
Rion mengendurkan pelukannya.
"Pergi mandi sana, aku lelah besok kita sudah mulai bekerja."
Kau kan yang memelukku dari tadi dasar orang aneh.
"Mei..." Rion sudah duduk di kursi yang ada di teras. Menahan tangan Merilin yang mau melangkah. "Aku tidak suka warna mencolok saat tidur."
Hah! Maksudnya? Ah, baju tidur ya.
"Baik Kak, aku mandi dulu."
"Berusahalah Mei, kalau aku senang mungkin saja aku akan berubah pikiran dan mengundang kakak dan adikmu kemari. Haha."
Apa sih! Kenapa kau tertawa!
Di dalam kamar mandi Merilin merinding takut, memikirkan kalimat terakhir yang Rion ucapkan. Gadis itu terduduk di lantai.
Bagaimana ini, kalau dia mengajakku berhubungan. Tidak Mei, dia kan tidak menyukaimu mana mungkin laki-laki dan perempuan bisa berhubungan tanpa dasar cinta. Merilin seperti mendapat pencerahan.
__ADS_1
Tapi aku kan cuma bonekanya, kalau dia mau, aku juga tidak bisa menolak. Kak Ge... bagaimana ini!
Air membasahi kepala Merilin, tapi sama sekali tidak memberinya pencerahan.