
Makan malam yang romantis, dengan tempat dan suasana yang sangat mendukung. Tapi, entah kenapa saat Kak Rion mengatakan ingin menginap di hotel, seperti membuat suhu udara memanas. Tempat duduk menjadi tidak nyaman. Bahkan buliran keringat yang tiba-tiba merembes di tengkuk leher. Mei berusaha menutupi kecemasannya, tapi tetap terlihat ketegangan disetiap gerakan tangannya.
Makanan yang dikecap lidah seharusnya dipenuhi dengan kenikmatan. Daging yang lumer, ditambah perpaduan saus yang lezat. Makanan yang dulu pernah Mei makan saat ayahnya masih hidup. Saat ini makanan yang terasa asing di lidah Mei, semakin tidak bisa dia nikmati. Walaupun sebenarnya makanan ini sangat nikmat rasanya.
Karena hari ini, dia belum minum pil kontrasepsi. Itu masalah utama yang rasanya memutar balikkan suasana dan keadaan yang sebenarnya sudah sempurna ini. Mei yang biasanya selalu minum pil setelah pulang kerja setiap hari. Tidak terlewat sehari pun.
Aku mau pulang!
Aaaa! Kenapa tidak kau bawa Mei pil itu, hati kecil sedang menyalahkan keteledorannya. Memang siapa yang tahu kalau Kak Rion akan mengajak pergi begini woi! Dia meneleponku juga kan baru sore tadi. Protes pada hati kecil yang seenaknya memarahinya.
"Kenapa? Kau tidak suka makanannya? Mau aku ganti." Rion yang mendongak memperhatikan reaksi Mei dengan kegelisahannya.
Buru-buru Mei memperbaiki duduk.
"Hehe, tidak Kak, ini enak sekali. Dagingnya seperti lumer saat masuk ke mulut ku." Tersenyumlah Mei jangan membuatnya curiga, sambil berpikirlah, supaya kau dan Kak Rion tidak perlu menginap di hotel. Berfikirlah! Gadis itu sedang memutar otak. "Kak, kita pulang saja ke rumah, kan kita tidak bawa baju ganti, baju tidur dan baju buat bekerja besok."
Mei sedang mencari alasan yang paling masuk akal, supaya tidak dicurigai kalau dia tidak mau menginap di hotel. Besok mereka juga harus berangkat bekerja kan. Gumam gadis itu seperti mendapat pertolongan dari langit untuk bicara dengan lancar.
Tapi, senyum yang bercampur dengan gerakan mengunyah daging, membuat semua harapan langsung luntur seperti guyuran air hujan yang tidak mungkin kembali ke langit.
"Kau memusingkan masalah baju sampai secemas itu." Rion tertawa kecil sambil menggigit sendok. Mei melotot reflek karena malah berfikir ekspresi Kak Rion saat ini terlihat seksi.
Merilin gila! Kau malah terpesona!
"Padahal, sudah kubilang, aku lebih suka kau tidak pakai baju kan." Menusuk daging yang ada di piring, memasukkannya ke dalam mulut sambil menyeringai.
"Kak..."
Tidak perlu diucapkan terus kenapa! Aaaa! membuat malu saja.
"Haha," Tawa penuh kemenangan, karena melihat Mei yang pasrah. "Padahal kau juga kan paling suka saat aku tidak pakai baju?"
Lagi-lagi membuat gerakan menjilat sendok yang membuat otak Mei traveling sampai ke pelosok bumi entah dibagian mana. Wajah gadis itu yang memerah membuat Rion sangat puas sepertinya. Bahkan dengan isengnya kaki dibawah meja dia gesekkan di antara sela kaki Mei. Laki-laki itu senang sekali melihat Mei belingsatan panik sampai telinganya ikut memerah.
"Kak..." Mei melihat sekeliling, area ini cukup privat, jadi tidak ada yang sengaja melihat mereka. "Kak... " Dipancing dengan kalimat memohon, malah semakin agresif kaki di bawah meja bergerak.
Hah! Terserahlah. Bermainlah sesukamu Kak!
"Lucunya." Rion berbisik dengan suara bergumam, sambil meneguk air.
Mei mendongak dari piringnya, saat gumaman Rion terdengar. Tapi hanya tertangkap sisa tawa yang entah menertawakan apa.
Apa sih, yang kau tertawakan dari tadi?
Makan malam berakhir juga, walaupun Mei berusaha makan selambat mungkin makan, sambil memikirkan rencana yang akan dia lakukan untuk menggagalkan menginap di hotel. Tapi, tetap saja, semua selesai tanpa menghasilkan rencana apa pun.
__ADS_1
Rion mengajak Mei melihat pemandangan malam sambil memeluk Mei dari belakang. Bintang di antara kegelapan langit malam, dan tidak jauh berbeda dengan yang ada di atas mereka, sejauh mata memandang, kelap kelip lampu dari rumah penduduk juga terlihat sangat indah di malam hari.
Ada yang memperhatikan keromantisan keduanya dari kejauhan. Sambil mengambil foto tampak belakang. Yang tidak disadari Mei atau pun Rion.
"Kau suka?"
Rion melepaskan jas yang dia pakai, ketika merasakan angin membelai kulit Mei. Deg, gadis itu yang selalu merasa tersentuh dengan cara yang aneh ketika Rion melakukan kebaikan padanya. Di satu sisi dia tetap waspada, namun di sisi lain, dia seperti merasa perasaan sukanya pada Kak Rion seperti terbalas.
Mei, sadarlah, Kak Rion baik padamu karena kau boneka yang menurut padanya. Sudah, jangan besar kepala.
"Nggak papa Kak, aku nggak dingin kok." Mei menyentuh lengan jas yang menutupi tubuhnya. Aroma wangi yang selalu tercium dari tubuh Kak Rion seperti menyelimutinya sekarang. "Kakak pakai saja."
"Diamlah seperti ini sebentar lagi dan jangan membantah," Mei langsung menurunkan tangan yang sudah mau melepas jas. Gadis itu bisa merasakan Rion menunduk mendekatkan bibir ke telinga Mei. "Setelah di kamar kau bisa membayar semua yang sudah kulakukan padamu hari ini, Mei. Dengan sepenuh hatimu." Rion terkikik sambil mencium bagian belakang telinga, membuat Mei merinding dan teringat dengan pil kontrasepsi lagi.
Tidak! Bagaimana ini!
Deg, deg, debaran jantungnya terasa menguat karena mendapat serangan panik.
...πππ...
Mereka berdua sudah memasuki kamar, Mei baru tahu, ternyata Kak Rion sudah reservasi sebelumnya. Ah, mungkin Kak Ge juga yang memesankan kamar pikir Mei. Saat masuk tadi, Mei melihat tas belanjaan di atas tempat tidur. Menghampirinya dan melihat isinya.
Ternyata dia sudah menyiapkan semuanya?
Ada baju tidur dan pakaian dalam juga di sana. Dua buah, artinya miliknya dan punya Kak Rion juga. Gadis itu duduk termenung sambil mendekap bantal di tepi tempat tidur.
Saat masih kebingungan, Kak Rion keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piayama handuk, rambutnya masih terlihat basah.
"Kak Rion sudah selesai ya? Kalau begitu, aku mandi dulu ya Kak!"
Mei langsung kabur saat Rion berjalan mendekat ke arahnya. Tubuh kecilnya lompat-lompat menjauh. Membuat Rion tertawa sambil menggoyangkan handuk di rambut.
"Dia juga kabur, lucunya seperti kelinci."
Saat duduk di tempat tidur, dia meraih tas belanjaan. Melemparkannya ke atas sofa, sambil bergumam. Toh aku tidak memerlukannya.
Meninggalkan Rion yang sedang duduk di atas tempat tidur, setelah Mei masuk ke dalam kamar mandi, dia jatuh terduduk di lantai yang masih agak basah karena tetesan air yang dipakai Kak Rion tadi.
Bagaimana ini?
Belum menemukan ide sama sekali.
Setelah searching dengan mesin pencarian tadi, seputar pil kontrasepsi yang dia minum, Mei semakin mengalami dilema dan ketakutan. Pil harus dikonsumsi secara rutin setiap hari, tanpa terputus. Supaya tidak kebobolan dan efektif. Mei sengaja memilih pil kontrasepsi karena katanya ini yang efeknya tidak terlalu banyak. Bahkan yang meminumnya masih mendapat datang bulan secara rutin.
Aaaaaaa! Kalau saja sekarang aku bisa menghilang dan pergi ke apotik dulu. Benar, pasti di sekitar sini ada apotik kan. Kepala Mei tertunduk lemas, alasan apa yang akan dia pakai di depan Kak Rion memangnya supaya dia bisa ke luar.
__ADS_1
Semakin panik dan cemas, rasanya suhu tubuh Mei menjadi meningkat. Dia membuka bajunya, menariknya ke atas. Melepaskan pengait di belakang punggungnya. Membuat benda itu jatuh ke lantai yang basah. Saat akan membuka dalaman.
Eh....
Mei jatuh terduduk, baju yang baru dia lepas dalam genggamannya terjatuh. Berkumpul dengan dalaman atasan. Sebentar kemudian dia sudah tertawa, namun ujung matanya basah, bukan karena air mandi karena dia belum membuka keran air. Tapi, karena dia menangis, dia sedang menangis karena luapan kebahagian, saat melihat bercak merah darah yang membasahi celan* dal*mnya.
Aku datang bulan!
Mei tidak pernah sebahagia ini saat datang bulan.
Hiks, hiks, terimakasih Tuhan. Mei menengadah ke langit kamar mandi sambil bergumam berucap terimakasih dalam hati. Terimakasih Tuhan, sudah menyelamatkan aku hari ini.
Bergegas melepas pakaian dalam yang memerah, mengguyurnya di bawah air. Sembari dia membasahi tubuhnya. Ketegangan yang tadi sempat tercipta, seperti luruh jatuh, bersamaan dengan air yang mengalir dari tubuh Mei.
Mei agak tersentak sambil mengusap bisa di tubuhnya, dia pasti membuat kecewa Kak Rion, Bagaimana ini. Satu masalah terselesaikan, tapi seperti sudah menunggu masalah baru.
Padahal hutangku pada Kak Rion hari ini sepertinya banyak sekali. Aaaaa, dia pasti akan mengungkit terus kejadian di ruang ganti tadi. Tidak Mei, ini pasti cara Tuhan menyelamatkan mu.
Mei keluar dari kamar mandi dengan berbalut piayama handuk berwarna putih. Dia membuka pintu perlahan. Mendekatkan tangan di depan dada.
"Kak Rion..."
Rion yang sedang selonjoran di tempat tidur memutar pandangan dari hp yang dia pegang.
"Kenapa? Kemarilah." Rion mengulurkan tangan kiri, sementara tangan kanan masih memegang hp.
Mei belum bergerak dari tempat tidurnya.
"Maaf Kak, aku benar-benar minta maaf, aku juga tidak tahu kalau hari ini. Periode waktunya memang kadang tidak tentu."
Ya, siklus datang bulan Mei memang tidak selamanya teratur. Terkadang saat dipicu stress di kantor, juga mempengaruhi siklus datang bukannya. Apa karena hari ini dia saking paniknya, jadi mempengaruhi hormon tubuhnya. Entahlah, tapi datang bulannya telah menyelamatkan dirinya.
"Kau itu bicara apa? Kemarilah!" Rion jadi tidak sabar. Apalagi saat Mei tidak juga bergerak dari tempat dia berdiri.
"Maaf Kak, aku, aku tidak bisa melakukannya malam ini."
"Apa!"
"Aku, aku datang bulan, tiba-tiba Kak. Sungguh." Mei memutar tubuh, handuk yang dia pakai menunjukkan bercak merah. "Jadi, malam ini kita tidak bisa..."
Rion menjatuhkan hp ditangannya, lalu turun bergegas dari tempat tidur. Mei mundur selangkah.
Apa dia marah!
Bersambung
__ADS_1
Insyaallah update lagi nanti malem βΊοΈ