
Terlambat menyadari cinta, itulah faktanya.
Sebuah kesalahan, Ibram sadar itu, karena tahu bagaimana caranya mencintai pasangan dengan benar, setelah jatuh bangun dalam berumah tangga, semua itu membuat Ibram selalu berhati-hati bicara. Dia takut, setiap ucapannya atau gerakan tubuhnya akan mengingatkan Erla pada kejadian yang telah lampau. Memunculkan trauma gadis itu. Dia akan terluka sendiri, jika melihat sorot mata ketakutan Erla yang tertuju untuknya.
Karena dia tahu, sepenuhnya luka di hati istrinya belum terobati.
Tapi, sore ini, sepertinya dia tidak bisa menutupi rasa marah yang dia bawa pulang ke rumahnya. Suara pintu yang dia banting, membuat Erla yang sedang duduk di sofa ruang tamu langsung berdiri. Hp di tangannya jatuh ke atas sofa. Gadis itu baru saja ketawa ketiwi sendiri sambil membalas komen di akun sosial medianya, senyumnya langsung lenyap saat melihat Ibram setelah suara keras pintu tertutup.
Udara yang tadinya nyaman untuk bernafas, seperti langsung berubah arah. Sesak yang ada.
"Kak, Kakak sudah pulang?" Erla menunduk, meraih hpnya. Menutup aplikasi lalu menyembunyikan benda itu di balik punggungnya.
Suasana masih terasa aneh.
Pertanyaan Erla tidak terjawab, Ibram melihatnya sebentar, setelah mengendurkan dasi, melepaskan jas yang dia taruh di kursi meja kerja Erla. Ibram langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Seperti menumpahkan rasa lelah.
Apa ini? Hati Erla mulai terserang perasaan gelisah. Gadis itu melihat jelas amarah Ibram. Beberapa hari ini, Kak Ibram pulang biasanya langsung memeluknya, memberikan kecupan di pipi sambil bertanya apa yang kau lakukan hari ini? Mau makan apa? Atau kau sudah makan?
Tapi kenapa hari ini dia lain sekali. Perasaan takut mulai menjalar di tubuh Erla. Apa ini Kak Ibram yang sebenarnya, apa sandiwara menjadi keluarga yang harmonis sudah berakhir. Apa dia sudah bosan berperan menjadi suami baik, dan sekarang kembali ke setelan pabrik.
Ibram masih hanya menatap Erla, tangannya terulur meraih ujung rambut Erla. Membuat gadis itu merinding takut dengan sorot mata itu.
"Berhentilah Erla."
"Ap..apa Kak?"
Apa yang harus aku hentikan? Aku bahkan tidak memberikan reaksi apa pun. Semakin takut jadinya Erla.
"Berhentilah dengan ini semua, yang sedang kau kerjakan ini."
Saat tangan dan mata Ibram menunjuk arah bagian kiri, gadis itu mulai paham, apa yang sedang dituju oleh suaminya. Meja kerjanya, mesin jahit, tumpukan kertas desain. Mimpi yang membuatnya bangkit dan bernafas lagi. Erla langsung berdiri tegak, membuat tangan Ibram yang mau menyentuhnya menggantung lalu jatuh di atas sofa.
"Erla..."
Erla mundur dua langkah dari tempatnya berdiri, atmosfir udara di dalam ruangan terasa sangat berbeda. Mulai terasa menyesakkan saat gadis itu menarik nafas.
"Kenapa kau ketakutan begitu!" Sebenarnya Ibram sedang khawatir, tapi suara keras yang keluar dari mulutnya terdengar seperti kemarahan. "Erla! Kau..."
"Jangan mendekat Kak... aku mohon." Suara yang bergetar itu muncul lagi, padahal sudah lama Erla tidak bicara dengan intonasi seperti itu. "Kenapa Kak Ibram begini? Apa yang Kakak inginkan sebenarnya? Aku salah apa?"
Apa selesai sampai di sini? romansa pernikahan yang seperti cerita dongeng ini? Erla berdiri di belakang meja kerjanya, mencari perlindungan dari jangkauan tangan Ibram.
Dan Ibram, seperti langsung tersentak sadar, dia jatuh terduduk sambil menghela nafas. Menyesali tindakannya. Dia tertunduk, menyapu wajahnya dengan kedua tangan. Dasar bodoh! Kenapa kau berteriak lagi, sekarang dia benar-benar ketakutan kan! Ibram sedang mengutuk kebodohannya sambil menenangkan hati.
Setelah beberapa waktu berlalu, Ibram mengangkat kepalanya. Tangannya terulur, meminta Erla meraihnya. Tapi, tentu saja, gadis itu terlihat ragu. Dia masih mematung ditempatnya berdiri.
"Kemarilah..."
"Aku di sini saja Kak, bicaralah."
"Maafkan aku Erla, aku tidak sadar sudah berteriak pada mu. Maaf."
Gurat penyesalan itu benar-benar terlihat, membuat Erla mengendurkan kewaspadaan. Akhirnya, dia bergerak mendekat, meraih tangan Ibram yang masih menggantung di udara. Hangat terasa. Tapi, rasa takutnya belum sepenuhnya sirna.
"Maaf, aku sudah berteriak padamu." Ibram bicara lagi.
Erla akhirnya memberanikan diri duduk di samping Ibram. Mungkin aku yang terlalu ketakutan, karena kemarahan itu memang sirna sekarang. Tapi? Apa maksud kata-kata Kak Ibram tadi? Kenapa aku harus berhenti membuat desain dan mengejar mimpiku. Kenapa Kak? Padahal karena itulah, aku bertahan di rumahku yang seperti neraka itu.
"Kenapa aku tidak boleh membuat desain dan menjahit lagi Kak? Aku salah apa?"
Pertanyaan itu terlontar pelan, genggaman tangan Ibram menguat.
"Aku kabur dari rumah Kak Ibram, aku pulang ke rumah orangtua yang tidak menginginkan ku." Suara Erla terdengar serak. "Aku bahkan ingin mati saat itu."
"Erla!"
"Dengarkan aku dulu Kak!"
Akhirnya Ibram terdiam lagi, mengalihkan pandangan dari wajah Erla. Membiarkan gadis itu menuntaskan ceritanya.
__ADS_1
"Aku tidak punya alasan untuk hidup, buat apa lagi. Aku tidak mau kembali, tapi aku juga tidak punya tempat yang menerimaku. Pasti menghilang dari semua itu jauh lebih baik, sampai..." Erla bisa merasakan tangannya digenggam erat. "Sampai aku menemukan buku sketsa lama ku. Saat aku berharga menjadi seorang manusia, saat aku bahagia karena melakukan sesuatu. Desain yang aku buat itulah menjadi alasanku ingin hidup Kak. Jadi aku mohon, jangan rebut itu dari ku."
Setelah suara bergetar itu berhenti, Ibram meraih bahu Erla. Mendekap tubuh wanita yang ia cintai dengan erat.
"Kenapa Kakak tiba-tiba menyuruhku berhenti?"
"Aku cemburu..."
"Hah?"
Cemburu? Kenapa? Aku tidak pernah menyentuh meja kerja ku saat kau ada di rumah kan? Erla yang masih ada dalam dekapan Ibram kebingungan dengan jawaban Ibram. Kau kan selalu menguasai waktu ku! Apalagi si Kak?
Hah! Dari dulu kau memang cemburuan, gumam Erla. Hanya berbeda cara mu melampiaskannya, kalau dulu dengan teriakan dan amarah. Kalau sekarang, dengan merajuk begini. Erla jadi merasa geli sendiri dengan perubahan sikap Ibram yang belum sepenuhnya ia percayai. Tanpa sadar, Erla tergelak kecil. Membuat Ibram melepaskan pelukan dan mendorong tubuh Erla.
"Kenapa kau tertawa?"
"Soalnya Kak Ibram lucu, haha, bisa-bisanya cemburu dengan kertas desain dan buku gambar. Haha, menggemaskan."
"Apa?"
Saking kagetnya disebut menggemaskan oleh Erla, wajah Ibram langsung semerah tomat. Bukan hanya pipinya, telinganya juga ikut memerah.
"Haha, Kakak lucu sekali."
Erla meraih dagu Ibram, lalu memberikan dua kali kecupan di bibir Ibram. Sentuhan bibir terakhir langsung disergap Ibram, membuat mereka akhirnya berciuman sangat lama.
Setelah beberapa babak berakhir, dengan tarikan nafas terengah keduanya. Erla menyentuh kedua pipi Ibram.
"Aku masih boleh kan melakukan apa yang aku sukai Kak?"
Seperti tersadar lagi, setelah terhanyut oleh cinta. Mata Ibram mengerjap, menyuruhnya fokus lagi.
"Kenapa kau tidak kembali bertemu teman-teman mu, pergilah belanja atau apa, lakukan saja kegiatan seperti dulu. Aku akan menemani kalau kau mau pergi ke pesta."
Ternyata, belum selesai ya. Erla menggigit bibirnya getir. Lalu dia bergumam, teman? Apa aku punya teman? Saat ini, yang benar-benar menjadi temannya hanya Lisa, pelayan yang dia bawa dari rumah orangtuanya.
"Aku tidak punya teman Kak, lagipula aku lebih mencintai mereka." Menunjuk mesin jahit dan buku desain. "Aku mohon Kak, jangan pisahkan aku dengan mereka. Kenapa Kakak cemburu dengan benda si?"
Hah? Apa sih Kak? Kau cemburu dengan apa? Lisa? Karena Lisa lah sering dibuatkan baju oleh Erla. Karena Erla belum pernah membuat satu baju pun untuk Ibram, bahkan menggambar desainnya saja belum pernah.
"Kak Ibram cemburu dengan siapa? Lisa?"
Bibir Ibram kembali merengut, kenapa dia jadi dibandingkan dengan Lisa.
"Kak?"
"Aku cemburu! Karena kau membalas komentar-komentar di sosial media, pakai emot senyum dan ketawa-ketawa lagi, apalagi ada yang kau balas dengan hati. Cih, kenapa? Kau mencintai mereka? Mereka mencintai mu juga? Apa ada yang mengirimi mu pesan? Bilang kau cantik!" Aku cemburu pada mereka!"
Hah! Haha, ya Tuhan, aku dulu sangat ketakutan kalau Kak Ibram sudah marah dan bicara sepanjang ini. Tapi kenapa sekarang cemberutnya jadi lucu sekali si. Dan emot hati? Aku mencintai mereka?
"Kenapa kau tertawa lagi!"
"Karena Kakak lucu. Eh, awwww. Kak!"
Erla menjerit saat tangan Ibram mencengkeram pergelangan tangannya.
"Maaf Kak, maaf Kak..."
Ibram mengendurkan tangannya, tapi tetap memegang tangan Erla.
"Lucu ya? Padahal aku ketakutan, marah dan cemburu. Tapi bagi mu semua itu lucu?"
Suara Erla tercekik, senyumnya menghilang. Lalu terucap kata dia minta maaf lagi, sambil menggelengkan kepala.
"Yang lucu itu cemberutnya Kakak."
Ibram melengos. Terlihat dia tersenyum samar, tapi langsung berubah setelan saat melihat Erla lagi.
"Aku takut, takut kau jatuh cinta pada mereka. Aku tidak senang, karena kau bahagia mendengar pujian mereka."
__ADS_1
"Aku hanya membalas apresiasi yang mereka berikan Kak, lagi pula yang mereka puji itu desain dan baju ku, bukan aku. Aku hanya senang, karena ada yang menghargai hasil karya ku Kak. Dan tanda hati, aku cuma memberikannya pada follower perempuan Kak. Lihat." Erla mencari-cari hpnya yang ada di bawah bantal. Dia buka akun sosial medianya, dan dia tunjukkan ke depan Ibram. Pesan pribadi juga, kalau dia tidak pernah membalas pesan dari laki-laki, atau yang iseng bicara hal pribadi. Dia hanya membalas yang bertanya tentang karyanya.
Tangan Ibram merebut hp, belum puas sebelum memeriksa sendiri. Apa yang dikatakan Erla benar adanya.
"Kenapa Kakak cemburu dengan hal ini si? Mereka itu orang-orang yang mencintai karya ku Kak, desain ku dan baju-baju ku. Jadi." Erla meraih tangan Ibram, menggengam ya erat. "Aku mohon, jangan melarang ku Kak, ini mimpi yang ingin aku perjuangkan." Erla mencium punggung tangan Ibram. "Aku tidak akan berani mengkhianati Kakak lagi, aku bersumpah Kak! Aku tidak akan berani lagi."
Semua penderitaan yang aku lewati, sudah terlalu menyakitkan, hingga aku tidak ingin merasakannya lagi gumam Erla.
"Tapi...."
Tapi apa Kak? Kenapa kau masih tidak percaya juga? Erla menggoyangkan tangan yang ia genggam.
"Sebanyak apa pun, aku memeluk mu, sebanyak apa pun aku mengatakan, aku mencintai mu. Kau tidak pernah membalasnya."
Deg...
Benar, sebanyak apa pun Erla mendengar kata-kata cinta dari Kak Ibram, dia pasti hanya memalingkan muka dan tersenyum, dia belum pernah menjawab dengan kalimat yang sama. Karena dia masih takut semua ini tidak nyata.
"Kau membuatku takut Erla, kapan saja kau bisa pergi dan menghilang, karena kau tidak mencintai ku, karena kau tidak percaya aku mencintaimu. Aku ketakutan, kau jatuh cinta pada orang lain."
Deg...deg...
"Kau tidak percaya dengan cinta ku kan? Sebanyak apa pun, aku mengatakannya?"
Erla tidak bisa menjawab.
"Erla..."
"Aku takut, ini hanya mimpi Kak, dan aku takut, Kakak akan terbangun, setelah sadar, semua sudah kembali seperti dulu. Jadi, aku... aku menjaga hatiku."
Ibram meraih dagu Erla, merengkuh bibir gadis itu. ******* tanpa memberi kesempatan Erla bicara.
"Aku akan membuktikan cintaku, tapi berjanjilah Erla, jangan melihat laki-laki lain, jangan tersenyum pada laki-laki lain, jangan memberi emot hati pada laki-laki lain. Aku mohon, hanya lihat aku, akan aku buktikan cintaku padamu."
Belum juga menjawab, Ibram sudah memangsa bibir Erla lagi. Sekarang, tubuh gadis itu bahkan terdorong dan jatuh terjerembab di sofa. Rambut terurainya menyebar. Pipinya memerah.
"Aku mencintai mu Erla..."
"Aaaaaa, Kak!"
Entah kenapa, sentuhan tangan Kak Ibram, kecupan lembut bibirnya ditubuh Erla, terasa berbeda, mungkin karena kecurigaannya mulai sedikit sirna. Entahlah, karena suara lembut aku mencintaimu, semakin menelisik hati Erla, membuat gadis itu bahagia.
...🍓🍓🍓...
Di tempat lain, di depan kontrakan Jesi, komikus yang bahagia karena dilamar versi adegan komik miliknya sendiri.
Suara cekikikan masih terdengar dari ketiga gadis. Sampai mereka harus berpisah karena sore sebentar lagi menghilang.
"Kami pergi ya Jes, jangan lupa bersihkan kamar mu! Kau tidak mau menunjukkan ini pada calon suami mu kan?"
Dean masih sempat memarahi Jesi, padahal tangannya sudah meraih handle pintu. Saat pintu terbuka, gadis itu menjerit kaget, karena melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Jesi dan Mei ikut terkejut.
"Kak, Kak Ge, kenapa Kakak di sini?" Dean yang bertanya mewakili keheranan semua.
Sementara yang ditanya tertawa cengengesan.
"Kak Ge?"
"Haha, aku mengantar Rion." Menunjuk orang yang berdiri di dekat tembok, sekarang Mei jauh lebih kaget, mendorong Dean, dan keluar untuk melihat apa Kak Rion benar-benar ada. Dan laki-laki itu tersenyum manis pada Mei. "Rion bilang, mau mengajak Mei menyelam. Eh! Eh!" Wajah Seege langsung seperti orang meledak saking malunya. Dia keceplosan.
"Dasar bodoh!" Rion.
Mei, Dean dan Jesi lalu saling pandang, tak kalah merah wajah mereka. Sejak kapan, kalian berada di sini! Isi hati mereka saat menjerit dalam hati.
"Ayo pulang Mei, kau mau menyelam berapa dalam?"
"Kakak!"
Yang lain tidak bisa menahan untuk tidak meledak tawanya.
__ADS_1
Bersambung