Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
171. Hadiah Untuk Mei


__ADS_3

Di tempat terpisah. Masih di hari yang sama dengan peluncuran film promo.


Mei mulai bertanya-tanya ketika mobil yang dibawa Kak Rion berbelok ke arah kiri dan bukan ke arah kanan, jalan yang seharusnya mereka lalui setiap hari, kalau mau pulang ke apartemen. Ini juga bukan jalan menuju rumah ayah pikirnya.


Jadi, kita mau kemana?


Mei meraih punggung tangan Rion yang berada di atas kemudi, memukulnya pelan. Rion yang sedang fokus mengemudi menoleh, lalu memindahkan tangannya ke pangkuan Mei. Dia memegang kemudi dengan satu tangan.


"Kita mau ke mana Kak?" Mei bertanya.


Tangan mereka terpaut, Rion menarik bibirnya tersenyum. Tapi tidak menjawab. Malah mempererat genggaman tangannya.


Apa sih malah tersenyum, mau memberi kejutan?


"Kak?"


"Coba tebak, kita mau ke mana." Malah balik bertanya, tapi Rion memberi clue, tujuan yang akan mereka tuju ini ke mana. "Aku kan sudah bilang tadi, mau memberi mu hadiah spesial." Rion menyunggingkan senyum penuh makna, lalu memutar leher dan fokus ke jalan lagi.


Mobil yang dibawa Rion menyalip mobil di depannya.


Jawaban Kak Rion semakin membuat Mei penasaran, tapi saat kata hadiah terulang lagi, entah kenapa pikiran Mei langsung menuju pada satu kata, hotel. Sepertinya Kak Rion tidak mau pulang, dia mau menghabiskan malam di hotel mungkin. Hah, sudahlah Mei, pasrah saja, kemana pun dia membawa mu, asalkan bersama Kak Rion kau senang kan. Begitulah akhirnya Mei ikut tersenyum sambil mencium punggung tangan Kak Rion.


Hadiahnya pasti itu kan, Mei melirik lengan Kak Rion, lalu menjalar ke bagian tubuh yang lain. Buru-buru berpaling, karena merasa malu sendiri dengan apa yang bersarang di otaknya sekarang.


"Ya, aku ikut saja, ke mana Kak Rion mau pergi. Hehe."


Hanya strategi pasrah yang berlaku di hadapan Kak Rion pikir Mei. Mau dia protes juga tidak ada gunanya. Bertanya pun cuma dijawab senyuman atau tertawa.


Akhirnya...


Keduanya saling bertukar senyum kebahagiaan, semakin mempercepat laju mobil saat ada sela di depan, Rion menyalip kendaraan di depannya lagi, seperti ingin segera sampai ke tujuan.


Saat mobil sudah masuk ke sebuah area parkir, Mei melihat, hanya ada sedikit kendaraan yang terparkir, dan mereka bukan berada di area parkir hotel, tapi di sebuah restoran. Gadis itu yakin sekali, kalau dia belum pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Tapi, saat Kak Rion menggandeng tangannya, memasuki pintu, kok suasana tempat ini akrab. Apa aku pernah datang ke sini ya? Mungkin dalam mimpi, sampai Mei berfikir begitu.


Tidak ada pengunjung lain yang terlihat.


Malah, rombongan pelayan muncul menyambut mereka, salah satu yang terlihat seperti manager yang bicara pada Kak Rion. Mengatakan semua persiapan sudah selesai, dan bertanya di mana mereka mau duduk. Mei memperhatikan sekitar selama Kak Rion bicara dengan manager restoran.


Tunggu! Kolam bunga. Lilin, makan malam romantis. Bola mata Mei mengerjap, seperti mengenali semua suasana hari ini.


"Kak!"


Tempat dan suasana yang sama, seperti yang ditunjukkan Harven kala itu. Tempat yang seharusnya mereka makan malam romantis, tempat yang akan menjadi saksi pengakuan cintanya. Kalau tidak gagal karena pengakuan Mei tentang pil kontrasepsi pada orang tua Kak Rion.


Mei menarik lengan jas yang dipakai Kak Rion.


"Kak, ini restoran yang Kak Rion siapkan waktu itu kan? Ahhhh, Kakak menyiapkannya lagi." Entah bagaimana ekspresi Mei, tapi gadis itu benar-benar terkejut, dia tidak menduganya sama sekali. Hatinya berdebar, wajahnya berseri.


Rion menunduk dan mengecup bibir Mei, perasaan haru gadis itu, tangannya yang mencengkeram kuat lengannya karena kaget. Membuat Rion bahagia, artinya kejutannya berhasil kan.


"Selamat ya Mei, kau sudah bekerja keras." Kecup-kecup lagi. Sampai membuat para pelayan menundukkan kepala. Mei mendorong kepala Kak Rion dan menunjuk para pelayan. Karena dia malu, Kak Rion melengos seperti biasanya. "Cih, ayo, aku lapar."


"Ia Kak, hehe." Mei menyandarkan kepala di lengan, sambil mengikuti langkah Rion. "Terimakasih untuk semuanya Kak." Baginya, ini benar-benar kejutan yang luar biasa. Kala itu melihat di foto saja sudah membuat Mei bahagia. Apalagi sekarang, dia ada di sini.


Mereka berjalan menuju meja yang ada di dekat kolam, satu buket bunga datang di bawa seorang pelayan. Rion mengambilnya.

__ADS_1


"Aku memilih sendiri bunga ini." Menyodorkan ke dalam dekapan Mei. "Aku harap kau menyukainya."


"Ia Kak, terimakasih banyak. Cantik sekali." Mei mencium ujung bunga yang mengeluarkan semerbak keharuman. Lalu dia mencium pipi Kak Rion juga. "Aku benar-benar tidak menyangka, Kakak akan menyiapkan ini. Bunganya cantik. Kak Rion sudah bekerja keras. Terimakasih banyak untuk hadiah kejutannya."


Dalam hati Rion bicara, sebenarnya yang kelimpungan menyiapkan semua ini Serge, tapi dia tidak mau mengatakannya. Dia mau menikmati pujian Mei untuk dirinya sendiri. Bodo amat dengan orang satu itu pikir Rion.


Setelah duduk, tangan Rion terangkat, sebagai isyarat, seorang pelayan mendekat lagi, menyodorkan sebuah amplop coklat besar ke tangan Rion. Mei mengikuti setiap gerakan tubuh Kak Rion sambil menebak, apa itu. Amplop coklat?


Kak Rion mau memberi kejutan apa lagi si?


"Bukalah Mei, ini hadiah spesial dariku." Rion memicingkan mata saat tangannya masih menyentuh amplop coklat. "Kenapa kau tertawa?" tanyanya heran.


Mei memang sedang menutup mulut karena menahan tawa. Sebenarnya Mei sedang menertawakan dirinya sendiri. Karena pikirannya sudah kejauhan. Dia berfikir Kak Rion akan menghadiahkan tubuhnya seperti biasanya. Dan membawanya ke hotel. Menyuruhnya menikmati sepuasnya. Biasanya hadiah Kak Rion kan nggak jauh dari itu. Apalagi ini hadiah spesial, entah mau berapa lama dia disuruh menikmati. Ini yang ada dibayangkan Mei. Ini yang membuat wajahnya memerah.


Bagaimana Mei tidak malu, kalau ternyata hadiah Kak Rion berbentuk barang normal begini.


Tangan Mei sudah meraih amplop. Masih mendekapnya di dada belum dia buka. Mei masih sedikit tersenyum.


"Mei!"


"Ia Kak, maaf." Menutup mulut.


"Kenapa kau tertawa?" Rion masih bertanya. "Jawab."


Mei tergelak kecil sambil menutupi wajahnya dengan amplop.


"Nggak papa Kak, aku tadi cuma berfikir, Kakak akan menghadiahkan tubuh Kakak." Gumam-gumam dari balik amplop, tapi karena Rion tertawa dengan keras, Mei yakin Kak Rion mendengar dengan jelas yang dia katakan. "Kak, apa sih, kenapa keras sekali tertawanya."


Semakin malu karena para pelayan masih berdiri di posisinya.


Hemm, mulai deh, kakak pintar sekali memutar balikkan fakta!


"Kau bisa menikmatinya, setelah kita makan malam." Rion menyentuh lehernya, mengendurkan dasi, membuka satu kancing bajunya. "Haha, kau menelan ludah Mei."


"Kakak!"


Suasana makan malam yang romantis sepertinya sedikit berganti tanpa mereka sadari, alunan musik yang terdengar pelan, tertimpa tawa kedua pasangan itu, yang sedang mengobrol dengan cara aneh mereka. Rion selalu menang menyudutkan Mei, sementara gadis itu semakin memerah malu, saat lagi-lagi Kak Rion dengan isengnya menyenggol kakinya di bawah meja, sambil mengedipkan mata nakal.


Setelah mereka lelah tertawa, Rion menunjuk amplop lagi.


"Bukalah Mei..."


Ah benar, aku sampai lupa dengan amplop coklat ini, kira-kira, apa isinya ini. Mei menimang amplop masih berusaha menebak isinya.


"Baik Kak, aku buka ya."


Rion mengganguk dan tersenyum.


Mei membuka amplop, mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Tangannya bergetar ketika isinya sudah keluar, apa ini? Kenapa ada Sertifikat Hak Milik. Padahal sertifikat rumah dan tanah hadiah Kak Rion untuk keluarganya sudah dia terima. Rumah itu saja atas nama Harven sekarang. Lantas apa lagi ini.


"Kak, ini.." Mei mendorong amplop menjauh. "Aku sudah menerima banyak sekali dari Kak Rion, rumah milik Harven sudah lebih dari cukup Kak." Mei tidak mau menjadi terlalu serakah. Semua yang sudah diberikan Kak Rion padanya dan keluarganya, sudah sangat berlimpah.


Rion meraih tangan Mei dan menggenggamnya, dia sudah menduga, Mei akan mengatakan ini. Gadis yang sebenarnya dia nikahi karena uang, namun dia bukan gadis gila harta yang mau mengambil semua uangnya. Mei yang selalu merasa terbebani setiap menerima hadiah mahal darinya.


"Baca yang benar, semuanya sertifikat apa itu."

__ADS_1


Rion melepaskan tangannya, dan mendorong amplop kembali ke dekat Mei.


"Terimalah Mei, aku hanya mengembalikan, apa yang seharunya menjadi milik mu dan keluargamu."


Deg... perasaan aneh apa ini pikir Mei. Dia mengeluarkan lagi kertas dari dalam amplop. Kata-kata Kak Rion mengandung arti, dan benar saja. Ahhhhh, airmata yang entah datangnya dari mana sudah membasahi pelupuk matanya. Ini sertifikat rumah ayah. Rumah yang dibangun ayah dari nol, rumah tempat di mana keluarganya bahagia dulu, hidup bersama. Rumah ayah, rumah keluarganya. Rumah yang harus mereka relakan demi membayar gaji karyawan untuk terakhir kalinya. Tangan Mei gemetar, bersamaan airmata yang membasahi pipi.


"Kak... bagaimana bisa?"


Rion bangun dari duduknya, dia mendekati Mei dan mendekap gadis itu dari belakang. Mencium pipi Mei dari samping.


"Rumah itu pasti memiliki banyak kenangan indah untuk mu dan keluarga mu kan? Aku memang tidak bisa memutar waktu, tapi aku harap, dengan kembalinya rumah ini pada mu dan keluargamu, bisa sedikit mengobati luka masa lalu mu Mei." Dada yang mendekap Mei terasa hangat. Kecupan di pipi, berbarengan dengan bergulirnya airmata Mei.


"Kak Rion. Hiks. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus berterimakasih pada Kakak." Mei bangun dari duduknya juga, memeluk pinggang Rion. Menjatuhkan kepala di dada. "Ibu, Harven dan Kak Brama pasti akan senang sekali. Kak, terimakasih banyak."


Kak Rion datang dalam hidupnya sudah seperti keajaiban. Padahal, dia sudah tidak pernah berharap rumah ayah akan kembali padanya. Melunasi hutang ayah saja sudah mustahil, apalagi mengharapkan rumah itu. Itulah Mei dulu. Walaupun, jujur, Mei beberapa kali memimpikan kenangan di dalam rumah ayah dalam tidurnya. Tapi, dia tidak pernah berani mengingat rumah itu, karena rasanya semakin menyakitkan, mereka sudah kehilangan rumah ayah beserta kenangan di dalamnya. Dan tidak berani mengingatnya, karena hanya akan melahirkan penyesalan, kesedihan dan juga kemarahan, pada teman ayah yang sudah menyeret ayah pada kehancuran perusahaan.


"Terimakasih ya Kak. Aku mewakili keluarga ku sangat berterimakasih. Terimakasih banyak Kak." Berulang kali Mei mengucapkan terimakasih.


Rion menghapus sisa airmata di pelupuk mata Mei. Mengusap bahu Mei lembut, memadamkan sesenggukan. Bahagianya Mei malah tersalurkan melalui airmata. Rion semakin mempererat pelukan.


Mei masih menyentuh amplop, masih tidak percaya dengan hadiah kejutan ini. Bahkan saat makanan datang dan mereka mulai menikmati makan, dia masih melirik amplop takut benda itu akan menghilang seperti mimpi.


"Makan yang benar Mei, amplop itu tidak akan ke mana-mana." Rion tergelak melihat tingkah lucu istrinya.


"Hehe, ia Kak, aku masih tidak percaya."


"Kau bahagia sekali sepertinya."


"Ia, Kak, aku sangat bahagia. Terimakasih banyak Kak, terimakasih sudah mengembalikan rumah ayah pada kami."


Rion menyuapkan satu sendok, lalu tersenyum penuh arti.


"Kalau kau bahagia, setelah ini buat aku bahagia juga donk."


"Eh..."


Rion menggigit sendoknya, sambil menyeringai.


Aaaaaa! Kakak! Kenapa bicara begitu keras-keras. Mei lagi-lagi cuma bisa menutupi malu dengan mengunyah cepat. Para pelayan memang tidak tertawa atau tersenyum, tapi Mei yakin, mereka mendengar kata-kata Kak Rion.


"Segera habiskan makan mu." Perintah Rion selanjutnya.


Mei nyengir sambil terus mengunyah. Dia melirik lagi amplop coklat itu, dadanya berdebar dengan kuat. Rumah ayah, rumah yang menyimpan berjuta kenangan bahagia bersama ayah. Kembali padanya.


Terimakasih Kak Rion, terimakasih banyak.


Sebanyak apa pun Mei mengatakannya, rasanya tidak akan cukup, menunjukkan betapa bahagianya dia dan bersyukurnya dia telah bertemu dengan Kak Rion.


"Kak!"


Mei saking kagetnya sampai menendang kaki Kak Rion yang terangkat di sela-sela kakinya. Sementara Kak Rion cuma tertawa sambil meneguk minumannya. Seperti tidak terjadi apa pun. Padahal kakinya aktif di bawah meja.


"Aku menantikannya Mei."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2