
Mari tinggalkan keluarga yang semua anggotanya terlalu bucin pada anak bungsu mereka. Bergerak ke komplek perumahan yang lain. Rumah ibu Mei dan Harven.
Harven melihat Kak Mei dan kakak iparnya. Keakraban yang dilakukan keduanya. Sikap kakak iparnya yang sepertinya sering dia lihat. Benar, itu kan kelakuan Sheri kalau manjanya kumat gumam Harven. Sheri yang terkadang tidak tahu situasi di sekolah, selalu ingin menempel padanya. Bahkan ke kamar mandi juga tidak masalah.
Harven semakin lega, karena Kak Mei mendapatkan suami seperti kakak iparnya sekarang. Jujur dia masih selalu menyayangkan, karena Kak Mei tidak bersama Kak Serge. Laki-laki sebaik Kak Serge. Tapi sekarang, melihat hubungan mesra keduanya dia sudah tidak mau membandingkan lagi.
Ya, walaupun Kak Rion memang kelihatannya sombong dan angkuh pada orang lain, tapi dia benar-benar terlihat sayang dan tulus pada Kak Mei. Itu kan yang penting. Gumam Harven sambil melihat kakak iparnya yang menempel ke mana pun Kak Mei bergerak. Karena dia juga begitu, cuma kepada Sheri dia bersikap ramah. Dia juga masih belum mengingat teman-teman sekelasnya apalagi yang perempuan.
Sementara itu pikiran Mei sedang dilanda dua dilema.
Yang pertama dipusingkan Mei tentu saja adalah kamar. Di mana Kak Rion akan tidur malam ini. Tapi, langsung terpecahkan dengan Harven memberikan kamarnya untuk ditempati Kak Mei dan suami. Dia sendiri akan tidur di kamar ibu. Tidak masalah baginya, karena jujur, dia sering melakukannya. Tengah malam terbangun, lalu pindah, sambil membawa bantal ke kamar ibu. Entah apa yang dia katakan, ibu hanya tersenyum menyambut anak bungsunya.
Yang kedua tentu saja baju ganti. Rencananya kan mereka akan menginap ke rumah orangtua Kak Rion. Dan biasanya bibi yang akan menyiapkan semuanya. Tapi, masalah ini juga selesai dengan mudahnya. Hanya dengan sekali menelepon, bibi sudah muncul di depan rumah ibu Mei membawa tas yang tadinya sudah dia bawa ke rumah orangtua Kak Rion. Mei yang minta maaf dan berterimakasih berulang, karena sudah merepotkan bibi.
Setelah makan malam, Mei membantu ibu di dapur membereskan peralatan dapur. Sementara Rion dan Harven bergantian mandi. Kak Rion terlihat masuk ke dalam kamar setelah mandi, lalu menutup pintu. Tidak tahu apa yang dilakukannya di dalam. Sementara Kak Mei setelah selesai membantu ibu, dia juga pergi mandi. Ikut masuk ke dalam kamar dan belum juga keluar sampai sekarang. Sekali lagi, entah apa yang dilakukan keduanya di dalam kamar. Ya, mungkin mereka lelah gumam Harven, jadi mau istirahat lebih awal. Tapi terdengar suara dari dalam kamar, tandanya mereka tidak tidur kan.
Karena sebenarnya, Harven ingin mengobrol banyak dengan Kak Mei.
Harven lari ke luar rumah karena Kak Serge ada di depan gerbang. Sebelumnya mereka sudah saling menelepon. Serge membunyikan klakson mobil. Rupanya laki-laki itu datang membawa makanan. Dia tidak turun. Menyodorkan kantung dari dalam mobil.
"Kak Mei dan Kak Rion ada di dalam Kak, mereka mau menginap." Harven memberi informasi.
"Apa! Rion dan Mei? Memang ada apa?" Si paling nggak tahu apa-apa tapi selalu terseret dalam segala suasana akhirnya keluar dari mobil. Tadinya cuma mau mengantar cake stroberi dan langsung pulang. "Nggak ada apa-apa kan Ven?" Terlihat sekali dia khawatir, dan menduga-duga apa ada sesuatu yang terjadi.
Rion menginap? di rumah ini. Cinta benar-benar luar biasanya gumam Serge. Orang yang cuma mau tidur di hotel dengan area privat kalau terpaksa harus menginap di luar rumahnya dan rumah orangtuanya. Sekarang, tidur di tempat asing dan bercampur dengan keluarga Mei. Wahhh, gila! Gila, ini gila. Cinta benar-benar merubah Rion.
Ah, berarti Kak Mei tidak menghubungi Kak Serge ya, gumam Harven. Padahal dia sangat yakin, kalau dulu, sebelum Kak Brama tahu, orang yang akan paling tahu duluan adalah laki-laki di depannya. Apa karena sekarang ada Kak Rion yang jadi tempat bersandar Kak Mei. Harven cukup peka dengan situasi ternyata. Sehingga bisa menyimpulkan, kalau Mei sepertinya sudah berangsur melupakan Kak Serge.
"Tidak ada hal gawat yang terjadi kan Ven?"
"Ibu sudah ingat Kak. Kalau ayah sudah berpulang."
Mereka berdiri di depan pintu.
"Apa? Benarkah? Ya Tuhan syukurlah, bagaimana ceritanya?"
Ibu sendiri belum mau menceritakan bagaimana kronologi dia bisa mengingat ayah. Jadi, Harven atau Kak Mei juga belum tahu apa yang terjadi versi ibu. Jadi yang Harven ceritakan, semua yang ia lihat saat pulang bersama Sheri tadi pagi.
Serge ikut tercengang dan merasa bahwa semua ini keajaiban. Hal baik beruntun mendatangi Mei. Hatinya terhenyak, apa ini jawaban Tuhan atas semua kesabaran yang kerja keras yang kau lakukan selama ini Mei. Satu persatu, Tuhan mengabulkan doa-doa mu. Serge mengusap dadanya sendiri, sekali lagi ikut merasa lega dan bahagia untuk kebahagiaan adiknya itu. Dia juga menepuk bahu Harven. Menunjukan rasa senangnya.
Tadi, saat pergi dengan Dean, mereka pun masih membicarakan Mei. Tentang bagaimana gadis itu bekerja keras selama ini untuk keluarganya. Dean, sebagai sahabat, menceritakan dengan penuh kebanggaan. Sikap gadis itu tidak jauh berbeda dengannya. Sama-sama bangga seperti seorang kakak.
__ADS_1
"Ibu di depan TV Kak, aku siapkan ini dulu ya." Harven mengangkat kantung di tangannya.
Harven langsung membawa kotak makanan ke dapur. Sementara Serge menyapu ruangan dan mendapati ibu sedang duduk di depan TV sambil mengusap-usap dua meong yang menggelayut di kakinya. Wah, di mana dua orang itu. Gumam Serge. Terdengar suara tawa Mei, tatapannya tertuju ke kamar Harven. Dasar! Keluar woi! Keluar! Suara kalian kedengaran tahu!
Ibu terlihat langsung tersenyum melihat kedatangan Serge.
"Ge..."
"Ia Bu." Serge meraih tangan ibu dan ikut duduk di samping ibu. "Harven sudah cerita barusan, kalau ingatan ibu sudah kembali. Syukurlah..."
Wajah ibu terlihat menjadi sedih. Selain anaknya Mei, laki-laki di depannya ini adalah orang yang paling berjasa dalam hidup keluarga mereka. Teman anak sulungnya yang sudah seperti kakak untuk Mei.
"Maafkan ibu ya Ge, sudah merepotkan mu. Ibu tidak tahu, bagaimana harus berterimakasih padamu Ge. Kamu sudah menjaga Mei dan Harven seperti adikmu sendiri. Mei juga cerita, kalau kamu yang menjodohkan Mei dengan Nak Rion."
Deg. Ah, aku harus bangga atau takut sekarang, gumam Serge. Tidak, tidak, sekarang mereka kan sudah saling menyukai. Jadi aku tidak sepenuhnya bersalah kan sudah menyeret Mei dalam pernikahan ini. Mereka sudah menjadi pasangan sesungguhnya. Lihat itu, kelakuan mereka sekarang di dalam kamar. Serge mengusir segala pikiran negatif di kepalanya.
"Ibu jangan bilang begitu, saya cuma membantu kok sebagai kakak. Saya juga senang ibu sudah sehat. Sekarang, ibu juga harus hidup dengan baik, demi Mei, Brama dan Harven."
Ibu menepuk punggung tangan Serge sambil tersenyum.
"Kamu bagaimana? Brama dan Mei sudah menikah kan, apa kamu sudah ada calon istri?" Pertanyaan ibu mengejutkan Serge dan cuma bisa dijawab Serge dengan cengengesan. Kalau dipikir-pikir dia memang tertinggal sangat jauh dari Brama. Sekarang saja dia masih jomblo. Dekat dengan perempuan saja tidak. Eh, sekarang, aku sedang dekat dengan seseorang kan, Serge jadi sejenak terhanyut dalam bayangan Deandra.
Saat sedang memikirkan makan malamnya dengan Dean tadi, Harven muncul dari dapur membawa nampan bersisi cake yang dibawa Serge tadi.
Belum dijawab oleh Serge, pintu kamar Harven terbuka. Mei dan Rion muncul dari dalam kabar, dengan tangan terpaut satu sama lain sambil senyum-senyum. Mei terlihat mengulum senyum. Si gila Rion juga tersenyum. Apa yang kalian lakukan woi! Serge cuma bisa memandang dengan pikiran aneka ragam.
"Kak Mei, Kak Ge datang." Harven berteriak duluan.
"Lho Kak Ge datang ya?" Suara Mei datar saja sebenarnya, tapi sudah menyulut emosi laki-laki yang menggengam tangannya.
"Kenapa kau kesini?" Tentunya dengan nada bicara tidak suka. Apa kau datang karena tahu Mei disini? Sorot matanya seperti sinar laser yang menembus kepala Serge. Apa Mei yang mengirim pesan padamu, lapor kalau ibu sudah kembali ingatannya. Cemburunya mulai menjalar ke mana-mana.
Woi, memang aku tahu kalian ada di sini! Ingin berteriak begitu Serge di depan wajah ketus Rion, tapi tidak mungkin kan di depan ibu. Harven mengangkat piringnya, muncul sebagai penyelamat karena membaca situasi yang canggung ini.
"Kak Ge datang mengantarkan ini, Kak Mei mau? Rasanya mirip seperti yang pernah Kak Mei beli dulu."
Dan ketegangan menghilang. Saat tangan Mei terulur meraih pinggang Rion. Saat mereka sudah duduk di karpet. Ibu juga ikut makan cake. Wajahnya terlihat senang. Dia bergumam, kalau Brama ada pasti tambah ramai.
"Apa itu beli di kafe musim semi Kak?" Mei menyandarkan bahunya di lengan Kak Rion. Laki-laki itu urat tegangnya mulai mengendur. Dia membenturkan kepalanya pelan di kepala Mei. Harven mengintip melalui ekor matanya, setiap gerakan Kak Mei dan Kak Rion. Lucunya mereka, gumam Harven.
Raut wajah Serge jadi berubah malu saat mendengar nama kafe musim semi. Membuat Rion geli dengan perubahan sikap Serge yang tiba-tiba. Sekali lagi, manusia bunglon itu tidak pernah sadar kalau dia jauh lebih parah. Amarahnya bisa langsung mereda hanya karena tangan Mei menempel di bagian tubuhnya. Wajah kakunya akan langsung sirna, saat kecupan Mei menempel di pipi.
__ADS_1
"Dean mentraktirku ke kafe musim semi, katanya sebagai ucapan terimakasih karena urusan taman berjalan lancar. Dia juga mendapat pujian dari atasannya. Hehe dia senang sekali katanya. Jadi kami baru makan malam. Karena cakenya enak, aku jadi membeli untuk Harven dan ibu." Menjelaskan tanpa diminta, dia juga tersenyum dengan penuh kebanggaan saat bersitatap dengan Rion. Aku juga bisa pergi makan dengan perempuan tahu. Sementara Rion cuma mendengus tidak perduli. "Aku baru dengar dari Harven, kalau ibu sudah kembali ingatannya, aku ikut bahagia untuk kalian."
Waww, Mei langsung tertawa senang saat mendengar cerita Serge. Rion yang mau emosi karena berfikir, Mei antusias mendengar cerita Serge. Emosinya mereda dengan sendirinya saat Mei bilang, kalau dia senang Serge pergi dengan Dean. Mei berbisik di telinga Rion. Dean suka dengan Kak Ge, katanya mau menyatakan perasaan pada Kak Ge. Hihi. Rion agak mengeryit sebenarnya, karena setahunya Mei kan juga suka pada Serge.
Bodo amatlah, yang penting kau tidak senang karena Serge. Akhirnya Rion berfikir begitu.
Kak Mei terlihat biasa saja walaupun mendengar Kak Ge pergi dengan Kak Dean, fix, Kak Mei sudah move on sekarang pada Kak Rion.
Tapi, Harven iseng mau mengetes perasaan Mei.
"Wahh, hubungan Kak Ge, dengan Kak Dean sudah sedekat itu?" Harven nimbrung, sambil memotong cake dengan garpu. Lalu mendekatkan sendok ke depan mulut Mei. "Kak Mei mau? Aaaaa!" Mereka berbagi cake dengan sendok yang sama. Itu hal yang biasa mereka lakukan dulu.
Benar, fix Kak Mei sudah move on. Dia biasa saja.
"Boleh." Dengan santainya Mei menjawab. Laki-laki disampingnya langsung tersentak karena Mei sudah membuka mulut. Rion memegang tangan Harven. "Kak kenapa?" Mei yang terkejut karena Rion seperti merebut garpu di tangan Harven secara paksa. "Kakak mau juga?" Harven bahkan meringis karena sepertinya cengkeramnya kuat.
"Eh, Kak Rion juga mau?" Kikuk Harven melepaskan garpu yang dia pegang. Agak takut sebenarnya, karena tatapan Rion berubah sinis padanya.
Apa ini, apa dia cemburu karena aku menyuapi Kak Mei? Apa ini? Ini perasaanku kalau melihat Sheri ketawa-ketawa di kelas dan dilihatin anak-anak cowok lain.
"Haha, Ven, Rion pasti ingin menyuapi Mei. Hei, kau kan bisa bicara bukannya merebut sendok Harven. Kau membuat dia takut." Serge yang membaca situasi dengan cepat. Bergerak menyelematkan keadaan. "Mereka kan kakak beradik, jadi pasti sering berbagi makanan dengan satu sendok."
Aku mohon! Jangan bersikap gila! Mereka kakak beradik sialan! Serge memaki, karena Rion sama sekali belum mengendurkan kerutan matanya. Karena Harven terlihat seperti orang yang akan merebut milikmu? kau jadi emosi. Dasar gila! Harven itu bukan aku yang kakak angkat Mei. Harven itu adik kandung Mei sialan!
Mei segera mengambil piring kecil dan memindahkan satu cake. Mengambil garpu baru. Lalu menyodorkan ke depan wajah Rion.
"Ini punya Kak Rion dan punyaku, kita berbagi ya Kak. Apa Kak Rion mau menyuapi aku. Hehe." Mei membuka mulutnya. Wajah Rion sudah mulai tersenyum, lalu dia mengambil piring kecil di tangan Mei. Mencium pipi kiri Mei.
"Baiklah, kalau kau minta disuapi."
Hah! Dia benar-benar cemburu padaku. Sekarang dia tersenyum karena bisa menyuapi Kak Mei.
Harven menggigit sendoknya geli sendiri karena dicemburui kakak iparnya sendiri.
Dasar gila! Kenapa jatuh cinta membuat orang jadi gila! Serge walaupun memaki tapi lega karena situasi sudah tenang lagi.
Tapi, aku kan dulu biasa begitu. Hiks, aku biasa suap-suapan dengan Kak Mei. Aku bahkan sering tidur di pangkuan Kak Mei sambil minta di usap-usap.
Harven penasaran, kalau dia iseng tidur di pangkuan Kak Mei bagaimana ya. Dia ingin menggerakkan kepalanya jatuh ke pangkuan Kak Mei sekarang, tapi dia merinding saat melihat Kak Rion meliriknya. Akhirnya Harven memilih menjatuhkan kepala di pangkuan ibu.
"Kalian rukun sekali, ibu bahagia melihatnya."
__ADS_1
Serge tertawa dengan keras, walaupun tidak tahu lucunya di mana.
Bersambung