
Di depan kamar Amerla.
Ibram masih berdiri diam di dekat kopernya yang ada di depan pintu. Pelayan yang tadi menunggunya pun sudah dia usir. Sekarang, dia termangu, apa yang ingin dia lakukan sekarang ya. Setelah dipikir-pikir apa aku terlihat sangat menyedihkan sekarang? Bisa-bisanya aku malah membawa baju ganti untuk tinggal bersama istri yang kabur meninggalkan ku.
Sesaat kewarasannya mendominasi. Tangan yang sudah menyentuh handle pintu dia tarik lagi. Belum terlambat kalau dia mau memutar langkah dan pergi, karena Erla belum melihatnya. Harga dirinya seperti sudah tercerabut, kalau sampai Erla menolaknya. Tapi, pikiran Erla menolaknya langsung memantik emosi. Ya, walaupun memang sudah jelas si dia bakal di tolak juga.
Sialan! Aku tidak mau bercerai dengannya!
Ibram bahkan membantah kata-kata ayahnya. Orang yang biasanya akan menuruti semua yang dikatakan orangtuanya, demi istri yang sudah kabur dia bahkan tidak mengindahkan keluarganya.
Persetan dia menolakku, aku datang untuk memberinya pelajaran kan, kau itu istriku, memang kau bisa apa kalau aku tidak mau menceraikan mu.
Lagi-lagi, perasaan cinta tertutupi dengan keegoisan. Cara Ibram mencintai Erla memang terkadang di luar nalar.
Dan bug! Akhirnya emosinya yang menang, dia menendang pintu kamar dengan suara keras, jeritan dari dalam kamar terdengar. Suara gadis yang selama beberapa hari ini seperti hantu yang selalu datang dalam mimpi Ibram terdengar kaget sekaligus panik.
Erla bangun dari duduknya di depan mesin jahitnya, tangannya yang memegang kain terlihat mulai gemetar saat Ibram memasuki kamar, dengan langkah beratnya.
"Kak, Kak Ibram!" Erla terbata.
"Kau masih mengenaliku?" Ibram sinis menjawab, laki-laki itu menyapu ruangan, kamar Erla yang sepertinya jauh berubah dari saat terakhir dia datang. Lantai yang dipenuhi kertas dan kain yang berserak. Bahkan ada gantungan baju dorong. Dan saat matanya menatap Erla, hatinya langsung berdebar. Gadis itu terlihat semakin cantik dari saat dia bertemu terakhir kali. "Bawa masuk koper ku." Ibram melengos, menutupi hatinya yang berdetak cepat.
Erla tersentak kaget saat melihat koper di dekat pintu. Dia belum melangkah, malah melihat Ibram yang berjalan ke arahnya. Gadis itu mundur dua langkah. Perasaan takut langsung menyergap. Dia meraih gunting di atas meja, menyimpannya dibalik punggungnya. Entah apa yang akan dia lakukan dengan gunting itu, tapi dia berharap bukan hal gila. Karena tangan dan kakinya bahkan sudah gemetar terintimidasi dengan langkah Ibram.
Koper? Kenapa dia membawa koper? Begitu pertanyaan yang langsung muncul di kepala Erla. Apa yang mau kau lakukan Kak? Penderitaan apa yang harus aku alami lagi. Erla meremas roknya, mengusap tangannya yang mulai berkeringat.
"Kau tuli? Bawa koper ku masuk!"
"Kenapa Kak Ibram membawa koper?" Gunting di belakang punggungnya terlepas, saat tangan Ibram mencengkeram dagunya. Perasaan takut langsung menjalar sampai ke belakang tengkuknya. Dia yang merasa damai selama beberapa hari ini karena tidak ada kabar apa pun dari Ibram, tidak pernah menduga laki-laki itu muncul dengan membawa koper di depan kamarnya. "Kak Ibram mau menginap?"
Ibram menyeringai, lalu menggoyangkan dagu Erla.
"Kenapa? Kau keberatan?"
Tangan yang dulu selalu bersikap kasar padanya, menyapu bibir Erla. Gadis itu merinding.
"Kau itu masih istriku, dan rumah ini masih rumah mertua yang merepotkan ku. Erla, seharusnya kau sudah bersiap kan, karena berani menantang ku."
Aaaaaa! Sakit! Kak Sakit! Erla meringis saat cengkeram tangan Ibram menguat. Ibram juga melihatnya, istrinya yang kesakitan. Dia mendengus, lalu dihempaskan tangannya. Sampai Erla membentur meja mesin jahitnya.
"Ambil baju tidur ku."
Erla yang terdorong mengusap dagunya dengan tangan. Sakit, tapi dia sudah merasakan sakit yang jauh lebih parah dari ini, jadi untuk apa menangisinya sekarang. Gadis itu menuruti perintah Ibram, mengambil koper besar yang ada di dekat pintu. Dia tarik masuk ke dalam kamar, saat akan menutup pintu, pandangannya lurus ke depan melihat kedua orangtuanya yang berdiri di dekat tangga.
Tatapan mereka berisi kemarahan, ketidakberdayaan, dan memohon supaya Erla tidak membuat suaminya marah. Gadis itu tergelak sinis, kalian bahkan tahu apa yang akan terjadi, tapi kalian hanya menonton tanpa bisa membantuku sedikit pun. Erla membalas tatapan mereka dengan dingin, lalu menutup pintu kamar dengan suara keras.
Setelah pintu tertutup. Erla membalikkan badan, melihat Ibram sudah melepaskan baju atasannya dan duduk di atas tempat tidur. Kaki Erla langsung berat membeku, dia tidak bergerak, mencengkeram koper milik Ibram.
"Kenapa diam?"
__ADS_1
Kau gemetar sekarang, aku sudah di sini, kita berdua di dalam kamar. Kau tidak berfikir aku akan membiarkanmu tidur kan? Seringai jahat yang muncul di sudut bibir Ibram, sudah bisa diterjemahkan apa oleh Erla. Gadis itu berbalik dengan cepat, berlari ke arah pintu. Ingin kabur dan menyelamatkan diri. Tangannya meraih handle, dia tidak mau menjadi tempat pelampiasan hasrat dan nafsu Ibram malam ini.
Tapi.. deg..
Tangan Erla menggoyangkan handle pintu dengan sekuat tenaga. Mendorong pintu, memukul-mukul dengan kedua tangannya. Pintu tidak bergeming. Terkunci dari luar. Apa! Ayah, ibu! Rasanya airmata Erla sudah tidak keluar walaupun dia ingin menangis sekalipun, saking tidak merasa percaya kalau orangtuanya sendiri setega ini.
Ibram tertawa melihat Erla yang jatuh terduduk dengan lemas setelah lelah memukul pintu.
"Haha, apa yang kau harapkan dari mereka Erla? Aku bahkan tidak menyuruh mereka melakukan ini."
Ibram mendekati Erla yang sedang bersimpuh di lantai sambil menundukkan kepala. Dia ikut berjongkok, meraih tengkuk Erla menyuruh gadis itu melihat ke arahnya. Seringai penuh kemenangan itu terlihat jelas di mata Ibram.
"Istriku yang malang, ayah dan ibu mu bahkan tidak perduli padamu. Yang mereka takutkan hanya kalau aku marah dan membuangmu." Ujung mata Erla mulai basah, karena dia benar-benar sangat menyedihkan sekarang. Dia tidak berdaya. "Yang orangtuamu pikirkan hanyalah uang, dan uangku."
Ibram mencium pipi Erla yang basah oleh airmata, gadis itu merinding takut.
"Kak, aku mohon, aku akan menebus kesalahanku pada Kakak, aku mohon biarkan aku pergi."
Cengkeram tangan di rambut Erla menguat. Gadis itu meringis.
"Apa yang bisa kau lakukan dengan kerugianku gara-gara Andez Corporation, apa yang bisa kau bayar dengan semua rasa malu yang mencoreng wajahku! Bukan hanya dipermalukan CEO Rion, rekan bisnisku juga menertawakan ku. Kegagalan pembangunan asrama karyawan itu sekarang jadi bahan ejekan mereka. Hah!"
"Aaaawww, sakit Kak!" Erla memegang tangan Ibram yang menarik rambutnya. "Sakit." Ibram menghempaskan rambut Erla, lalu menarik tangan gadis itu secara paksa, mendorong Erla sampai terjatuh ke tempat tidur. Airmata berjatuhan di mata Erla semakin deras. Dia akan mengalami rasa sakit itu lagi.
Ibram menarik baju Erla dengan kasar.
"Kak, jangan, aku mohon."
Setelah semua pakaian Erla terlepas, gadis itu memalingkan wajah, airmata disudut matanya terlihat jelas di mata Ibram. Tangan yang mencengkeram seprei. Bibir yang bergetar tidak berdaya. Gadis di depannya tidak mau, tapi juga tidak melawan.
"Lihat aku!"
Pandangan Amerla masih menatap ke samping.
"Lihat aku Erla!" Saat intonasi Ibram semakin mengeras, Erla menggeser lehernya, menatap laki-laki yang ada di depannya. Ibram yang sudah setengah telanjang, wajahnya juga sudah memerah. Bukan hanya kesal, tapi juga hasrat dan kerinduan pada tubuh wanita di depannya yang langsung menyala membuat wajah laki-laki itu memerah. "Kenapa kau tidak datang padaku?" Tangan yang lebar itu mulai menyapu tubuh bagian depan Erla.
Kau mau mendengar jawaban apa Kak? Bukankah sudah jelas, aku sudah memohon padamu untuk menceraikan aku. Erla menelan ludah saat melihat bibir Ibram yang basah, lehernya yang bergerak seirama dia menarik nafas. Terlihat seksi. Erla kau sudah gila! Apa kau merindukan sentuhan laki-laki kasar ini? Gadis itu menertawakan dirinya sendiri. Dia takut sekaligus berdebar untuk alasan yang aneh.
"Jawab!" Ibram mencengkeram dagu Erla dengan emosi lagi.
"Ibu Kakak menghubungiku, dia mengirim foto wanita yang katanya akan menjadi istri baru Kakak." Erla berhenti bicara saat tangan Ibram mengendur dan menjauhinya. "Kakak juga terlihat bahagia saat tersenyum dengannya, jadi, untuk apa aku datang lagi." Soal foto wanita lain dan Ibram memang benar, ibu mertua mengirimkan itu padanya. Supaya dia sadar kalau dia sudah bukan lagi menantu Andalusia Mall, tapi soal senyum bahagia Ibram saat bersama wanita itu dilebih-lebihkan Erla.
Ibram mengeram, waktu ibu menfotonya dengan wanita itu memang sudah aneh. Tapi saat itu dia sama sekali tidak curiga. Tapi, memang aku tersenyum saat itu?
"Memang siapa yang tersenyum bahagia?"
"Kak Ibram dan wanita itu."
Jadi pergilah Kak, pergilah dari hidupku. Erla tahu, menyandang status janda miskin seperti yang ibunya katakan tidaklah mudah, tapi pasti tidak sesulit memperbaiki hubungannya dengan Ibram.
__ADS_1
"Jadi? Kau cemburu?" Malah pertanyaan bodoh apa yang keluar dari mulutku ini, Ibram mengutuk kebodohannya. "Persetan dengan wanita itu, karena sekarang aku hanya menginginkan mu."
Deg.. apa maksudnya? Erla berusaha mempertahankan lembaran pakaian dala*man yang masih tersisa di tubuhnya. Yang secara kasar ditarik oleh Ibram. Saat Ibram semakin keras menarik, Erla melepaskan tangannya pasrah.
Gadis itu hanya menatap langit-langit kamarnya, saat bibir Ibram mulai menyentuh lehernya. Erla menggigit bibir, buliran airmata menetes di pelupuk matanya.
"Kalau aku melayani Kak Ibram sekarang, apa ini bisa jadi terakhir kalinya. Setelah ini biarkan aku pergi Kak, lepaskan aku."
"Erla!"
"Aku tidak perduli dengan perusahaan ayahku, ambil semua uang Kak Ibram. Lepaskan parasit seperti kami dan hiduplah dengan wanita yang dijodohkan ibu dengan Kak Ibram. Hiduplah dengan bahagia bersama wanita yang mencintai Kak Ibram.
Perasaan marah langsung meledak di dada Ibram, wajahnya kali ini memerah karena marah, tangannya sudah terangkat. Amerla yang melihat tangan yang sudah siap memukulnya, menggigit bibir sambil memejamkan mata. Pasrah. Dia bersiap menerima rasa sakit itu lagi.
Tapi, saat melihat istrinya yang meringkuk ketakutan, tangan Ibram terjatuh lagi, menjauh. Selama beberapa detik mereka tidak bergerak.
Lalu tangan Ibram mengusap kepala Erla, membuat gadis itu tersentak kaget, karena bukan pukulan yang dia terima. Suara nafas Ibram terdengar sangat dekat di telinga Erla sekarang, gadis itu memang belum berani membuka mata. Dia hanya bisa merasakan bibir Ibram menciumi ujung matanya yang basah.
"Bersiaplah, dan mulai terbiasa lah, karena mulai malam ini aku akan tinggal di sini." Erla yang membelalakan mata, tidak bisa bicara karena bibirnya tiba-tiba sudah dilu*mat tanpa memberinya jeda. "Dan setiap malam aku akan melakukan ini padamu."
"Hemm..Hemm. Kak, aku mohon."
"Berusahalan Erla, buat aku bosan dan membuangmu."
Apa? Apa maksudnya? Aaaaa! Erla menjerit tapi malah suara ******* yang keluar, saat Ibram menggigit bahunya dengan keras.
"Kau menikmatinya?"
"Ti, tidak!"
Ibram menarik tangan Erla ke atas kepala, dan selanjutnya dengan sesuka hatinya bibirnya menari di atas tubuh gadis itu.
"Haha, kau menikmatinya kan?"
"Tidak..tidak Kak."
Tapi Ibram tidak perduli, karena reaksi tubuh Erla dari setiap sentuhan bibirnya, sudah membuatnya cukup senang. Gadis yang ada dibawahnya ini tidak benar-benar menolaknya.
Penutup
Sebelum datang ke rumah Amerla, Ibram terdampar di tepi danau kota. Dia berusaha menenangkan emosi yang meledak-ledak di dadanya. Melihat teman-temannya yang terlihat bahagia dengan pasangan mereka, membuatnya kesal sekaligus iri.
"Kalau kau mau meluluhkan hati istrimu, tinggal kau yang datang dan minta maaf kenapa. Perempuan itu kan kadang suka marah dan ngambek jadi minta dibujuk dan diajak pulang."
"Dia yang salah sialan! Kenapa aku yang harus membujuknya."
"Dia itu hanya merajuk, sama halnya denganmu yang merindukannya, dia juga pasti senang melihat mu. Percayalah, aku kalau bertengkar dengan istriku juga begitu. Turunkan sedikit saja ego mu."
"Ah, sialan!"
__ADS_1
Saat itu Ibram memang tidak terima dengan kata-kata temannya.
Bersambung