Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
107. Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Ibram adalah penerus Andalusia Mall. Dia putra sulung, dua adiknya masih sekolah di luar negri. Sebagai penerus keluarga, laki-laki itu terbiasa mendapatkan sorotan. Dengan banyaknya sorotan, dia pun selalu memasang wajah dihiasi senyuman dalam banyak situasi. Sehingga dia bisa mengendalikan emosinya dengan cukup baik di hadapan khalayak. Dan kebiasaannya itu sepertinya cukup terpakai di situasi semacam ini.


Magma yang tadi berhasil dia tahan di depan CEO Rionald dan sekretarisnya, akhirnya meledak dan tumpah saat Ibram berhasil menyeret Amerla keluar dari gedung Andez Corporation. Ibram membanting pintu mobil setelah Amerla terjungkal di kursi belakang. Setelahnya dia masuk, duduk di belakang kemudi. Menutup pintu mobil dengan sangat keras, seakan ingin meretakkan kaca jendela.


Di kursi belakang, Amerla kepalanya berdenyut, tapi masih sempatnya dia memaki. Teman sialan, tidak kau bukan temanku wanita tidak tahu diri. Sudah beruntung aku mau berteman dengan karyawan rendahan sepertimu, beraninya kau mengkhianatiku, menarik rambutku lagi. Bahkan beraninya kau menampar pipiku. Dasar sialan! Dia memaki dalam hati sambil merasakan sakit yang menjalar dari kepala sampai ke punggungnya.


Rasanya masih pedih dan panas. Karena bukan hanya dari teman pengkhianatnya, bahkan laki-laki di depannya pun menjambak rambutnya, menampar pipinya juga. Tapi entahlah, mana yang lebih sakit, ditampar teman yang mengkhianatinya, atau suami yang murka padanya.


Karena sekarang, Amerla jauh lebih merasa menderita karena Rion sudah mencampakkannya. Dia seperti sudah dibuang, tidak ada yang tersisa sedikitpun dari perasaan Kak Rion padanya. Dan baginya ini jauh lebih menyakitkan dari tarikan rambut dan tamparan di pipi.


Kenapa Kak? Kenapa kau menolak ku. Padahal dulu kau sangat mencintaiku. Kau bahkan berlutut memohon padaku. Amerla tertunduk sambil memegangi kepalanya yang masih sakit. Padahal aku sudah mengemis padamu sebisaku. Padahal aku sudah merendahkan diriku serendah-rendahnya.


Kalau kau tidak mau menerimaku, lantas bagaimana hidupku kedepannya Kak.


Amerla merasa jumawa karena Rion tidak mengakui Merilin kepada publik, tapi ternyata, teman sialannya sudah menipunya. Aaaaaa! Bagaimana nasibku sekarang. Apalagi saat melihat punggung Ibram. Ada yang menampar pipi Amerla dengan kenyataan, kalau Ibram sudah tahu tentang masa lalunya dengan Kak Rion. Bahkan dia melihat semua yang dia lakukan tadi di hadapan Kak Rion.


Rencana apa selanjutnya sekarang yang bisa dia ambil. Bercerai dengannya, itu keinginan Amerla. Tapi, tidak ada tangan yang akan menjamin kehidupannya ke depan. Bagaimana dia akan menghadapi orangtuanya nanti. Kalau ada Kak Rion, dia yakin orangtuanya akan setuju dengan perceraian ini.


Kak Rion, kenapa Kak, kenapa kau memilih wanita jelek itu daripada aku!


"Kau tahu, apa yang ingin aku lakukan sekarang padamu!" Pertanyaan syarat dengan ledakan emosi terdengar. Amerla langsung tergagap. Karena Ibram menyeretnya dalam diam tadi, dia jadi malah memikirkan Kak Rion, bukan mengkhawatirkan kemarahan suaminya.


Amerla membisu, tidak berani menjawab. Karena memancing kemarahan Ibram yang sedang emosi, itu artinya dia bunuh diri. Ibram bisa melakukan hal paling gila yang dia pikirkan sekarang, apa pun itu. Sedikit banyak, gadis itu tahu bagaimana menaklukan hati suaminya, jadi dia memilih diam untuk menyelamatkan diri.


Karena tidak mendengar sahutan dari kursi belakang, pandangan Ibram fokus ke jalanan lagi. Melajukan kendaraan dengan cepat untuk sampai ke rumah. Dia mencengkeram kemudi, masih dengan dada yang meletup-letup. Dia sengaja mendorong Amerla di kursi belakang, berharap bisa meredakan sedikit kemarahan. Tapi nyatanya dia sama sekali tidak berhasil meredam rasa kesalnya.


Kerugian Andalusia Mall seperti menari-nari di kepalanya. Kemarahan ayahnya sudah pasti terjadi. Tidak becus, begitulah pasti yang akan dikatakan ayah padanya. Semua karena Amerla. Wanita gila yang merayu CEO Rionald dan bilang akan menceraikannya.


Mobil berdecit di halaman. Ibram keluar dari mobil, membanting pintu mobil lagi. Pelayan yang keluar tersentak kaget bahkan mereka ada yang menjerit, melihat tuan muda mereka yang marah sambil membanting pintu mobil. Nyonya dan tuan besar sedang pergi, mereka jadi tidak bisa melakukan apa pun selain hanya menonton.


Ibram membuka pintu belakang, menarik tangan Amerla.


"Lepaskan aku Kak, aku bisa keluar sendiri." Amerla masih berusaha melawan.


"Diam kau!"


Amerla sekuat tenaga bertahan di dalam mobil, tapi karena rambut panjang indahnya ditarik lagi, dia menjerit dan keluar dari mobil. Ibram mencengkeram leher Amerla, lalu mendorong gadis itu. Sampai terjatuh ke trotoar tempat mobil terparkir. Pelayan yang melihat, takut-takut menghampiri mau membantu Amerla bangun.


"Jangan ada yang membantunya! Semuanya pergi!"


Saat perintah itu lantang terdengar, dan para pelayan mundur menjauh. Amerla mulai ketakutan. Tadinya dia pikir, Ibram paling tidak, tidak akan memukulnya di depan para pelayan. Dia tidak akan kenapa-kenapa selama masih terlihat oleh banyak orang. Ibram pasti akan menjaga nama baiknya, karena laki-laki itu sangat perduli dengan pandangan orang lain. Tapi ini sangat berbeda dengan Ibram yang biasanya.


"Bangun!"


"Kak, maaf Kak. Aku salah, Kak ampun Kak!"


Rasa takut Amerla muncul terlambat, api yang sudah berkobar tidak bisa langsung padam hanya dengan sekali permohonan dari gadis itu. Dengan kasar, Ibram menarik lengan Amerla. Gadis itu berontak sekuat tenaga, mencoba melarikan diri. Namun terjungkal karena kakinya tertekuk, sepatunya yang meleyot. Ibram tidak melewatkan kesempatan, dia meraih pinggang Amerla dan mengangkatnya di atas bahunya. Dia dibopong seperti memikul barang.


Tangan Amerla yang memukul bahu Ibram, masih berusaha melepaskan diri, tiba-tiba menggantung lemas saat suara dingin Ibram menyebar bercampur dengan angin yang berhembus. Para pelayan yang juga ketakutan, bingung mau melakukan apa.


"Jangan membuatku semakin marah Erla! Aku bisa membunuhmu kalau kau memancingku lagi."


Kata-kata itu membuat Amerla membeku ketakutan. Dan akhirnya diam tidak bergerak ataupun bicara. Kepalanya yang sudah pusing, semakin berputar karena bergoyang-goyang.

__ADS_1


"Awwww! Ah, sakit Kak. Sakit."


Ibram melemparkan Amerla ke atas tempat tidur sampai menimbulkan suara berdebam. Gadis itu mengerang sambil meringkuk kesakitan. Terkapar lemah. Dia tidak punya tenaga untuk melawan. Pasrah.


"Kau tahu berapa kerugian perusahaan akibat ulahmu!"


Kali ini airmata yang menetes di ujung mata Amela adalah airmata ketakutan dan menahan rasa sakit.


"Kau tahu hah! Berapa uang muka yang sudah kami bayarkan! bagaimana kalau CEO Rionald menuntutmu ke polisi! Kau mau membuat Andalusia Mall masuk dalam berita gosip! Istri CEO Andalusia Mall menggoda rekan bisnis suaminya. Ia! Kau mau menghancurkan perusahaanku! menghancurkan nama baikku!"


Semakin Ibram berteriak, rasa sakit di seluruh tubuh Amerla semakin menyayat. Bukan hanya fisik, hatinya juga terkoyak pedih.


"Kenapa! Kenapa aku memilihmu! Seharusnya aku memilih Kak Rion dulu! Seharunya aku tidak menikah dengan laki-laki tidak setia sepertimu." Amerla saking merasa frustasinya berteriak, bicara sembarangan.


"Kau sudah gila ya! Kau masih berani bicara! Mau kutampar lagi!" Ibram melemparkan bantal ke wajah Amerla. Membuat gadis itu yang sudah mengangkat tubuh jatuh tersungkur lagi di tempat tidur.


Gadis itu bicara sambil memiringkan tubuh.


"Dulu, Kak Rion sangat mencintaiku. Dia memperlakukanku seperti ratu, dia melakukan apa pun yang aku minta. Dia hanya mencintaiku seorang. Kenapa? Kenapa aku malah menikah dengan Kak Ibram, tukang selingkuh. Kenapa aku malah menikah denganmu dan mengkhianati Kak Rion. Seharunya aku tahu Kak Rion punya uang yang lebih banyak darimu."


Sepertinya otak Amerla benar-benar mulai tidak waras. Hingga yang keluar dari mulutnya adalah kejujuran yang bisa semakin menyulut emosi Ibram. Padahal dia ketakutan setengah mati, tapi entah kenapa dia malah bicara seperti itu.


"Dasar wanita gila. Jadi dulu kau masih berkencan dengannya saat menikah denganku. Dan sekarang kau mau kembali padanya dan bercerai dariku!" Mata Ibram menggelap. Pikirannya langsung kacau.


Plak! Plak! Dua kali tamparan mendarat di pipi Amerla. Setelahnya Ibram mencengkeram belakang kepala Amerla.


Gadis itu menangis sambil memegang pipinya yang memerah. Dia benar-benar menangis karena rasa sakit yang menjalar di pipinya.


"Ceraikan aku Kak! Ceraikan aku saja!"


Ibram semakin terpancing emosi dan amarahnya saat Amerla bicara tentang perceraian.


Kau tahu, aku sudah berusaha menahannya selama ini Erla. Aku membiarkan semua kelakuan kurang ajarmu. Tapi kenapa? Dasar bodoh, kau sendiri yang bodoh Ibram, kenapa kau mencintai wanita yang hanya mencintai uangmu. Ibram tertawa sambil melihat tangan yang sudah dia pakai menampar Amerla. Ya, kenapa aku mencintai wanita yang hanya mencintai uangku!


Sebenarnya itulah isi hati terdalam Ibram. Di hatinya yang berlapis-lapis, nama Amerla memenuhi tempat itu. Dia mencintai Amerla, gadis yang cantik, sikapnya yang terkadang imut dan manis, menggemaskan untuk Ibram. Hingga dia berusaha menekan harga dirinya untuk mempertahankan pernikahan ini. Dia bahkan diam saja dan menutupi kelakuan Amerla.


Tapi kali ini, sepertinya apa yang sudah dilakukan Amerla sangat keterlaluan.


"Kau bilang aku tukang selingkuh? Aku bahkan berciuman dengan wanita sialan itu tidak sengaja. Dia yang menciumku. Tapi, apa yang kau lakukan hari ini Erla. Kau memakai baju seperti itu, menggoda Tuan Rion dengan suaramu yang mendesah-desah itu. Aku yakin, kau bahkan bisa membuka bajumu walaupun kau tahu ada Sekretaris Serge tadi." Ibram tertawa dengan sinis dan mengejek. "Dan kau masih mengungkit aku berselingkuh, padahal kau sendiri sengaja melakukan semua itu, kau masih mengungkit ciumanku yang entah dengan siapa itu. Kau sendiri, apa yang kau lakukan hari ini, meraba-raba paha Tuan Rionald! Sekarang kau atau aku yang tidak tahu diri dan tukang selingkuh."


Padahal aku sudah membelamu di depan laki-laki itu tadi!


Amerla meremas seprei. Semua yang dikatakan Ibram benar, dia bahkan bisa melakukan itu tadi, kalau Kak Rion menyuruhnya. Dia bisa membuka bajunya demi mendapatkan pengampunan Kak Rion. Dia memang sudah senekat itu.


"Sekarang, jawab aku! Kau atau aku yang lebih menjijikkan?"


Amerla tidak menjawab. Dia hanya menggigit bibir. Dia seperti ditampar bertubi-tubi. Dia bahkan jauh lebih parah dari Ibram yang berciuman dengan wanita lain. Dia tahu, dia lebih parah dari itu. Tapi, dia melakukannya karena sudah muak dengan pernikahan ini. Dia ingin pergi dan melepaskan diri dari belenggu Ibram. Dan hanya Kak Rion yang bisa membantunya. Dia tidak mau meneruskan pernikahan yang tidak bahagia ini. Saat melihat Kak Rion, dia rindu dicintai dan dimanja.


"Jawab! Kau atau aku yang lebih menjijikkan?"


Amerla memejamkan mata sambil masih mencengkeram seprei. Tidak mau menjawab. Karena dia tahu, dia yang jauh lebih menjijikkan dan menyedihkan.


"Kau pikir aku tidak tahu, kau selingkuh juga di belakangku. Aku masih membiarkan, karena aku pikir kau hanya mau membalas ku atas ciuman itu."

__ADS_1


Deg. Amerla mengintip melalui ekor matanya, melihat ekspresi Ibram.


"Kau pikir aku tidak tahu! Kau dan Hargo! Kau berciuman juga kan dengannya untuk membalasku!"


Sebenarnya Ibram tidak mau mengungkit ini, karena hanya menunjukkan betapa menyedihkannya dia. Bisa-bisanya tidak marah melihat istrinya berciuman. Kenapa Ibram tidak mau mengungkitnya, karena dia takut, Amerla menantangnya untuk menceraikannya.


"Ceraikan saja aku Kak." Rasanya sekarang Amerla dihujani perasaan malu. Selama ini dia selalu menuding hidung Ibram dengan fakta ciumannya dengan wanita lain. Padahal dia juga melakukannya untuk mengobati rasa menyedihkannya. Dia pikir dia sudah menutupi aib itu. Tapi ternyata, Ibram juga tahu tentang ini. "Ceraikan aku saja Kak!"


Dalam sekejap kedipan mata, Ibram sudah menerjang tubuh Amerla. Laki-laki itu sudah berada di atas tubuh Amerla, tangan Ibram mencengkeram leher Amerla. Lagi-lagi, kata perceraian membakar kemarahan Ibram.


"Dasar wanita gila tidak tahu malu!"


Wajah Amerla memerah, tangannya memukul-mumul tangan Ibram. Saat melihat istrinya kehabisan nafas, tangan itu mengendur. Amerla batuk-batuk. Ibram menatap lekat mata Amerla, sambil mencengkeram dagu Amerla.


"Kau pikir keluargamu tidak akan hancur kalau aku membuangmu? Aku akan menarik semua modal usaha perusahaan ayahmu." Tergelak sinis. "Kau pikir kau bisa jadi apa tanpa uangku, heh!" Menggoyangkan dagu Amerla. "Kau punya teman juga karena kau memamerkan uangku dan statusmu sebagai istriku kan."


Ibram menuding-nudinh kening Amerla, dan memukul pelan pipi gadis itu. Mengejek.


"Kenapa? Kenapa Kak Ibram diam saja? Walaupun tahu aku juga pernah berciuman dengan laki-laki lain?" Amerla memalingkan wajah. Ibram masih bertumpu pada lututnya, diatas tubuh Amerla. "Apa karena Kak Ibram tidak mau nama baik perusahaan rusak karena kita bercerai?"


Padahal, dalam hati kecil gadis yang sudah tidak berdaya itu. Dia berharap, bukan itu jawaban yang keluar dari mulut Ibram.


"Kalau kau sudah tahu jawabannya kenapa masih bertanya." Ibram menjawab dengan nada dan senyum mengejek lagi.


Memang aku berharap apa si, gumam Amerla. Berharap Kak Ibram menjawab, karena dia mencintaiku. Hah! Dia hanya menyukai tubuhku yang bisa memuaskan hasratnya. Dan aku hanya butuh uangnya.


Suara pintu terbuka dengan suara sangat keras, membuat Amerla ataupun Ibram tersentak. Ibu dengan wajah panik muncul, dibelakangnya menyusul para pelayan. Ibu melihat Amerla, rambutnya acak-acakan, pipinya yang memerah.


"Ibram! Apa yang kau lakukan pada istrimu?"


Ibram memutar tubuh dan turun dari tempat tidur, menatap kesal pada para pelayan karena entah sudah mengadu apa mereka pada ibu.


"Aku hanya sedang memberinya pelajaran Bu, kalau ibu tahu apa yang sudah dilakukannya, ibu juga pasti akan murka." Menjentikkan jari ke arah Amerla, menyuruh gadis itu bangun. Dengan sisa tenaga, Amerla mengangkat tubuhnya. Rasa takut kembali menjalar bersamaan dengan rasa sakit. "Ibu tahu, ternyata Erla ini mantan pacar CEO Rionald, dan yang lebih mencengangkan, ibu tahu, kemana dia pergi dengan memakai baju seperti itu." Menuding kening Amerla dan menarik baju yang dipakai istrinya itu. "Dia pergi untuk menggoda CEO Rionald. Dia memfitnah istri CEO Rionald, supaya dia bisa kembali pada laki-laki itu."


Ibu membelalak tidak percaya. Para pelayan pun sangat terkejut.


"Tanya sendiri padanya kalau ibu tidak percaya, dia bilang mau menceraikanku dan memohon untuk dinikahi CEO Andez Corporation itu. Erla, apa perlu aku tunjukkan rekaman itu pada ibu."


"Kak!"


Ibram tertawa melihat ketakutan di mata Amerla. Tapi, dia suka melihat ketidakberdayaan gadis itu. Karena itulah yang membuatnya tidak bisa melarikan diri darinya.


"Ibu tanya sendiri padanya. Aku mau turun dan bicara pada ayah."


Ibram tidak memperdulikan panggilan Amerla. Dan laki-laki itu menutup pintu kamar, meninggalkan Amerla pada ibunya. Saat Ibram menuruni tangga, dia mendengar istrinya menjerit memohon-mohon ampun.


"Bercerai, kau pikir setelah kerugian yang kau timbulkan kau bisa semudah itu pergi. Lucu sekali." Entahlah, apakah ini hanya kemarahan sesaat Ibram, karena Amerla bahkan tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Atau cara inilah yang ia pilih untuk menahan Amerla untuk berada di sisinya.


Bersambung


Curhat :


Menulis bab ini menguras tenaga dan emosi πŸ₯ΊπŸ₯Ί

__ADS_1


Amerla sama Ibram sama-sama sakit 😌😌


__ADS_2