Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
60. Bertemu Serge (Part 2)


__ADS_3

Deg. Pertanyaan Serge membuat Merilin malu dan bingung. Bagaimana dia akan mulai menjelaskan. Gadis itu terdiam beberapa saat.


Kenapa malah ciuman Kak Rion yang terbayang di kepalaku, Merilin gila!


"Ia Kak, kami baik-baik saja." Sambil memandang angin yang lewat di jalan sunyi di depan rumah. Tidak berani menatap Serge. Kuku Merilin juga membentur satu sama lain, menahan gejolak perasaannya sendiri.


Aku sudah mengkhianati cintaku pada Kak Ge. Aku menikmati sentuhan dan ciuman Kak Rion setiap malam. Aaaaaa! Manusia menyedihkan bernama Merilin Anastasya.


"Syukurlah. Kau mendapat kamar yang nyaman kan? Rion melarangku datang ke apartemennya. Padahal dulu aku biasa keluar masuk ke apartemennya." Padahal aku ingin sesekali memastikan kehidupan pernikahan sandiwara Rion dan Mei seperti apa, tapi malah dia dilarang menginjakkan kaki tanpa izin ke apartemen Rion sekarang.


Benarkah, sayang sekali, padahal aku bisa sering bicara dengan Kak Ge kalau Kak Ge sering datang. Biar aku tetap waras saat menghadapi kelakuan Kak Rion.


"Ia Kak, aku mendapat kamar sendiri, tapi semua barangku jadi satu dengan Kak Rion, karena takut bibi akan curiga kalau semuanya terpisah." Menjelaskan yang perlu dijelaskan saja.


Ah, syukurlah, berarti yang aku takutkan benar tidak terjadi kan kalau Mei punya kamar terpisah. Benar, Rion tidak mungkin menyentuh dan menggangu Mei. Diakan sangat benci pada perempuan. Tidak mungkin hatinya yang belum move on bisa menyentuh Mei. Ah, ketakutan ku memang tidak beralasan. Serge mengusap kepalanya merasa tenang. Ciuman tadi siang memang murni hanya akting belaka di depan Presdir.


Serge benar-benar merasa lega.


"Hutang ayahmu, rumah untuk Harven, perawatan ibumu juga sudah terjamin, sekarang kau sudah bisa tenang Mei. Kau bisa memulai memikirkan dirimu sendiri sekarang." Serge meraih tangan Merilin, menggenggamnya erat. "Bertahanlah Mei, setelah dua tahun, Rion akan melepaskan mu. Dan kau bisa menata ulang hidupmu. Kau bisa jatuh cinta dan menikah dengan laki-laki yang kau sukai."


Merilin tersenyum walaupun hatinya getir, sekarang hal itu seperti mimpi yang sangat tinggi untuk ia raih. Dia bahkan sudah menyerahkan mahkotanya pada Rion. Dia menjual tubuhnya pada Rion, apa setelahnya dia tidak tahu malu akan mengakui perasaannya pada Kak Serge. Apa Kak Serge mau menerima orang sepertinya.


"Kak Ge sendiri, kenapa Kak Ge tidak punya pacar. Wanita seperti apa yang Kak Ge sukai." Merilin mengalihkan pembicaraan, daripada berkubang dengan rasa pedih di hatinya. Dia basa basi bertanya. Sebenarnya niat juga untuk mencari tahu isi hati Kak Ge.


"Haha, kenapa kau tiba-tiba membahas tentangku."


Serge termangu sesaat menatap langit yang menghitam. Selama ini karena terlalu fokus bekerja, dia sampai tidak memikirkan tentang pacaran. Wanita yang lewat di depannya juga hanya terlihat sambil lalu saja.


"Tipe wanita yang aku sukai seperti apa ya, hemm entahlah. Katanya kalau jatuh cinta kau tidak perlu tipe ideal, kau akan jatuh cinta tanpa perlu alasan." Serge tertawa sendiri dengan pendapat ngawurnya. Dia belum merasakan itu perasaan berdebar untuk seorang wanita.


Merilin tertawa, walaupun ada bagian hatinya yang berdenyut. Mengharapkan Kak Serge apakah memang sesuatu yang mustahil, bahkan ketika dia menyatakan perasaan suatu hari nanti. Apakah masih mungkin cintanya akan terbalas juga. Gadis itu mengusap wajahnya berusaha menenangkan hatinya.

__ADS_1


Kalau Kak Rion tahu, aku pasti sudah dituding sebagai pengkhianat kan. Aaaaaaa! Kenapa dia trauma sekali dengan masa lalunya si. Sekarang, Merilin bahkan penasaran, seperti apa gadis itu. Wanita yang pernah dicintai Rion, wanita yang meninggalkannya dan menorehkan luka di hati Rion.


"Wahhh, kalau aku suatu hari jatuh cinta pada Kak Ge bagaimana? Apa Kak Ge berdebar mendengarnya. Haha." Merilin bicara sambil tertawa.


"Kau ini, kau kan adikku bagaimana mungkin aku bisa berfikir kotor untuk menyukai Mei. Jangan aneh-aneh membuat pengandaian." Mengusap rambut ikal Meilin beberapa kali. "Kalau kakakmu ini jatuh cinta nanti, aku akan memberitahu dan meminta nasehatmu."


Kau bukan kakakku Kak, aku bukan adikmu. Hiks. Sakit dari candaan yang dia buat sendiri, menusuk hati Merilin dari berbagai arah. Dia menyesal sudah bertanya. Walaupun dia tahu Kak Serge akan menjawab begitu, saat mendengarnya langsung, entah kenapa rasanya semakin sakit.


Mereka terdiam sambil menatap langit malam yang semakin menghitam. Tiba-tiba Serge bicara.


"Mei, buka!"


"Hah, apa!" Merilin langsung reflek menyentuh bajunya saat telinganya mendengar kata buka. Dia panik dan menjerit, Kak Serge juga terkejut dengan teriakannya. "Maaf Kak, aku sedang melamun tadi, apa yang dibuka Kak?"


Dasar gila kau Mei, ini pasti gara-gara Rion, kata buka langsung membuat jantung Mei berdetak lebih kencang. Dan dia refleks menyentuh kancing bajunya. Kak Ge bisa langsung pingsan tadi kalau Merilin tidak sadar membuka baju.


Alam bawah sadar Merilin ketika mendengar kata buka, artinya adalah buka baju sekarang.


Merilin meraih kotak yang menggantung di tangan Serge. Ringan.


"Boleh aku buka sekarang Kak?"


"Hemm, bukalah. Semoga kau menyukainya."


Saat kotak itu dibuka, ternyata Case hp, dengan gantungan berbentuk stroberi kecil berwarna merah.


Aahhhh, lucunya.


"Lucu kan? Rion menyuruhmu membuang hpmu dan semua case sampai kartumu kan. Jadi aku pikir kau membutuhkan yang baru."


Ah, aku sebenarnya sudah membelinya, cuma belum sempat memasangnya karena kejadian semalam.

__ADS_1


"Terimakasih Kak, lucu sekali. Aku suka." Untung aku belum memasangnya gumam Merilin. Dia masuk ke dalam rumah, mengambil hpnya. Duduk lagi, lalu sibuk memasang case dan gantungan kecil di hpnya. "Makasih ya Kak, aku senang sekali."


Walaupun aku sudah tidak bisa memakai tas dari Kak Ge lagi, ini sudah seperti jadi pengganti yang sempurna. Ahhhh, terimakasih Kak.


"Oh ya Mei, malam ini Rion ada pertemuan dengan." Serge terdiam sebentar, agak ragu dia sebenarnya tidak mau mengatakannya. Tapi ini akan jadi hal penting buat Mei gumam Serge. Mei juga harus berhati-hati malam ini. Terlihat ragu lagi. Serge melepas kaca matanya sebentar, dia usap-usap lalu dia pakai lagi.


"Kenapa kak?"


"Rion sedang mengadakan pertemuan dengan CEO Andalusia Mall, dia laki-laki yang menikah dengan wanita yang dulu dicintai Rion."


Deg. Hati Merilin langsung bergetar.


"Jadi, saat Rion pulang nanti dan suasana hatinya buruk tolong maklumi dia ya, kalau perlu kau menghindar darinya. Masuk ke kamar saja duluan, kunci pintu dan jangan keluar sampai Rion masuk ke dalam kamarnya." Serge takut Rion akan menjadikan Merilin pelampiasan kemarahan.


Deg... Deg...


Kami tidur satu kamar Kak! Bagaimana aku menghindarinya!


"Apa kau menginap saja di sini Mei? Haha, maaf, aku malah memberi ide aneh."


Cari mati saja, gumam Serge dan Merilin bersamaan dalam hati masing-masing.


Sebelum malam terlalu larut, Mei pamit pulang. Laki-laki yang waktu itu dilihat Mei datang juga menjemput Sherina. Mei melambaikan tangan setelah memeluk Harven. Dan pergi meninggalkan Kak Ge dan Harven berdua di teras rumah.


Kata-kata Kak Ge, terngiang di kepala Merilin.


Apa Kak Rion bertemu dengan mantan kekasihnya ya? bagaimana aku harus menyikapi hal ini. Apa aku harus senang. Tidak Mei, jangan pikirkan hal begituan. Bodo amat dengan nostalgia Rion. Yang harus kau hadapi adalah suasana hati Rion setelah dia di rumah nanti.


Kerinduan, kebencian atau amarah. Kau yang harus menghadapi itu semua.


Tangan Merilin gemetar, memutar kemudi mobil. Dia ingin segera sampai di rumah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2